
Tampak Bu Anita menatap sinis ke Lina, Lina membuang mukanya yang sempat beradu pandang.
“Lin......sini duduk dekat mama!” pinta Mama Rani. Lina menuruti perintah Mama Rani, Andre ikut duduk di sampingnya.
Baby Noah masih saja menangis, dan Bu Anita masih mencoba menenanginya. Lina hanya bisa melihatnya tanpa berani berbuat apa-apa.
“Pak Nugraha, Bu Rani........ wanita itu siapa. Baby Sitter baru?” tanya Pak Agus santai.
Mata Mama Rani mendelik mendengarnya.
“Bukan, dia Lina .....mami angkat Noah!” ujar Pak Nugraha.
“ Apaa......? Maminya bukannya anak saya Sita, mana ada istilah mami angkat!! Atau jangan-jangan nak Andre sudah menikah lagi dengan wanita itu !” tunjuk Pak Agus.
“Belum..... Andre belum menikah lagi!!” jawab Mama Rani.
Hati Lina mulai terasa teremas-remas rasanya.......sakit.
Mama Rani berdiri dari duduknya mengambil paksa Noah dari gendongan Bu Anita yang sedari tadi masih belum berhenti menangis.
Diserahkannya Noah ke Lina, dan disambut langsung ke pelukkan Lina.
“Sayang......ini mami sayaaaang!” di peluknya Noah ke bahunya sambil di elus punggungnya biar tenang. Terdengar pelan-pelan mulai reda meninggalkan isakkan pelan.
“Daddy......minta tolong dong ambilkan botol susu dede di ruang keluarga tadi!” pinta Lina sambil menepuk bahu Andre. Andre segera menuruti pinta Lina.
Pak Agus dan Bu Anita sedari tadi melihat Lina dengan tatapan kurang menyenangkan.
“Seharusnya Sita yang seperti ini, memperhatikan anaknya!” ucap Mama Rani. Membuyarkan pandangan besannya.
“Tapi kenapa dia harus di panggil Mami bukan mbak atau tante saja. Dan kenapa memanggil menantu saya Daddy seakan-akan dia istrinya?” tanya sinis Bu Anita.
“Bukan Dia tapi Lina namanya ! Lina mami angkat anak saya, yang selama ini mengurus anak saya di rawat sedangkan Lina pun sedang di rawat juga dirumah sakit. Dan berkat perhatian Lina......anak saya bisa sehat lagi !! Dan saya juga yang meminta Lina yang memanggil saya Daddy demi anak saya!” ujar Andre dengan suara lantangnya setelah mengambil susu Noah.
Terlihat Lina menyembunyikan wajahnya di pelukan Noah, ingin rasanya dia lari dari pertengkaran ini.
“Aah paling hanya kedok manis mengambil hati anak nak Andre. Padahal ingin mengoda menantu saya, mau ambil suami anak saya!” ucap Bu Anita dengan kasar.
“Pak Nugraha sebaiknya berhati-hati dengan wanita tersebut, jangan sampai rumah tangga anak kita hancur karena perempuan ini!” pinta Pak Agus.
Ini...inilah yang tidak ku inginkan, saya sudah salah berada disini......batin Lina menangis.
“Saya lebih tahu Lina lebih lama, begitu mudahnya Anda menuduh dan berkata kasar ! Dan saya juga lebih tahu siapa yang lebih pantas menjadi menantu saya !” tegas jawab Pak Nugraha.
“Pak Nugraha, saya juga minta bapak membujuk nak Andre menjemput Sita di Bali karena semua kartu di blokir nak Andre. Lebih cepat lebih baik jemputnya, biar nak Andre tidak tergoda dengan wanita perusak rumah tangga berkedok manis !” ujar kasar Pak Agus kesekian kalinya.
__ADS_1
“Bapak , Ibu......kita baru bertemu hari ini dan tidak saling mengenal. Sungguh sudah keterlaluan Anda mengatai saya wanita seperti itu, wanita penggoda suami orang !! Di sini saya tidak ada niatan untuk menggoda menantu Ibu Bapak, tidak ingin menghancurkan rumah tangga orang. Saya tulus di sini untuk membantu mengurus cucu Papa Nugraha dan Mama Rani. Jika Anda takut menantu anda tergoda, sampaikan ke anak anda untuk mengikat lebih kencang suaminya agar tidak berpaling ke saya. SAYA PERMISI!” Lina meninggalkan mereka bergegas ke kamarnya sambil mengendong Noah.
“Mama.....” panggil Andre sambil menatap mama Rani. Mama Rani paham maksud Andre dan ikut menyusul Lina.
