
“Mitha ........ambil tisu. Emang nih Pak Bos yaaa......messum !” ujar Lina. Langsung membersihkan wajahnya dengan tisu.
Andre tersenyum puas ngerjaiin istrinya sendiri.
Mitha, Susi, Fani cekikikan kecil melihat kelakuan pengantin baru.
“Faisal pesankan makanan yang enak. Kalian berempat makan di sini aja. Biar mami cepat sembuh!”
“Wah makasih banyak Pak Andre,” serempak mereka menjawab.
Lina turut senang, bisa ditemani para sahabatnya.
Mitha, Fani, Susi dan Faisal.......mereka sibuk berembuk makanan apa yang mau dipesan.
“Mami......hanya boleh makan bubur dulu ya!” ucap Andre.
Impian yang mau dimakan Lina langsung buyar mendengar kata-kata bubur. Seketika mukanya ditekuk.
“Jangan cemberut dong.......nanti mami cepat tua!” ejek balik Andre.
“Isssss........gantian ngejeknya!”
Mengingat kebaikan Andre telah mengajak temannya makan bareng dan menemani dia, Lina meraih salah satu tangan Andre.
“Pak Andre, terima kasih sudah ajak teman-teman saya makan bareng di sini!” ucap lembut Lina, sembari mengecup punggung tangan Andre.
Hati Andre terhenyuh melihatnya.
“Mau di cium di sini juga........!” Andre menunjukkan ke dua pipinya.
“Isssss......minta sana sama Sita!” ujar kesalnya.
“Please mami!” Andre mendekatkan wajahnya ke wajah Lina.
Iissssssh.........horor........Bos messum.
CUP.........CUP
Secepat kilat di cium ke dua pipi Andre.
“Makasih.......mami Lina!” aaah baru di cium pipinya wajah Andre merona kesenangan.
Tidak menunggu waktu lama, mereka menyantap makan malamnya dengan gelak tawa......gara-gara Lina.......ada saja guyonannya. Andre baru tahu kalau istrinya di sisi lain bisa melucu juga, apa adanya. Tidak henti-hentinya Andre ikutan tertawa.
Jam 8 malam teman-teman Lina berpamitan pulang termasuk Faisal. Sedangkan orang tua Andre dan mama Anggi beserta Noah tidak mampir ke kamar. Karena Andre memintanya untuk bisa berdua dengan istrinya. Tapi kalau Noah rewel terpaksa harus di bawa ke kamar mereka.
“Pak Andre, Noah kok nggak dibawa kesini!”
“Biar mami cepat pulih, lagi pula Noah tidak terlalu rewel!” Andre merapikan selimut Lina.
“Mami.......kenapa panggil saya Pak lagi......sudah dibilangi panggil saya daddy ?” tanya Andre sedikit lembut.
“Pak.......bisakah kita tidak selalu berdebat masalah panggilan. Saya jujur sungkan panggil Daddy, serasa panggil suami, papa dari anak-anak saya!”
“Anggap saya......suami kamu !” pinta Andre lembut.
“Ha....ha.....ha.....bercanda saja nih Pak Andre, sama aja saya jadi pelakor dong, secara Pak Andre sudah punya istri. SAYA TIDAK SUKA !” ucap asal Lina.
DEG !!
__ADS_1
Omongan Lina dalam banget, maafkan saya sayang........tidak bermaksud membuat kamu jadi pelakor !!”
“ Baiklah kalau begitu, kamu boleh panggil saya Pak di depan orang lain , tapi saat hanya kita berdua dan di depan keluarga.....panggil saya daddy. Dan jangan coba-coba menolak. Berani menolak......siap siap hukumannya !” keputusan telak Andre.
“Eh.....nggak bisa begitu dong!”
Lina memainkan jari jemarinya saking kesalnya, sesaat memperhatikan kilauan yang ada di jari manisnya.
Ini cincin siapa ! Perasaan gue nggak pernah pakai cincin......batin Lina.
Lina mencoba melepaskan cincin tersebut tapi terasa susah untuk di lepas.
“Ada apa dengan jarinya!” hati Andre panas dingin melihat Lina berusaha melepaskan cincin pernikahannya.
“Ini.......perasaan nggak pernah pakai cincin. Kok tiba-tiba ada!” Lina menunjukkan cincin di jari manisnya.
“Oooh.......itu dari mama kamu, saat kamu koma, mama memakaikannya berharap segera bangun dari koma!” bohong Andre.
Tampak kecurigaan dari mata Lina, melihat cincin yang dipakainya terlihat mahal, apalagi ada berliannya.
“Kalau tidak percaya tanya mama aja, dan jangan sekali-kali melepas cincin itu!”
“ooooo.......!” membulatlah bibir Lina berusaha mempercayai ucapan Andre.
