LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Kedatangan Sita ke kantor


__ADS_3

“Pak Andre, saya tertarik untuk join dengan proyek ini. Dan saya tunggu nota kesepakatan kerja samanya," ujar Pak Reyhan tanda menyetujui.


“Terima kasih banyak Pak Reyhan, setuju untuk bergabung. Saya akan segera menyiapkan surat kerja samanya." ujar Andre dengan hati gembira.


“Berkat penjelasan detail dari istri Pak Andre, membuat saya tertarik. Sungguh Pak Andre beruntung punya istri yang pintar," kata puji Pak Reyhan.


“Anaknya juga anteng ya sama maminya,” kata puji Bu Reyhan.


Andre semakin bahagia dihatinya dengan pujian yang dia terima.


“Ya saya beruntung punya mami Noah,” balas Andre mengecup pipi Noah dan Lina.


Sekelebat Lina terkejut menerima kecupan Andre di pipinya tapi berusaha tampak tenang.


“Pak Andre, jangan sia-siakan Bu Lina dan dijaga jangan sampai pergi jauh. Dan sepertinya Pak Andre akan mempunyai anak lagi.” Senyum penuh arti Bu Reyhan.


“Duh mama, kebiasaan deh jangan suka menerawang. Maafkan kebiasaan istri saya yang memang bisa melihat sesuatu langsung di ucapkan, tapi tidak usah terlalu dipercaya,” pinta Pak Reyhan dengan sedikit becanda.


“Oh nggak pa-pa Pak Reyhan," ujar Andre.


"Bu Lina, jaga diri baik-baik. Semuanya pasti bisa kamu lewati, kamu kuat. Kamu memang ibu yang terbaik buat baby ini, ” ujar wejangan Bu Reyhan sambil menggenggam tangan Lina seperti memberikan kekuatan.


“Terima kasih Bu....," balas Lina agak sedikit tidak nyaman dengan ucapan Bu Reyhan.


“Pak Andre, kapan-kapan saya mengundang makan malam di mansion saya. Usahakan ajak istrimu ini," pinta Pak Reyhan.


“Akan saya usahakan."


“Baiklah, kami pamit dulu. Saya tunggu pertemuan selanjutnya," ujar Pak Reyhan.


“Baik Pak Reyhan, segera akan saya kabari."


Usai sudah pertemuan mereka.


.


.


“Faisal pesankan restoran B, siang ini kita makan di luar,” pinta Andre.


“Anak daddy yang ganteng, makasih ya sayang. Berkat kamu......proyek daddy lancar.” Andre mengambil Noah dari gendongan Lina, di ciumnya pipi anaknya. Tampak Noah tertawa geli.


“Pak Andre, saya permisi kembali ke ruangan. Noah sama Pak Andre dulu," ucap Lina segera bergegas keluar.


“Tunggu, kita makan bersama di luar.” Andre menarik salah satu tangannya.


“Saya makan di kantin saja, masih ada pekerjaan yang tertunda.”


“Dengarkan ini perintah Atasan kamu!” ucap Andre dingin seperti biasa.

__ADS_1


Lina hanya bisa menghela napas, tidak bisa berkutik.


.


.


Noah dalam gendongan Lina serta Andre jalan berdampingan mereka keluar dari ruangan menuju lobby, di iringi  Faisal dan Tini baby sister.


Tampak lobby kantor yang mulai ramai, karena jam istirahat, semua mata karyawan memandang Bos mereka dengan Lina, tanpa Lina sadari...tangan Andre merangkul pinggang Lina.


Ada apakah dengan mereka, benarkah gosip tersebut ... desas desus karyawan di kantor Nugraha Grup.


Andre memesan tempat di restoran yang cukup mewah, di tambah pesan tempat ruang VVIP.


Lina, Noah dan Andre duduk di satu meja. Sedangkan Faisal dan Tini duduk di meja yang lain tapi masih di ruangan yang sama.


Segala hidangan makanan terlihat enak, tapi tidak membuat tergugah untuk di coba oleh Lina. Sepertinya moodnya sedang hilang.


Tidak di sentuhnya makanan satu pun, Lina hanya sibuk menyuapi Noah.


“Mami ... dimakan dulu makanannya,” pinta Andre yang melihat Lina belum menyentuh makanannya.


“Belum lapar,” jawab Lina dingin.


Inisiatif Andre menyuapi Lina.


