LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Sedih sesaat


__ADS_3

Lina masih terbaring lemas, setelah dari siang menjelang sore merasakan kontraksi hebat, layaknya ibu hamil yang akan melahirkan.


Mitha,Mama Rani dan Mama Anggi setia menemani Lina di ruang rawat. Sedangkan Andre belum kembali dari hotel.


Lina mulai mengerjap kelopak matanya. “Mama, Andre mananya?” tanya Lina kepada mama Anggi, karena tidak melihat suaminya berada di sisinya.


“Andre, mengurusi masalah yang menimpamu di hotel. Jadi mama sama mama mertuamu menemani kamu di sini, selagi Andre di sana.”


“OOOH......” hanya itu yang bisa di jawab Lina.


“Sekarang makan dulu ya, makan malam kamu sudah datang dari tadi. Mama melihat kamu tertidur pulas, gak enak membangunkannya,” ucap Mama Rani.


“Iya mah.” Dibantu mama Rani dan mama Anggi, Lina duduk bersandar di headboard ranjang, agak mudah untuk menyantap makan malamnya.


“Mih......makan yang banyak, biar cepat pulih kesehatannya,” ucap Mitha sambil duduk di tepi ranjang.


“Mmmm......Mitha udah makan belum. Saya jadi makan sendiri?” tanya Lina.


“Kita semua baru saja selesai makan malam.”


“Mami, yang sabar ya atas musibah yang menimpa hari ini. Untung dan bersyukurnya, bukan racun yang mematikan masuk ke tubuh mami.”


“Ya........walau bukan racun yang mematikan, tapi tetap saja....akan menghi-------.”


“Tidak mami, jangan berpikir ke sana dulu. Semoga mami bisa punya keturunan sendiri, jangan langsung berkecil hati dan pesimis. Banyak berdoa, minta sehat dan dipulihkan rahimnya." sela Mitha


Tidak bisa dibohongi hati Lina, dia yang sekarang pesimis, yang mulai down, setelah mendengar efek dari obat lacknat yang sudah masuk ke dalam tubuhnya agar dirinya tidak bisa memiliki keturunan sendiri. Wanita mana yang hatinya tidak jadi hancur, apalagi suaminya sendiri baru saja mengutarakan ingin memiliki anak darinya.


“Hiks........hiks.....!” secara naluri dirinya tak kuasa untuk tidak menangis, menangisi dirinya sendiri. Begitu pedihnya, ketika takdir itu menjadi bagian dari nasibnya.


“Yang tegar Mih. Mami pasti akan sehat kembali!”


Mitha memeluk Lina, memberikan kekuatan agar kembali kuat dan tidak terlalu terpuruk. Tidak bisa di pungkiri wanita mana pun jika berada di posisi Lina  pasti akan hati hancur, kepercayaan dirinya hilang seketika.


“Sayang.......,” sapa Andre yang baru saja tiba.


Mitha mengurai pelukannya, dan memberi ruang untuk Andre.


Lina langsung merentangkan ke dua tangannya, Andre pun menyambutnya. Dalam posisi Andre berdiri, Lina melingkarkan tangannya ke pinggang Andre, dan memeluk perut Andre. Masih dalam  isak tangisnya, dengan lembut Andre mengelus rambut Lina, membiarkan istrinya menangis, meluapkan rasa sedihnya dan itu hal yang manusiawi.


Kali ini Andre sebagai suami, baru sekarang dia benar benar sebagai suami siaga, berada di garda depan untuk istrinya. Dan belum pernah dia lakukan selama pernikahan  sebelumnya.


Andre sedikit menundukkan  tubuhnya, dan mengecup pucuk kepala Lina. “Sayang......sudah ya jangan menangis lagi, nanti  mami kelelahan.” Di usapnya air mata Lina yang berlinang di pipinya.


“Bagaimana nak Andre, sudah ketangkap pelakunya?” Tanya mama Anggi.

__ADS_1


“Sudah Mah, pelakunya salah satu karyawan perusahaan.”


“Siapa Daddy?” tanya Lina.


“Pelakunya Siska mih, dan sudah di bawa ke kantor polisi.”


“Astagfirullah, kurang ajar tuh ya perempuan. Benar-benar bejat kelakuannya,” sumpah serapah pengen keluar dari mulut Lina.


“Tenang sayang, segala tindakannya akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Dan paket yang di kirim ke mami, itu juga ulah Siska.”


“Astagfirullah....,” Lina mengelus dada.


