
"Nanti jam 1 siang, ada meeting persiapan buat raker lusa,” info Mitha yang melihat Lina mulai fokus ke berkas yang dibawanya tadi.
“Siap Mitha!”
Ingin bertanya lebih lanjut, tapi Mitha urungkan kayaknya gak pantas lihat bu Bosnya kembali semangat kerja.
Di sela kesibukkannya sempat dia melamun menatap buket Mawar dari Wahyu.
Andai kamu tahu Mas Wahyu........ kita hanya tinggal sepenggal cerita kenangan. Yang tak mungkin kembali lagi ke masa lalu. Bisakah tidak membangkitkan kisah lalu! Sekarang saya sudah menikah Mas, tapi saya tidak tahu rasanya harus bahagiakah atau justru tidak bahagia!
Saya lelah menghadapi semua wanita yang tergila-gila dengan Pak Bos. Saya lelah dari tatapan benci semua orang di kantor!”
Pak Andre biarkan saya menjaga hati sendiri dengan caraku sendiri!
Tak terasa setetes buliran bening jatuh dari ekor matanya.
🌹🌹
Jam 12 siang......
TOK.........TOK........TOK
“Mih........waktunya makan siang!” ujar Mitha yang sudah bersandar di pintu ruangan.
“Ehhhhh......udah jam 12 ya,” dirinya benar-benar tenggelam dengan pekerjaannya.
“EHMMMM.......!” suara bariton pria terdengar jelas dari posisi belakang Mitha. Melihat siapa yang berdehem, Mitha langsung menyingkir.
“ Mami makan siang dengan saya!” titah Andre yang sudah berdiri di hadapannya.
Lina yang belum beranjak dari kursinya, langsung mendongak “makan aja sendiri, gak perlu sama saya!” ketus Lina sambil meraih dompetnya, tanpa permisi Lina menepis tubuh Andre yang menghalangi jalannya.
“Ayuk Mitha, kita makan!” ditariknya lengan Mitha yang tampak kebingungan, antara ikut Lina, atau membiarkan Lina dan suaminya makan berdua.
Tanpa di sadari Lina, Andre tetap mengikuti Lina dan tak lupa Faisal juga ikutan. Jadilah mereka berempat jalan.
“Loh Pak Faisal......ada di sini juga!” tegur Lina, melihat Faisal dan Andre duduk di meja yang sama.
“Makanya mami kalau jalan jangan melamun, Bos sama asprinya ngikutin kita jalan di belakang!” bisik Mitha.
“Ooohhhh!” bibir Lina membulat.
“Hai kalian makan di sini juga, aku boleh gabung ya!” ujar Dina yang tiba-tiba sudah muncul di antara mereka berempat.
Wah salut sama mbak Dina, benar-benar mengejar Pak Bos kemana-mana.......hela napas dalam batinnya.
Belum ada jawaban dari mereka berempat, Dina langsung ambil posisi duduk di samping Andre.
Calon bibit penggaet suami orang, udah muncul nih....dasar ulet keket!!....batin Mitha.
__ADS_1
Posisi Andre serba salah, duduk di samping kanan istrinya......eh di samping kirinya ada mantan.
Faisal dan Mitha rasanya pengen ketawa melihat raut wajah bosnya yang terlihat suram.
Susah payah Andre mengikuti istrinya, tapi dirinya pun di ikuti sang mantan.
Para pelayan mulai menata lauk pauk khas padang, Lina mulai menuang di piringnya, begitu pun Dina.
“Andre ini sudah aku siapkan makanannya, aku pilihkan kesukaan kamu,” Dina menaruh piring tersebut di hadapan Andre, dia benar-benar tidak menganggap kehadiran Lina yang berstatus istri Andre.
“Sekalian aku suapin ya, kamu pasti kesusahan makannya......tangan kamu masih diperban!” tawar Dina, berusaha menarik perhatian Andre.
Andre melihat Lina yang sudah menyantap makannya dengan jari lentiknya.
“Sayang.......aaaa!” ucap Andre minta di suapin makan sama istrinya.
“Eeeehhh......Pak!” terkejut tangannya yang berisi nasi sudah meluncur ke mulut Andre.
“Andre, kamu kok tega........ini nasinya sudah aku ambilin!” kesal Dina di abaikan Andre.
“Kamu makan saja sendiri, saya tidak minta kamu mengambilkan saya makan. Masih ada istri saya yang mengurus saya!” jawab Andre dengan tegasnya.
“Aa.......!” Andre membuka mulutnya, dan meraih tangan Lina yang sudah berisikan nasi dan lauknya.
“Jadi perempuan kok gak ada harga dirinya sih, masih aja pepet suami orang!” celetuk Mitha, rasanya pengen melontarkan kata-kata kotor di wajah Dina.
