LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Masih bertengkar


__ADS_3

"Tapi bukan itu aja Mah, walau saya belum menerima pernikahan ini. Saya paling benci dengan pria yang baru mencium wanita A......sejam kemudian mencium wanita B!” terlihat wajah tidak sukanya.


Terjadi lagi sorot mata tajam Istrinya menghantam hati Andre, membuat dia kembali jatuh.


“Mami........saya bisa jelaskan itu semuanya. Dina yang memulainya, bukan saya yang memulainya!”


“Seharusnya Pak Andre bisa menolaknya dong, tapi malah menikmatinya!” ucap sinis Lina.


“Talak saya sekarang Pak Andre!” Lina beranjak dari duduknya.


“Tidak.....saya tidak akan pernah menceraikan kamu. JUSTRU SAYA AKAN MERESMIKAN PENIKAHAN KITA!” Andre ikut bangkit dari duduknya.


“Pak Andre tidak mencintai saya, jadi talak saya sekarang juga!” pinta Lina dengan menaikkan nada suaranya.


“Justru saya mencintai mami, saya tidak akan menceraikan mami!”


“Bohong........kalau cinta kenapa masih ciuman dengan Dina sampai dipangku segala. Berarti masih ada hubungan kan!” emosi jiwa rasanya.


Papa Nugraha, Mama Rani dan Mama Anggi membiarkan anak mereka bertengkar, toh dalam rumah tangga dengan adanya pertengkaran menjadi bumbu pemanis.


“Demi Allah mami, saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Dina. Dia hanya mantan saja!”


Mereka berdua sekarang sudah  berdiri saling berhadapan.


“Terserah apapun itu, saya minta kita cerai, lagi pula kita hanya nikah di bawah tangan. Cukup talak saja di depan orang tua kita berdua!” sepertinya keputusan Lina sudah bulat.


“Mami.......!” Andre berlutut di hadapan istrinya.


“Sekali ini saya mohon, kita jalani pernikahan ini...........jika nyatanya kita tidak sejalan. Saya rela melepaskanmu!” pinta Andre dengan merendahkan dirinya di hadapan istrinya.


“Lin........!” Mama Anggi menyentuh lengan Lina yang masih berdiri. Memberikan tanda ke anaknya untuk menghentikan pertengkarannya.


Lina diam sesaat melihat Andre yang sedang berlutut di depannya. Sungguh ada rasa malu dengan Papa Nugraha dan Mama Rani, ketika anak lelakinya berlutut di depannya.


“Bangunlah Pak Andre, tidak pantas seorang Bos berlutut di hadapan  karyawannya!” tutur Lina sambil memegang bahu Andre.


“Saya seorang suami yang berlutut di depan istrinya........... saya tidak akan bangun jika mami tidak memberi kesempatan!”


Lina ikutan ngedeprok di lantai, menatap pria yang katanya berstatus suaminya “berikan saya waktu untuk berpikir, jangan menuntut minta kesempatan. Berikan waktu untuk saya sendiri!” ditatapnya dalam dalam mata Andre.


“Maafkan saya yang egois, saya takut kehilangan mami!”


“Hal ini bisa menjadi waktu buat Pak Andre lebih memahami isi hati sendiri, siapa yang ada di hati sebenarnya!” tutur Lina sambil menyentuh dada Andre.


“Bangunlah, tidak enak dengan orang tua kita!” pinta Lina, Andre akhirnya bangkit dari berlututnya lalu membantu Lina bangkit dari duduk di lantai.

__ADS_1


“Sudah selesai kalian bertengkarnya?” tanya Papa Nugraha.


Andre dan Lina sama sama tersenyum kikuk, entah bagaimana ceritanya mereka akhirnya berdua tadi bertengkar di depan orang tua mereka berdua.


“Bagaimana keputusannya?” tanya Papa Nugraha.


“Sementara saya beri waktu buat mami menenangkan dirinya, saya tidak akan memaksanya. Tapi saya akan terus mengejarnya!” jawab Andre dengan terpaksa menuruti permintaan Lina.


“Baiklah biar kalian masing-masing saling memahami dulu!” tutur Papa Nugraha.


“Tapi saya ingin mami tetap tinggal di mansion ini, walau mami tidak mau sekamar dengan saya!” Andre menoleh wajahnya ke Lina.


Permintaan yang sulit dipenuhi, karena Lina tetap ingin tinggal di apartement.


“Saya di sini hanya sampai Noah sembuh. Setelahnya saya kembali ke apartement. Tolong hargai ke keputusan saya!” kembali lagi dia menolak untuk tinggal bersama.


Sementara itu dari kejauhan, Tini datang dengan mengendong Noah.


