
Mata Dina terlihat menelisik semua sudut ruangan, seperti mencari seseorang. Tak sengaja Mama Rani melihatnya.
Andre keluar dari kamar tamu setelah mandi siang hari, melangkah menuju ruang kerjanya.
“Andre......!” sapa Dina melihat Andre menuju ruang kerja.
Netra Andre melihat sosok wanita sangat cantik yang dulu pernah dia kenal, dan pernah mengisi hatinya. Dina cinta pertamanya.
“Dina....!” sahut Andre, Dina bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri Andre yang masih terpaku. Setelah sekian lama, dia ketemu kembali dengan pujaan hatinya.
Dina memeluk Andre ”Andre apakabarnya, aku rindu !” Andre tidak membalas pelukan Dina.
Dari kejauhan Lina melihat Andre dan wanita yang tidak dikenalnya berpelukan.
Akhirnya sebentar lagi, perjanjian kita akan selesai Bos !!!
Lina kembali melangkah ke arah dapur.
“Kamu tambah gagah dan ganteng!” ucap Dina mengurai pelukannya.
Jeng Ratna tampak tersenyum manis melihat Dina dan Andre “Jeng Rani......kayaknya anak kita cocok ya,” ujar Jeng Ratna.
Mama Rani hanya tersenyum kikuk.
Dina merangkul lengan Andre dan mengajak duduk bersama mama mereka.
“Andre, aku buatin kue kesukaan kamu loh.....cobaiin deh!” Dina segera membuka kotak kue, dan menyuapi kue ke Andre.
“Permisi Mah.....,” Lina datang tiba-tiba dengan pelayan yang membawa nampan. Lina menyajikan minum beserta kue buatannya. Andre terlihat kikuk saat menerima suapan kue dari Dina. Lina memandangnya dengan senyum penuh arti.
“Makasih banyak ya nak,” ujar Mama Rani.
“Mbak Lina.......ini mbak Lina bukan ya?” tanya Jeng Lia sambil mengingat-ingat pernah melihatnya.
“Ibu kenal sayakah?”
“Mbak Lina yang pernah isi pelatihan acara ibu ibu sosialita dengan Ibu Gubernur Jakarta kan?” tanya Jeng Lia. Mama Rani terkejut, tidak menyangka ada kegiatan lain yang dilakukan menantunya.
“Ooooh iya Bu, ibu masih ingat aja,” jawab Lina.
“Wah kita ketemu lagi ya mbak. Mbak Lina kok bisa ada disini?” tanya Jeng Lia.
“Oh saya anak angkat Mama Rani, kebetulan sedang liburan disini!” jawab santai Lina, sambil tersenyum manis memandang Andre dan Dina yang duduk berdekatan.
“Wah Jeng Rani, mbak Lina ini keren loh.....sudah dikenal banyak sama para pejabat . Dia salah satu pelatih yang sering diundang untuk mengisi acara UKM Jakarta. Kapan-kapan nanti ke kantor suami saya ya mbak Lina.”
“Insha Allah ya Bu, kalau begitu saya permisi dulu selamat menikmati hidangannya,” pamit Lina.
“Temani mama dulu di sini,” ujar mama Rani. Lina kembali duduk di samping Mama Rani sekaligus berhadapan Andre dan Dina.
“Jeng Rani, nak Andre belum menikahkan?” tanya Jeng Ratna.
“Ada apa memangnya?” jawab Mama Rani.
“Anak kita waktu jaman kuliah punya hubungan spesial, siapa tahu sekarang bisa menjalin hubungan lagi.”
Dina terlihat malu-malu mendengar ungkapan mamanya, sesuai dengan isi hatinya.
“Lagi pula Dina masih sendiri, jadi paslah!” Jeng Ratna menyakinkannya.
__ADS_1
Mama Rani menatap Andre dengan seksama....”Saya harus kembali kerja lagi, permisi dulu ibu-ibu,” pamit Andre. Tanpa bertanya Dina mengikuti Andre ke ruang kerja.
“Mah.......saya ke belakang dulu, sudah di tunggu Mitha,” ujar Lina.
“Ya....nak.”
.
.
Lina bergegas ke ruang baca, tempat Lina dan Mitha sedang bekerja.
“Mitha.......coba tolong cariin kontrakan atau apartemen buat kita secepatnya,” ujar Lina.
Sepertinya hari ini semua akan berakhir, entah apapun hubungan antara kita.......akan berakhir.
“Loh kok dadakan .......ada apa memangnya?”
“Feeling gue, perjanjian gue jadi istri bohongan akan selesai.”
“What.........maksud mami apa?”
