LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Terucaplah kata keramat!


__ADS_3

"Memberikan pelajaran buat mulut anak bapak!” jawab kasar Andre.


Papa Nugraha, Faisal sudah masuk ke kamar Lina. Sita terlihat acuh dengan kedatangan papa mertuanya.


“Sepertinya ada tamu yang tidak di undang!” tegur Papa Nugraha.


Mitha segera menyingkir dari sofa, mendekati Faisal yang sedang berdiri. Tini mulai standby di samping Noah yang masih tertidur.


“Ada maksud apa Besan sampai tahu tempat ini dan datang kesini?” tanya Pak Nugraha.


“Jangan-jangan kalian menyewa penguntit untuk mengikuti keluarga kami!” ucap Andre.


“Wajar kalau kami seperti itu, melihat suami anak saya berubah, ternyata dia punya wanita simpanan!” ucap Pak Agus dengan tatapan jijik ke Lina.


“HA......HA......HA.....Besan dan menantu saya sudah hebat sekali!”


Pak Agus dan Bu Anita sebenarnya sudah menahan keringat dinginnya, karena yang mereka hadapi bukanlah orang biasa seperti mereka.


“Anak saya sedang hamil, dan kami ingin suaminya kembali seperti dulu. Penuh perhatian.....dan Sita membutuhkan suaminya berada selalu disampingnya,” ucap Bu Anita memelas.


“Lagi pula anak yang dikandung Sita, salah satu ahli waris keluarga Nugraha.......yang harus dijaga!” sambung Pak Agus.


“Sita, saya kok jadi sedikit ragu. Apa betul itu anak saya? Atau anak dari pria lain?” selidik Andre menatap tajam ke arah Sita.


Sita terlihat diam saja tidak menjawab pertanyaan Andre, justru Pak Agus terlihat geram dengan tuduhan Andre.


Padahal kenyataannya Sita semenjak melahirkan Noah, sering sekali keluar malam ke club, dengan alasan kumpul dengan teman-temannya di cafe atau resto mewah.


Lina yang duduk di apit Andre sama Papa Nugraha rasanya ingin bangkit dari lingkaran ini.


“Dan gara-gara wanita ini, menantu saya berubah 100% dengan istrinya dan kami selaku mertuanya!” tuding Pak Agus.


“Jaga mulut Anda Pak !! Jangan asal tuduh jika tidak ada buktinya, siapa yang merubah menantu Anda ! CEK anak anda dan ibu bapak selaku mertua Pak Andre!” napas Lina sudah mulai menggebu-gebu menahan emosi.


Segelas air minum diberikan ke Lina oleh Andre, agar napasnya teratur. Dia tidak peduli sorot mata mertuanya.


“Penuh perhatian......seperti apa !!! Uangkah, Hartakah !!”Andre bersedekap menatap ke dua mertuanya tanpa putus.


“Baca ini!” Andre melemparkan surat yang tadi Papa Nugraha berikan.


Pak Agus segera membukanya, kedua tangannya gemetaran. Kelakuan mereka ketahuan.


“SITA, KAMU PENCURI!” suara Andre menggelegar.


Sita segera mengambil surat yang berada ditangan bapaknya, dan membacanya.


“Aku tidak mencurinya, ini hakku sebagai istrimu!” jawab santai Sita.


“Itu tanah milik Papaku, bukan milikku!” bentak Andre geram melihat Sita merasa tidak bersalah.


“Dan mumpung Ibu, Bapak dan Papa ada di sini, saya juga akan membicarakan sesuatu. Saya tetap bertanggung jawab dengan anak yang dikandung Sita walau nanti hasil DNA bukan anak saya, dan setelah Sita melahirkan, saya akan menceraikannya!”

__ADS_1


“APA......CERAI !” ujar mereka bertiga serempak.


“Aku gak mau sayang, aku gak mau diceraikan. Aku mencintai kamu sayang!” Sita mendekati tempat Andre duduk.


“Ini benar-benar anak kamu sayang, aku tidak berhubungan dengan siapa pun selain kamu mas!”


“Sayang.....jangan ceraikan aku!” Sita memohon.


“HA........kita tunggu saja hasil tes DNAnya setelah anak itu lahir. Lagi pula saya sedikit curiga denganmu, setelah dapat laporan kamu sering keluar masuk club  malam!”


Mitha yang sibuk dengan handphonenya diam-diam merekam suasana dikamar ini, entah kenapa dia ingin mengabadikannya.


Lina yang melihat Sita sedang memohon ke Andre, dia memalingkan wajahnya ke Papa Nugraha yang berada di sampingnya. Sungguh dia jengah dengan keadaan ini !


“AAAKKH.....!” teriak Lina.


Sita menarik rambut Lina dengan kuatnya hingga kepala Lina terbentur meja kaca sofa.


