
TOK...........TOK.........TOK
“Masuk .....!” sahut Faisal.
“Permisi Pak, ada kiriman barang!”ujar salah satu pegawai rumah sakit membawa beberapa buket bunga dan paper bag.
“Oh ya silahkan ditaruh di meja saja," pinta Faisal.
Mata Lina tampak cerah melihat beberapa buket bunga yang datang. Mitha segera mengecek pengirim buket tersebut, ternyata dari beberapa klien yang pernah bertemu Lina.
“Dari siapa bunganya, Mitha?" tanya Andre agak cemburu melihat buket bunga.
“Dari klien perusahaan Pak Andre, buat bu Lina."
...Semoga cepat sembuh Bu Lina...
...Ttd. Brian...
...PT. Binantara...
... ...
...Semoga cepat sehat dan kembali beraktivitas Bu Lina...
...Ttd. Andri...
... ...
...Semoga lekas sembuh Bu Lina...
...Ttd. Dion...
...PT. Permata Hijau...
... ...
...Semoga segera dipulihkan kembali kesehatannya Bu Lina...
...Ttd. Surya...
...PT. Elang Jaya...
Beberapa kartu yang ada di buket bunga, telah Andre baca satu persatu. Dan semuanya dari laki-laki, membuat dia kesal.
“Mitha, saya mau dong lihat bunganya!” pinta Lina.
“Nih Mih....!” Mitha membawakan bunganya ke Lina.
“Bunganya cantik........harum," ucap Lina merasa senang menerima buket bunganya.
“Daddy juga bisa nanti belikan mami bunga yang banyak, kalau perlu sekalian toko bunganya daddy beliin sekalian!”
“Ah Daddy ngomongnya gawur aja!”
__ADS_1
“Mih, ini ada kiriman kue dari Pak Andri.....mau di makan sekarang nggak?” tanya Mitha.
Andri buat apa dia kirim kue segala buat Lina.......batin Andre.
“Mau dong Mitha.......nggak bakal nolak!” senyum manis Lina terukir.
Segelas air dingin habis ditenggak Andre, dan diletakkannya kembali gelas bekas dia minum ke meja dengan sedikit hentakan. Tapi sayang Lina tidak menghiraukannya, dia sedang menikmati kuenya.
Rahang Andre mengeras dan mengertakkan giginya melihat Lina tidak menghiraukannya.
“Eeehh......iya......Dad... Noah dimana?” Lina baru menyadari keberadaan Noah yang tidak ada dikamar.
“Dikamar sebelah dengan oma opanya !” jawab Andre datar.
"Ooooo......!” Bibirnya membulat, Lina kembali menyuapi kuenya sampai habis.
Faisal dan Mitha kembali ke kantor, tinggal Lina dan Andre berdua diruang rawatnya.
Keheningan yang panjang kembali terentang, hanya di pecahkan suara dengkuran halus Lina yang mulai tertidur.
Andre menatap wanita itu dengan perasaan yang tidak menentu, dan mengalihkan pandangannya kembali ke laptopnya.
.
.
2 jam telah berlalu namun Lina masih setia memejamkan matanya, di kening wajahnya nampak telah basah dengan keringat.
“Mami...........!” Andre menyentuh kening Lina dengan punggung tangannya dan dengan cemas mengerutkan keningnya. Merasakan panas di kening Lina, Andre segera memanggil dokter.
“Dokter, suhu badan 40 C. Pasien sudah tidak sadarkan diri!“ lapor perawat yang mengecek kondisi Lina.
“Kita cek luka operasinya!”perintah Dokter. Perawat dan Dokter hati-hati membalikkan posisi badan Lina, dan membuka perban lukanya.
“Lukanya terinfeksi, sedikit mengeluarkan darah dan membengkak di bagian jahitan!” terang Dokter dengan suara tegas, melihat Andre yang selalu berada di samping ranjang Lina.
Ingin rasanya dia menutup punggung Lina yang terlihat putih mulus di hadapan dokter pria ini.
“Berapa lama panasnya akan turun?”
“Tergantung kondisi si pasien, sekarang saya berikan suntikan antibiotik dan berhubung ibu pingsan, nanti kita akan memberikan obat penurun panasnya melalui *****!” ujar Dokter.
Andre melotot mendengar akan di masukkan obat lewat *****, bukan karena obatnya tapi siapa yang akan memasuki obat tersebut. “Siapa yang akan masukkan obatnya?”