“Dad, Siska itu dari awal naksir sama daddy. Tapi sama daddy mungkin tidak di tanggapi. Jadi iri hati ke mami,” Lina menundukkan kepalanya.


“Sayang maafkan daddy. Daddy tidak pernah tebar pesona sama wanita di luar sana apalagi menggodanya.”


“Daddy mungkin tidak tebar pesona. Tapi Daddy itu terlalu ganteng, dan terlalu kaya. Makanya banyak fans wanitanya.”


“Terus daddy harus bagaimana, apa daddy harus operasi plastik jadi jelek. Daddy kan sudah ganteng dari lahir. Lagian gantengnya daddy hany buat mami seorang,” goda Andre.


“Ya, jangan di operasi plastik dong, nanti wajah daddy ngak enak di lihat ,” wajah Lina mulai tidak terlihat sedih.


Andre mendekatkan wajahnya ke wajah Lina. ”Andre, masih ada mama nih sama Mitha. Di tahan dululah!” ledek Mama Rani.


“Hi....hi...hi...!” Andre dan Lina tertawa kecil, lupa di kamar ini bukan mereka berdua saja.


“Mama pamit dulu ya nak, besok mama ke sini lagi.” Pamit Mama Anggi dan Mama Rani sambil mengecup kening anak, menantunya.


“Mama Rani, saya titip Noah ya Mah,” pinta Lina.


“Iya sayang, jangan pikirin Noah dulu. Yang penting maminya Noah sehat dulu ya,” jawab Mama Rani.


“Makasih Mah.”


“Cepat sehat ya Mih, besok saya ke sini lagi,” ucap Mitha.


“Oke, makasih ya Mitha.”


Sekarang di kamar rawat tinggal Andre dan Lina berduaan.


“Sayang, daddy mandi dulu ya....,”


“Iya Daddy.”


Selama 15 menit Andre membersihkan dirinya, dan sudah mengganti setelan kejarnya dengan baju rumah.

__ADS_1


“Daddy sudah makan belum, kalau belum, makan dulu Dad. Tadi kayaknya mama pesan makanan banyak, masih ada di meja tuh,” tunjuk Lina.


“Belum mih,” Andre menghampiri meja makan, dan mengecek beberapa kotak yang berada di meja.


Dilihatnya ada nasi goreng kambing, serta sate ayam dan kambing yang masih utuh. Lalu di pindahkan ke nakas dekat ranjang Lina. Karena ingin makan di samping istrinya.


“Masih adakan Dad?” tanya Lina.


“Masih nih......ini Daddy mau makan,” Andre duduk di atas ranjang di samping Lina. Dan mulai  menyantap makan malamnya.


“Sayang, mami kan suka sate ayam . Daddy suapin ya,” tawar Andre.


“Mau Dad, satenya.” Diterimanya tusukan sate ayamnya.


“Pakai nasi gorengnya ya, biar tambah kenyang,” ujar Andre


“Dikit aja Dad, mami baru aja selesai makan.”


“Gak pa-pa, biar cepat sehat kalau mami makan  banyak.”


“Jangan pakai daging kambingnya, mami gak suka.”


“Iya sayang, ini udah daddy pinggirin. Biar daddy yang makan daging kambingnya.”


“Daddy jangan banyak-banyak makan daging kambingnya. Nanti daddy hareudang.”


“Lah kalau daddy hareudang, kan ada mami yang bisa dinginin daddy,” ujar Andre dengan senyum messumnya


“Udah tahu mami lagi sakit, masih aja daddy godaiin mami. Daddy mah tega sama mami,” bibir Lina mulai cemberut..


“Biar mami cepat sehat....” bisik Andre.


“Issssh......”desis Lina.


Andre meletakan piring bekas makannya di nakas, dan meraih gelas yang berisi air untuk di minumnya. Lalu naik lagi ke ranjang Lina.


Lina masih menyandar di head board ranjang, Ande pun melakukan hal yang serupa. Apalagi mereka berdua habis makan, tidak baik jika langsung berbaring.


“Sayang.......” Andre mengelus perut Lina.


“Apapun yang tejadi sama  mami, daddy menerima seutuhnya. Jangan pernah berpikir jika Daddy akan meninggalkan mami karena masalah anak, dan jangan mami sesekali meninggalkan daddy. Kita sudah memiliki anak, Noah,” ucap Andre, tangannya masih mengelus perut istrinya.


.


.

__ADS_1


Terima Kasih buat Kakak Readers semuanya atas dukungannya, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan ceritanya 😊😊


__ADS_2