
Mitha melirik semua barang yang masih berjejer di meja dan sofa.
“Mih.......ini kapan mau di buka?” Mitha melirik semua bungkusan, paper bag yang berada di meja sofa dan sebagian di sofa. Sengaja mengalihkan perasaan Lina. Stop membahas tentang Wahyu, sudah cukup rasanya membuka luka lama Lina.
“Ya sudah kita buka sama-sama deh ini semuanya!” ujar Lina bangkit dari duduk sambil menyeka air matanya. Mereka berdua membuka semua bungkusan yang ditujukan untuk Lina.
Ada beberapa makanan ciri khas daerah masing-masing kepala cabang, ada juga yang berisikan baju daster khas dari Jogja.
“Nah ini kamu pilih mau yang mana, nanti sisanya bagiin ke teman-teman yang lain!” Lina sudah memisahkan beberapa makanan dan barang buat dia selebihnya dia bagikan.
“Thanks mami!”
TOK.....TOK....TOK
“Permisi Bu Bos!” sapa Faisal.
“Masuk Pak Faisal, kebetulan ke sini.......mau kue gak?” tawar Lina.
“Mau kalau di kasih!”
“Ya udah pilih aja yang Pak Faisal suka!” Dengan senang hati Faisal memilih sekotak kue brownis.
“Bu Bos .......di minta ke ruangan Pak Bos sekarang!” Faisal hampir saja lupa perintah dari Andre gara-gara memilih makanan.
“Ada apa ya Pak Faisal?” selidik Lina.
“Kurang tahu!” Faisal hanya bisa mengangkat kedua bahunya.
Sesaat Lina tampak berpikir ketika dirinya di panggil ke ruangan CEO, apalagi dia merasa tidak ada hal yang akan di sampaikan saat ini.
“Ya sudah........saya ke sana sekarang!” Lina bergegas menuju lantai 10 ke ruangan suaminya, meninggalkan Mitha dan Faisal yang masih berada di ruangannya.
“Mitha....si Bu Bos masih ada hubungan dengan Wahyu?” selidik Faisal.
“Mami sudah lama tidak ada hubungan dengan Wahyu. Kenapa memangnya Pak Faisal!”
“Sepertinya Pak Bos gak suka sama Wahyu!”
“Gak suka atau cemburu kali, lihat istrinya di deketin Pak Wahyu,” ejek Mitha.
“Ya cemburu sebenarnya!” Faisal memastikan.
“Trus ini mami di suruh keruangan suaminya, gara-gara cemburu dong?”
“Kayaknya begitu,” ujar Faisal sambil menaikkan kedua bahunya.
__ADS_1
🌹🌹
Andre dari bangku kebesarannya, matanya selalu menatap ke arah pintu, menanti ke datangan seseorang sambil memainkan pulpen yang berada di tangannya.
TOK......TOK.....TOK
“Masuk.....!” ucap Andre dari dalam ruangan.
Andre menatap tajam ketika Lina masuk ke dalam ruangannya. “Ada keperluan apa Pak Andre, meminta saya datang ke ruangan?” tanya Lina masih berdiri di hadapan Andre.
“Duduk!” titah Andre terkesan dingin.
Lina segera mendaratkan bokongnya ke kursi yang berada di hadapan dengan meja kerja Andre. Saat ini dia berasa memposisikan dirinya sebagai karyawan suaminya bukan seorang istri.
“Kerjaan kamu sudah selesai semua?” tanya Andre basa basi.
“Belum selesai semuanya Pak!”
“Kamu tahu kenapa saya suruh ke sini!”
“Tidak tahu Pak!” sambil menggelengkan kepalanya.
Andre sebenarnya sedang menahan emosinya untuk tidak marah ke istrinya gara gara rasa cemburunya, sekarang malah terkesan pertanyaan dia seperti atasan istrinya.
“Siapkan makan siang buat saya!” hanya itu yang keluar dari mulut Andre.
“Baik Pak......saya pesan makan siangnya dulu!” ujar Lina sambil beranjak dari duduknya.
“Tidak usah keluar dari ruangan, cukup pesan dari sini saja!” Andre tidak rela Lina keluar dari ruangannya.
Dengan terpaksa Lina pindah tempat ke area sofa untuk menghubungi restoran langganan, untuk memesan beberapa menu.
Masih sibuk memesan menu via handphone, tangan besar Andre sudah merangkul pinggang Lina dari belakang.
DEG
“Hari ini kamu sengaja berdandan cantik karena ingin bertemu dengan Wahyu....huh!” tanya Andre dengan mengeratkan rangkulan.
“Saya dandan seperti biasanya tidak ada yang istimewa kok, bukan karena akan ketemu dengan Pak Wahyu!” jawab Lina mengelak atas tuduhan Andre.