“Mami.......!” teriak Mitha berlari ke sofa dan Andre memegang badan Lina.


Berapa pengawal menahan Sita dan kedua orang tuanya agar tidak kabur.


Darah segar mengalir dari pucuk kepala Lina, meja kaca terlihat retak karena hantaman Sita.


“Dad.......!” suara Lina melemah, pandangan matanya mulai kabur.


“Sayang.......bertahanlah!” tangis Andre tak tertahan, di gendongnya tubuh Lina ke atas ranjang.


Sebelum Andre ikut ke ruangan tindakan, dia menatap Sita dan ke dua mertuanya.


“Sita Darwanti, saya talak 3 kamu. Mulai hari ini saya melepaskan tanggung jawab saya sebagai suami dan mengembalikan kamu kepada Pak Agus dan Bu Anita,” dengan lantangnya ucapan Andre tanpa ada rasa penyesalan.


“TIDAK.........MAS!” histeris Sita.


“Aku minta maaf mas, tadi aku tidak sengaja!” Sita memeluk Andre.


“Joni, Faisal bawa mereka ke kantor polisi. Laporkan atas kekerasan dan pencurian!” dengan sekuat tenaganya mengurai pelukan Sita.


“Tolong nak, jangan laporkan kami!” mohon Pak Agus.


Ternyata beberapa polisi sudah datang untuk menangkap mereka bertiga. Andre menyerahkan masalah ini ke pihak berwajib, tidak peduli dengan teriakan mereka.


Langkah kaki Andre berlari kecil ke ruang tindakan, di mana Lina berada.


Terlihat Mitha sedang terisak sendirian sedih melihat nasib temannya.


“Pak.......kasihan nasib mami!” isak Mitha.


“Semuanya sudah tertangani, jangan khawatir. Lina tanggung jawab saya selamanya!”


Mitha menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Para perawat di dampingi dokter membawa brankar Lina ke ruang CT scan, terlihat wajah pucatnya...kepalanya sudah diperban dan matanya masih terpejam.


Andre mengusap air matanya, baru saja istrinya bermanja ria dengannya. Sekarang dia terluka lagi.


Setelah selesai, Lina dipindahkan ke kamar rawatnya.


“Pak Andre, sekarang Bu Lina sedang dalam pengaruh bius. Di kepalanya terpaksa kami jahit karena ada robekan, ada 5 jahitan. Dan saat ini mohon diperhatikan saat mulai sadar nanti, ada keluhan pusing atau mual segera beritahu saya!” ujar Dokter Ridwan.


“Baik Dokter.”


Kamar rawat Lina sudah terlihat rapi lagi dari kegaduhan tadi, untuk sementara baby Noah dipindahkan ke kamar sebelah. Mama Rani dan Mama Anggi sudah mengetahui kejadian saat mereka istirahat dari Papa Nugraha. Sekarang mereka berkumpul menemani Lina, kecuali Faisal yang masih membuat laporan di kantor polisi terdekat.


“Terima kasih nak, kamu sudah memberikan keputusan yang terbaik hari ini!” Papa Nugraha menepuk bahu Andre, akhirnya anaknya mengucapkan kata talak ke Sita.


Dipeluknya Papa Nugraha, terdengar isakkan Andre. Mama Rani ikut memeluk mereka berdua.


“Sekarang Lina satu-satunya istri kamu, menantu kami.......jaga dia baik-baik!” ucap Mama Rani, ada rasa bersyukur anaknya tidak gelap mata lagi dengan tingkah laku Sita.


Andre menganggukkan kepalanya.


“Buat dia menerimamu, dan lamar dia lagi secara resmi walau dia sudah jadi istrimu!” sambung Papa Nugraha.


“Iya Pah...!” tersenyum lega Andre. Permasalahan yang datang, satu persatu mulai terselesaikan.


.


.


2 jam Andre setia menunggu, duduk di samping ranjang Lina sampai ketiduran, dan tidak melepaskan genggamannya.


“Mah........mah,” sayup sayup suara lemah Lina terdengar.


“Akhirnya mami bangun juga!” ucap Andre terbangun dari tidurnya.


Lina menatap Andre dengan sendu tanpa berkata, mengingat kejadian tadi.


“Mah......!” panggil Lina. Mama Anggi menghampirinya.


“Ya sayang.......ini mama, kamu mau apa?”


“Mah.........hiks......hiksss......sakit mah,” tangis Lina pecah tak terbendung.


“Apa yang sakit nak.....?” Mama Anggi mencoba menenangkan Lina.


.


.


bersambung......


Thank you buat Kakak readers semuanya, sudah up lagi ya. Jangan lupa like, komen dan votenya buat karya recehku. Biar tambah semangat 😘

__ADS_1


__ADS_2