LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Menghadapinya......


__ADS_3

Kalimat sederhana, tapi dalam artinya buat Lina. Ternyata Noah sangat membutuhkan dirinya, kembali dia mengecup putra dari suaminya.


1 jam berlalu, sepertinya kamar Andre sudah mulai tenang. Mama Rani yang diberitahu ada huru hara oleh salah satu pelayan bergegas ke lantai 2.


Mama Rani melihat pintu kamar Noah terbuka lebar, Lina, Faisal, Mitha dan Tini berkumpul di kamar tersebut.


“Faisal, sudah lihat kondisi Andre!” tanya Mama Rani masuk ke kamar Noah.


“Belum Nyonya Rani, masih menunggu suasana kondusif dulu. Baru saya masuk,” jawab Faisal


“Kamu bilang kondusif, kayak ada pertengkaran hebat aja," kesal Mama Rani. Tapi benar juga kata Faisal, menghadapi Andre yang sedang melampiaskan amarahnya, sama saja menambah masalah


Faisal menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.


“Duh tuh anak kenapa lagi sih, ya sudah kalau begitu saya yang masuk duluan ke kamar Andre. Kamu minta beberapa pelayan stand by di lantai 2!” titah Mama Rani kepada Faisal.


“Baik Nyonya,” Faisal bergegas turun, untuk memanggil beberapa pelayan.


Ceklek.....


Mama Rani tercengang ketika masuk kamar Andre, barang barang berserakan....pecahan kaca sudah bertebaran di lantai, dengan hati hati melangkah Mama Rani mencari keberadaan Andre.


Tubuh Andre tergeletak di atas ranjang penuh dengan noda merah.


“Andre.......!” pekik Mama Rani melihat kedua tangan Andre telah berlumuran da*rah.


Bergegas Mama Rani ke kamar sebelah...”Minta Faisal hubungi dokter sekarang juga!” titah Mama Rani kepada orang yang ada di kamar Noah, lalu kembali ke kamar Andre.


Lina dan Mitha saling bertatapan “Apa yang terjadi Mitha?” jantung Lina mulai berdebar cepat.


“Sebaiknya saya cari Pak Faisal dulu, mami di sini aja jaga Noah!” pinta Mitha, lantas meninggalkannya.


Mau menengok ke kamar sebelah, ada rasa takut tapi ada rasa cemas. Ditatapnya wajah tembem anak sambungnya “ada apa dengan daddymu sayang?”


Di luar kamar Noah tampak riuh, beberapa pelayan serta Faisal sudah kembali ke atas menuju kamar Andre.


Pelayan mulai merapikan kekacauan di kamar Andre, Mama Rani duduk di tepi ranjang dekat dengan Andre berbaring, terlihat Andre memejamkan matanya.


Tidak ada satu pertanyaan Mama Rani yang di ajukan pada anaknya, waktunya belum tepat. Dia hanya menemani Andre sambil menunggu ke datangan dokter.


Begitu rapuhnya Andre di hadapan Mama Rani, seorang pemimpin yang tiba-tiba terjatuh bukan karena lawan bisnisnya, tapi karena istrinya.....bukan istri pertamanya....malah istri keduanya yang mengisi hatinya sekarang.


Dulu Andre pernah terpuruk ketika Dina cinta pertamanya meninggalkannya tiba-tiba, tapi tidak sampai melukai dirinya sendiri. Hanya berdiam diri di dalam kamar beberapa hari.


Berapa lama kemudian “Tante Rani...!” sapa Kevin yang baru tiba.


“Kevin, tolong cek luka dan obatin Andre!” pinta Mama Rani menatap Andre yang masih memejamkan kedua matanya.


“Andre.....” sapa Kevin, di lihatnya kedua tangan Andre penuh luka dan berdarah. Bergegas dibukanya tas medisnya.

__ADS_1


Andre membuka matanya, dan melihat Mama Rani sudah duduk di tepi ranjang dan Kevin yang sedang mengobati lukanya. Beberapa pecahan kaca yang tertancap di tangan dicabut pelan-pelan oleh Kevin, bebas dari pecahan kaca baru di kasih obat dan diperban kedua tangannya.


Sekarang kedua cari tangan Andre sudah dibalut perban.


“Loe, kenapa lagi?” tanya Kevin santai.


Andre menatap Mama Rani yang ada di sampingnya..”Lina minta cerai!” jawab Andre lirih, matanya mulai berkaca-kaca.


Apa daya Mama Rani hanya bisa memeluk Andre yang gagah selama ini, seketika terlihat rapuh.


“Mah......istri Andre minta diceraikan!” lirih Andre dalam pelukan mamanya.


“Tenang Nak, jangan gegabah ambil keputusan secepat itu. Berjuang dulu, jangan langsung putus asa!”


“Berarti Lina kalau sudah jadi janda bisa gue gaet dong!” Kevin memancing emosi Andre.