“Sudah sekarang waktunya kita tidur...!” perintah Andre. Dia membaringkan tubuhnya di samping Lina tanpa mendengarkan omelan istrinya yang begitu panjang. Bagaikan burung beo......masih belum berhenti. Andre pura-pura memejamkan matanya, sayup-sayup omelan istrinya sudah berhenti......ternyata sudah tertidur.
Dirangkulnya pinggang Lina dengan lembut mengingat luka punggung istrinya belum sembuh.
“Met tidur istri cantikku, I love you sayang.”
.
.
“Mami..........sayang!” panggil Andre, di kecupnya ke dua pipi Lina.
“Sayang......bangun udah siang!” sekali lagi mencoba membangunkan Lina. Belum bangun juga, di cium kembali pipinya.
“Iiiihhhhh......!” Lina mulai terganggu.
“Apaaaaan........ sih!” diusapnya pipinya yang basah akibat cepok basah dari Andre.
“Bangun sayang.......daddy takut kalau mami nggak bangun-bangun!”
“Astaga.....daddy doanya horor amat!” 😱
Sepintas Lina melihat Andre sudah rapi dengan setelan pakaian kerjanya.
“Daddy mau ke kantor dulu sebentar, nggak pa-pa kan daddy tinggal. Ada Mitha yang temenin!”
“Mmm.........!” gumam Lina.
Oh bahagianya hatiku, akhirnya bebas dari Pak Bos.
“Jangan mami pikir bebas kalau nggak ada daddy, nanti daddy segera balik ke sini!”
“Issssss..........!” desisnya.
CUP
__ADS_1
Dikecupnya kening Lina.
“Jangan kangen sama daddy ya!”
“Hueeeekkk.......!” ledek Lina.
Andre meninggalkan kamar rawat di iringi Faisal, tampak mempesona dengan jas yang dikenakannya.
“Akhirnya gue bebas juga Mit dari Bos Gila!” senyum bahagia.
Ya ampun Lin.......andai loe tahu pria yang loe bilang Bos Gila itu adalah suami loe sendiri.......batin Mitha.
Mitha menggelengkan kepalanya.
Setelah kepergian Andre, kamar Lina kembali ramai. Ada mama Anggi, mama Rani, Noah dan Tini.
Sedangkan Papa Nugraha pergi ke kantor mengecek keadaan di sana.
.
.
Perusahaan Nugraha Grup
Sudah berapa hari Andre tidak datang ke kantornya, semenjak kejadian Lina tertusuk di ruangannya sendiri.
Desas desus tersebar di perusahaannya, kalau Lina terluka karena ketahuan selingkuh dengan bos mereka oleh istri Bos. Sungguh fitnah lebih kejam dari pembunuhan.
Tatapan dingin dari mata Andre ketika berpas-pasan dengan karyawannya. Bisik-bisik antar karyawan terdengar olehnya.
“Jika kalian sudah tidak suka bekerja di sini, silahkan serahkan surat pengunduran diri kalian. Masih banyak orang yang bisa menggantikan kalian!” tegur Andre.
Seketika karyawan yang sedang bergunjing membubarkan diri, ketakutan mendengar teguran Bosnya.
“Faisal, kamu catat nama mereka semua. Dan laporkan ke saya!”
“Baik Pak, segera dilaksanakan.”
Nita teman Siska salah satu karyawan dan yang termasuk kena teguran Andre, sudah mulai keringat dingin. Memikirkan nasibnya jika memang akan dipecat.
TAP.......TAP.....TAP
Hentakan kaki Andre terdengar jelas ketika melangkah melewati karyawannya dengan tatapan tajamnya.
Andre melalui meja sekretarisnya tanpa menyapa Rini. Melihat Pak Bosnya agak menyeramkan wajahnya, Rini hanya menundukkan hormat.
“Pagi Pah,” sapa Andre, melihat Papa Nugraha sudah datang duluan ke kantor.
“Pagi Ndre.”
Andre mengikuti Papa Nugraha duduk di sofa.
“Papa ke sini, ingin menanyakan hasil penyelidikan kamu. Sudah ada hasilnya?"
Andre menatap Faisal. Melihat tatapan Bosnya, Faisal menyerahkan amplop coklat yang telah dibawanya dari tadi.
“Ini ada beberapa foto yang diambil dari cctv rumah sakit,” ujar Faisal.
__ADS_1
Amplop tersebut segera dibuka oleh Andre. Diperhatikannya dengan seksama hasil foto dari CCTV.
“Dari hasil semua rekaman CCTV di rumah sakit, terlihat wanita tersebut sangat hati-hati. Hingga wajahnya tidak terlihat di CCTV. Tapi ada satu foto, memperlihatkan benda yang mungkin Pak Bos kenalin,” penjelasan Faisal.