
Faisal menunjukkan foto wanita tersebut yang sedang memegang topi yang ada dikepalanya kepada Andre. Terlihat tanda yang sudah dilingkarinya.
Andre mempertegas melihat foto tersebut.
DEG........jantung Andre berdebar cepat.
Dia melihat cincin yang di kenakan wanita tersebut, dan sangat mengenalnya. YA......cincin pernikahan yang sama di pakai oleh Sita istrinya, dengan desain satu-satunya.
Papa Nugraha turut mengecek foto tersebut, dan hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Semakin yakin jika yang memberi racun adalah Sita menantunya.
“Faisal, betulkan foto ini ! Tanpa editan sama sekali?” tanya Andre untuk meyakinkan dugaannya.
“Tidak ada rekayasa Pak Bos, kami hanya memperbesar Fotonya agar lebih akurat.”
Andre meraup wajahnya.
“Eeeeergh........!”pekiknya.
PRANK......
Kepalan tangan Andre memukul keras meja sofa di dekatnya, hingga kaca meja tersebut pecah tak beraturan.
Papa Nugraha dan Faisal yang berada di ruangan tersebut, terkejut.
Setelah memecahkan meja sofa, Andre melempar vas bunga yang berada di dekatnya.
“HENTIKAN.....ANDRE!” pekik Papa Nugraha, melihat Andre sudah mulai brutal.
“Bukan begini penyelesaiannya nak!”
Andre menghempaskan dirinya ke sofa, dengan nafas yang memburu karena emosi. Melihat salah satu tangan Andre sudah berlumuran darah, Faisal segera menghubungi Dokter.
“Kamu......tidak rela jika ternyata pelakunya Sita istrimu?” tanya Papa Nugraha.
Diam....Andre hanya terdiam tidak bisa menjawab.
“Kamu.....tidak mau jika Sita istrimu di lapor ke pihak berwajib?” cecar Papa Nugraha.
“STOP....PAH !” bentak Andre tiba-tiba. Isi kepalanya seperti ingin meledak.
Papa Nugraha tersentak mendapat bentakan dari anaknya. “Baiklah, kamu jangan khawatir dengan Sita istri tercintamu, dia tidak bisa dipidanakan. Lagi pula bukti yang kita miliki tidak cukup, mulai dari pisau yang ada diruangan ini, sampai racun yang Lina dapatkan. Dan karena Sita juga, kamu sudah bisa membentak Papa orangtuamu sendiri hari ini. Tapi ingat Andre mulai hari ini ceraikan Lina dan Papa akan menjauhkan dari kalian berdua!” tegas Papa Nugraha.
DEG !!!
Dihujam lagi jantung Andre, semakin nyeri hatinya saat papanya minta menceraikan Lina.
“Papa hanya akan menyelamatkan orang yang tidak bersalah, kamu sejujurnya tidak mencintai Lina. Kamu hanya terobsesi untuk memilikinya. Hati kamu sudah terisi dengan Sita istrimu. Maafkan Papa telah mengizinkan kamu menikah dengan Lina, sungguh Papa menyesal.”
Papa Nugraha tampak menguatkan dirinya sendiri, atas apa yang terjadi. Seharusnya tidak membenarkan anaknya tidak menikah lagi.
“Pa----pa....!” tergugu Andre, bukan ini yang di inginkannya. Obsesi apakah benar kalau dia hanya terobsesi dengan Lina, bukan cinta yang ia rasakan.
“Pak Bos, ada dokter untuk mengobati lukanya dulu,” ujar Faisal.
Faisal mempersilahkan dokter untuk mengobati luka di tangan Andre.
Selama Andre di obati lengannya, Papa Nugraha sibuk dengan handphonenya, yang sepertinya sedang menghubungi seseorang.
__ADS_1
Beberapa office boy terlihat sibuk membersihkan pecahan kaca dan vas bunga di ruang Andre.
“Permisi Pak Andre .....!”ucap Rini agak ragu-ragu masuk ke ruangan bosnya setelah mendengar suara pecahan barang yang terdengar sampai mejanya.
“Ya Rini,” jawab Faisal, Andre hanya menoleh sesaat dari tempat dia duduk.
“Begini Pak, Fani dari bagian Finance mau bertemu dengan Pak Andre, jika diperboleh. Katanya urgent.”
“Suruh dia masuk!” ujar Andre.
“Baik Pak, terima kasih!”
Rini kembali ke mejanya, dan meminta Fani segera masuk ke ruangan CEO.
“Ada apa?” tanya Andre melihat wajah Fani memucat.
“Ini Pak,” Fani memberikan selembar kertas kepada Andre.
“Di ruangan mbak Lina, sudah ada Nyonya bersama Ibunya Pak, beliau memberikan memo yang Bapak pegang. Saya hanya mau memastikan saja apa betul memo yang bertanda tangan Bapak, asli dari Bapak. Karena disana tertera Bapak memberikan dana 1 Milyar ke Ibu Sita?”
