LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Maafkan mama nak!


__ADS_3

"Lapar........mau cari makan di dapur!” Lina mencebikkan bibirnya.


“Astaga kenapa nggak bilang kalau lapar, biar di antar sama pelayan!”


“Bosan di kamar, pengen lihat dapurnya.”


“Ya udah cepat naik ke punggung daddy, kaki mami sedang terluka pasti sakit kalau di bawa jalan!” Noah masih di gendongan Andre, dia membungkukkan tubuhnya agar Lina cepat naik kepunggungnya.


“Cepetan mami, kasihan Noah nih!”


Kayaknya sesekali gue nyiksa Bos lah......


Lina segera naik ke punggung Andre, alhasil Andre mengendong 2 makhluk, yang di depan mengendong anaknya. Terus di bagian belakang ada istrinya.


Tapi hati Andre senang, semua pelayan dan orang tua Andre beserta mama Anggi tidak luput melihat pemandangan ini.


Oooh sungguh ini memalukan.....semua orang menatap......batin Lina.


“Loh kok Andre sekarang udah punya dua anak nih!” goda Papa Nugraha.


“Iya nih Pah, anak Andre lagi manja dua-duanya.......ha...ha,” tawa Andre.


“Aawwwhhh....!” ringis Andre kesakitan ternyata Lina menggigit lehernya.


“Turunin......!” pinta Lina, Andre membungkukkan dirinya.


“Weeewww!” ledek Lina dengan mengeluarkan lidahnya.


“Awas ya mami nanti di kamar!” Andre gemas rasanya.


Lina bergegas jalan walau sedikit pincang ke meja makan yang dilihat sudah ada orang tua Andre dan mamanya. Andre mengikutinya dengan Noah.


“Wah ada makanan enak nih,” ujar Lina melihat meja makan ada sayur asem, ayam goreng, pepes ikan, tahu tempe, sambel terasi......ilernya ngeces.


“Mama sengaja masak kesukaan kamu, yuk kita makan,” ucap Mama Anggi.


“Okey!”


Andre memberikan Noah ke baby sitternya, dia ikut bergabung di meja makan duduk di samping istrinya. Mama Rani dan Papa Nugraha sudah mengambil nasi dan lauknya, di ikuti mama Anggi dan segera menyantapnya.


Melihat Andre duduk disampingnya, Lina mengambilkan nasi beserta lauk ke piring Andre. Setelahnya baru mengambil buat dirinya.


“Jeng Anggi, kalau tiap hari saya makan begini......lama-lama bisa naik timbangan,” puji Mama Rani.


“Padahal ini masakan kampung loh Jeng Rani.”


“Justru itu..... jadi makanan enak. Kalau begini besok kita harus olah raga jalan pagi jeng, kayaknya di sini pemandangannya ok!” ajak mama Rani.

__ADS_1


“Ide yang bagus Jeng Rani, udah lama saya juga gak jalan pagi. Lina mau ikut juga gak?”


“Bagaimana mau ikut jalan pagi, mama enggak  lihat nih kaki udah di perban!” tunjuknya.


“Kok bisa Lin?” tanya Mama Rani.


“Mama tanya aja sama anaknya?” lirik matanya ke arah Andre.


“Andre tadi pecahkan figura di kamar karena kesal sama mami, jadi kaki mami kena pecahan kaca.”


“Tapi kan tidak harus begitu juga, Lina belum sembuh luka di kepalanya, sekarang tambah luka di kakinya!” tegur Papa  Nugraha.


“Tahu tuh Pah, masa figura foto nikahnya di banting!” ujar Lina polos.


Papa Nugraha dan Mama Rani seketika diam, dan melanjutkan makannya tanpa melanjutkan perdebatan.


DUH kayaknya gue salah bicara ya......kok suasananya tiba-tiba nggak enak.


Andre menyantap makannya sampai habis, lalu meninggalkan meja makan tanpa berkata-kata.


Lina masih menikmati makan malamnya.


Yang salahkan dia, kenapa dia juga yang marah......kesal Lina.


“Lina, mama sama papa duluan ya,” pamit Mama Rani telah selesai makan.


Tinggallah dia dengan mamanya di meja makan “Lin, jangan suka bertengkar sama nak Andre. Kalau ada masalah bicarakan baik-baik saja!”


“Husss......jangan begitu ngomongnya, gak enak kalau terdengar orang tuanya.”


