
Papa Nugraha dan Mama Rani hanya bisa saling melirik anak mantunya.
“Lin, nanti bantu papa cek surat kerjasama dengan perusahaan Barlian milik Pak Bagas, serta laporan keuangannya. Kalau hari ini kamu bisa ke kantor!”
“Noah nanti biar mama yang mengurus, kamu gak usah khawatir!”
“Iya Pah, nanti Lina akan ke kantor!” dia baru memulai makan sarapannya setelah mengurus anak dan bapaknya.
“Mami.........saya duluan ke kantor. Ada meeting pagi ini. Nanti mami jangan bawa mobil sendiri, biar supir aja yang bawa!” titah Andre.
CUP.........bibir Andre sudah mendarat di keningnya, dan bergegas pergi sebelum istrinya bicara.
Selepas selesai sarapan dan menitipkan Noah ke mama Rani, Lina segera menyiapkan dirinya untuk pergi ke kantor.
🌹🌹
Perusahaan Nugraha
Jam 9.30 wib Lina didampingi Mitha sudah tiba di kantor. Sorot mata karyawan yang melihat kedatangan Lina begitu berbeda. Seperti penuh rasa kekesalan, rasa tidak suka dan benci.
Mendapat sorotan tersebut, dia tidak berpura-pura kuat tapi mencoba mengacuhkannya dan tidak mau mengambil hati.
“Oooh diam-diam ternyata jadi simpanan si Bos ya, gak nyangka dasar murahan!” celutuk sinis Siska yang tak sengaja berpas-pasan.
“HAAH.....!!” Lina menghela napasnya dalam-dalam.
“Jangan di ladenin Mih, jangan di ambil hati!” ucap Mitha.
“Ya Mitha...”
“Halo Lin!” nada angkuh wanita cantik yang terlihat dewasa dengan pakaian kerjanya menyapanya.
“Halo juga mbak Dina,” balas Lina yang terpaksa menghentikan langkahnya, karena Dina sudah menghalangi jalannya.
“Aku ingin bicara dengan kamu.......hanya berdua!” Dina melirik Mitha yang berada di samping Lina.
“Mitha, kamu duluan ke ruangan nanti saya menyusul!” pinta Lina.
“Baiklah....!” Mitha bergegas menuju lift.
“Ingin bicara di mana? “tanya Lina.
“Di coffe shop saja!” Dina menunjukkan coffe shop yang berada di lobby.
Kedua wanita cantik yang berbeda usia memilih untuk duduk di pojokan, kendati tidak ada orang yang berlalu lalang di dekat mereka.
“Silahkan apa yang mbak Dina ingin bicarakan!” Lina langsung to the point.
__ADS_1
“Ini menyangkut pembicaraan semalam. Aku dan Andre saat kuliah, kami berpacaran selama 5 thn. Dan Andre pernah melamarku mengajakku menikah dan ini memang kesalahanku.......aku meragukannya lalu meninggalkannya begitu saja.”
Lina tenang menyimaknya sambil menyesap secangkir coklat hangat.
“Sekarang kami bertemu lagi, dan dia bilang masih mencintaiku. Kamu lihat sendirikan bagaimana dia menciumku saat di ruang kerjanya, di sana Andre menyatakan cintanya lagi!”
Ya Lina sangat mengingatnya sekali, kalau dia lupa....masih terekam adegan tersebut di handphonenya.
“Jadi jika kamu tidak mau bercerai dengan Andre, maka izinkan kami menikah.....izinkan Andre menikahiku. Aku ikhlas jadi istri ke duanya, demi cinta kami berdua!”
“Dan seharusnya kamu juga tahu diri. Dari mana asal usul keluargamu, kamu hanya karyawan biasa. Sedangkan Andre sangat membutuhkan istri yang setara dengan dirinya. Tidak seperti kamu!”
Begitu angkuhnya Dina berucap, sesuai dengan kekuasaannya yang sekarang diamanahkan papanya, ya setaralah dengan jabatan Andre.
Lina meletakkan cangkirnya “Mbak Dina sudah selesai bicaranya!” dengan tegasnya dia berucap. Menjaga harga dirinya sendiri.
“Aku minta kamu menjauh dari Andre, karena aku akan mengambilnya kembali. Andre hanya milikku satu-satunya. Berapa pun yang kamu minta, tinggal tulis disini!” Dina mengeluarkan cek kosong di hadapan Lina.
