LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Cemburu


__ADS_3

Andre memicingkan kedua matanya melihat pemandangan yang tidak terlalu jauh dari hadapannya. Sosok wanita mungil dengan rambut panjang curly berwarna coklat di gerainya, di tambah dengan dress kerjanya terlihat lekat di pinggang, bikin mengundang mata kaum adam.


Faisal yang berjalan di samping Andre, sesekali melirik Bosnya. Faisal tahu wanita yang jaraknya tidak jauh dari mereka adalah istri bosnya.


Wanita yang di perhatikan Andre dari belakang, sedang jalan beriringan dengan seorang wanita dan seorang pria. Dilihatnya sesekali si pria saat berjalan suka merangkul pinggang si wanita berambut coklat, tapi di tepis oleh sang wanita.


Ha..ha...ha ada yang terbakar cemburu rupanya.......batin Faisal.


Mitha, Lina dan Wahyu memasuki ruang pertemuan. Dengan ramahnya Lina menyapa para kepala cabang yang ada di ruangan tersebut. Tanpa di sadari Lina, Wahyu mendampingi Lina saat menyapa rekan-rekannya, begitu posesifnya dia menjaga Lina untuk tidak berlama-lama berjabat tangan dengan pria lain.


“Selamat Pagi!” sapa Faisal saat memasuki ruang pertemuan di susul Andre masuk.


Andre hanya tersenyum tipis kepada seluruh Kepala cabang dan teamnya , lalu duduk di tempat yang telah di sediakan.


Tiba-tiba rahang Andre mengeras, menatap tajam ke arah Lina. Ternyata wanita yang sedari tadi di perhatikan adalah istrinya sendiri.


Lina tidak sengaja menatap wajah Andre, netranya terlihat ada kilatan amarah yang di tujukan ke dirinya. Wahyu yang sengaja duduk di sebelah Lina, terlihat bahagia...... sesekali mengulum senyum ke Lina.


Terkepal sudah ke dua tangan Andre, melihat tatapan Wahyu yang begitu mendamba kepada istrinya.


Faisal bersama Direktur Operasional memulai membuka brifing pagi. Beberapa sepatah kata sambutan selamat datang di sampaikan Andre selaku CEO.


Lalu selanjutnya hal yang paling penting sebelum rakercab, pengarahan dari divisi finance. Pak Dandy benar-benar lepas tangan selaku manajer keuangan melimpahkan tugasnya ke Lina dengan alasan lebih menguasai dan ahlinya kalau sudah perihal menghadapi semua kepala cabang, secara tidak langsung Pak Dandy mengakui kinerja Lina.


Buat Lina ini hal biasa, dengan tenangnya dia memberikan arahan di depan peserta. Inilah yang membuat Andre semakin jatuh cinta dengan Lina, auranya selalu berbeda. Semua mata terhipnotis jika Lina sudah berbicara di depan umum, gestur tubuhnya terlihat anggun......penuturan katanya teratur dan tertata.


Tapi ada hal yang paling di benci Andre hari ini, begitu banyak mata lelaki yang menatap kagum terhadap istrinya, dan entah kenapa istrinya terlihat cantik hari ini. Andaikan hari ini tidak ada brifing dan kesibukan persiapan untuk esok hari, ingin rasanya dia mengunci istrinya di ruang kerjanya, tidak boleh keluar.


Hanya memakan waktu setengah jam untuk brifing, lalu para peserta raker akan di arahkan ke bus yang sudah di siapkan menuju hotel, yang sudah standby. Namun sebelumnya mereka menikmati suguhan beberapa macam kue dan minuman yang telah di siapkan.

__ADS_1


“Sayang........kamu ke hotelnya hari ini atau besok?” tanya Wahyu  dengan santainya memanggil Lina ’sayang.


“Sayang..........kurang ajar!” gumam emosi Andre terdengar Wahyu memanggil istrinya dengan panggilan sayang. Posisi Andre sekarang masih ada di ruang pertemuan ikut beramah tamah dengan beberapa kepala cabang sambil menikmati  jamuan kue dan minuman yang telah tersedia di prasmanan, dan berdirinya tidak jauh dari tempat Lina dan Wahyu. Mau menghampiri istrinya, takut dia tidak bisa mengontrol emosinya. Di tambah situasi yang tidak memungkinkan.


“Mungkin nanti sore datang sebentar untuk mengecek persiapan, besok baru ikut menginap dengan lainnya!” jawab Lina sambil mengunyah cake coklat.


“Mas Wahyu, panggil saya nama saja.....gak enak di dengar orang....saya di panggil sayang, nanti di sangka orang, kita ada hubungan spesial!” tegurnya.


