LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Daddy minta maaf !


__ADS_3

“Istri Kak Andre ke mana sekarang?” tanya Karin.


“Kabur.....!” celetuk Mama Rani.


“Kakak tidak sempat menahannya tadi ke kantor, lebih mendahulukan anak kakak dan mami Lina!” Andre mengelus  tangan Lina.


“Emang keterlaluan istri kak Andre !” ujar kesal Karin.


“Sudah tidak usah ribut, kasihan Lina jadi terganggu istirahatnya !” ujar Papa Nugraha.


"Gak pa-pa kok Pah," senyum tipis di wajah Lina.


“Eeugh.........iss.......!” Lina mulai merasakan nyeri di punggungnya.


“Kenapa Mih?” tanya Andre melihat wajah Lina mulai meringis.


“Sakit Pak.........aduh sakit banget punggung saya !” rasa cenat cenut mulai menjalar dipunggung Lina


Andre memencet tombol untuk memanggil dokter.


Dokter jaga tiba saat menerima panggilan dari kamar pasien.


“Dokter, sepertinya Lina merasakan nyeri bekas operasinya!” ujar Andre sebelum dokter bertanya.


“Saya kasih suntikan anti nyerinya dulu ya bu !” ujar Dokter jaga.


“Ya Dokter, silahkan.”


Suntikkan obatnya telah di masukkan lewat jalan infusnya.


“Terima kasih banyak Dokter," ujar Lina.


“Sama-sama Bu, jangan terlalu banyak bergerak dulu ya Bu biar jahitannya tidak terbuka !” pinta Dokter jaga.


“Baik Dokter."


Nyeri punggungnya sudah mulai berkurang, Lina mencoba mengubah posisi tidur ya biar nyaman.


“Istirahatlah kalian berdua, Mama sama Papa mau istirahat juga di kamar sebelah. Karin ikut mama ke kamar!"


“Iya Mah !” jawab Karin.


 


**


 


Pagi menjelang, beberapa perawat sudah berkunjung ke ruang perawatan Lina. Andre terlihat lebih segar dan sudah rapi setelah mandi, sedangkan Noah sedang di bersihkan sama baby sisternya.


“Bu Lina mau di seka dulu kah sebelum kita ganti perban di punggungnya?” tanya salah satu suster yang sudah membuka kotak perlengkapannya


“Boleh deh suster, di seka dulu!”


“Kita bantu ke kamar mandi ya bu!"


Lina bangun, dan turunpelan-pelan dari ranjang, di bantu para perawat untuk di papah ke kamar mandi.

__ADS_1


“Biar saya gendong Lina aja Suster !” ujar Andre.


“Tidak usah Pak, kalau di gendong saya ngeri kena lukanya. Biar saya sama mbak suster saja!” tolak Lina sambil menepis lengan Andre yang sudah memegang tangannya, Andre tidak bisa berkutik.


Jalan penuh hati-hati tapi pasti menuju kamar mandi. Lina membersihkan badannya di bantu perawat, dan berganti baju dengan pakaian yang telah di sediakan oleh rumah sakit. Baju yang hanya menutup bagian depan dan pinggang ke bawah, sedangkan bagian punggung masih terbuka. Dan mau tidak mau Lina tidak bisa menggunakan branya.


Ah terpaksa sudah.....nih asset gak di tutup...batin Lina.


Sekarang Lina sudah berbaring tengkurap di ranjang pasien, penuh ke hati-hatian para perawat membuka perban di punggung Lina. Terlihat Andre mengamati luka yang ada di punggung Lina.


“Pak ini luka di punggung Ibu nya jahitannya masih bagus ya, tidak ada terbuka. Ini sekarang lukanya saya bersihkan dan di berikan obat lagi. Dan tolong di perhatikan perbannya, kalau ada darah segera beritahu ke kami," ujar salah satu perawat.


“Baik suster,” jawab Andre.


“Ibu usahakan punggungnya jangan banyak kena gesekan, karena lukanya belum kering dan harus hati-hati dulu,” ujar perawat.


“Iya suster."


Luka di punggung Lina sudah ditutup rapat lagi dengan perban baru. Dan para perawat telah meninggalkan mereka berdua.


“Mami......!” panggil Andre.


“Mmmm......” Lina masih dalam posisi tengkurap, pelan pelan kembali ke posisi berbaring miring.


“Daddy minta maaf!”


“Minta maaf atas apa?”


“Telah membuatmu terluka!”


