
"Sita sedang hamil Dad, sebaiknya cabut tuntutannya. Lagi pula setahu saya , istri dalam keadaan hamil tidak bisa diceraikan harus menunggu saat lahir!”
“Daddy bisa saja mencabut tuntutan, tapi bagaimana kalau mami terluka lagi! Dan daddy tetap akan menceraikannya, tapi masalah anak, daddy tetap bertanggung jawab.” Genggaman tangan Lina, dikecupnya berulang kali, Lina hanya memandang kelakuan Andre.
“Daddy mencintaimu mami Lina!” ungkap Andre.
Please.....jangan sering menyatakan cinta seperti itu terus.
“Sudahlah Dad, pagi-pagi jangan menggombal. Daddy tuh udah kayak playboy, mudah banget menyatakan cinta padahal baru berpisah dengan Sita sebentar,” terulas senyum tipis.
Tersentil perasaan Andre dengan kata-kata Lina.
Lina beranjak dari duduknya, namun Andre langsung memeluknya “Saya benar-benar mencintaimu Lina!” bisik Andre.
“Saya berharap Daddy, segera bertemu wanita yang tepat!” jawab lirihnya.
“Tidakkah ada rasa untukku Lina?” Andre dengan kedua tangannya menangkup wajah Lina.
“Saya takut jika menyukai Pak Andre!” ditatapnya wajah tampan Andre.
“Kenapa...?”
“Saya tidak perlu menjawabnya Dad !” Lina menepis kedua tangan Andre dan bergegas ke kamar mandi.
Kamu terlalu sempurna untukku Pak Andre dan banyak wanita di belakangmu. Cukup saya mencintai anakmu bukan Daddynya........batin Lina.
Begitu tinggi tembok yang Lina buat dihatinya untuk semua pria seperti Andre. Sadar akan siapa dirinya, dan tidak pernah bermimpi yang muluk-muluk.
Andre menghela napas mendengar jawaban Lina.
Apakah terlalu cepat mengungkapkan cinta ke sekian kali ke Lina, atau harus segerakah membongkar pernikahan ini....batin Andre.
Noah tampak menggeliat, mengerjapkan matanya. Andre mengajak anaknya berbicara.
“Eeh.........ganteng mami sudah bangun ya!” sapa Lina selepas dari kamar mandi.
“Anak mami mau mimi susu, mami bikinin dulu ya!” ucap Lina sembari membuatkan susu di meja.
Lina memberikan susu ke Andre “tolong kasihkan susunya, saya mau ke bawah dulu!” ujar Lina, tanpa menunggu jawaban dari Andre, dia langsung meninggalkannya.
.
.
“Pagi nyonya,” sapa salah satu pelayan.
“Met pagi juga mbak, sudah buat sarapan belum?” tanya Lina.
“Ini sedang kami buatkan nyonya,” jawab pelayan.
Lina membuka lemari dingin, dan melihat isi kulkas, serta mengeluarkan beberapa sayur dan ikan.
“Nyonya mau masak, biar kami saja, sudah tugas kami,” ujar pelayan 1.
“Nggak pa-pa mbak mumpung saya ada waktu, mbak tolong bersihkan saja ikan dan potong sayurnya. Saya siapkan bumbunya!”
“Baik nyonya,” semua pelayan yang ada di dapur saling bahu membahu membantu nyonya mudanya.
__ADS_1
Tanpa terasa sudah sejam Lina berkutat di dapur.
“Mi.......mi....mi....no...no!” celoteh Noah dalam gendongan Andre, Lina melirik ke arah suara tersebut.
“Mami.......!” panggil Andre.
“Eeeh......kok anak mami ada di sini, belum mandi lagi....!” ujar Lina mengambil Lina dari gendongan Andre, mengabaikan panggilan Andre.
“Mbak tolong hidangkan saja langsung ke meja makan ya!” pinta Lina.
“Baik Nyonya!”
“Nah sekarang anak mami mandi dulu ya!” ucap Lina ke Noah, lalu meninggalkan Andre yang berada di dapur tanpa sepatah kata pun.
“Pagi Pak Bos!” baru saja Andre ingin menyusul istrinya sudah ada Fasial.
“Pagi Faisal,” sahut Andre sambil melangkah menuju ruang santai.
“Ada laporan apa pagi ini?” tanya Andre.
“Keluarga Sita menyewa pengacara, dan sepertinya akan mengajukan penangguhan penahanan.”
“Kamu sudah siapkan dokumen untuk pengajuan perceraian saya dengan Sita?”
