LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Mulai penyelidikan


__ADS_3

"Mih.....jangan  pingsan....!” Mitha berusaha membuat Lina tetap tersadar, walau wajahnya sudah pucat dan tubuhnya sudah dingin. Napas Lina sudah mulai terasa sesak napas.


BRAK !!”


Suara pintu ruangan panitia terbuka kencang, terlihat Andre datang dengan tergesa-gesa


.


“Sayang.........!” Andre melihat istrinya sedang terduduk di lantai dalam pelukan Mitha.


“DAD........se---sesak Dad!” tutur Lina, Mitha mengurai pelukannya. Andre langsung memeluk tubuh istrinya yang terasa dingin.


“KENAPA MAMI BISA BEGINI!” teriak Andre melihat kondisi istrinya yang tadi baik-baik aja, jadi tidak baik-baik aja.


“Sebaiknya Pak Bos lihat kotak itu di meja!” ucap Faisal sambil menunjuk ke arah meja panitia.


Mitha mengambil alih memegang Lina, Andre pun menghampir meja tersebut dengan Faisal.


Secarik kertas bertuliskan :


KAMU AKAN SEPERTI INI LINA !!!


Dibawahnya secarik kertas tersebut ada isi kepala sapi yang telah di lumuri darah segar dan tertancap pisau. Itulah isi kardus yang tadi di buka Lina.


“SIAPA YANG MENGIRIM INI!” teriak Andre begitu menggema, sampai semua karyawan yang berada di ruang sebelah berhenti beraktifitas. Mendengar teriakan kemarahan CEO mereka.


Fani masih berdiri kaku melihat isi kotak yang dia terima tadi.


Andre kembali memeluk Lina yang masih terlihat pucat, lalu mengangkatnya ala bridal style dan membawa menuju ke kamar mereka.


“Mitha, Faisal selidiki masalah ini.....kerahkan semua team keamanan di sini!” titah Andre.


“Baik Pak Bos!”


Faisal dan Mitha bergegas ke ruang keamanan untuk melihat rekaman CCTV yang berada di ruang panitia.


Fani juga ikut mereka berdua karena dia yang melihat persis wajah kurir yang membawa paket tersebut.


Susi yang baru saja mengetahui kejadian ini, langsung menyimpan barang bukti tersebut dengan bantuan bagian keamanan hotel.


Tubuh Lina mulai menggigil dan gemetaran dalam dekapan Andre di kamar “sayang......tenang ya. Ada daddy di sini.” Di usapnya punggung istrinya, agar lebih tenang.


Kepala Lina menyelusup ke dada suaminya, dan merangkul pinggang Andre “Mami.......takut Dad.”

__ADS_1


“Jangan takut sayang, ada daddy yang akan menjaga mami. Secepatnya daddy akan mencari pelakunya.”


Cup........di kecupnya pucuk rambut Lina berulang kali.


“Ini yang mami takutkan jika menikah dari daddy, pasti akan ada yang tidak suka dengan mami.  Di luar sana banyak wanita yang tergila gila dengan daddy,” ucap lirihnya.


“Hey......sayang....buang rasa takutmu itu. Jika semakin kamu takut, mereka akan terlihat senang. Ini ujian yang harus kita lalui bersama, mami harus ingat ada daddy yang akan menjaga dan melindungi mami sepanjang hayat daddy.” Andre berusaha menguatkan istrinya agar tidak cepat rapuh, sambil memikirkan siapa yang telah meneror istrinya.


Dina kah!!!!


Ting.......Tong....


“Daddy buka pintu dulu ya, sayang,” mengurai dekapannya.


“Iya Dad.”


Andre beranjak dari ranjang dan menyelimuti istrinya, agar tetap hangat.


“Andre, apa yang terjadi!” ujar Papa Nugraha yang datang ke kamar mereka, setelah tadi sempat bertemu Faisal di bawah.


Mama Anggi dan Mama Rani yang ikut datang, tanpa permisi langsung masuk ke kamar mencari keberadaan Lina.


“Lina menerima teror Pah!” Andre dan Papa Nugraha sama sama duduk  di sofa ruang tamu.


“Papa sudah mengarahkan Joni dan team untuk menyelidikinya. Menurut kamu siapa yang meneror Lina?”


