
Faisal mengikuti langkah Andre dengan tenang, padahal hatinya sudah dongkol sama Andre.
Andre membawa Sita ke rumah sakit yang sama di tempat Lina di rawat.
Sita masih memejamkan matanya, padahal dia hanya berpura-pura pingsan.
Sesampainya di rumah sakit, Andre membiarkan Sita di bopong oleh beberapa perawat laki-laki. Padahal saat Lina, tidak diperbolehkan disentuh oleh perawat laki-laki lain. Cukup dia saja yang mengendongnya.
Sita diperiksa oleh dokter kandungan setelah sadar dari kepura-puraannya, di dampingi Andre dan Bu Anita.
“Anak saya baik-baik saja kan dokter, kandungannya juga?” tanya Bu Anita cemas.
“Hanya kecapean aja Bu, kandungannya sedikit lemah. Harus banyak istirahat dan jangan terlalu stress!”
“Berapa usia kehamilannya?” tanya Andre, sambil mengingat ingat kapan terakhir dirinya dengan Sita berhubungan intim.
“Baru memasuki usia tujuh minggu, Bapak bisa lihat ya ini calon bayinya,” dokter menunjukkan di layar monitor USG.
Sita tersenyum bahagia, sambil meremas tangan Andre.
“Kita akan punya anak lagi sayang,” ucap Sita dengan senyum yang merekah.
Andre tidak menanggapi ucapan Sita, terpaku dengan layar monitor dan hatinya terasa hampa mengetahui kenyataan di depan matanya.
“Ibu tidak perlu dirawat, nanti akan saya resepkan vitamin dan obat penguat kandungan. Jangan lupa cukup istirahat serta makan makanan ya sehat," ucap dokter kandungan.
“Terima kasih Dokter," balas Sita.
Selesai menemani Sita ke dokter, Andre meninggalkan Sita dan Bu Anita di lobby rumah sakit tanpa bicara. Sita terlihat kesal...
Sialan mas Andre pergi begitu saja!.....batin Sita.
Sebelum Andre kembali ke kantor, dia berniat menengok Lina di kamarnya, mumpung sudah berada di sini.
Sesampainya di lorong menuju kamar Lina, dari kejauhan dia tidak melihat pengawal yang bertugas menjaga di depan kamar.
Andre mempercepat langkahnya, takut terjadi sesuatu hal seperti beberapa hari yang lalu.
“Mami.......”panggil Andre dari depan pintu kamar.
KOSONG...
“Mami.......” panggilnya lagi sambil memeriksa semua sudut di ruangan tersebut.
“Faisal.....cek ke perawat ke mana mami berada!” Andre frustrasi.
Faisal segera ke tempat jaga, dan kembali dengan cepat.
“Pak.......Lina dipindahkan ke rumah sakit lain!” ucap Faisal pelan-pelan menyampaikannya.
“AAAKHH.......!” pekik Andre menjambak rambutnya sendiri.
“Ini pasti ulah Papa!” gumam Andre.
Andre segera menghubungi Papanya dengan handponenya.
__ADS_1
Andre “Pah....kemana istri saya!”
Papa “Bukannya istri kamu sama kamu sendiri.”
Andre “Lina...Pah.....istri Andre. Ke mana Papa sembunyikan?”
Papa “Sita istri kamu bukan Lina!”
Andre “Lina....Pah.....mana Lina istri Andre!”
Papa “Lina bukan istrimu lagi Andre, Papa sudah bertanya dengan pihak penghulu untuk membatalkan, lagi pula baru nikah siri dan baru beberapa hari. Dan belum terdaftar. Jadi cukup istri kamu SITA, apalagi papa dengar Sita sedang hamil. Jadi selamat Nak, urus istrimu dengan baik-baik!”
Papa Nugraha langsung memutuskan panggilan Andre.
Tiba tiba Andre tertawa pilu, Papanya berkata sudah dibatalkan pernikahannya dengan Lina.
Dijatuhkannya dirinya ke lantai, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Teringat wajah Lina saat tertidur, saat dia tidur memeluknya.
“Sayang.........mami!”ucap lirihnya.
“Pak.......minum dulu,” Faisal memberikan botol minum, agar Bosnya sedikit tenang.
“Kamu cek semua rumah sakit, sampai ketemu istri saya Lina!”
“Baik Pak.”
Sebenarnya buat Faisal sangat mudah mencari keberadaan Lina, cukup menghubungi Mitha asisten pribadi Lina, pasti tahu berada di mana. Tapi kali ini akan sedikit rumit, karena Pak Nugraha sudah mewanti-wanti Faisal.
Andre meninggalkan rumah sakit dengan langkah tidak semangat, seperti tidak ada daya.
