LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Kasih sayang suami


__ADS_3

Ruang Praktek Dokter Kandungan


Andre menemani Lina untuk pemeriksaan rahim di ruang Dokter Tina.


“Bagaimana keadaan Bu Lina tadi pagi, darah yang keluar masih banyak atau sudah berkurang?” tanya Dokter Tina.


“Tadi pagi sudah berkurang darahnya, sudah seperti darah haid  tidak banyak,” jawab Lina.


“Alhamdulillah berarti, obatnya bekerja dengan baik. Sekarang kita cek kondisi rahim bu  Lina dulu. Silahkan naik ke atas rajang. Mungkin bapak bisa bantu istrinya naik ke ranjang dulu,” pinta Dokter Tina.


Sebagai suami siaga Andre membopong istrinya naik ke ranjang.


Perawat langsung menyelimuti bagian pinggang kebawah, lalu menyingkapnya baju Lina dan melumasi gel pelumas ke seluruh perut Lina.


Dokter Tina mulai melakukan USG, dengan seksama memperhatikan layar monitor yang memperlihatkan kondisi rahim yang berada di perut Lina. Lalu menscan beberapa bagian untuk di cetak.


“Baik Bu Lina, bisa kembali duduk lagi,” ujar Dokter Tina setelah menyelesaikan USG nya.


Andre kembali membantu istrinya untuk kembali duduk di sampingnya.


“Dokter Tina, bagaimana hasil usg istri saya?” tampaknya Andre tidak sabaran untuk mengetahui perkembangan terbaru.


“Dari hasil USG hari ini, sudah ada perkembangan yang lebih baik. Dinding rahim sudah mulai terlihat bersih, tidak  seperti kemarin. Nanti tetap saya kasih suntikkan penguat rahim kembali, agar efek buruk obat penggugurnya tidak terlalu berpengaruh ke rahim bu Lina.”


“Dokter Tina, sekiranya istri saya bisa pulih kembali rahimnya?”


“Insha Allah Pak Andre, pengobatan ini salah satu cara untuk memulihkannya kembali. Besok kita lihat kembali progressnya, jadi untuk sementara bu Lina wajib bedrest dulu di sini.”


“Terima kasih banyak Dokter Tina,” ucap Lina.


“Dengarkan sayang, mami bisa pulih kembali," sambil mengelus perut istrinya.


Senyum Andre merekah dan mengecup pipi istrinya.


Yang di kecup Lina, tapi yang merona Dokter Tina.


Selesai mengecek di ruang dokter, di dampingi seorang perawat membawa Lina dengan kursi roda, kembali ke kamar rawat inap. Dengan setianya Andre mengenggam tangan istrinya sepanjang jalan menuju kamar rawat.


Suasana kamar rawat Lina seperti nya ramai sekali, ketika dia kembali ke kamar, rupanya teman-temannya sudah datang.


“ Apakabarnya mami,” sapa Fani, Susi, Mitha. Mereka bergantian cipaka cipiki.


“Alhamdulillah sudah lebih baik dari pada kemaren,” jawab Lina.

__ADS_1


“Sayang, naik ke ranjang dulu ya. Ingat kata dokter harus bedrest dulu,” Andre mengingatkannya.


“Iya Daddy,” jawab Lina. Andre salah satu tangannya menelisik ke bahu Lina, satunya lagi ke bokongnya. Lalu di angkatnya dari kursi roda menuju tempat tidur. Jadilah Lina kembali berbaring di ranjang.


“Duh mami punya suami so sweet banget sih, perhatian banget,” ucap Susi.


“Duh maaf ya jadi gak enak nih, lupa kalau masih ada jomblo. Saya doaiin semoga cepat dapat jodoh ya.  Jodoh yang baik,” ucap Lina.


“Amin......,” jawab serempak mereka bertiga.


“Mitha, padahal jodohmu dekat loh.....dekat banget,” ucap Lina.


“Siapa Mih, perasaan gak pernah dekat sama cowok deh,” Mitha terlihat kebigungan.


“Haduh Mitha masih aja gak sadar, padahal hampir tiap hari ketemu, sering tugas bareng. Aduh Mitha,” tepok jidat si Lina.


“Kasih tahu Mih, kita kok jadi penasaran,” ucap Susi.


“Tuh cowoknya yang lagi duduk sama Pak Bos,” celetuk Lina.