“Hua........hua........hua” tangisan Noah terdengar kencang.


“Bu, Noah nangis dari tadi, saya gak bisa menenanginya!” ujar Tini yang tergopoh-gopoh mengendong Noah.


“Sayang........sayang gantengnya Mami!” Lina langsung mengambil Noah dari gendongan Tini.


Dielus-elusnya punggung Noah yang masih menangis “baru ditinggal sebentar sama mami, udah rewel lagi sayang,” ujar dengan lembut, padahal belum lama suaranya begitu tinggi.


“Lin......tetap tinggal di sini, mereka berdua membutuhkan kamu!” ucap Mama Rani, sambil melirik Noah dan Andre.


Lina mungkin seorang wanita yang tidak membutuhkan sosok pria saat ini, tapi pria lah yang membutuhkan sosok wanita seperti Lina.


Tapi kali ini Lina tidak mengiyakan atau menolaknya, biar waktu saja yang menjawabnya.


“Pak Andre, tolong panggil dokter lagi. Ini kok Noah badannya panas lagi!” disentuhnya kening Noah, dan seluruh tubuh terasa panas. Andre turut memegang tubuh Noah, dan memang terasa panas. Demi kepentingan Noah, sejenak Lina membuang egonya.


“Mbak Tini tolong isi botolnya dengan air putih ya!”


“Baik Bu!”


Andre segera menghubungi Kevin untuk menyuruhnya membawa dokter anak ke mansionnya.


Sesaat mereka lupa dengan pembicaraan tadi, karena sekarang semuanya fokus dengan Noah terutama Lina sekejap lupa apa yang diributkan.


Lina mulai memberikan air putih yang sudah ada di botol ke Noah, berharap Noah tidak dehidrasi karena badannya yang panas.


45 menit kemudian.....

__ADS_1


“Bro, gue ajak  Dokter Alex!”  ucap Kevin.


“Dokter Alex tolong cek anak saya, badannya tadi siang udah agak mending tidak terlalu panas. Sore ini kok panas sekali badannya!” pinta Lina tanpa basa -basi.


Direbahkannya Noah di atas sofa, agak Dokter Alex mudah memeriksa kondisi Noah.


“Panasnya 39,8C termasuk tinggi. Saya kasih obat oral dulu buat turunin panasnya!” ucap Dokter Alex.


Noah meronta-ronta saat di periksa Dokter Alex


“Sayang.... ini mami sayang.....di cek dulu ya sama dokter!” Lina mencoba menenangkan Noah dengan memegang salah satu jari tangannya.


“Mi....mi...no.....no  hua...hua!” celoteh Noah dalam tangisannya.


“Cup.....cup... obatnya sudah masuk!” ujar Dokter Alex. Noah langsung merentangkan tangannya minta di gendong maminya.


“Ini mami ada di sini sayang....!” ucap Andre sambil mengelus kepala Noah. Lina langsung mengendong Noah yang masih menangis.


“Sudah berapa hari Noah panas badannya?” tanya Dokter Alex.


“Noah sudah 2 hari badannya panas,” jawab Mama Rani  yang masih berada di ruang tengah.


“Sebaiknya saya ambil sampel darah Noah, untuk memastikan penyebab badannya panas,” pinta Dokter Alex.


“Silahkan Dokter Alex,” ucap Andre.


“Noahnya tidak usah dibaringkan, biar dipangku sama mamanya saja!” Dokter Alex mengeluarkan suntikan untuk mengambil darah Noah.


Andre ikutan memegangi Noah, takut Lina kewalahan kalau tiba-tiba memberontak.


Awalnya Lina biasa aja, melihat jarum suntik menusuk ke lengan Noah, tapi tak seberapa lama wajahnya mulai memucat saat darah mulai masuk ke tabung suntikkan. Hal ini tidak luput dari pandangan Andre.


“Mah, tolong pegangin Noah!” pinta Andre ke Mama Rani.


Andre sudah ambil ancang-ancang memegang tubuh Lina. Dan benar seketika.....istrinya sudah tak sadarkan diri. Kevin lupa kalau istri temannya fobia sama darah segar yang menurut dia agak banyak.


Hanya darah haid saja yang tidak membuat dia fobia, dan masih sanggup melihatnya.


Andre dibantu Kevin membaringkan Lina di atas sofa, sedangkan Noah sudah di gendong Mama Rani, tapi malah memberontak. Mau gak mau Mama Rani menimang  Noah tidak jauh dari Lina.


.


.


bersambung

__ADS_1


Khusus hari ini saya up lagi buat kakak Readers semuanya 😘😘😘


__ADS_2