LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Sita dan Bu Anita


__ADS_3

“Sita....saya mengenal kamu dari keluarga tidak mampu, masih kuliah dan tidak bekerja apa-apa.  Kamu lupa dengan asalmu. Sepertinya selama ini saya terlalu dibutakan cinta padamu, saya memberikan segalanya untukmu tanpa batas, tapi nyata kamu sungguh di luar batas. Selama ini saya membiarkan kamu tidak melakukan hal-hal layaknya sebagai istri atau ibu karena cinta padamu, tapi sungguh saya salah. Kamu memang pintar memuasku diranjang, tapi ternyata hatiku hampa selama ini!” ucap Andre dengan tatapan tajamnya.


Sita terlihat cuek dengan ceramah suaminya “wah....nggak nyangka Mas sudah pintar berkata-kata. Sudah selesai ceramahnya!” ejek Sita tidak suka nasihat Andre.


“Sita...selama Lina dirawat, pernahkah kamu menjenguknya!” Andre langsung menembak Sita.


“Eehhh.... nggak pernah aku menjenguknya, lagian buat apa.....dia wanita yang telah menggoda kamu. Syukur dia tidak sampai mati. Kamu jangan sampai terjebak dengan perhatikan ke anak kita!” Sita rada-rada kikuk.


“Kamu tahu dari mana, Lina hampir mati!” hati Andre berdebar-debar saat Sita ucap Lina tidak sampai mati, seakan-akan Sita tahu jika Lina hampir meninggal.


“Ya---ya itu, dia kan tertusuk punggungnya kan!” tergugu Sita menjawabnya.


“Sudah....kenapa kita harus membicarakan karyawan rendahan mas itu!” ucap Sita dengan sombongnya.


“Jadi bagaimana mas, aku minta tambahan uangnya 500juta lagi!” rayu Sita dengan puppy eyesnya. Enteng sekali menyebut nominal angkanya.


Diraihnya cek yang berada di tangan Sita, lalu disobek-sobeknya cek tersebut. “Sayang kok.....malah di robek ceknya!” panik Sita.


“Percuma saya memberikan uang berapa pun, keluar dari ruangan ini. Dan saya ingatkan Ibu kamu jangan lama-lama berada di mansion ini. Hargai orang tua saya sebagai pemilik mansion ini !” Andre murka.


“Mas....saya butuh uang!” rengek Sita.


“Faisal, ambil semua perhiasan Sita di kamar saya. Dan jual, kasih uangnya ke Sita!” geram Andre.


Faisal dengan senang hati ke kamar Andre, untuk mengambil perhiasan yang di beli Andre.


“Mas......jangan!” Sita langsung mengejar Faisal yang telah bergerak jalan duluan.


.


.


Andre termenung di ruang kerjanya, sudah berulang kali menghubungi Lina ke nomornya dan ke handphone Mitha tapi semuanya tidak aktif.


“Sayang.....saya kangen!” gumam Andre dengan memejamkan matanya. Padahal tadi pagi baru berpisah dengan istri barunya. Sekarang dia tidak dapat menemuinya.


Dengan langkah lunglainya Andre keluar dari ruang kerjanya menuju kamar yang pernah di tempati Lina.


Sebelum menuju kamar Lina, terdengar suara teriakan Sita dari dalam kamarnya. Faisal menghiraukan teriakan Sita, dia bergegas mencari perhiasan yang berada di laci dan lemari walk in closet, tersenyum puas Faisal saat menemukannya sesuai dengan dugaannya.


Sita berusaha menghalau Faisal saat membawa perhiasannya, namun sayang Faisal lolos.


“Jual semua!” perintah Andre saat berpas-pasan dengan Fasial yang membawa beberapa kotak perhiasan.


“Komisinya adakan Pak Bos!” rayu Faisal.


“Atur aja sama kamu sendiri.”

__ADS_1


“Siap Pak Bos.” Faisal merasa puas dengan keputusan Andre kali ini. Tidak memanjakan Sita.


Sita tampak geram melihat mereka berdua, matanya menyorotkan rasa amarah yang membara.


Andre memalingkan mukanya ketika mereka berdua berpas-pasan bersitatap. Dia segera masuk ke kamar Lina. Sedangkan Sita turun ke bawah untuk menghampiri ibunya.


“Dasar sialan tuh mas Andre !” ujar Sita dengan hati yang mengebu-gebu.


“Bagaimana, kamu dapat uangnya dari Andre?” tanya Bu Anita.


“Boro-boro dapat, malah sudah dirobek cek dari dia.”