“Sepertinya mbak Dina salah orang untuk berbicara, kenapa tidak bicarakan dengan Pak Andre yang bersangkutan. Bukannya tadi mbak Dina bilang kalian berdua saling mencintai. Lalu hubungan ke saya apa? Biar tahu kalau kalian berdua menjalin hubungan kembali dan saya minta bercerai dengan Pak Andre, maksudnya seperti itu!” pantang buat diri Lina di injak-injak dengan wanita di hadapannya.
Entah kenapa melihat wajah Dina hampir mirip dengan Sita, mulai postur tubuh yang bohay serta garis wajahnya. Jangan jangan Andre menikahi Sita karena mirip dengan Dina.
“Kalau mbak Dina tidak punya harga diri, kejarlah Pak Andre!” Lina bangkit dari duduknya.
“Sayang........!” baru saja Lina ingin balik badan, Andre sudah berdiri di hadapan Lina.
“Andre.....!” sapa Dina, buru-buru cek kosong yang ada di meja di masukkan ke dalam tasnya. Dan ikut berdiri untuk menghampiri Andre.
“Jam berapa kita bisa ketemu!” tanya Dina dengan senyum manisnya.
“Kamu bisa tanyakan ke bagian resepsionis. Ayo sayang.......!” ujar Andre lembut lalu memegang tangan Lina. Ditepisnya tangan Andre, Lina bergegas keluar dari coffe shop sedangkan Andre mengikutinya dari belakang.
Kita akan kembali bersama lagi Andre.......batin Dina.
🌹🌹
Berulang kali Andre ingin menggenggam tangan istrinya, tapi berulang kali pula ditepis Lina.
Andre mengikuti langkah istrinya sampai ke ruangan finance.
“Mami, Pak Andre.....!” sapa Mitha melihat kedatangan Bosnya. Andre duluan masuk ke ruang Lina untuk menaruh tas istrinya.
Buket mawar merah tergeletak cantik di meja Lina, Andre langsung mengecek siapa pengirimnya, sebelum kedahuluan istrinya.
...Kita akan bertemu lagi sayang...
...Aku merindukanmu 😘...
__ADS_1
...Wahyu...
“BRUK!”
Di lemparnya buket mawar tersebut oleh Andre ke dalam tong sampah, dan Lina melihatnya “kenapa seenaknya membuang barang tanpa seizin pemiliknya!” tegur Lina sembari memungut kembali buket mawar tersebut.
“Saya bisa membelinya lagi buat mami!” terdengar nadanya begitu kesal, setelah melihat istrinya mendapat kiriman buket bunga, dan membuatnya panas setelah membaca kartunya.
Wahyu........!!
“Tidak perlu!” tukas Lina diceknya buket mawar tersebut dan membaca kartu yang ada di buketnya.
“Begitu sukakah dengan buket ini atau mami suka dengan pengirimnya!”
“Bukan urusan Pak Andre!” jawab ketusnya.
“Sekarang urusan saya, karena kamu istri saya!” ujar geram Andre.
“Cih.........istri, seharusnya Pak Andre mengurus calon istrinya yang sedari tadi menunggu!” Lina melengos tidak ingin menatap wajah Andre.
Di raihnya dagu Lina, tanpa basa basi......Andre menempelkan bibirnya ke bibir Lina, dengan kasarnya Lina menggigit bibir bawah Andre.
“Aawww....!” ringis Andre melepas pagutannya.
“Cukup Pak Andre, sudah cukup Pak Andre membuat saya malu. Silahkan keluar dari ruangan ini, saya ingin kembali bekerja!” pinta Lina tegas.
Melihat tatapan mata para karyawan di depan ruangan Lina, Andre terpaksa keluar.
Beberapa karyawan Andre banyak yang tidak tahu kalau CEO mereka telah menikah dengan Lina, jadi tanpa merasa bersalah mereka menuduh Lina perebut suami orang, karena yang mereka tahu Sita istri CEO mereka. Termasuk beberapa staf yang satu divisi dengan Lina.
Tidak ada yang salah dengan buket mawar ini
“Wahyu.......”gumam Lina.
“Mih........ini data persiapan buat raker nanti!” Mitha datang tanpa permisi, membuat Lina sedikit tersentak.
“Ehhh.....iya Mitha, makasih.”
“Dari Pak Wahyu ya ?” tanya Mitha melirik buket bunga yang ada di atas meja kerja.
“Ya.....!”
“Nanti jam 1 siang, ada meeting persiapan buat raker lusa,” info Mitha yang melihat Lina mulai fokus ke berkas yang dibawanya tadi.
.
.
__ADS_1
bersambung