Saat ini Lina tidak mau banyak berpikir, apalagi setelah  kejadian yang menimpanya.


“Kamu marah dengan ku?” melihat genggamannya di lepas.


“Tidak , saya hanya risih aja......Pak Andre!”


“Tolong maafkan saya, dan jangan marah !” Andre mendekatkan wajahnya ke wajah Lina. Hanya berjarak 10 cm, terlihat bibir Andre ingin menghampiri bibir Lina, namun sayang Lina buang muka ke arah lain.


DEG !! hati Lina sedikit berdebar-debar.


 


TOK..........TOK..........TOK


Faisal dan Mitha masuk ke kamar rawat inap


“Pak Bos!” sapa Andre.


Mitha menghampiri Lina di ranjangnya.


“Bagaimana sudah ada hasilnya ?” tanya Andre.


“CCTV di ruang Pak Bos pas kemaren ternyata mati tidak berfungsi, padahal hasil pengecekan cctv di hari sebelumnya masih berfungsi. Pihak kepolisian sudah menginterogasi beberapa OB yang bertugas bersih-bersih di ruang pak Bos.”


“Saya dan mbak Rini kemarin juga sudah di interogasi oleh pihak polisi Pak!” ujar Mitha.


“Faisal, jadi sampai sekarang belum ketemu siapa yang menaruh pisau tersebut!” tanya Andre.

__ADS_1


“Polisi sempat curiga dengan istri Pak Bos dan ibunya, karena sebelum kejadian mereka sudah berada di ruang Pak Bos. Tapi mereka tidak ada bukti yang kuat, jadi sementara ini di anggap kecelakaan!”


BUGH !!!


Tangan Andre menghantam meja makan, saking geramnya belum ketemu siapa yang menyelipkan pisau tersebut.


“Pak Bos, saya juga dapat laporan dari pelayan di rumah. Istri Pak Bos ada di mansion!”


Andre mengepalkan tangannya kembali, yang telah terluka.......


“Pak Andre.........!” pekik Lina. Andre menatap ke arah Lina.


“Jangan lukai tangannya.........àuch !” ringis kesakitan saat Lina mencoba posisi duduk di ranjangnya.


“Mami.......jangan dipaksa duduk kalau terasa sakit !” Andre mendekati ke ranjangnya, dan duduk di pinggirnya.


Ditatap mata Andre yang penuh emosi, yang belum ter luapkan.


“Lihat tangan Pak Andre, terluka.......bagaimana nanti mau mengurus Noah. Sedangkan punggungku masih terluka !” di tiupnya tangan Andre yang memerah.


Andre mendekati lebih dekat ke Lina, di tempelnya keningnya ke kening Lina, tampak hembusan napasnya terasa di pipi Lina.


“Panggil saya Daddy.......!” dipegangnya salah satu pipi Lina, biar dia tidak berpaling.


“Saya mohon.......!” Andre terasa ingin sekali mengecup bibirnya......tapi ini bukan saatnya.


“Dad.......!” suara lirih Lina. Di jauhkannya kening dia yang menempel. Dia mengalihkan pandangannya dari ke dua bola mata pria tampan tersebut.


"Aauuuuch.........," kesakitan Lina karena punggungnya refleks secara tiba-tiba menyandar ke ranjangnya sendiri.


“Mami.......!” Andre panik langsung periksa punggung Lina.


“Sakit Dad..........hiks....hiks!”


Dilihat tidak ada noda bercak darah di perbannya, Andre sedikit tenang.


“Cup........cup.....punggungnya nggak pa-pa kok. Udah jangan nangis lagi, nanti makin nyeri lukanya!” ucap Andre memeluk Lina dengan hati-hati.


“Kok daddy malah nyumpahin makin nyeri, sakit tahu rasanya!”


“Eeergh.....mami nakal. Ya udah daddy rela digigit lagi lehernya !” pinta Andre kesenangan mendapatkan gigitan dilehernya dari Lina yang saking kesalnya.


Andre sepertinya lupa dengan rasa marahnya yang tadi sudah mengebu-gebu.


“Isssh......malu ada Faisal sama Mitha Dad !” Andre melepaskan pelukannya walau tidak rela.


“Pak Bos ........!” panggil Faisal, membuyarkan pandangan Andre ke Lina.


“Selanjutnya bagaimana Pak Bos?” tanya Faisal.


“Kita ikuti arahan dari kepolisian dulu, sambil kita menyelidiki sendiri. Kamu minta team untuk mengurusnya.”


“Baik Pak."


.


.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2