“HAH.......kamu bilang seperti ini biasa aja!” diputarnya tubuh Lina agar berhadapan dengan dirinya.
“Kamu sengaja pakai baju yang memperlihatkan tubuh kamu! Dan kamu sengaja membiarkan Wahyu merangkul pinggang kamu!” sarkas Andre mulai memburu emosinya.
“Saya masih pakai baju kerja yang sopan kok!” dia agak bingung menjelaskan Wahyu merangkul pinggangnya. Dia memang menyadari saat menuju ke ruang pertemuan, sempat Wahyu menyentuh pinggangnya walau langsung di tepisnya.
__ADS_1
“Kenapa kamu bingung, kalau saya tahu Wahyu merangkul pinggang kamu!” Andre semakin mengeratkan pelukannya, nadanya terdengar dingin.
“Pak Andre......tolong lepasin pelukannya. Ini terlalu erat!” mohon Lina terasa erat Andre mendekap tubuhnya, apalagi dia merasa junior suaminya terasa mengeras tapi tidak sekeras batu.
“Ini hukuman buat kamu!” Andre tidak melepaskan dekapannya. Hasratnya semakin memanas saat mendekap istrinya, ingin rasanya melempar istrinya ke atas ranjang yang berada di kamar pribadinya dan pastinya Lina akan sangat murka kepadanya.
Tak berapa lama kemudian.....
TOK.......TOK.......TOK
“Ya masuk.....!” ucap Lina.
“Pak Andre lepasin, ada orang mau masuk!” mohon Lina sekali lagi.
“Tidak perduli!” dengan tampak garangnya.
“Permisi mbak Lina, saya bawa pesanan makan siang!” ujar Yusuf sambil mendorong trolynya masuk ke ruangan.
“Taruh saja trolynya di sana, dan kamu segera keluar dari ruangan. Dan tutup pintunya!” titah Andre suaranya agak naik 2 oktaf.
“Baik Pak Andre!” jawab Yusuf sambil memalingkan pandangannya, buru buru menaruh troly dekat pintu. Agak terkejut Yusuf melihat CEO nya sedang memeluk Lina.
Ingin rasanya Lina menutup wajahnya dengan apa pun, malu ketika orang lain melihat dia di peluk oleh CEO mereka.
“Kenapa......kamu tidak suka pelukan saya, atau jangan jangan kamu lebih suka di peluk Wahyu. Saya ini suami kamu!” Andre melihat tatapan tidak sukanya di ke dua mata Lina.
Aduh jangan jangan Pak Bos lihat gue di peluk mas Wahyu.......
“Pak Andre sepertinya suka ya membuat saya malu di depan orang lain! Puas Pak Andre membuat diri saya seperti perebut suami orang. Pak Andre tahu kah........dari lantai bawah sampai lantai atas mengecap saya penganggu rumah tangga Pak Andre. Satu kantor ini tahunya Sita istri Pak Andre, bukan saya yang telah di nikahi Pak Andre. Semua orang tidak tahu saya istri Pak Andre termasuk Pak Wahyu!” penuh emosi dia mengebu-gebu mengeluarkan kembali isi hatinya.
"Sekarang Pak Andre memeluk saya di depan salah office boy, apalagi yang akan saya dengar tentang saya.....Pak! Dia akan berpikir saya ada main dengan Bos perusahaan ini!"
Andre mengurai pelukannya, setelah mendengar kata-kata Lina, yang memang benar. Dirinya belum mengumumkan pernikahannya dengan Lina.
Dari pada dia kembali emosi terhadap suaminya dengan cepat dia menghampiri troly yang membawa makan siang yang tadi dia pesan, lalu segera menatanya di meja.
“Makanlah, sudah saya siapkan. Kalau begitu saya permisi dulu!” ucap Lina tanpa memandang Andre.
“Siapa yang menyuruh kamu keluar! layani saya makan dulu. Ingat kamu istri saya yang harus mengurusi saya!” sambil menarik lengan Lina, menutupi rasa bersalahnya.
Bagaimana Lina akan jatuh cinta dengan suaminya sendiri, kalau Andre dengan seenak jidatnya memaksa ke hendaknya.
Tanpa banyak bicara Lina mulai mengambil nasi dan lauk ke atas piring untuk Andre.
“Kamu ikut makan juga, gak mungkin saya menghabiskan semua makan ini!”
__ADS_1
Lina kembali menuruti perintah Bosnya alias suaminya sendiri. Hati Andre sedikit terhibur, melihat Lina menuruti perintahnya.
Andre menikmati makan siangnya, sesekali matanya melirik wajah istrinya yang sedang mengunyah makanannya. Masih teringat bagaimana tadi Wahyu memegang sudut bibir Lina, mulai dia kembali geram.