Andre meremas kertas yang berada ditangannya. Yang jelas dia tidak membuat memo apa pun, apalagi untuk Sita.
“Dia tahu kamu menghadap saya?” tanya Andre
“Tidak Pak, saya tadi bilangnya mau ke toilet.”
“Sekarang dia masih di sana!”
“Masih Pak, nyonya menunggu uangnya.”
Andre mengeraskan rahangnya, geram sekali, belum selesai masalah......sudah bertambah lagi masalahnya.
“Kamu bisa balik ke ruangan sekarang, nanti saya akan menyusul!”
“Baik Pak!” Fani undur diri.
“Wooow luar biasa menantu papa yang cantik!” ejek Papa Nugraha.
“Pah...”
“Sudah urusin saja istrimu Sita, sepertinya sedang membutuhkan uang!”
“Andre minta maaf jika sempat membentak Papa, karena emosi. Bukan karena membela Sita!” Andre mencoba menjelaskannya, supaya tidak berlarut lama.
“Papa tidak peduli lagi, sekarang urusin Sita istrimu. Papa ingin melihatnya. Dan satu lagi ingat baik-baik, kamu harus segera menceraikan Lina!”
GLEK
Andre menelan kasar salivanya. Dia segera berdiri dari duduknya, merapikan jasnya yang terlihat kusut.
Andre melangkahkan kakinya menuju lantai 7 tempat di mana ruangan finance berada di dampingi Faisal dan Papa Nugraha yang terlihat santai jalannya.
.
.
“Kamu ini bagaimana sih kerjanya, keluarin duit ini lama amat. Ingat ya saya ini Istri Pemilik Perusahaan ini!” bentak Sita dengan gaya angkuhnya.
__ADS_1
Fani hanya bisa menundukkan kepalanya, saat Sita membentak dirinya.
“Hei.... kamu nggak dengar apa kata anak saya !” Ibu Anita ikutan membentak.
“Saya udah bawa memo dari suami saya, dan sudah ditanda tangani. Apalagi yang kurang persyaratannya.
Saya akan bilang ke suami saya, supaya kamu dipecat!” ditunjuk-tunjuknya muka Fani dengan jari telunjuknya.
Air mata Fani udah nggak tahan pengen keluar. Tapi ditahan sekuat tenaga.
Temannya yang lain tidak berkutik saat Nyonya Bos marah-marah di ruangan Lina.
“SIAPA YANG MAU KAMU PECAT !” suara tinggi Andre menggelegar di depan pintu ruangan Lina.
Sita dan Ibu Anita kaget mendengar suara tersebut, seperti ketahuan.
“Sa----yang.......ka----pan datang. Katanya nggak bisa datang ke kantor !” Sita mulai gugup, takut aksinya ketahuan. Apalagi ada Papa mertuanya berdiri di belakang Andre.
Fani segera mengambil kertas memo yang ada dimeja, sebelum Sita mengambilnya.
“Bawa sini Fani, kertasnya!”
Sita dan Bu Anita mulai keluar keringat dingin, melihat Fani memberikan memo palsu yang Sita bikin.
“Apa....apaan ini Sita!” tunjuk Andre.
“Loh bukannya Sayang yang berikan memo itu, masa lupa!” bohong Sita, untuk menutupi rasa malu di depan Fani.
“CK.....kapan ? Dan ini memo palsu ! Berani kamu bikin memo palsu dengan memalsukan tanda tangan saya!”
“Sayang......inikan perusahaan kamu, berarti perusahaan aku juga. Aku berhak juga karena istrimu dan ibu dari anakmu!” ucapnya lembut.
“Sejak kapan ! Ini bukan perusahaan kamu. Ini perusahaan keluarga Nugraha. Memo ini sebagai bukti kejahatan kamu. Dan Fani kirim rekaman pembicaraan tadi!” Andre mulai geram.
Fani sudah terlihat tenang dan tidak jadi menangis, setelah kedatangan Andre.
“Sayang......jangan begitu. Tolong maafkan aku!” Sita panik jika hal ini dilaporkan ke pihak berwajib. Seketika Sita mengalihkan perhatian Andre.
BUGH
Sita menjatuhkan dirinya ke lantai.
“Sita........!” pekik Andre melihat Sita pingsan.
Papa Nugraha meninggalkan mereka, dia yang sudah muak dengan drama yang dibuat Sita.
“Andre.......cepat bawa Sita ke rumah sakit. Ibu takut kenapa-napa dengan janinnya!” ujar Bu Anita.
Apa Sita hamil !!!
Andre mengendong Sita dengan tenang, tidak tergopoh-gopoh seperti saat Lina pingsan.
Syukur Andre percaya kalau aku pingsan beneran....batin Sita.
.
.
__ADS_1
bersambung
Buat readers terimakasih sudah baca karya recehku dan memberikan Like, Vote dan komentarnya 😘😘. Bikin author semangat lagi