.
.
“Pah........Mah!” panggil Andre saat masuk mansion.
“Sayang.........kamu sudah pulang?” sambut Sita yang berada di ruang tamu dengan ibunya.
Entah kenapa Andre, tidak nyaman dengan Sita dan Ibu mertuanya.
“Nak Andre sudah pulang!” sapa Bu Anita.
Wow gayanya sudah seperti pemilik mansion saja nih.....batin Faisal melihat lagak Bu Anita.
Andre bergegas ke ruang kerja diikuti Faisal, tanpa menyapanya kembali.
“Sayang.........dari semenjak di rumah sakit sampai di mansion, kenapa tidak pernah menjawab?” cecar Sita mengikuti Andre ke ruang kerja.
“Kamu tidak ingat kejadian di kantor tadi pagi, sudah bikin malu!” Andre menghempaskan dirinya ke sofa.
“Sayang.....aku kan sudah minta maaf. Aku lagi hamil anak kamu loh mas!” Sita duduk di atas paha Andre berusaha menggoda Andre.
“Dan masih ada lagi kesalahan yang lain, kamu telah menjatuhkan Noah!”
“Itu tidak sengaja sayang,” elak Sita.
__ADS_1
“Kamu mengelaknya, banyak saksinya. Bangun kamu sekarang, atau saya dorong!” ancam Andre.
Sita tampak masih bersikekeh duduk di atas paha Andre.
“Faisal, tolong angkat perempuan ini!” pinta Andre.
Sebelum Faisal mendekat, Sita bangkit dari duduknya.
“Sayang......mas sudah berubah!” kesal Sita.
“YA SAYA SUDAH BERUBAH!”
“Mas berubah, semenjak dulu mas selalu memanggilku HONEY, sekarang panggil nama. Dulu mas selalu berkata lembut, sekarang berani berkata kasar!”
“Cih.......,”desis Andre.
“Sayang, sekarang aku lagi hamil....anakmu. Kamu harus tanggung jawab!”
“Ya.....saya tetap akan bertanggung jawab!”
“Faisal keluar kamu sekarang!” perintah Sita.
“Tetap disini Faisal!” cegah Andre.
Gagal nih, rencana gue.....batin Sita.
Sita mendudukkan dirinya di samping Andre, di angkatnya sedikit roknya agar terlihat paha mulusnya. Jari lentiknya dimainkan ke dada Andre, dengan maksud membangkitkan gairah suaminya.
“Apa yang kamu inginkan?” Andre membaca gelagat Sita.
“Sayang, kamu telah membekukan semua atmku. Dan belum memberi uang bulanan buat kedua orang tuaku. Sedangkan aku sedang hamil muda, pengen belanja ini itu.” Sita pura-pura memelas sambil mengelus perutnya.
“Faisal minta cek saya!”
Asik berhasil aku dapat menguras uangnya lagi, berkat anak yang aku kandung.”
“Nih....untuk keperluanmu selama 1 bulan!” Andre memberikan cek ke Sita.
Sita menerimanya dengan suka cita.”Sayang......kok cuma 50 juta, ini mana cukup buat 1 bulan!” Sita tercengang melihat angka di ceknya.
“Kamu mau terima atau saya tarik kembali lagi ceknya. Ini tanggung jawab saya selama kamu hamil. Jika masih kurang, kamu bisa jual semua perhiasan kamu atau tas-tas branded!”
“Bener-bener ya sayang, percuma jabatan CEO tapi kasih uang belanja ke istri hanya 50 juta. Malu mas sama teman-teman arisanku yang suaminya CEO juga, mereka uang belanjanya M...M an.”
Andre melihat cincin nikah yang dipakai Sita, teringat dengan foto di rumah sakit. Jika memang Sita pelaku yang memberikan suntik racun ke Lina, sungguh sudah keterlaluan. Sita yang dulu penuh kelembutan, hilang sirna.
Harta buat Andre sebenarnya tidak masalah diberikan untuk istrinya, tapi rupanya pelan-pelan sudah merubah pola gaya hidup Sita istrinya. Dia merasa gagal mendidik istrinya.
“Mas....ayo tambahkan lagi uang atau buka blokiran atm. Aku harus bayar tas yang sudah di pesan. Atau Sayang tidak bisa menikmati tubuhku ini!” bisik Sita, sembari menghembuskan napasnya ke telinga Andre.
“HA......HA......HA!” Andre tertawa kencang, mendapat godaan dari Sita. Tapi entah kenapa juniornya tidak terbangun.
Sita terheran-heran melihat Andre tiba tiba tertawa.
.
__ADS_1
.
bersambung...