“Nanti yang akan beri obatnya dengan suster Pak!”
“Mmmm......” gumam Andre agak tenang kalau yang kasih obatnya suster.
Setelah Dokter menggantikan perban, suster menutup tirai yang ada di sekeliling ranjang pasien, karena akan memasukkan obat. Andre dan Dokter menyingkir dari ranjang pasien.
“Nanti kita tunggu kondisi 2 atau 3 jam lagi, semoga cepat turun demamnya!” ujar Dokter.
“Baik Dok!”
__ADS_1
Dokter dan suster meninggalkan mereka.
Andre menyeka keringat yang berada di wajah Lina dengan handuk kecil. Penuh kelembutan di belai wajahnya.
“Mami sayang...........!” dia berharap Lina segera sadar. Tapi dia harus bersabar menunggu Lina membuka matanya. Jari jemari lentik Lina di genggamnya, sesekali menciumnya berulang kali.
.
.
Mama Anggi di dampingi Mama Rani memasuki kamar rawat Lina.
“Nak Andre..........!” sapa Mama Anggi tampak sedih.
Saat masuk ruangan melihat Lina tertidur. Tampak terkejut Andre melihat kedatangan mama Lina yang sengaja belum di beritahukan kejadian yang menimpa Lina.
“Mama tadi pagi jemput Jeng Anggi, dan sudah menceritakan kondisi Lina !” penjelasan Mama Rani yang melihat keterkejutan Andre.
“Maaf Bu, tidak memberikan kabar secepatnya !” ujar Andre pasrah, melihat wajah mama Anggi yang hanya diam.
Andre menjauhkan dirinya dari ranjang Lina, memberikan ruang untuk mama Anggi.
“Ya Allah nak........kenapa sampai begini keadaan kamu !” ujar pelan Mam Anggi menatap sendu melihat kondisi anaknya.
“Lina sudah di tangani dengan dokter di sini bu, hanya saat ini kondisinya Lina demam karena infeksi dari lukanya. !” Andre berusaha menjelaskannya.
Terlihat sedih di wajah Mama Anggi, menyesalkan menyetujui anak perempuannya tinggal di mansion.
Seorang istri pasti akan cemburu jika suami dekat dengan wanita lain, walau wanita tersebut tidak punya hati untuk laki-laki itu. Luka yang di dapatkan anaknya akibat dari ulah anaknya juga.
“Jeng Anggi, yang sabar.......kami sekeluarga bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa Lina,” ujar mama Rani mencoba menenangkan mama Anggi.
“Ya Jeng Rani..terima kasih."
“Mah.........!” mata Lina mulai mengerjap- ngerjap tanda sudah siuman dari pingsannya....terlihat mamanya berada disampingnya.
“Ya......nak........!”
“Ma—maafin.......Lina Mah !” tergugu Lina berucap, setelah mamanya melihat keadaannya. Dan pasti mama Anggi akan menyalahkannya.
Tampak Lina menyeka air mata yang telah menerobos keluar dari matanya, saat tidak ada respon dari mama Anggi.
Langkah kaki Andre ingin menghampiri ranjang Lina, tapi di cegah oleh tangan Mama Rani. Akhirnya Andre kembali ke posisi duduknya dan tanpa memutus pandangannya ke Lina.
“Mah........maafin Lina!” sesenguknya mulai terdengar.
“Sudah nak, ini pelajaran buat kamu !” Mama Anggi menggenggam tangan Lina, memberikan kekuatan.
“Yang terpenting kamu cepat sembuh dulu, mama akan menemani di sini!” Lina menganggukkan kepalanya.
Semenjak kedatangan Mama Anggi, keperluan Lina di urus mamanya, tidak ada celah untuk Andre mendekati Lina.
Sesekali Noah dibawa ke kamar Lina agar tidak terlalu rewel, tidur sebentar di ranjang Lina lalu di pindahkan ke kamar oma opanya. Karena keterbatasan gerak Lina dan kondisi sakitnya tidak bisa turut mengurus Noah.
__ADS_1
Mata Andre terlihat sendu menatap Lina dari tempat dia duduk, baru beberapa jam tidak di samping Lina terlihat gelisah padahal dia masih ada di depan matanya.
Malam ini Mama Anggi tidur di bed tambahan sebelah ranjang Lina, sedangkan Andre membaringkan tubuhnya di sofa. Gelisah melandanya, ingin sekali mendekati Lina tapi ada rasa sungkan dengan mama Anggi.