“Abis ngimana gak dikataiin gak waras, masa saya harus sekamar sama Pak Bos. Diakan bukan suami Lina, terus mama izini anak perempuan satu-satunya sama laki-laki yang bukan suaminya?”


Mama Anggi terlihat kikuk dengan argumen Lina. Salahnya Mama Anggi menutup rapat masalah pernikahan Lina dengan Andre.


“Andre sudah minta izin ke mama, dia mau sekamar dengan kamu,” ucap mama pelan.


“Terus mama memberikan izin?”


Mama mengangguk pelan....


“Hufffht..........!” gumam Lina.


“Baru kali ini ada ibu kasih izin laki-laki yang bukan suaminya sekamar dengan anaknya.” Dengan rasa kesalnya Lina meninggalkan mamanya sendiri.


“Maafkan mama nak, kamu tidak akan berdosa. Tunggu waktu yang tepat, mama akan kasih tahu,” ucap lirihnya.


Tidak habis pikir si mama seperti itu, berasa gue dijual ke si Bos.....udah sebulan ini gue bolak balik masuk rumah sakit, kayaknya apes banget semenjak Pak Nugraha diganti sama Bos Gila.......batin Lina.

__ADS_1


Sambil bersedekap Lina melangkahkan kakinya pelan-pelan ke arah kolam renang yang sudah diterangi lampu. Tersenyum simpul merasakan suasana di luar ternyata begitu indah, sedikit mengubah suasana hatinya.


Byur.....


Terdengar ada yang mencemplung ke kolam renang, dipicingkan matanya untuk memastikan siapa yang berenang malam-malam.


Oh ternyata si Bos.


Sesaat matanya memandang ke arah Andre yang sedang berenang. Lalu dia masuk ke dalam.


Beberapa menit kemudian Lina kembali dengan membawa nampan. Masih dalam keadaan pincang sebelah kakinya, dia berjalan ke arah meja di pinggir kolam renang dan meletakkan nampan yang dibawanya.


Andre melihat kedatangan Lina, dan dia segera naik dari kolam. Hanya menggunakan celana renangnya seukuran boxer, Andre berjalan dengan tenangnya ke arah Lina duduk.


Tubuh atletiknya terlihat jelas di depan Lina. Lina menelan ludahnya melihat Bosnya mendekat dengan tubuh nyaris tanpa kain.


Oh my god, mataku sudah ternodaii.........astaga bikin meleleh lihatnya.


Entah kenapa wajah Lina terlihat kayak orang bego, ilernya sampai mau keluar dari bibirnya.


Andre menutupi pinggang ke bawahnya dengan handuk yang berada di kursi.


“Saya buatkan teh hangat Pak, biar hangat setelah berenang!” ucap Lina dan segera membuang mukanya.


Diminumnya teh buatan istrinya. Lina sepertinya menunggu Andre berbicara dengannya, tapi Andre tetap bungkam.


Merasa di diamkan Andre, Lina beranjak dari duduknya percuma juga berlama-lama disana “Mau ke mana!” tanya Andre.


Lina menatap Andre dan segera membalikkan badannya ke arah pintu. “Mau ke kamar!” sambil lalu.


“Aaaaww....!” pekik Lina merasa badannya melayang. Ternyata Andre mengangkatnya dan membawanya ke arah kamar, secara naluri tangan Lina melingkar ke leher Andre, agar tidak terjatuh. Tanpa dia sadari selama menuju ke kamar, dia menatap wajah Andre dengan leluasa. Sedangkan Andre pura-pura tidak tahu.


Sesampai di kamar Andre mendudukkan Lina di sofa ruang tv, sedangkan dia segera masuk ke kamar mandi.



Lina mengatur napasnya, yang sedari tadi jantungnya berdebar-debar. Waktu masih jam 8 malam, Lina memilih untuk menonton televisi sampai matanya mengantuk.


Hanya memakai kaos dan celana pendeknya, Andre ikut bergabung dengan Lina di ruang tv.


Lina berusaha menggeserkan badannya, agar tidak terlalu dekat dengan Andre. Tapi percuma Andre ikut bergeser dekatnya.


“Cukup jangan bergeser lagi!” ucap Andre, dirangkulnya pinggang Lina dari belakang.


.


.

__ADS_1


bersambung


  


__ADS_2