LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Jangan sakiti anakku Noah !


__ADS_3

Lina melihat gelagat Sita yang mulai aneh, di lihatnya Noah tidak nyaman dalam gendongannya. Sita berdiri dekat sofa ... sedangkan ibunya duduk.


“Kamu jangan salahkan Noah, dia tidak salah!” ujar Lina.


“Cih ...!” ditepuknya dengan kencang paha Noah oleh Sita, hingga semakin kencang Noah menangis.


“Hentikan Sita!” teriak Andre, melihat Sita memukul anaknya.


Rasa menyesal teramat dalam, telah memberi Noah ke Sita. Hati Lina ikut menangis, tanpa terasa air matanya keluar.


“Berikan padaku,” pinta Lina sambil mengulurkan kedua tangannya.


“Ooh kamu mau ambil anak ini, biar dekat dengan daddynya ... HAH!” ujar Sita yang terbakar emosi.


“Bukan begitu, kamu tidak kasihan lihat Noah,” pinta Lina pelan. Andre bangkit dari duduknya.


“TUH AMBIl NIH ANAK!” teriak Sita, di dijatuhkannya Noah ke atas sofa tempat Sita berdiri.


“Ya Allah ...!” teriak histeris Lina, badan Lina bergerak cepat menjatuhkan dirinya terlentang sebelum Noah jatuh duluan. Noah mendarat di atas dada Lina.


“SITAAAAAA!!”” teriak Andre. Diseretnya Sita dari tempat dia berdiri.


Bu Anita kaget melihat Sita menjatuhkan anaknya sendiri.


“Mana hati kamu SITA!!” Andre menampar Sita, dan bergegas menghampiri Lina yang tampak susah untuk bangun dari sofa.


“Mas ... kamu benar-benar berubah!” pekik Sita memegang pipinya yang telah ditampar Andre.


Andre membantu Lina bangkit dari posisi jatuhnya yang tampak kesusahan bangun karena memeluk Noah.


“Akh ... Sita ... kamu tega sama anak sendiri,” ucap Lina pelan menahan rasa sakit di punggung belakangnya.


Tangan Andre terasa basah ketika memegang punggung Lina, saat mau membantu Lina bangun. Dilihatlah tangannya ... darah !!!


“Faisal hubungi ambulance!” teriak Andre, hatinya dag dig dug.


“Dan kamu, Sita ... apa yang kamu rencanakan!!” teriak Andre.


Dengan rasa kesalnya Sita meninggalkan ruangan Andre di ikuti oleh Ibunya tanpa beban sama sekali.


Mata Lina mulai berkunang-kunang.


“Mami ...!” panggil Andre.


“Mmm ...!” gumam Lina pelan, namun pelukan ke Noah semakin kencang.


“Jangan sakiti anakku Noah ...!” ucap Lina pelan, sedangkan tetes air matanya mulai deras tanpa suara.


Lina menarik napas dalam-dalam dan mendekap Noah erat, menyerap kehangatan bayi itu untuk membuatnya tenang.


“Mami ...!! Andre ikut menangis, lalu  memeluk Lina dan Noah.


Tini, Mitha dan Rini ikut meneteskan air mata melihat Lina mengorbankan dirinya buat anak yang notabene bukan anaknya sendiri.


Beberapa Perawat rumah sakit berlari cepat membawa brankar menuju ruangan Andre yang di antar oleh Faisal.

__ADS_1


“Permisi Pak, biar kami lihat pasiennya,” pinta salah satu perawat.


Andre melepaskan pelukannya, dilihat Lina sudah tidak sadarkan diri. Noah pun langsung diambil oleh Tini.


Masih dalam keadaan duduk, tampak di punggung Lina telah tertusuk  sebilah pisau. Pertolongan pertama sedang di upayakan, Lina dibaringkan tengkurap dalam atas brankar. Mata Andre terlihat merah menahan tangis dan amarah menjadi satu.


“Faisal segera urus masalah ini, kamu cek cctv. Siapa yang menyelipkan pisau ini di sela sofa. Saya akan ke rumah sakit!” perintah Andre.


“Baik Pak Bos ... saya ikut prihatin atas kejadian ini.”


“Mitha temani Tini dan anak saya, tolong antar mereka ke rumah sakit.”


“Baik Pak,” ujar Mitha yang masih ikut menangis melihat Lina terluka.


Perawat siap dengan brankarnya menuju ambulance agar pasien langsung dibawa ke rumah sakit. Andre ikut menemani Lina dengan ambulance.


Satpam kantor telah menghubungi kepolisian setempat agar datang ke tempat TKP, untuk penyelidikan.


 


...----------------...