“Sepertinya Bapak dan Ibu sudah paham dengan pembicaraan kita di kantor. Tidak perlu di jelaskan lagi!” geram Andre melihat mertuanya.
“Anak saya sepertinya sudah menjelaskan Pak, kalau begitu silakan Bapak dan Ibu meninggalkan mansion!” pinta Pak Nugraha tanpa menunggu mereka pergi, Pak Nugraha meninggalkan begitu saja besannya.
“Duh gimana nih bu, kita gagal mau minta uang!!” bisik Pak Agus.
“Bapak sih !!” kesal Bu Anita, maksud kedatangan mereka dengan berkedok tengok cucu sebenarnya mau membujuk orang tua Andre untuk tidak menghentikan uang bulanannya malah jadi beda ceritanya.
Mereka meninggalkan mansion penuh kekesalan ditambah telah bertemu Lina, yang di anggap akan menjadi pengganggu rumah tangga anaknya.
.
.
TOK........TOK.......TOK
“Lin........mama boleh masuk ya?” pinta Mama Rani.
Lina segera menghentikan tangisannya dan menghapus air matanya.
“Lin......kamu gak pa-pa kan?” mama Rani mengelus punggung Lina yang sedang terduduk di tepi ranjangnya.
“Gak pa-pa Mah......!” terlihat agak sayu mata Lina.
“Lin......mama harap jangan diambil hati omongan orang tua Sita!”
“Mereka tidak salah juga mah, mereka pasti khawatir dengan keluarga anaknya."
“Mah........saya tidak ada niatan menggoda Pak Andre......saya tidak mau menghancurkan rumah tangga Pak Andre......hiks...hiks !” tangisan Lina mulai pecah lagi sudah di kuat menahan rasa dihatinya.
“Saya bukan wanita perusak rumah tangga, bukan penggoda mah........hiks....hiks !” di peluknya Lina sama mama Rani.
Terasa sakit di ulu hati Lina, setelah berbagai tuduhan menerpanya. Hal ini terlalu sensitif buatnya dari pada menghadapi masalah pekerjaannya. Di tambah dirinya belum sembuh total. Lina menangis lama di pelukkan mama Rani.
Tiba-tiba Andre sudah masuk kamar Lina.
“Mah......” panggil Andre terlihat cemas melihat Lina dipelukkan mamanya tanpa bergerak.
Andre segera naik ranjang dan duduk di belakang badan Lina.
“Mah......kayaknya Lina pingsan!” Andre merangkul pinggang Lina dari belakang.......Mama Rani melepaskan pelukkannya Dan benar saja sudah tidak sadar kan diri.
__ADS_1
Mama Rani dan Andre membaringkan tubuh Lina ke ranjang. Untung baby Noah masih tertidur.
“Mama ke dapur dulu, bikin teh hangat buat Lina!” ucap Mama Rani.
“Iya mah !”
Andre berbaring menyamping ke arah Lina.
“Sayang.......kumohon bertahanlah di samping ku.....!” bisik Andre. Dikecupnya ke dua mata Lina, hidungnya dan kedua pipinya.
“Sayangku......tunggu saya....dan jangan berniat meninggalkanku !” bisiknya lagi tampak mata Andre berkaca-kaca.
.
.
“Andre.......!” tegur Mama Rani yang telah masuk kamar bersama Bik Nani membawa segelas teh.
“Biar Bik Nani coba membangunkan Lina!” ujar Mama Rani. Andre bangkit dari ranjang Lina.
Bik Nani mulai memberikan minyak angin ke hidung, kening dan mengoles ke bagian perut Lina. Sesekali Bik Nani pencet sela antara jari jempol dan jari telunjuk. Tampak Lina mulai siuman.
“Non ........ minum teh hangat dulu ya. Biar hangat perutnya!” pinta Bik Nani, Lina menyandarkan dirinya dan menerima gelas dari Bik Nani.
“Makasih ya Bik, makasih ya Mah!” ujar Lina.
“Sama sama non!” Bik Nani kembali ke dapur.
“Mau di temenin mama gak Lin ?” tawar Mama Rani.
“Makasih Mah, saya mau sendiri dulu!”
“Ya sudah mama tinggal dulu, nanti kalau perlu sesuatu panggil mama ya!”
“Iya mah “ mama Rani meninggalkan kamar Lina.
“Daddy, tolong tinggalkan saya sendiri!” pinta Lina tanpa menatap wajahnya.
“Kamu yakin !” tanya Andre.
“Nanti saya akan datang lagi!” ujar Andre sebelum keluar kamar Lina.
.
.
__ADS_1