“Sudah.....sudah....... lagi makan jangan ribut, ini juga sayang nasi sama lauknya sudah di ambil. Masih banyak orang di luar sana tidak bisa menikmati makanan ini!” Lina mengambil piring yang di siapkan Dina buat suaminya.
“Terima kasih sayang......!” Andre menjilat jari Lina satu persatu saat suapan terakhir.
Seerrrrrrr............perut Lina terasa tergelitik saat jarinya di jilat Andre.
“Issss.........jorok!” Lina langsung menarik tangannya. Lebih baik mencuci tangan di wastafel, agar lebih bersih dari saliva Andre yang menempel di jari tangan kanannya.
“Mih.....kok bisa ada Dina lagi?” tanya Mitha yang mengikuti Lina ke toilet.
“Kamu tahu perusahaan Barlian!”
“Tahu mih, kenapa?”
“Ternyata Bapaknya Dina pemilik perusahaan itu, dan sekarang di alihkan pengurusannya ke anaknya!”
“Waduh jadi Pak Bos akan sering ketemu mantannya lagi dong Mih?”
“Ya begitulah, apalagi semalam Bapaknya minta anaknya di jodohkan dengan si Bos!” sambil mengangkat kedua bahunya.
Netra Mitha sekejap mendelalak “lah kan Pak Andre udah nikah sama mami, jadi ceritanya mami mau di madu begitu?”
“Tidak perlu di madu Mitha, saya yang akan minta berpisah. Lagi pula Dina bilang Pak Andre mencintainya!” senyum tipis terlukis di wajahnya.
“Siapa yang minta berpisah!” suara Andre terdengar dari pintu toilet, sedari tadi dia sabar menunggu istrinya yang berada dalam toilet, sampai mendengar percakapan mereka berdua.
__ADS_1
“Kayaknya Pak Andre hobi sekali mengintip cewek dalam kamar mandi dan menguping pembicaraan orang lain!” ketus Lina sambil melewati Andre yang berdiri di depan pintu toilet.
“Yang saya intip juga istri saya sendiri, bukan orang lain!”
“Cih......istri......urus aja calon istri Pak Andre. Sepertinya dia masih menunggu Pak Andre!” ditunjuknya Dina yang masih duduk.
“Calon istri apa!! Mami istri saya, bukan dia!” sahut Andre.
“YUK Mitha , kita balik ke kantor.....sudah mau jam 1!” ajak Lina terlebih dahulu ke bagian kasir untuk membayar makan siang, mengabaikan keberadaan Andre.
“Makan siangnya sudah dibayar Bu Bos!” ucap Faisal melihat Lina sudah mengeluarkan uang.
“OH makasih ya sudah ditraktir!”
“Bukan pakai uang saya Bu Bos, tapi pakai uang Pak Bos!” elak Faisal.
“Makasih Pak Andre!” ucap Lina sopan, lalu meninggalkan suaminya begitu saja.
“Andre.....!” merasa di abaikan Dina langsung memegang lengan Andre, namun ditepisnya.
“Hari ini kita harus membicarakan proyek kerja sama perusahaan kita berdua!” tutur Dina.
“Faisal, tolong cek jadwal saya. Dan kasih tahu ke Dina kapan jadwalnya!” Andre bergegas mengejar Lina yang sudah duluan keluar dari rumah makan padang.
“Dina nanti saya kabari secepatnya, catatan jadwalnya ada dikantor!”
“Kalian berdua sama saja!” dengus Dina ikutan keluar. Faisal hanya bisa terkekeh melihatnya.
🌹🌹
Seperti yang telah di sampaikan Mitha tadi pagi, Lina dan Mitha memasuki ruangan meeting, karena siang ini ada rapat yang beragendakan persiapan raker seluruh cabang.
Beberapa mata terlihat tidak sukanya kehadiran Lina, terutama mata kaum hawa, seakan akan ingin memusnahkan Lina.
Dengan sikap cueknya Lina mendaratkan bokongnya di salah satu kursi bersamaan dengan Mitha.
Semua perwakilan dari berbagai divisi sudah hadir, tinggal menunggu kehadiran CEO mereka.
TAP.........TAP........TAP
Suara hentakan sepatu terdengar semakin mendekat ke ruang meeting, beberapa karyawan yang sedang mengobrol, terhenti sejenak. Teralihkan dengan kedatangan seseorang.
.
.
bersambung
Terima kasih untuk Kakak Reader yang masih setia membaca novel recehan ini 😊, yang masih belajar dan masih banyak kurangnya 🙏.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya dan rate ⭐⭐⭐⭐⭐ jika berkenan. Kalau gak kasih juga gak pa-pa 🙏😊. Hanya untuk penyemangat aja 😊.
__ADS_1