“Sudah ada wanita yang hadir!”
“Loe beneran yakin bakal meninggalkan mansion ini!”
“YA......lagi pula ini bukan mansion gue!”
“Ehmmm..........!”suara Faisal berdehem.
“Nah.....pas banget ada Pak Faisal datang," ujar Lina.
“Ada apa memangnya?” Faisal ikut duduk bersama.
“Ooh.....Dina...,” ujar Faisal.
“Bisa ceritakan siapa Dina?”
“Dina kekasih dan cinta pertama Andre waktu kuliah, hampir berpacaran selama 5 tahun. Tapi tiba tiba Dina meninggalkannya begitu saja.”
“Cinta lama bersemi kembali rupanya!” Lina tersenyum jahat.
“Pak Faisal bisa bantu saya?” tanya Lina.
“Bantu apa?”
“Ikut saya ke ruang kerja Pak Andre, dan rekam dengan handphone ini apa pun yang terjadi!” Lina memberikan handphonenya.
Faisal dan Mitha saling melirik, mulai agak cemas.
“Ayuk Pak Faisal!” ajak Lina beranjak dari duduknya. Faisal dan Mitha mengikutinya.
Langkah Lina begitu percaya diri, walau jantungnya sudah berdebar-debar.
Tamu Mama Rani sepertinya sudah pindah duduknya, tidak ada di ruang utama.
Antara yakin dan tidak yakin Lina membuka pintu ruang kerja Andre. Faisal sudah meng ON kan kamera di tangannya.
Pelan-pelan dia membuka pintunya, mata Lina langsung terbelalak, susah payah juga Faisal menelan salivanya. Tubuh Mitha langsung lemas melihatnya.
__ADS_1
“Prok........Prok.......Prok!!” Lina bertepuk tangan.
Adegan ciuman hot Andre dan Dina terhentikan.
Andre langsung bangun dari duduknya karena kaget, hingga Dina terjatuh dari pangkuan Andre.
“Selamat Pak Andre dan Mbak Dina, silahkan dilanjutkan!” mata Lina menajam ke arah Andre dengan senyum smirknya.
“Terima kasih Pak Faisal atas kerjasamanya!” Lina meraih handphonenya, dan melangkah keluar.
Dina terlihat bingung, sebenarnya ada apa dengan Lina. Andre menjambak rambutnya, menyesali perbuatannya.
“Andre, kenapa?” tanya Dina dengan memegang lengan Andre.
“Eeerrggh........!” gumam Andre menepis tangan Dina, lalu bergegas menyusul Lina, yang entah di mana.
Lina buru-buru melangkah ke kamarnya, dia langsung ke walk in closet.....mengambil tasnya.......diraihnya dompet serta barang pentingnya saja. Sedangkan baju tidak dia masukkan.
“Mami.......mami......!” panggil Andre menelusuri kamarnya. Lina bersembunyi di dalam lemari, agar tidak ketahuan Andre.
Dirasa tidak ada Lina di kamarnya, Andre menuju ke kamar Mama Anggi, berharap Lina ada di sana.
TOK.....TOK.....TOK....
“Mama Anggi......!” panggil Andre dari luar pintu.
“YA.....,” sahut Mama Anggi dengan membuka pintu kamar.
“Ada Lina gak Mah?” tanya Andre , matanya melirik ke dalam kamar.
“Gak ada Lina! Ada apa?”
“Mah, apa pun yang terjadi Andre mohon mama jangan meninggalkan mansion Andre!”
“Kalian bertengkar?” Mama Anggi mengerutkan keningnya.
“Ya Mah, Andre cari Lina dulu Mah.”
“Ya.....nak.”
.
.
Papa Nugraha terlihat geram setelah menerima video dari Lina. Dan langsung menghubungi seseorang.
Andre masih kebingungan mencari keberadaan Lina, seluruh ruangan di mansion sudah dikelilingi tapi nihil. Handphonenya juga susah dihubungi.
“Andre......!” sapa Dina menghampiri Andre yang sedang duduk di lobby mansion.
“Kamu masih disini, belum pulang juga?”
“Masih menunggu mama, sepertinya masih asik ngobrol sama mama kamu.”
“Menurutmu, hubungan kita bisa dilanjutkan. Maafkan aku dulu meninggalkanmu, karena ragu-ragu saat kamu melamarku. Sekarang aku siap jika dilamar sama kamu!” ujar Dina memelas.
“Aku terharu saat kamu bilang masih mencintaiku,” Dina malu-malu mengingatnya kejadian di ruang kerja Andre, andaikan tadi Lina tidak masuk.
.
__ADS_1
.
bersambung