“Sayang, kamu kebiasaan kalau makan coklat belepotan begini!” diusapnya noda coklat yang berada di pinggir bibir lina dengan ibu jarinya. Andai tidak di depan umum mungkin Wahyu akan membersihkannya dengan bibirnya. Sepertinya Wahyu menghiraukan permintaan Lina.


Mata Andre memerah menahan emosi melihat perlakuan Wahyu ke istrinya “Pak Bos ...........tahan emosinya!” bisik Faisal yang ikut memperhatikan, tapi hatinya girang melihat bosnya cemburu.


Waktunya gantian ya Bos.......


“Maaf mas Wahyu biar saya saja sendiri yang membersihkannya!” Lina langsung menutup bibirnya dengan salah satu tangannya, takut Wahyu kembali mengusap bibirnya.


“Mas Wahyu, kalau begitu saya permisi dulu. Mau melanjutkan pekerjaan!” ucap undur diri Lina, mulai merasa tidak nyaman dengan sikap Wahyu.


“Oke, sampai ketemu nanti di hotel ya!” Wahyu kembali memberikan senyum hangat ke Lina, dan itu masih terlihat oleh kedua mata Andre.


Lina di dampingi Mitha beriringan meninggalkan ruang pertemuan, Andre kali ini merasakan dirinya di acuhkan oleh istrinya, atau dirinyalah yang sebenarnya mengacuhkan istrinya karena dadanya terasa sesak melihat sikap manis Wahyu ke Lina.


Sedangkan Lina pun sama, begitu mengacuhkan suaminya, padahal Andre sering menatap dirinya atau dia takut karena tatapan mata suaminya yang begitu berbeda, seperti penuh kemarahan. Jadi sungkan untuk menyapanya terlebih dahulu.


“Mih.........sorry ya hanya mengingatkan saja. Sebaiknya jaga jarak dengan Pak Wahyu. Enggak enak sama suami mami!” tutur pelan-pelan Mitha takut temannya tersinggung.


“Hufh........!” Lina menghela napasnya dalam-dalam, dan menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.


“Bukannya kenapa-kenapa Mih, sepanjang brifing tadi Pak Andre terus perhatikan  mami sama Pak Wahyu.”

__ADS_1


“Kamu perhatikan aja!” celetuk Lina.


“Orang  kelihatan begitu kok Mih, dan jelas banget kelihatan tidak suka seperti orang lagi cemburu!”


Terdiam dengan kata-kata Mitha.


“Saya juga tahu diri Mit,” tertunduk lesu.


“Mas Wahyu bersikap seperti itu karena dia tidak tahu status saya sekarang. Kamu juga bilang tempo hari kalau pernikahan antara saya dan Pak Andre, hanya kamu, Susi dan Pak Faisal yang jadi saksi dari kantor selain keluarga!” sambung Lina.


“Kamu kan tahu bagaimana cerita saya di nikahi Pak Andre, kita berdua bukan sepasangan kekasih.....tidak pernah punya hubungan. Apalagi saya yang saat itu belum punya rasa tiba-tiba di nikahi Pak Andre!”


 “Dan tidak mungkin saya harus bilang sama Mas Wahyu kalau saya sudah menikah, sedangkan Pak Andre juga tidak memberitahukan perihal pernikahan ini ke khalayak umum. Apa kata dunia kalau saya duluan bilang saya istrinya Pak Andre sang CEO!” ucap lirihnya.


“Yang mereka tahu satu kantor  dan satu gedung ini...istri CEO mereka adalah Sita Darwanti, dan saya sudah dicap pelakor saat kejadian saya tertusuk di ruangan Pak Andre dengan prasangka Pak Andre ketahuan selingkuh dengan saya, di tambah lagi adegan kami ciuman di lobby jadi penambah bumbu!” keluh Lina.


“Saya pura pura tuli mendengar ini semua Mitha, haruskah saya menjelaskan semua ini ke mereka!” Lina menutup wajahnya dengan ke dua tangannya


Mitha sungguh sabar sekali mendengar unek unek sahabatnya.


“Mitha.....gue juga gak ada hubungan sama Mas Wahyu. Loe kan tahu semua cerita tentang gue!”


“Gue juga gak bakal merebut Mas Wahyu dari istrinya walau gue pernah cinta sama mas Wahyu. Semuanya sudah berakhir!” matanya mulai berkaca-kaca mengingat kenangannya bersama Wahyu.


“Maafkan gue ya Mih, jadi buat tersinggung mami!” menyesal juga Mitha menegur Lina, sambil memeluknya.


Paling tidak Mitha sudah mengingatkan temannya agar tetap pada rambu rambunya.


“Nggak papa, sorry ya gue jadi ke bawa emosi!” kembali mengatur napasnya yang mengebu-gebu.

__ADS_1


__ADS_2