
“Bapak dan Ibu jangan lupa nikmati aneka minuman dan kue dulu, sudah di sediakan di luar..... sebelum pulang!” ujar Lina ramah.
“Terima kasih banyak Bu Lina!” jawab beberapa orang.
Andre mengambil alih Noah yang masih tertidur di gendongan Lina.
“Daddy mau saya bikinin kopi juga biar enak ngobrol sama karyawannya?”
“Nanti saja, mami tetap di samping daddy!” ujar Andre yang melihat Lisa mendekat.
“Andre, bisa tidak diundur petugas Akuntan Publiknya mengambil data. Ini terlalu dadakan dan belum siap. Biasanya kamu kasih tahu jauh-jauh hari sebelumnya minimal 1 bulan!” ujar Lisa.
“Kalau mbak Lisa sudah membuat laporan keuangan, berarti datanya sudah tersimpan rapi. Berarti tidak masalah untuk di audit kapan pun. Karena tinggal ambil berkas yang disimpan. Begitu aja kok repot!”
“Eh anak kemaren sore, jangan sok tahu kamu, kamu juga baru kerja setahun kan di keuangan. Jadi tidak paham tentang audit keuangan!” ujar Lisa lantang yang merasa lebih tua dari Lina.
“Jangan asal bicara Lisa, istri saya lebih lama terjun di keuangan ketimbang kamu baru 2 tahun! Dan istri saya termasuk team audit akuntan publik milik Nugraha!” bela Andre.
DEG !!! Kembali bergejolak hati Lisa dibandingkan oleh Lina.
“Mbak Lisa kalau tidak ada yang disembunyikan ... tenang aja, kan cuma di audit aja. Ayo Dad, kita harus keluar...... yang lain juga mau mengobrol sama Daddy!” ujar Lina santai.
Dasar sialan nih perempuan !!!
“Kita lihat hasil kerjamu Lisa!” ucap Andre sambil lalu.
.
.
Setelah dari pagi sampai sore sibuk dengan rapat, malam ini Lina sibuk membantu Mama Anggi dan Mama Rani menyiapkan malam mereka sambil mengendong Noah yang lagi manja, tidak mau sama orang lain. Tapi buat dia hal mengasikan menikmati perannya sebagai ibu.
Sekarang mereka sekeluarga sudah berkumpul di meja makan, seperti biasa menyiapkan makan untuk Andre dan mamanya. Senyum bahagia terpancar di wajah pria tampan, menikmati makan yang telah disiapkan istrinya.
Berhubung Noah sudah makan duluan, Lina bisa menyantap makannya dengan tenang.
Faisal dan Mitha ikut bergabung makan malam bersama mereka, dan tidak bisa menolaknya.
“Mah, Pah.......!” Lina membuka pembicaraan melihat mereka telah usai makan malam.
“Ya Lin...,” ujar Papa Nugraha.
“Ada yang ingin saya bicarakan dengan Papa, Mama Rani dan Mama Anggi.”
Andre menatap Lina penuh arti. Mitha mendekatkan Lina dan memberikan beberapa lembar kertas. Kertas tersebut Lina berikan ke Papa Nugraha.
__ADS_1
“Pak Andre meminta saya menjadi istri pura-pura untuk beberapa bulan!” ujar Lina menundukkan kepalanya menahan rasa tidak nyamannya.
“Andre.......benar seperti itu?” tanya Papa Nugraha pura-pura baru tahu. Padahal saat sarapan pagi Andre sudah mengutarakan niatnya demi memikat hati istrinya.
“Benar Pah, demi menjaga nama keluarga kita. Karena kehadiran Noah pasti jadi pertanyaan orang, siapa ibunya. Dan pernikahan saya dengan Sita tidak banyak diketahui orang.”
Kedua orang tua Andre dan mama Anggi membaca lembar kertas yang diberikan Lina.
“Saya bersedia menjadi istri pura-pura tapi dengan persyaratan dan saya minta Papa, Mama Rani dan Mama Anggi jadi saksi perjanjian ini.”
“Kalau kamu sampai hamil bagaimana?” tanya mama Rani.
“Astaga mama Rani, jangan sampai hamil dong! Kan hanya istri bohongan aja! Duh amit-amit hamil anak Pak Andre!”. Netra Andre melotot mendengarnya.