“Kita pantau dua orang tersebut, untuk sementara biar Papa yang akan memimpin rakernya. Lina sangat membutuhkan dirimu saat ini. Dan sekarang pengawal menjaga lebih dekat lagi, sudah tidak bisa memantau dari jauh.”


“Baik Pah, terima kasih sebelumnya.”


“Kalau begitu Papa pamit akan ke ruang pertemuan. Biarkan mama dan mama mertuamu menemani kalian disini!”


“Iya Pah.”


Andre yang baru mengingat dirinya dan istrinya belum makan siang, langsung memesan makanan untuk di antar ke kamarnya melalui line telepon kamar.


“Faisal, bagaimana sudah ada perkembangan?” tanya Andre lewat sambungan ponselnya, setelah sebelumnya memesan makan siang terlebih dahulu.


“Saya masih di ruang keamanan, sedang mengecek cctv. Wajah pengirim tidak terlalu jelas, jadi akan mencari di beberapa titik. Jika sudah dapat, kami akan langsung mencari kurir tersebut di ekspedisi tempatnya bekerja,” jawab Faisal.


“Segera kasih kabar, jika ada perkembangan yang terbaru.”


"Baik Pak Bos."

__ADS_1


Tidak menunggu waktu lama, pesanan makan siang sudah sampai di kamar Andre dan Lina tapi sebelumnya pegawal yang berjaga mencicipi makanan tersebut, untuk menyakinkan jika makanan yang di antar kondisinya aman dan layak di konsumsi.


“Mami makan dulu ya, biar ada tenaga,” ujar Andre yang masuk ke kamar.


“Mama sama mama Anggi sudah makan siang? kalau belum, kita sama sama makan siang. Andre sengaja pesan banyak menunya.”


“Kita belum makan nak, tadi pas dapat kabar....langsung ke sini. Kalau begitu mama ikut makan di sini aja,” jawab Mama Rani.


Lina di bantu Andre turut ke meja  makan untuk mengisi tenaganya, begitu juga dengan kedua mamanya.


“Dad, agenda rapat selanjutnya bagaimana. Soalnya badan mami masih gak enak?”


“Mami tidak usah di pikirkan, papa sudah mengantikan untuk agenda selanjutnya. Yang terpenting mami istirahat dulu hari ini.”


“Makasih ya Dad, eeh......Noah Dad,” Lina baru teringat belum melihat Noah siang ini.


“Ada mama sama mama kamu yang akan bantuin jagain Noah, Nak,” sambung Mama Rani.


“Makasih banyak ya Mah.” Keluarga memang support yang paling penting buat Lina, saling bahu membahu dan hari ini dia merasakannya.


Sementara di ruang keamanan....


Mata Fani sedang di buat awas untuk melihat satu persatu wajah pria yang bertemu dengannya.


“Seingat saya, kurirnya pakai jaket warna merah ada tulisan J**,” ujar Fani.


“Kamu yakin!” tanya Faisal di samping Joni.


“Yakin sekali, dan wajahnya sesuai dengan rekaman ini.” Fani menunjukan gambar saat kurir tersebut berada di lobby hotel.


“Jon, sebaiknya kamu bergegas ke kantor ekspedisi J**, dan cari nama pria tersebut, langsung bawa dia ke sini kalau sudah bisa di hubungi. Dan selidiki asal pengirim tersebut, karena tidak tercantum di kotak tersebut!”


“Baik Pak Faisal, siap di laksanakan.”


Sudah mulai ada titik terang, tinggal menunggu pria kurir itu datang ke hotel.


“Mitha, Fani.........kira kira kalian mencurigai seseorang gak?” tanya Faisal.


“Siska!!......tempo hari mami sama Siska pernah beradu mulut di toliet!” Mitha mengingatnya.


“Bukannya Siska, panitia raker juga ya, dan ada di hotel ini juga?” sambung Fani. Mitha dan Fani saling bertatap.


“Saya minta kalian berdua mulai sekarang pantau gerak gerik Siska, jika ada yang mencurigai , segera laporkan ke saya!” titah Faisal.

__ADS_1


“Siap Pak Faisal,” jawab serempak mereka berdua.


Mereka bertiga berpisah di depan ruang keamanan, Mitha dan Fani sengaja ke restoran terlebih dahulu untuk mengisi tenaga. Memantau orang itu butuh asupan yang banyak, biar gak oleng.


__ADS_2