
Irene ditemani seorang supir sudah bersiap di Bandara Changi Singapura menunggu kedatangan Diandra. Tampaklah sosok wanita yang ditunggu-tunggu itu muncul juga.
"Nona silahkan masuk mobil segera waktu kita tidak banyak lagi." Irene membukakan pintu mobil disusul Nampin dari belakang.
"Nona Irene bisa jelaskan detailnya saja kenapa Hansen merahasiakan dariku?"
"Baik Nona, singkat cerita Tuan Javier pergi ke Bali mengendarai mobil rental yang belum selesai diperbaiki mengalami rem blong. Lalu menabrak pengguna jalan yang lalai memainkan ponsel.Wanita itu tewas saat proses persalinan tapi bayinya selamat. Karena Tuan Hansen tidak ingin anda ikut sedih makanya beliau menggantikan seluruh pekerjaan Tuan Javier. Apalagi kalau media tahu kejadian ini maka karir Tuan muda Javier tamat."
"Jadi seperti itu."
"Diandra apa yang dikatakan wanita itu,aku tidak mengerti apapun." Nampin nampak kebingungan mendengar percakapan bahasa Indonesia.
"Kita akan kerumah sakit menjenguk orang Kak Nampin."
***
Setelak keluar dari mobil mereka bertiga bergegas naik lift menuju Javier dirawat.
"Diandra,akhirnya kau datang nak." Nyonya Wijayakusuma berhamburan memeluk Diandra.
"Ibu menangislah dipelukanku, ceritakan semuanya kepadaku. Aku sudah ada disini."
"Dua Hari lalu Javier sudah sadarkan diri,usai bertemu dengan suami & ayah korban meninggal tiba-tiba dia kejang-kejang tak sadarkan diri."
"Bisakah aku masuk melihat keadaan Javier?"
__ADS_1
"Ikutlah denganku, didalam ada ayahmu menemaninya." Nyonya Wijayakusuma menggandeng Diandra masuk.
Melihat kabel & selang tertanam ditubuh Javier pasti ngilu rasanya. Perban menutupi sebagian wajahnya & anggota badan lainya.
"Hai Javier....aku datang kesini, bangunlah. Jangan tidur lama-lama." Diandra memegang tangan javier yang masih terpasang infus.
"Detak jantungnya melemah, bahkan harus dipacu beberapa kali." Tuan Wijayakusuma.
"Javier putraku, Diandra sudah datang dia dari Korea untukmu setelah ibu memintanya datang. Bangunlah kau anak nakal, jangan menyiksa ibumu! " Nyonya Wijayakusuma berteriak keras.
"Istriku jangan berteriak keras kau akan menggangu Javier. Ayo keluar biar Diandra menemani Javier disini." Melangkah keluar ruangan.
"Bangunlah, jangan marah lagi ya. Maafkan aku sudah menyakiti hatimu hingga membuatmu terbaring disini. Javier, bila kelak kau sehat kembali jangan lakukan hal konyol ini lagi. Kau sangat berharga bagiku dan dan Hansen tentunya. Kumohon bangunlah hiks hiks hiks." Diandra menangisi Javier memegang erat tangan Javier erat-erat.
"Lihat Lucifer, Diandra disini dia menangis untuk Javier." Laura yang sudah keluar dari tubuh Javier itupun menyaksikan kejadian langka itu.
"Ah dasar Javier tak berguna, nasib baik kesempatan hidup enak-enakan kabur. Biar aku cari dia diatap rumah sakit, biasanya dia suka menyendiri disana." Laura menghilang mencari Javier.
***
Seperti dugaan ternyata Javier berada diatas gedung rumah sakit.
"Untuk apa kau kesini, bukankah kau senang melihat tubuhku dianiaya suamimu? " Javier murung pandangan kosong.
"Di Di Dia Dia ada disini, cepat sebelum dia selesai menangis airmatanya kering."
__ADS_1
"Siapa? "
"Itu itu itu wanita itu. "
"Kalau ***** jangan ikut dibawa sampai mati, jadilah hantu yang cerdas & berkredibel."
"DIANDRA SUDAH DATANG BAMBANG!!!!"
"Hah Irene yang kau maksud dia memang selalu datang karena asisten Hyung. Pergilah sana menakut-nakuti orang daripada menggangguku." Javier melayang pergi.
"Lauraaaa kau ini benar-benar *****.... ***** ***** saat jadi hantupun masih tidak berguna." Memukul-mukul kepalanya sendiri.
***
Javier kembali lagi kekamar dia dirawat. Hanya ada Lucifer seorang.
"Hai malaikat, kenapa kebodohan orang yang sudah mati tidak ikut mati juga ya seperti Laura? "
"Kalau Laura cerdas pasti matinya tidak sekonyol akibat ponsel xixixixixi" Lucifer menertawakan Laura bersama Javier.
"Kasihan Marco harus punya anak dari wanita sebodoh Laura, semoga anaknya kelak mewarisi kecerdasan Marco xixixixi." Javier cekikikan tertawa bersama Lucifer.
"Tadi ada wanita sangat cantik, seperti selebritis datang kemari. Dia menangisimu, lihatlah bajumu yang basah itu bekas air matanya. Huftt andai aku jadi manusia pasti aku kejar wanita secantik itu ckckck." Lucifer menepuk pundak Javier .
"Hai kau ini mau jadi saingan cintaku juga? Langkahi dulu arwah Laura! " Javier melotot.
__ADS_1
Javier lalu mencari Diandra berputar-putar tidak ketemu juga. Bahkan orang tuanya pun tak ditemui juga. Dimana mereka semua, apakah Javier benar-benar meninggal dunia karena telat masuk kembali ke tubuhnya?
"Semua ini salah Laura yang tidak berguna, setelah urusannya selesai seenaknya saja mengajakku mati konyol. Laura kau benar-benar menjengkelkan! " Javier kembali ke atap gedung lagi.