“Ya siapa tahu mama dikasih cucu lagi, kalian kan sekamar berdua. Pasti ada setannya,” goda Mama Rani.
“Tuh kan Dad, dengar omongan mama. Udah benar kita jangan sekamar!”
“Gak bisa kita tetap sekamar!” tegas Andre.
Mama Rani membubuhkan tanda tangan sebagai saksi, di ikuti Mama Anggi dan Papa Nugraha.
“Nah sekarang semua yang di sini sudah tahu, jadi daddy harus mematuhi persyaratan yang tertera!” ujar Lina dengan senyum kemenangan.
Suami Istri yang aneh.......batin Faisal.
.
.
Secangkir coklat hangat menemani Lina malam ini, menikmati udara sejuk di depan kolam renang. Kebetulan Noah sudah tidur dan sudah berada di kamarnya, jadi dia bisa menikmati waktunya sendiri.
“Mih.....loe beneran dengan persyaratan yang di ajukan?” tanya Mitha.
“Sangat yakinlah, demi keamanan sendiri!” ujar Lina sambil menyesap minumannya.
“Pak Andre masih status suami orang, walau sudah menalak istrinya. Tapi belum resmi secara hukum.”
“Mami....gak ada gitu rasa suka dengan si Bos?”
“Entahlah, rasanya sih biasa aja. Justru gue pengen banget perjanjian ini cepat selesai, berharap si Bos dapat pengganti istrinya.”
“Kali aja gitu Mih, pernah mimpi dan pengen jadi istri Pak Bos...!”
“ Halu aja kamu, gue gak pernah mimpi punya suami seperti si Bos, justru gue pengen punya suami yang sederajat biar tidak jomplang, kalau ganteng pasti, kalau mapan pasti jugalah. Tapi tidak mesti sekaya sultan.......repot pasti banyak wanita yang menggodanya.” Lina kembali mengulang kata kata yang sudah terpatri di otaknya.
__ADS_1
“Benar juga sih Mih!”
“Mitha, gue bersyukur loe mau tinggal di mansion ini, paling tidak gue ada temennya selain mama.”
“Gue malah senang banget Mih, gak menyangka diminta tinggal di mansion yang mewah ini berasa menginap di hotel ketimbang di kost yang sempit, lagian gue kan aspri mami jadi harus dekat dong!”
“Iya juga sih.”
“Ehmmm..........!”deheman suara laki-laki.
Mereka berdua tidak menyadari, jika Andre sudah berada dari tadi.
Lina dan Mitha berhenti mengobrol, wajah mereka menatap ke pria yang mendekati mereka.
“Mami, sudah malam....waktunya istirahat!” ucap Andre sambil memegang bahu Lina.
“Baru duduk sebentar di suruh masuk, udah kayak bocah aja!” celetuk Lina.
“Kalau nanti lama-lama diluar, nanti mami masuk angin.”
“YAAAkan cuma masuk angin aja Dad, bukan kemasukkan lainnya!” ujarnya agak bete.
“Mih, gue juga ke kamar duluan ya, udah ngantuk nih mata!” ucap Mitha bergegas meninggalkan mereka berdua. Padahal dia segan akan kehadiran Bosnya.
“YA Miitha, udah ninggalin gue aja!” wajah Lina mulai cemberut.
“Gara-gara Daddy nih!” gerutu Lina mulai beranjak dari duduknya.
“Mami kalau cemberut tambah cantik!” goda Andre sambil mengikuti Lina.
Sebelum masuk ke kamarnya, Lina mampir ke kamar Noah, terlihat Noah tertidur pulas di temani Tini.
“Anak ganteng mami sudah pulas tidurnya,” ucap Lina sambil mengangkat Noah dari ranjangnya.
“Daddy tolong bawain susu sama botolnya, dan diapernya,” titah Lina. Tanpa bersuara Andre membawanya dan menyusul Lina ke kamarnya.
Noah dibaringkan ke ranjang mereka berdua, dengan sengaja Lina membaringkan Noah di posisi tengah ranjang.
Lina tersenyum senang. Dengan adanya Noah, gue bisa aman tidur tidak dekat dengan Si Bos.......batin Lina.
Kini wajah Andre terlihat bete, melihat Noah berada di tengah ranjang mereka, malam ini dia bakal tidak bisa memeluk istrinya.
.
.
__ADS_1
*bersambung
Jangan lupa dukungannya Kakak Readers 😘*