
“Tadi Nyonya Rina kasih kabar, Noah demam.......badannya panas,” hati-hati Mitha memberi kabar, karena Noah anak dari Andre. Tidak suka dengan Andre, tapi takut Noah terkena imbasnya juga.
“Ya Allah.......anakku!” seketika raut wajah Lina berubah, sepertinya dia telah melupakan kehadiran Noah anak angkatnya.
“Mitha, antar gue ke mansion sekarang,” titah Lina segera beranjak dari ranjangnya.
“Yakin......mau ke mansion si Bos!” Mitha kembali bertanya akan keputusan Lina.
Sesaat langkah Lina berhenti...”demi anak gue Mitha!” jawab menyakinkan dirinya sendiri.
“Baiklah, kita berangkat.”
Mitha, Lina dan Mama Anggi ikut pergi ke mansion Andre yang berada di Bogor.
🌹🌹
Kakiku kembali lagi menapak mansion Pak Bos, tempat yang pernah ku singgahi. Aku tak tahu jika pertama kali ku menginjak mansion ini, aku telah menjadi istrimu. Sekarang aku kembali datang......bukan untuk menetap......mungkin hanya singgah sesaat.
“Hua..........hua........hua!” suara tangisan Noah terdengar kencang hingga dari luar kamarnya juga terdengar.
“Lina.......” sapa mama Rani terkejut yang sibuk mengendong dan menenangkan Noah, tidak menyangka menantunya mau datang ke mansion Andre.
Lina langsung salam takzim ke mama Rani, berusaha tersenyum walau tidak bisa dipungkiri.....senyumannya terpaksa. Masih belum menyangka Mama Rani adalah mertuanya.
“Sayang........anak mami..” Lina langsung mengambil Noah dari gendongan Mama Rani.
“Hua......hua...mi.....mi!” tangis Noah dalam gendongan Lina.
“Yaaaa......sayang.....ini mami....sayang,” tutur Lina sambil menghapus air mata Noah. Dipeluknya tubuh Noah yang terasa panas.
“Sudah dibawa ke dokter Mah?”
“Tadi pagi dokter sudah mengecek.”
Dalam dekapan Lina, Noah terlihat berhenti menangis, tinggal sesegukan......sesekali mata Noah menatap wajah Lina “mi.....mi...!” celotehnya.
“Iyaa sayang ini mami.....!” tak disangka dia begitu bodohnya melupakan anak angkatnya, mengerutuki dirinya sendiri.....tidak ingat ada anak yang membutuhkan dirinya.
“Sepertinya Noah sakit karena merindukan maminya,” tutur Mama Rani.
Lina menganggukkan kepalanya, matanya mulai berkaca-kaca.
“Maafkan mami sayang.....,” ucap Lina sambil mengecup kening Noah.
“Mama juga minta maaf atas tindakan anak mama yang menikahi kamu Lin.”
“Lina sudah memaafkannya mah!” untuk kali ini dia tidak mau membahas pernikahan dengan Bosnya.
“Sebentar lagi jam makan siang, Mama siapkan makan siang dulu, mama kamu ikut ke sini juga kan?” alasan Mama Rani untuk meninggalkannya, karena ada rasa tidak enak setelah semuanya terbongkar.
“Ikut mah, kayaknya ada di bawah.”
Kini Lina hanya berdua dengan Noah di dalam kamar Noah, terlihat Noah mulai tertidur dalam gendongannya.
Enggan dia untuk memindahkan Noah ke ranjangnya, yang ada dia duduk di sofa sambil mendekap Noah. Sesekali dia mencium pucuk kepala Noah, ada rasa tenang saat mendekap Noah........sesaat dia lupa kalau sudah dinikahi dengan daddynya Noah.
Andre dengan langkah kaki yang cepat setelah turun dari mobil, masuk ke dalam mansionnya. Setelah mendapat kabar kalau istrinya ada di mansionnya, Andre langsung meninggalkan rapatnya. Hatinya berdebar-debar, setelah beberapa hari tidak melihat wajah istrinya.
__ADS_1
Tahukah Lin, hatiku berdebar-debar saat dapat kabar dari Faisal, kamu kembali ke mansion......rumah kita. Tidak perduli dengan rapatku dan pekerjaan yang menumpuk. Aku ingin bertemu denganmu, aku ingin melihat wajah istriku yang selalu kurindukan.
“Mama Anggi....” sapa Andre sambil salam takzim ketika mereka bertemu di ruang utama.
“Lina ada di mana mah?"
“Di kamar Noah.”
“Nak Andre, sebaiknya jangan dekati Lina dulu. Beri dia ruang untuk dirinya sendiri, dia ke sini datang karena mendapat kabar Noah sakit,” pinta Mama Anggi.
Sejenak raut wajah Andre berubah, saat kepulangan dengan semangat, sekarang tiba-tiba hilang semangatnya.
“Baik mah, saya hanya melihat dari jauh saja,” jawab Andre. Walau bagaimana pun Andre rindu dengan istrinya.
Andre membuka pintu kamar Noah dengan hati-hati, di lihatnya Lina memangku Noah yang terlelap.