“Gimana sih Sita, dulu suami kamu melimpahkan hartanya dan memberikan setiap kamu minta. Sekarang sudah 1 bulan ini, Ibu dan bapak belum dapat uang sama sekali dari Andre!” keluh Bu Anita.


“Jangankan Ibu, aku saja nggak dikasih uang juga.....ck. Dasar wanita murahan....harusnya Lina sudah mati. Mas Andre sudah banyak berubah semenjak kenal Lina. Apalagi keluarganya sudah dekat dengannya!”


“Seharusnya kamu kasih Lina suntikan racunnya dosis tinggi, biar cepat mati....ini kasih suntikkannya setengah-setengah!” bentak Bu Anita.


Kedua tangan wanita sepertinya gemetaran memegang handphonenya, tanpa sengaja mendengar pembicaraan ke dua orang tersebut di ruang tamu. Kedua matanya terlihat kecewa.


“Husss....bu pelan-pelan bicaranya, takut ada yang dengar!” Sita meletakan jari telunjuknya ke bibirnya.


Bu Anita melirik ke kanan ke kiri, memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.


“Kita harus memikir lagi, bagaimana cara biar Lina cepat mampus!” ucap Bu Anita.


“Aku akan segera dapat uang lagi, Faisal sedang disuruh mas Andre menjual semua perhiasanku!”


“Gila kamu, perhiasan kamu di jual semua. Harusnya di simpan itu harga diri kamu sebagai Istri CEO, makanya cari ide dong buat dapat uang lagi dari suami kamu yang kaya!”


Terlintas ada ide untuk menaklukkan suaminya ! Sita tersenyum smirk 😏.


“Sekarang Ibu pulang dulu, nanti aku kabarin jika ada sesuatu.”


“Ck.......ibu kok di suruh pulang. Harusnya kami orang tua kamu. Turut tinggal di mansion ini!” kesal Bu Anita, penuh dengan rasa irinya.


Akhirnya Bu Anita meninggalkan mansion Nugraha dengan tangan kosong.


.


.


Andre terlihat segar setelah membersihkan dirinya. Dia berbaring di atas ranjang Lina, sambil menghirup wangi bantal bekas Lina. Andre membayangkan ketika ia memeluk Lina saat tidur bersama anaknya Noah.


Andre kembali mencoba menghubungi ke handphone Lina, tetap nihil.....nomor tidak aktif.


.

__ADS_1


.


TOK......TOK......TOK


Pintu kamar Lina ada yang mengetuk.


“Masuk...!” ujar Andre.


“Permisi Tuan Muda, saya bawakan baju dari kamar Tuan,” ujar Bibi Nani membawa tumpukan pakaian Andre yang telah dipesannya untuk dipindahkan ke kamar Lina.


“Rapikan langsung ya Bik!” perintah Andre sambil fokus ke handphonenya.


Bibi Nani segera merapikan baju Tuannya di walk in closet, tangannya sedari tadi sudah keluar keringat dingin.


“Tu----tuan maaf.....!”sapa Bibi Nani agak gugup setelah selesai merapikan pakaian.


Andre mengalihkan pandangannya ke Bibi Nani “ada apa Bi?”


“Anu....itu...aduh gimana ya ngomongnya Bibi bingung.”


“Bibi bingung kenapa ? Bibi mau pulang kampung atau butuh uang?” tebak Andre.


“Bu---bukan begitu Tuan!” Bibi Nani mendekati pintu kamar dan menguncinya.


Andre mengerutkan dahinya saat Bibi Nani mengunci pintu kamar, Andre bangkit dari baringnya, dan duduk di tepi ranjang.


“Anu Tuan.....sebelumnya bibi minta maaf. Tapi tolong Tuan dengarkan dulu!” Bibi Nani mengeluarkan handphonenya dari saku bajunya.


“Jangankan Ibu, aku saja nggak dikasih uang juga.....ck. Dasar wanita murahan......harusnya Lina sudah mati. Mas Andre sudah banyak berubah semenjak kenal Lina. Apalagi keluarganya sudah dekat dengannya!”


“Seharusnya kamu kasih Lina suntikan racunnya dosis tinggi, biar cepat mati....ini kasih suntikkannya setengah-setengah!”


“Husss....bu pelan-pelan bicaranya, takut ada yang dengar!”


“Kita harus memikir lagi, bagaimana cara biar Lina cepat mampus!”


“Sebaiknya kita mencari pembunuh bayaran, kamu masih ada uang simpanankan!”


JEDER !!


Bagaikan tersambar petir. Andre mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangan sekuat mungkin, padahal salah satu tangannya berbalut perban.


.


.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2