LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
LINA VS LISA


__ADS_3

Ditatapnya Andre dan Lisa, wajah Lisa terlihat sekali tidak menyukainya.


“Daddy lanjutkannya saja makan siangnya, mungkin mbak Lisa bisa jadi istri Pak Andre yang lebih baik. Ketimbang saya yang tidak bisa mengurus suami, lebih mendahulukan mengurus anak!” jawab Lina tenang tersenyum hangat melihat Andre dan Lisa.


Sambil mengendong Noah dia melangkahkan kakinya. “Jaga sikap kamu Lisa, dia istriku!” tegur Andre. Dia bergegas mengejar istrinya.


Pinggang Lina terasa hangat, ternyata tangan Andre sudah merangkulnya, jalan beriringan. “Kok daddy menyusul, bukannya belum selesai makannya?”


“Daddy lihat mami marah?”


Buat apa gue marah....... toh gue cuma istri bohongannya aja!


“Saya nggak marah kok Dad!” ujar Lina sambil tersenyum.


Saya tahu kamu menutupi kemarahanmu dengan senyummu.


“Kita ke dapur aja yuk Dad, saya masih lapar?” ajaknya.


“Yuk...”


.


.


Andre mengendong Noah, sedangkan Lina mengecek makanan yang ada di dapur, ternyata sudah ada beberapa masakan. Lina mengambilnya satu piring penuh untuk mereka berdua.


Noah asik sekali main dengan Daddynya, Lina menyantap makan siangnya dengan tenang jauh dari mulut pedasnya Lisa, sesekali ia menyuapi Andre makan. Andre menikmatinya dengan senang hati.


Beres urusan perut, mereka ke kamar untuk istirahat sebentar. Perasaan Lina terasa adem saat Andre menjadi imamnya saat shalat, sedangkan Noah diletakkannya dekat mereka. Selesai shalat, Andre mengecup kening Lina sambil melafazkan doa.


“Mami, Daddy tidak ada hubungan apa-apa dengan Lisa. Kami memang dekat dan akrab!” Andre berusaha menjelaskan.


“Daddy tidak perlu menjelaskan ke saya, itu urusan daddy.”


“Tapi mami harus tahu, karena mami istri daddy!”


Jari telunjuk Lina mendarat di bibir Andre “Hush.......hanya istri bohongan, daddy jangan lupa!” senyum merekah di bibir Lina.


Andre mencengkeram tangan Lina “Lina Anggraini Istri Andre Erlangga Nugraha, jangan lupa itu!” ucap tegas Andre dengan tatapan matanya yang begitu tajam.


Andaikan saya tidak berjanji dengan mamamu, ingin rasanya membongkar.....kalau saya sudah menikahimu Lina!


“Ah sudahlah......jangan dibahas lagi. Sekarang lebih baik daddy fokus dengan rapatnya!” Lina mengalihkan pembicaraannya. Dia mendudukkan dirinya di atas karpet menemani Noah yang sibuk sama mainannya.


“Dad, saya sarankan coba keuangan di hotelnya di audit pakai Akuntan Publik, jangan pakai SPI saja!”


“Ada apa memangnya?”

__ADS_1


“Entahlah saya tadi agak ragu-ragu waktu daddy kasih laporan keuangan hotel ke saya. Di tambah tadi mendengarkan presentasi Direktur hotel.”


“Daddy curiga nggak sih, menurut laporan Direktur hotel, kalau sewa kamar meningkat, sedangkan pemakaian ballroom hampir setiap hari ada yang sewa. Tapi pas mami lihat laporan pemasukannya agak timpang Dad!”


“Daddy sudah percaya penuh kalau Lisa bisa menghandel keuangan hotel Mih.”


“Terus daddy tidak curiga sama sekali, karena daddy dan Lisa teman dekat. Jadi percaya penuh begitu saja!”


“Bukan begitu Mami, di hotel juga ada SPI yang tiap 3 bulan mereka audit dan laporannya baik baik saja.”


“Sudah begini aja, minta mereka kirim voucher masuk keluar kas bank 1 bulan, buat sampel saja. Dan mintanya mendadak ya dad, jangan di kasih tahu jauh-jauh hari. Buat menghindari pemalsuan data.”


Andre memperhatikan istrinya memberikan solusi, yang sepertinya memang harus di lakukan demi kemajuan usahanya. Lagi pula saran dari istrinya, tidak salah, karena jam kerja istrinya sudah lama dan mungkin sering menganalisa keuangan, jadi tahu celah yang harus diperhatikan.


“Daddy kok malah bengong lihatin saya!”


“Setiap mami bicara masalah kerjaan, daddy jadi terpesona!” Andre menggombal.


