LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Secangkir kopi


__ADS_3

Andre sangat mengenal kedua suara ini dari rekaman Bibi Nani, suara Sita dan Ibu mertuanya.


Tidak menyangka mendengar percakapan ini, menjadi bukti tambahan atas temuan foto CCTV rumah sakit.


“Maaf Tuan, bukan maksud menguping pembicaraan nyonya. Bibi tidak sengaja mendengar saat habis telepon anak bibi.”


Sepertinya Andre tidak mendengarnya, dia terus berjalan mondar mandir sambil sesekali mengusap rambutnya.


“Tuan?”


“Tuan, baik-baik sajakan?”


“Nggak pa-pa Bi, tapi tolong jangan sampai orang lain tahu. Dan rekaman ini kirim ke ponsel saya!”


“Baik Tuan!” Bibi Nani mengirim rekamannya ke handphone Andre.


“Dan ada sedikit rezeki untuk bibi !”


Ting.....


Suara notif di handphone Bibi Nani.


“Masya Allah, Tuan ini banyak sekali. Terima kasih banyak Tuan,” Bibi Nani terkejut melihat angka 15 juta masuk ke rekening banknya.


“Sama sama Bibi, rekamannya tolong jangan dihapus dulu. Dan simpan baik-baik!”


“Bibi, buatkan saya kopi!” Andre menyugarkan rambutnya.


“Baik Tuan,” Bibi Nani segera turun ke dapur.


Kenapa harus kamu....Sita! bisa berbuat sejahat ini, tidak habis pikir. Apa ini wujud aslimu. Kamu harus bertanggung jawab atas tindakkanmu, tapi kamu sedang hamil!........kata hati Andre yang dilema.


Andre segera menghubungi Papa Nugraha, tapi tetap saja tidak di angkat.


“Tolong....angkat teleponnya Pah!” gerutu Andre.


.


.


Di dapur Bibi Nani sedang membuatkan kopi pesanan Andre.


“Bibi lagi bikin apa?” tiba-tiba Sita sudah berada di dapur.


“Eeeeh anu nyonya, tuan muda minta dibuatkan kopi.”


Pas nih, mas Andre minta dibuatkan kopi.


“Sekalian deh Bi, bikinin aku jus alpukat!” pinta Sita sambil tersenyum licik.


“Baik nyonya,” bibi Nani meninggalkan kopi yang sudah dibuatkan untuk Andre, untuk mengambil alpukat di kulkas.


Kesempatan Sita mengeluarkan botol kecil, dan mengeluar sedikit serbuk ke kopi tersebut. Tanpa disadari Sita, aksinya terlihat oleh bibi Nani.


Siap-siap kamu mas, pasti sebentar lagi membutuhkan aku. 😏


“Bik nanti antar jusnya ke ruang tengah ya!”


“Iya nyonya.”


Setelah menyelesaikan membuat jus, bibi Nani mengantarkan jus alpukat ke ruang tengah. Sita tersenyum manis menerima jusnya, melihat secangkir kopi yang berada di nampan bibi Nani bawa.


.


.


Tok........Tok........Tok


“Masuk...!” ujar Andre.


Bibi Nani membawakan kopi, dan meletakkannya di meja kecil dekat sofa Andre duduk.

__ADS_1


“Tuan muda, ini kopinya tapi tolong jangan di minum!” Bibi Nani terlihat sedikit cemas.


Andre mengernyitkan dahinya.


Sambil mendekap nampan kosongnya “waktu bibi bikin kopi, nyonya ke dapur dan menanyakan kopi buat siapa. Bibi bilang buat tuan, lalu nyonya minta di buatkan jus alpukat, bibi tinggal sebentar ambil buah. Dan ngga sengaja bibi lihat nyonya menambahkan sesuatu ke kopi.”


“Astaga...,”Andre menghela napas dalam-dalam.


Melihat secangkir kopi di hadapannya.


“Bibi takut terjadi sesuatu kalau tuan meminum kopinya!”


Tidak mau ambil resiko, Andre mengambil botol susu Noah yang kosong lalu dituangkan kopi tadi. Hingga cangkir kopi tersebut kosong.


“Sudah sekarang Bibi tenang saja, kopinya tidak saya minum. Terima kasih Bibi telah memberitahu saya.”


“Sama-sama Tuan, biar bibi bawa cangkirnya!”


“Jangan biar di sini saja, sebenarnya saya kangen kopi buatan mami Lina,” lirih Andre.


“Semoga non Lina, cepat sembuh ya Tuan. Biar bisa kumpul di sini lagi, bibi juga kangen sama non Lina, dapur jadi ramai.”


“Iya Bi,” Andre tersenyum hangat mendengarnya.


“Bibi permisi dulu Tuan!”


“Iya Bi.”


Sepeninggal Bibi Nani, Andre mengirim pesan.


✅Andre


“Faisal, segera balik ke mansion!”


✅Faisal


“Baik Pak Bos, segera datang.”