Entah kenapa netra Lina dan Andre tanpa sengaja saling menatap.
“Boleh saya masuk?” tanya Andre masih berdiri di pintu kamar.
Lina menganggukkan kepalanya. Karena dapat persetujuan dari Lina, Andre masuk dan duduk di tepi ranjang.
Andre dan Lina tampak canggung, terutama Andre yang agak bingung memulai berbicara, takut Lina tiba-tiba histeris seperti kejadian di rumah sakit.
Sedangkan Lina hanya diam, tidak ada yang ingin di bicarakan.
“Mami, apakabarnya? Sudah sehatkah?”
“Baik.”
“Sssst........ssst....sayangnya mami,” ditepuk-tepuk lembut bokong Noah, agar kembali tidur.
“Terima kasih mami mau menjenguk Noah.”
“Mmmm....”
Kembali lagi Andre dan Lina terdiam. Andre terlihat gelisah dalam duduknya, tidak kuat dengan suasana yang agak aneh buat dia.
Andre beranjak dari duduknya, lalu mendekati tempat sofa yang di duduki Lina. “Mami, biar daddy pindahin Noah ke ranjang. Mami pasti capek memangkunya,” pinta Andre sambil memegang Noah.
Ditepisnya tangan Andre yang ingin mengangkat Noah ”tidak usah Pak Andre, saya masih rindu dengan Noah.”
Andre berjongkok di hadapan Lina “Mami.......kembalilah tinggal di sini. Daddy juga rindu sama mami!” ucap lembut Andre. Tatapan Andre tak putus-putusnya menatap wajah istrinya.
“Mami tidak sekamar sama daddy juga gak pa-pa, yang penting Mami tinggal sama daddy!” Andre kembali memohon.
Belum ada jawaban yang keluar dari mulut Lina, hatinya kalut masih belum siap menghadapi kenyataan. Pria tampan yang jongkok di hadapannya adalah suaminya yang membuat dia menjadi istri kedua.
Sekelebat adegan ciuman Andre dan Dina muncul di pikirannya.
“Bagaimana kalau saya minta bercerai!” ucap Lina pelan.
DEG...
Andre menatap istrinya dengan tatapan nanarnya, terdengar sudah kalimat keramat dari Lina. Dia bangun dari posisi jongkoknya dan berdiri di hadapan istrinya, di raupnya wajah dia sendiri. Kembali lagi netranya menatap Lina, sedangkan yang ditatap memalingkan wajahnya.
Hati Andre sepertinya ingin emosi mendengar kata cerai dari istrinya, sebelum itu terjadi .........Andre keluar dari kamar Noah. Dan menuju ke kamar mereka yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
“AAAAKKKHHHHH......!” teriak Andre dari kamar.
PRANK...!!!
PRANK...!!!
PRANK...!!!
Segala barang pecah belah yang ada di kamar Andre, menjadi pelampiasan amarahnya.
Sedangkan Lina menutup telinga Noah, agar tidak ke bangun dari suara dan teriakan dari kamar sebelah.
“Mitha....” ucap Lina dari sambungan handponenya.
“Iya Mih.”
“Tolong bilang ke Pak Faisal........sekarang juga ke kamar Pak Andre, kayaknya Pak Andre sedang mengamuk!” ucap Lina.
“OOH....... iya Mih.”
Mitha memutuskan sambungan teleponnya, dan bergegas mencari Faisal.
Tidak menunggu waktu lama Mitha, Faisal sudah di lantai 2. Sedangkan Tini baby sitter ikut mereka sambil membawakan makanan Noah dan Lina.
“Mih......!” sapa Mitha.
“Mami gak kenapa-napa kan?”
“Saya gak pa-pa Mitha,”
Suara gaduh dan teriakan terdengar dari kamar sebelah. Faisal hanya bisa menunggu di luar kamar, tidak berani untuk masuk. Sayang nyawa, dari pada jadi tempat pelampiasan bosnya.
“Pak Faisal, kenapa tidak masuk?” tanya Lina.
“Masuk sekarang, sama aja nganter nyawa ke kandang macan!”
“Terus Pak Andre di biarkan saja!” entah kenapa ada rasa cemas dibenaknya.
“Iya Bu Bos, tunggu agak redaan, baru saya masuk!”
Berhubung Noah sudah terbangun, Lina menyuapin anaknya dulu dan memberikan obat dari dokter.
Disaat anaknya udah tenang, sekarang giliran bapaknya yang gak tenang.......batin Faisal.
“Mih jangan lupa setelah suapin Noah makan, mami juga makan......biar bisa minum obatnya!” ucap Mitha sambil memberikan obat yang di bawanya.
“Thanks ya Mitha, sudah di ingatkan.”
“Wajib di ingatkan, kalau mami masih sakit. Kasihan Noah,” Mitha menatap Lina yang sangat telaten mengurus anak tirinya bukan sekedar anak angkat.
Kalimat sederhana, tapi dalam artinya buat Lina. Ternyata Noah sangat membutuhkan dirinya, kembali dia mengecup putra dari suaminya.
.
.
bersambung
__ADS_1