Sepanjang jalan menuju rumah sakit, dalam mobil ambulance Andre tampak kacau balau. Terlihat luka Lina yang belum terobati, darah yang masih keluar. Baru kali ini dia menangisi seorang perempuan, yang baru dikenalnya. Dan bukan siapa-siapanya.


Sesampainya di rumah sakit, Dokter Kevin sudah menunggu di luar pintu IGD.


“Tolong selamatkan Lina,” pinta Andre terdengar lemah.


“Sabar ...Bro.” Kevin menepuk bahu Andre, tanda empati atas kejadian yang menimpanya.


Mitha beserta Tini dan Noah sudah datang menyusul Andre di rumah sakit. Di ambilnya Noah yang masih sesenggukan dalam gendongan Tini.


“Noah, doain mami sembuh ya nak. Biar bisa sama kita lagi nak," kata Andre, lalu dipeluknya Noah dengan erat.


Mitha dan Tini yang mendengar, matanya ikut berkaca-kaca.


Pintu ruang IGD, terlihat Kevin keluar.


“Andre, Lina kehilangan banyak darah dan butuh transfusi darah secepatnya, sedangkan stok darah yang dibutuhkan di sini kehabisan. Dan Lina harus segera operasi,” ujar Kevin.


“Apa golongan darahnya?”


“Golongan darahnya AB resus negatif.”


“Ambil darah saya, golongan darahnya sama."


“Ikut saya Bro, kita cek dulu semoga cocok,” ajak Kevin ke ruang IGD. Andre menganggukkan kepalanya dan memberikan Noah ke Tini.


Perawat segera mengecek darah Andre, untuk memastikan bisa didonorkan ke Lina.


“Ok bro, darahnya bisa didonorkan buat Lina," ujar Kevin.


“Syukurlah,” Andre sedikit bernapas lega.


.

__ADS_1


.


Andre terlihat sedikit lemah setelah mendonorkan darahnya untuk Lina. Saat ini Andre masih beristirahat di ruang pemulihan.


“Andre," sapa Mama Rani sembari melongok dari pintu.


“Mama,” sahut Andre.


Mama Rani dan Papa Nugraha masuk ke ruang di mana  Andre berada.


“Kenapa bisa terjadi nak, kenapa bisa terjadi sama Lina?" cecar Mama Rani matanya mulai berbinar.


“Papa dapat laporan dari Faisal kejadian tadi di kantor."


“Lina telah menyelamatkan Noah ... Mah, Pah." ucap Andre mengingat kejadian tadi di kantor.


“Ya Allah Lina ... .kok baik banget Pah ... dia melindungi cucu kita yang bukan anaknya," ucap Mama Rani, kedua netranya mulai berurai air mata. Papa Nugraha memeluk istrinya agar tenang.


“Sekarang bagaimana keadaan Lina?” tanya Papa Nugraha.


“Sedang di ruang operasi Pah."


“Kenapa Sita tega menjatuhkan anaknya sendiri?” tanya Mama Rani dalam isak tangisnya.


“Dasar wanita gila, gak punya hati. Kalau Noah tidak dijatuhkan, Lina tidak akan terluka. Buka mata kamu Andre, siapa sebenarnya istri kamu ... istri kesayanganmu," cerocos Mama Rani sambil terisak.


DEG !!! Hati Andre pilu dengar kata-kata mamanya, sedari dulu dia sering memuja, membela istrinya di depan ke dua orang tuanya. Tapi nyatanya sekarang berbeda hal-hal yang dulu dianggap biasa, sekarang seperti terbuka pelan-pelan dari masalah uang yang dihamburkan istrinya, mertua dan sekarang anaknya sendiri.


“Sabar ... Mah. Sebaiknya kita mendoakan biar Lina cepat pulih," ujar Papa Nugraha.


“Pah, sebaiknya pengawal mulai berjaga-jaga di mansion, jangan biarkan Sita dan orang tuanya datang !” pinta Andre.


“Papa sudah mengarahkannya saat Faisal melapor tadi."


“Makasih Pah."


“Selamat siang om, tante," sapa Kevin masuk ke ruang pemulihan.


“Siang juga nak Kevin," jawab Papa Nugraha.


“Bagaimana sudah mulai pulih badannya Bro?" tanya Kevin, menengok Andre.


“Lumayan Bro, keadaan Lina bagaimana?”


“Masih di ruang operasi, di tanganin sama dokter bedah yang terbaik disini. Doakan saja operasinya lancar."


“Thanks Bro, bisa sekalian cek anak saya juga. Takut ada yang cedera,” pinta Andre


“Siap nanti gue cek anak loe , ok gue tinggal dulu. Mari om, tante," pamit Kevin.


“ Ya Bro."


.


.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2