“Jadi.....bagaimana keputusan Daddy?”


“Tidak ada salahnya daddy terima saran mami.”


“Oke, nanti mami yang menghubungi pihak akuntan publiknya.”


“Mami........!” Andre menangkup wajah Lina dengan kedua tangannya.


“Saya tidak marah kok, buat apa marah. Tapi ingat perjanjian kita tadi pagi, kalau daddy ketahuan bermesraan dengan wanita lain, daddy sudah tahu konsekuesinya!”


“Ya...daddy akan selalu ingat. Sekarang kita harus balik meeting Mih.”


Mereka bertiga kembali ke ruang pertemuan, dan baby Noah ikut dengan mereka karena tidak mau di tinggal sama maminya.


Rapat dimulai kembali, sorot mata Lisa selalu memandang Andre. Dan tidak memedulikan tatapan Lina yang berada di samping Andre.


Tatap terus tuh si Bos sampai puas......batin Lina.


Noah terkesan anteng ikut daddy dan maminya rapat kerja, dia sudah nyaman di pelukan Lina di tambah punggungnya di elus-elus, lama-lama tertidur.


Sesekali dalam rapat, Andre melirik istrinya. Baru kali ini rapat di temanin istri dan anaknya. Tambah dirinya semangat bekerja.


Kini tibanya Lisa sebagai manajer keuangan untuk presentasi laporan. Lisa menjelaskan dengan pembawaan yang sangat tenang, hingga semua peserta rapat sangat yakin dengan laporannya.


“Jadi berdasarkan laporan keuangan yang dibuat, tahun ini Hotel A mengalami penurunan laba 5% dari tahun sebelumnya. Laba yang di perolehi sebesar 45,5 milyar.”


“Sekian laporan dari divisi keuangan.” Akhir kata dari Lisa.


Suasana rapat hening, kalau sudah masalah uang sedikit sensitif.

__ADS_1


Tidak ada sedikit pun tepuk tangan untuk hasil laporan dari Lisa, Andre memainkan pulpen di tangannya dan menatap ke arah Lisa. Lisa terlihat senang ditatap Andre.


“Dilihat dari laporan marketing, hotel A selalu banyak pengunjung, hampir setiap hari kamar hotel penuh. Dan hampir tiap hari ruangan kita penuh untuk berbagai acara!” tegur Andre.


“Betulkan Pak Dion, laporannya?”


“Betul Pak Andre.”


“Tapi kenapa laporan keuanganya labanya turun ya? Padahal saya ingin mengeluarkan bonus buat karyawan semuanya!”


Semua peserta rapat terdiam !!


“Banyak pengeluaran yang mengalami kenaikan, karena harga barang yang didapatkan juga sudah naik Pak Andre,” ujar Lisa. Semaksimal mungkin Lisa menunjukkan kepintarannya.


“Lisa, sekarang di hotel sudah ada team Akuntan Publik mengambil berkas-berkas keuangan. Sekarang juga kamu hubungi staf disana, untuk memberi setiap data yang diminta!”


DEG


Kaki Lisa mendadak lemas “Kok mendadak sekali Pak Andre, biasanya kita akan menyiapkan data sebulan sebelumnya?” Lisa coba menolak.


“Di sini yang punya hotel, saya atau kamu!” tegur Andre di depan peserta rapat.


“Pak Andre,” jawab Lisa.


“Telepon sekarang juga!” perintah Andre.


Dengan berat hati Lisa menelepon stafnya dan ternyata di sana sudah ada pegawai Akuntan Publik. Lisa mencoba menutup rasa groginya di depan rekan kerjanya. Karena sepengetahuan mereka, Lisa termasuk manajer yang paling di sayang Andre dan di anak emaskan, hingga mereka tidak bisa mengusiknya.


Tapi kali ini banyak yang tersenyum melihat Lisa di tegur di depan mereka.


“Untuk laporan keuangan ini saya belum terima jika Hotel A mengalami penurunan, jadi saya akan meninjau kembali laporan keuangan ini.”


“Dan saya minta Direktur dan para manajer bisa bekerja sama, jika ada hal-hal yang mencurigakan. Dan ini berlaku untuk semua divisi!"


Semua peserta menganggukkan kepalanya. Lisa meremaas remaas tangannya dibalik meja.


“Baik cukup sekian rapat ini, ke depan saya akan kembali meninjau kondisi hotel.”


Andre dan Lina menyalami satu persatu sambil berbincang-bincang ringan. Lisa masih duduk belum beranjak dari kursinya, sepertinya menunggu semua rekan kerja keluar dari ruang pertemuan.


.


.


bersambung


__ADS_1


__ADS_2