
Ruang Kerja CEO
Andre masih terlihat sibuk dengan berkasnya di meja kerja, sesekali melirik istrinya yang sibuk sendiri dengan handphonenya.
“Dad, bagaimana kelanjutan kasus korupsi Lisa?”
“Daddy sudah minta bagian HRD hari ini untuk membuat surat pemecatan, serta membawa kasus ini ke pihak berwajib.”
“Dad, jangan jangan Lisa yang teror mami?”
“Mmm....daddy malah tidak kepikiran Lisa Mih, tapi patut di curigaiin juga,” pikir Andre sepintas.
Raut wajah Lina tiba tiba berubah, perutnya tiba tiba terasa kencang, dan seperti ada yang menu-suk nu-suk di dalam perutnya.
“Iiiish.......,” desisnya sambil mengelus perut bawahnya.
“Mami kenapa?”
“Gak tahu nih Dad, perut mami sakit kayak mau haid. Padahal mami baru selesai haid seminggu yang lalu,” sambil memeluk pinggangnya sendiri.
“Kita ke kamar aja ya, biar mami bisa istirahat!”
Andre bangkit dari kursi kebesarannya untuk menghampir istrinya.
“Gak pa-pa di sini aja, daddy lanjut aja kerjanya.”
Perut Lina semakin jadi sakitnya, wajah Lina semakin memucat buliran keringat sebesar jagung mulai muncul di keningnya.
“Astagfirulloh........,” menahan rasa sakit perutnya.
“Mami, mau daddy beliin obat. Mami biasa minum obat apa?” Andre meraih salah satu tangan Lina.
“Dad......perut mami sa---sakit sekali ini. Rasanya ada yang ingin keluar,” keluhnya.
“Kita kerumah sakit aja ya, kuat berdiri gak. Kalau gak kuat.....Daddy gendong.”
“Ma---masih kuat berdiri Dad!”
TOK......TOK.....TOK
“Permisi Pak Andre,” sapa Mitha yang melongo di depan pintu.
“Mitha cepat masuk, mami perutnya sakit tiba-tiba,” pinta Andre.
Bukan hanya Mitha saja yang masuk ke ruangan CEO, Susi dan Fani turut masuk.
__ADS_1
“Pak mending kita bawa mami segera ke rumah sakit,” ujar Mitha.
“Mami habis makan atau minum sesuatukah?” tanya Fani yang melihat gelas dan piring di meja.
“Iya,” jawab Andre.
“Mitha.....jangan.....jangan kejadian!” tebak Fani.
“Kejadian apa?” tanya Andre.
Mitha menunjukkan ponselnya “Mami, tadi yang antar makanan, orangnya ini bukan?” Sambil menunjukkan foto yang sempat di ambil di restoran.
“Iya, dia orang yang mengantar namanya Gia.” Lina kembali meringis kesakitan.
“Pak Andre..........kaki mami ada da-rahnya,” ucap Susi. “Mami........kayak pendarahan, Pak,” wajah Susi tegang.
Andre sedikit menyingkap dress istrinya ke atas, pahanya pun sudah ada da-rahnya.
“Mitha, suruh Faisal siapkan mobil.” Andre langsung mengendong istrinya, Mitha sudah berlari duluan mencari Faisal.
“Sabar ya sayang.......tahan ya sayang, kita ke rumah sakit” ucap Andre yang melihat kondisi Lina menahan rasa sakit di perutnya. Pikiran Andre benar benar kalut.
“Kalian cari yang namanya Siska dan Gia, tahan mereka di kamar, jangan di izinkan keluar. Sampai saya selesai mengurus istri saya,” titah Andre pada pegawalnya.
Fani dan Susi membantu pengawal Bosnya mencari karyawan yang bernama Gia dan Siska.
Jarak hotel menuju rumah sakit, untungnya dekat, hanya melewati lima gedung yang menjulang tinggi.
Lina sudah terlihat lemas, di pangkuan Andre.
“Sabar........ya sayang........sebentar lagi kita sampai rumah sakit.”
Dokter Kevin dan beberapa perawat yang sudah bersiap di lobby rumah sakit, setelah dapat kabar dari Faisal.
Mobil mewah Andre sudah memasuki lobby rumah sakit. Kevin segera membuka pintu mobil bagian penumpang, Andre segera mengangkat Lina dari dalam mobil dan merebahkannya di atas brankar.
Lina menggenggam tangan Andre sekencang-kencangnya.”Hua..........hua.....sakit Dad, perut mami kayak di re-mas re-mas,” ringis kesakitan.
“Andre sebaiknya, ikut masuk ke ruang UGD saja. Gak tega saya lihat istrimu,” pinta Kevin.