“Sudah Bos, tapi kayaknya akan sulit untuk pengajuan perceraian secepatnya, karena Sita sedang hamil. Atau nanti saya tanyakan ke pihak pengadilan.”
“Mmmmm.......”gumam Andre sembari memijat keningnya.
“Faisal, nanti siapkan dokumen saya juga untuk pendaftaran saya dengan Lina!”
“Huft..........!”Andre menghela napas dalam-dalam, ternyata rumit juga keadaannya.
“Sabar aja Bos!” ucap Faisal melihat Andre gelisah.
“Tuan.......sudah di tunggu di ruang makan untuk sarapan,” ucap pelayan yang menghampiri Andre.
“Kita......sarapan dulu!” ajak Andre. Mereka berdua melangkah ke ruang makan.
Terlihat Papa Nugraha, Mama Rani dan Mama Anggi sudah berada di ruang makan. Netra Andre menelisik semua sudut ruang makan, tapi tetap tidak ada Lina.
Andre mendudukkan dirinya, semuanya terlihat sudah mulai menikmati sarapan paginya, namun Andre belum memulai makannya.
“Andre, kok belum makan. Ini istri kamu yang masak semuanya kata pelayan!” ujar Mama Rani.
“Saya, tunggu Lina dulu Mah.”
“Mama lupa kasih tahu, istri kamu lagi nyuapin Noah di ruang play ground tadi kasih tahu ke mama!” ujar Mama Anggi.
Andre bangkit dari duduknya, melangkah cepat ke ruang play ground. Entah kenapa dia merasa Lina mulai menjaga jarak.
Lina tampak ceria meladeni celoteh Noah yang sedang di suapin makan.
“Tini, kamu lanjutin suapin Noah makan,” ucap Andre yang melihat keberadaan Tini di play ground.
“Ikut saya !” titah Andre sambil mencengkeram salah satu tangan Lina. Dia terpaksa mengikuti Andre.
“Duduk!” perintah Andre di ruang makan.
__ADS_1
Lina mendudukkan dirinya di samping Andre, dan langsung menuangkan nasi serta lauk ke piring Andre. Seakan dia tahu maksud Andre menarik dirinya ke ruang makan.
Setelah piringnya terisi, Andre langsung menyantapnya.
Mau makan aja, masa harus menunggu di ambili dulu !!
Lina mengisi piringnya, dan menyantapnya tanpa suara.
“Lin.......nanti kalau sudah fit badannya. Kamu ke kantor ya, papa dengar kerjaan keuangan banyak yang terbengkalai, Papa jadi heran sama Pak Dandi!” Papa Nugraha membuka pembicaraan.
“Iya.......Pah!”
“Saya belum mengizinkan Lina ke kantor dulu Pah, biar Lina kerjanya dari sini saja.”
Duh ........rasanya gue udah kangen kerja di kantor......kangen sibuk......kangen sama teman kerja.
“Kamu atur aja Ndre, yang jelas biar perusahaan tetap terkendali dan terkontrol.”
“Baik Pah,” Ucap Andre.
“Andre, mama minta izin ya.....ada temen mama pengen ketemu. Jadi mama suruh ke mansion kamu di sini. Bolehkan Nak?” tanya Mama Anggi.
“Ya pasti boleh dong mah, mau bikin acara di sini juga boleh. Iya kan sayang...!” jawab Andre sambil melirik Lina di sampingnya. Tapi tetap dihiraukan oleh Lina.
“Sayang, bolehkan mama bikin acara di mansion kita?” tanya Andre sambil merangkul bahu Lina.
“Eeeehhh.......kok tanya saya. Inikan mansion daddy!”
“Wajarkan Daddy tanya sama istri dulu!”
Istri aja......yang di sebut.
Lina hanya memberikan senyuman tanpa berkata.
.
.
Selepas sarapan, di dalam kamar tamu lantai bawah....
Genggaman Andre terlihat semakin erat saat Dokter Ridwan memeriksa keadaan Lina. Sedangkan Lina tampak risih.
“Bu, sekarang perban yang di kepala sudah bisa kita lepas. Tidak perlu buka jahitan,” ujar Dokter Ridwan.
“Sudah boleh keramas ya Dok?” tanya Lina.
.
.
*bersambung
Terima Kasih buat kakak Readers masih setia membaca karya recehku, jangan lupa tinggalkan jejaknya 😘😘. Dan mampir ya ke novel Istri Yang Tak Dianggap.
Love you sekebon 😘😘😘*
__ADS_1