“Astaga Mami, amit amit jabang bayi.......Pak Faisal........si cowok dingin,” ujar Mitha, bahunya tergidik seketika.


“Dingin... dingin, tapi lumayan gantenglah, masih enak dilihat,” sambung Fani.


“HA........HA.......HA........bener kata Susi,” balas Lina.


“Ya siapa tahu aja  Mitha ama Pak Faisal berjodoh, siapa tahu ya,” lanjut Lina.


Mitha cuma bisa mengaruk garuk kepalanya yang gak gatal. Jodoh tidak pernah ada yang tahu, sejauh mencari, ternyata jodohnya ada di samping kota.


Sementara Andre duduk di sofa dengan Faisal untuk membahas kelanjutan masalah Siska.


“Nanti kamu koordinasi ke Dokter Tina, untuk minta rekam medis mami. Sama sekalian minta ke Dokter Tina menjadi saksi,” pinta Andre.


“Baik Pak Bos, nanti saya coba konfirmasi dengan Dokter Tina, biar kasus ini cepat masuk ke pengadilan.”


“Sayang.......mami makan siang apa?” tanya Andre menghampiri istrinya yang masih bercengkerama dengan ketiga temannya.


“Daddy, mami pengen mie udon kuah kare.........boleh gak?” memohon dengan mata puppy eyesnya. Karena tahu suaminya paling gak suka kalau lihat istrinya makan mie dan sejenisnya.


“Gak bo-----,”


“Sekali ini boleh ya please, nanti mami kasih daddy kayak semalam deh,” rayu mautnya keluar.

__ADS_1


Andre menangkap wajahnya istrinya terlihat mulai menggodanya “ya udah boleh, tapi ingat janjinya,” Andre balas dengan senyum messumnya.


“YESSS........akhirnya makan udon,” girang Lina.


“Faisal pesankan makan siang, sekalian buat yang ada di sini semua,” titah Andre.


“Siap Pak Bos, Mitha mau makan pakai apa?” tanya Faisal, dengan nada pelan tapi terkesan lembut.


“Cie....cie....cie ada yang nanya makan siang pakai apa,” ledek Lina menggoda Mitha.


Susi dan Fani hanya tertawa kecil melihat wajah Mitha seketika merah merona. Sedangkan Faisal merasa aneh, apa yang lucu.


Akhirnya Mitha, Faisal, Fani dan Susi berdiskusi untuk menu makan siang di sofa. Sedangkan Andre mulai merapatkan dirinya ke Lina.


“Mami, sekarang sudah mulai pintar merayu daddy ya...”


“Kan merayu suami sendiri bolehkan, kecuali merayu suami orang baru gak boleh. Atau jangan-jangan daddy gak suka mami rayu ya.”


“Suka sayang, kalau bisa tiap hari, rayu daddy juga boleh.”


“Itu emang maunya daddy, rayuan messum........ya kan,” Lina mencolek dagu Andre.


“Nih kalau gak ada mereka berempat, mami udah habis daddy terkam,” gemes Andre udah di bikin ON lagi sama Lina.


“Iiiisshhh.....si daddy, masih siang, matahaei belum tenggelam. Lagian mami gak bisa di terkam,” goda Lina sambil meraba dada suaminya.


“Please mami, jangan bikin daddy ON dong. Atau daddy usir mereka dulu,” memelas Andre udah gak tahan.


“Astaga Daddy.......jangan dong.....sabar ya .......nanti mami kasih,” Lina kembali menggoda.


“Hufft........nahan dulu deh,” kecewa Andre.


Tidak menunggu waktu lama, makan siang yang mereka pesan. Dan siap di santap.


Netra Lina tampak berbinar-binar melihat semangkok udon kuah kare yang siap di santapnya.


Kadang menyantap makanan enak membuat mood seseorang menjadi lebih baik, inilah yang sedang dirasakan Lina, seakan akan mendapat mood boosternya. Apalagi makan bareng teman temannya, saat Lina masih satu divisi dengan mereka.


“Sayang......jangan banyak banyak nuangin sambalnya, ingat punya sakit lambung, ingat persiapan buat anak kita di sini,” tegur Andre sambil salah satu tangannya memegang perut istrinya.


“Iya dad, ini mami pakai sambalnya sedikit doang,” balas Lina.


Perhatian kecil tapi sering, bisa menambah rasa kasih sayang dengan pasangan.

__ADS_1


 


__ADS_2