“Aaa.......makanlah nanti mami sakit lagi," pinta Andre dengan lembut.


“Sudah.....sudah kenyang!” Tangan Lina menghentikan suapan dari Andre. Bibir Lina terlihat ada makanan yang menempel, di lapnya dengan lembut. Andre menatap jelas wajah Lina. Tampak Lina memalingkan wajahnya dari tatapan Andre.


 


**


“Pak Andre, di dalam sudah ada nyonya,” ucap Rini saat Andre dan Lina sudah kembali dari makan siang.


“Mmm......” gumam Andre.


“Bu Lina, nanti kita jam 2 ada tamu dari PT. ABC,” ujar Mitha yang telah menunggu Lina di meja kerja Rini.


Lina menghentikan langkahnya.


“Pak Andre, sebaiknya Noah dengan Pak Andre ... kebetulan ada mommynya,” pinta Lina.


Sebenarnya agak malas ketemu dengan Sita.


Sedikit geram setiap kali Lina kembali memanggilnya Pak “Masuk.....!” titah Andre meminta Lina ikut masuk ke ruangannya. Dengan berat hati dia ikut masuk.


“Sayang, aku sudah menunggu lama. Sayang dari mana?” tanya lembut Sita, seperti tidak terjadi apa-apa tadi pagi.

__ADS_1


Andre melihat Ibu mertuanya sedang duduk di sofa.


“Oh.....ternyata Mas Andre habis pergi dengan wanita pela kor! karyawan rendahan kamu!” Sita bersedekap melihat kehadiran Lina di belakang punggung Andre. Dan tidak lupa Faisal dan Tini berada di belakang mereka.


Dengan santai Andre duduk di sofa di hadapan ibu mertuanya.


“Ada kepentingan apa kamu ke kesini, seharusnya kamu mengurus Noah di rumah!”


“Kok Sayang pakai nanya, wajar dong istri datang ke kantor suaminya. Betulkan bu!”


“Betul nak, biar kamu tahu siapa penggoda suami kamu sebenarnya di kantor." Lirik sinis Bu Anita ke Lina.


“Pak Andre, sebaiknya saya segera kembali ke ruangan. Sebentar lagi saya ada tamu,” ucap Lina, Noah di berikan ke Sita.


Sita gelagapan menerima Noah tanpa aba-aba. Tidak ada hitungan menit, Noah meronta-ronta dalam gendongan Sita.


“Cup.......cup.....cup..ini sama mommy sayang, bukan sama wanita penggoda itu,” ucap Sita ke Noah. Semakin menjadi-jadi Noah meronta....tangannya seakan-akan meminta kembali di gendong Lina.


Tangisannya semakin memekik, Lina sudah berada di pintu untuk keluar, tapi mendengar Noah menangis kencang......hatinya iba.


Wajah Noah semakin memerah, tangisannya masih belum selesai. Sita kebingungan menenangi Noah.


“Sayang......ini tolong dong Noah makin kencang aja nih anak nangis!” kesal Sita.


Melihat Tini mau mendekati Noah, Andre memberikan tanda ke Tini untuk tidak mendekati Noah.


“Bukannya tadi kamu bilang, kamu mommynya berarti bisa menenangkan Noah!” ujar Andre dingin.


“Tini ini ambil Noahnya, kenapa diam ajah. Kamu itu di gaji buat mengurus anak ini. Apa kamu makan gaji buta!” kesal Sita.


Tini tidak bisa berkutik karena aba-aba dari Tuannya.


 Saya yang menggaji Tini, bukan kamu yang menggajinya,” jawab ketus Andre.


Andre juga tidak tega melihat Noah menangis dan meronta-ronta dari gendongan Sita.


Tak kuasa Lina mendengar tangisan Noah dari luar pintu, ternyata dia masih menunggu sampai tangisan Noah reda tapi sebaliknya semakin jadi. Dia masuk kembali ke ruangan Andre.


“Kenapa masuk lagi?” tanya Sita melihat Lina masuk ke ruangan. Andre menatap Lina.


“Oh mau cari perhatian sama suami saya ya....mmm. Lewat anak saya ini.....hmmm!” ujar kesal Sita mengacungkan anaknya sendiri.


“Bukan begitu Sita, lihat Noah sudah sampai habis suaranya karena menangis. Mukanya juga sudah merah.”


“Dasar gara-gara anak ini, suami saya berpaling ke kamu!” Sita terlihat seperti kerasukan setan.


.


.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2