Andre mengangguk kepalanya, hal ini yang di inginkan Andre sebenarnya, menemani istrinya yang sedang kesakitan.
Kevin yang melihat Lina pendarahan, segera menghubungi dokter kandungan.
“Andre, istrimu lagi hamil?” tanya Kevin.
__ADS_1
“Baru bikin, masa langsung hamil,” agak tercengang Andre, di bilang istrinya lagi hamil.
Andre mengikuti brankar Lina menuju ruang UGD. Masih menggenggam tangan Lina dengan setianya. Walau tangannya sudah mukai terasa sakit karena diremas istrinya.
Dokter Tina spesialis kandungan segera mengecek kondisi Lina. Perut bawah Lina di raba oleh Dokter Tina. “Harus di USG dulu, segera bawa ibu ini ke ruang persalinan.”
Andre yang mendengar kata ruang bersalin, alisnya naik sebelah tapi tidak bisa komentar, membiarkan Dokter bertindak sesuai dengan kapasitasnya.
Dengan cekatan beberapa perawat membawa brankar Lina di bawa ke lantai dua, di mana ruang bersalin berada. Di sana sudah banyak alat pendukung untuk pengecekan kandungan.
Lina sudah pasrah apa yang mau di lakukan Dokter Tina, salah satu perawat sudah menyingkap dress kerja Lina, lalu menutupi bagian bawah dengan selimut. Lalu perut Lina di olesi gel keseluruh bagian perutnya.
Dokter Tina siap dengan alat usg yang menempel di perut Lina. Keningnya mengernyit melihat layar monitor yang memperlihat bagian rahim.
“Pak Andre, apa istri bapak mengkonsumsi obat penggugur kandungan?” selidik Dokter Tina.
“Istri saya tidak minum obat apapun, tapi setelah minum jus dan makan roti sandwich, tak menunggu waktu lama langsung mengeluh perutnya sakit.”
“Berarti ada yang yang mencampurkan obat penggugur kandungan dalam minum jus. Karena cepat bereaksi.”
“Saat ini istri bapak, sedang mengalami kontraksi seperti orang yang yang akan melahirkan. Dan berhubung istri bapak dalam kondisi tidak hamil, jadi dinding rahimnya terdorong hingga terjadilah pendarahan. Jika kondisi istri bapak telat di bawa ke rumah sakit, bisa berpengaruh pada kondisi rahim, akan menjadi rusak hingga tidak bisa hamil nantinya,” penjelasan Dokter Tina.
“Hikss....hikss.....hua...hua.,” tangis histeris Lina mendengar kata tidak bisa hamil. Netra Andre pun sama mengeluarkan air mata.
“Mami, sayang....apapun keadaan mami, tetap daddy terima......sabar ya sayang...” Andre berdiri di samping brankar Lina.
“Ibu tenang dulu ya, saya akan menghentikan pendarahannya dulu, lalu akan segera di suntik penguat rahim. Saya berharap rahim ibu bisa di selamatkan.”
“Tolong Dokter, berikan yang terbaik buat istri saya.” Andre mengecup kening Lina berulang kali, agar tenang dari rasa sakit dan kabar yang baru di terimanya.
Lina mulai di tindak oleh Dokter Tina dan beberapa perawat. Mulai dari pasang infus, menggantikan pakaian yang bagian bawahnya sudah kena noda darah.
Dokter Tina sudah memberikan 2 suntikan di perut bagian bawah Lina. Dan sensasi kesemutan di bagian intim Lina mulai di rasanya.
Setelah mendapat tindakan dari dokter kandungan, Lina mulai memejamkan matanya, akibat rasa lelahnya merasakan kontraksi hebat. Dia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP.
Andre dengan tatapan sendunya, menatap istrinya yang sudah mulai tertidur. Tidak menyangka ada orang yang berniat jahat, ingin merusak rahim istrinya. Dia tidak akan memaafkan orang yang sudah berbuat jahat tersebut.
“Sayang.......cepat sembuh istriku. Daddy akan selalu di samping mami, jangan pernah meninggalkan daddy atau minta berpisah dengan daddy. Daddy menerima mami apa pun keadaannya,” lirihnya, penuh kehangatan di kecupnya seluruh wajah istrinya yang sedang tidur.
“Faisal, bagaimana si Joni berhasil menemukan Siska dan Gia?” tanya Andre lewat sambung teleponnya.
“Sudah di temukan, Siska dan Gia sudah kami tahan di salah satu kamar hotel ini. Dan kurir yang membawa paket sudah datang juga. Kami menunggu kabar selanjutnya dari Pak Bos.” Jawab Faisal.
bersambung......
__ADS_1