“Kurang aja loe, teman macam apa loe mau nikung istri teman sendiri!” kembali emosi.


“Slow Bro......nah kayak begini dong. Kembali semangat, gak kayak tadi muka loe mendung!” ejek Kevin.


“Lihatlah dirimu Bro, gara-gara emosi yang meledak-ledak.......tangan loe jadi korban. Gimana mau beraktivitas, anak loe lagi sakit, sekarang loe sendiri nyakitin diri sendiri. Dasar suami istri sama aja. Baru kemaren bini loe yang terluka termasuk loe sendiri, ehhh sekarang suaminya yang terluka....ckck. Kompak kalian berdua!” sedikit rasa jengkel yangbdi utarakan Kevin kepada sahabatnya.


Andre hanya bisa diam sedangkan Mama Rani meninggalkan mereka di kamar.


🌹🌹


“Ya Mah....”


“Duduk saja nak, tidak usah berdiri!”Mama Rani ikutan duduk di samping Lina.


Mama Rani menggenggam tangan Lina “Mama tidak tahu harus memulai dari mana, mama dan papa sebenarnya bersyukur punya menantu seperti kamu. Bisakah beri kesempatan buat putra mama!” tatapan Mama Rani tersirat penuh dengan harapan.


“Entah apa yang tadi kalian bicarakan berdua, mama tidak tahu. Tapi sepertinya Andre sangat terpukul. Kami juga salah kepada kamu atas pernikahan diam-diam, dan kamu berhak menentangnya dan marah terhadap kami!"


“Tapi bolehkah Mama  minta beri kesempatan Andre membina pernikahan ini dengan kamu, jalankan bersama....!” Mama Rani tak sanggup berucap lagi.


“Mah......”


“Jangan kamu jawab dulu Lin, pikirkan dulu.......jangan cepat ambil keputusan!” sela Mama Rani sebelum menantunya melanjutkan kata katanya.


Lina tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Mama Rani keluar dari kamar Noah dengan perasaan sedihnya.


Mengingat perkataan Mama Rani, Lina termenung sambil memandang wajah Noah yang kembali tertidur di pangkuannya “Mami harus bagaimana Nak, mami bingung sayang!” hatinya dilema.


“Pak Faisal, bagaimana keadaan Pak Andre?” melihat Faisal dan Mitha masuk kamar Noah.


“Kedua tangannya terluka, semua perabotan di kamar hancur.”


“Astaga......, terus sekarang?” tak mengira Andre bisa berbuat sejauh itu.

__ADS_1


“Sudah di obati sama Kevin, kamar sudah dirapikan sama beberapa pelayan.”


“Masih emosikah?”


“Sudah agak tenangan.”


Lina memindahkan Noah ke atas ranjang “Mbak Tini, tolong jagaiin Noah ya!”


“Mami mau ke mana?” tanya Mitha melihat Lina keluar dari kamar Noah.


“Mau ke dapur dulu.”


Mitha mengikuti Lina ke dapur, sedangkan Faisal kembali ke kamar Andre.


🌹🌹


Selama di dapur, Lina mengeksekusi beberapa sayur dan daging. Sambil memasak pikirannya menerawang entah kemana.


Mitha mengamati gerak gerik Bu Bosnya, takut pisau yang dipegang Lina salah potong, bukannya potong daging sapi malah potong daging yang lain.


“Jangan khawatir Mit, gue gak akan ngelakuiin hal yang bodoh lagi!” tegur Lina yang sekilas Mitha mengawasi gerak geriknya.


“Ohhh.....syukurlah Mih, bukannya kenapa-napa, gue kasihan kalau Mami gak ada....pasti Noah akan kehilangan maminya!”


“Mmm........”gumamnya.


Hampir 1 jam Lina berkutat di dapur di temani beberapa pelayan, karena Mitha harus kembali bekerja di ruang baca.


Sop iga, sambal goreng kentang sudah matang. Siap untuk diantar ke kamar Andre.


Hati Lina dag dig dug saat masuk ke kamar Andre, yang sebenarnya kamar mereka berdua. Segenap hati dia memberanikan dirinya menghadapi Pria yang statusnya suami sirinya.


Dilihatnya di ruang tv tidak ada Andre, lalu dia melangkah masuk ke dalam ke kamar mereka.


Terlihat Andre yang terpejam dengan posisi menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Sedangkan Faisal duduk di sofa single.


“Taruh di meja aja mbak Ria!” titah Lina dengan suara pelan, takut membangunkan Andre.


Mendengar suara Lina, Andre mengerjapkan matanya.


Mata Andre dan mata Lina beradu pandang.”Pak Andre pasti belum makan siang, saya masak buat Pak Andre.........silahkan di makan!” sambil menunjukkan nampan di atas nakas.


Entah bagaimana ceritanya wanita yang tadi berkata cerai sekarang berdiri di hadapannya, hati Andre terasa teriris menatap wajah cantik istrinya yang belum seutuhnya dimiliki.


.


.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2