Andre menyembunyikan botol yang berisi kopi tersebut di bawah ranjang.


.


.


Satu jam berlalu Andre berendam di bathup, tubuhnya sedikit relax. Diputuskannya mengakhiri waktu berendamnya.


Ceklek....


Pintu kamar mandi terbuka, Andre keluar hanya menggunakan handuk putih di pinggangnya, terlihat dada sobeknya.


Sebelum ke walk in closet, Andre melihat Sita tiduran di ranjang hanya mengenakan lingerie hitam, tubuh Sita terekspos semakin sexy.


“Sayang.........kamu habis mandi ya!” dengan suaranya dibuat terdengar sexy.


Glek !!


Andre menelan salivanya dengan kasar.


“Sedang apa kamu tiduran di sini!”


“Aku ingin menemanimu sayang!”


Harusnya dia sudah mulai terangsang......batin Sita melihat cangkir kopinya kosong.


Sita turun dari ranjang, dia melucuti kain yang dipakainya hingga tidak ada sehelai kain ditubuhnya. Lalu melangkah dengan gaya sensualnya mendekati Andre berdiri.


Ditatapnya wajah Andre dengan tatapan bergairah, jari lentiknya mulai menyentuh handuk yang dikenakan Andre.


Wajah Lina saat koma muncul di pelupuk mata Andre. Tatapan ke Sita langsung buyar seketika.


Andre memegang handuknya saat di rasa Sita ingin membukanya.

__ADS_1


“Sayang, kamu tidak menginginkan ku?” rayu Sita, sembari mengecup dada bidangnya Andre.


“KELUAR DARI KAMAR INI ATAU KAMU KELUAR DARI MANSION!” bentak Andre.


“Mas.......kamu kok tega.....aku istrimu yang sedang hamil!”


Andre meninggalkan Sita ke walk in closet, segera menggunakan bajunya. Dia menyadari jika Sita sedang menggunakan kelemahannya dengan menggoda pakai tubuhnya. Untungnya dia cepat sadar.


Sita masih belum menggunakan pakaiannya, malah berbaring di ranjang dengan pose menggoda..... menunggu Andre.


“Sialan... ...!” Andre masih melihat Sita di kamar Lina. Diambilnya handphone di meja, dan dia keluar dari kamar Lina.


“Mas....mas.......mas Andre!” panggil Sita, tapi dihiraukan Andre, justru ditinggalkan begitu saja.


“Kopinya habis ! Kenapa dia tidak terangsang. Padahal dosisnya tinggi!” celetuk Sita sendiri.


.


.


Tangan Andre sibuk dengan handphonenya.


Andre “Kamu sudah sampai mana ?”


Faisal “Sudah di depan gerbang Pak Bos.”


Andre “Nanti langsung ke ruang kerja!”


Faisal “Oke Pak Bos.”


Andre segera menuju ruang kerjanya. Dia berjalan mondar mandir tampak tak tenang.


Ceklek... 


Pintu ruang kerja terbuka


“Saya sudah di sini Pak Bos!” sapa Faisal dengan napas ngoss-ngossan.


“Duduk dulu!” suruh Andre. Faisal mendudukkan bokongnya di sofa.


Napas Faisal terlihat sudah teratur tidak seperti pas dia datang karena habis berlari dari luar mansion ke dalam.


“Kamu dengarkan ini!” Andre menyetel rekaman suara dari handphonenya.


Faisal mendengarkan baik-baik, wajahnya mulai terlihat geram dan memerah.


“Apakah saya tidak salah dengar dengan percakapan ini Bos? Suaranya sangat saya kenal!”


“YA...,” Andre menganggukkan pelan kepalanya.


“SITA, ISTRI PAK BOS!” Faisal mencoba menyakinkan paraduganya.


“YA.. !”


“Kita harus segera menjebloskannya sekarang!” ujar Faisal.


Mendengarkan ucapan Faisal, Andre diam sesaat. Faisal melihat raut wajah rasa tidak sukanya.


“Maaf Bos, jika kata itu salah. Dia istri tercinta Bos!” Faisal terlihat kesal dengan Andre, dengan segera dia beranjak dari duduknya.


“Kamu....mau kemana!”


“Percuma Bos, saya di sini hanya untuk mendengarkan rekamannya saja. Yang sudah jelas mengarah si pelaku. Untung Lina terselamatkan, apa jadi kalau dia sampai tiada gara-gara istri Bos!” Faisal sedikit emosi.


“Bagaimana mau saya laporkan ke polisi, dia sedang hamil. Tunggu sampai dia melahirkan!”


“Ya sampai istri bos melahirkan! Dengan mempertaruhkan nyawa Lina kembali!”


“Saya rasa Bos harus cek telinga ke dokter THT. Ucapan bahwa mereka akan mencari pembunuh bayaran, apakah tidak terdengar!!” geramnya Faisal.


.

__ADS_1


.


bersambung


__ADS_2