
“Andaikan Lina tahu dari awal mah!” rasa sesalnya masih bergelut di hatinya.
“Mama mohon maafkan mama, dan jangan kamu lukai diri sendiri. Cukup ini jadi yang terakhir, jangan berbuat hal seperti ini!” dengan nada pelan Mama Anggi berucap.
Lina tidak mengiyakan atau berkata tidak perkataan mama Anggi, tenggelam dalam perasaannya sendiri.
“Karena kamu sudah tahu tentang pernikahan kamu dengan Andre, sekarang mama menyerahkan keputusannya dengan Lina, mau di jalankan atau tidaknya. Andre sudah berjanji kepada mama, akan menuruti semua keputusan kamu jika rahasia ini terbongkar!”
DEG
Seketika hati Lina terhujam dengan kata-kata pernikahan dengan Bosnya.
“Mah, bisa kita tidak melanjutkan pembicaraan ini........kepala Lina agak pusing!”
“Baiklah istirahatlah, maafkan mama nak!” Mama Anggi menjauh dari ranjang Lina, dan duduk di sofa.
Mitha dan Susi yang mendengar pembicaraan antara ibu dan anak hanya bisa menguatkan Mama Anggi yang terlihat termenung.
Lina kembali memejamkan mata, kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing, mungkin terlalu banyak kejutan yang dihadapinya sampai memenuhi beban pikirannya.
Esok hari.......
Infus di tangan Andre sudah dilepas oleh Dokter Ridwan, kondisi Andre lebih cepat pulih tidak membutuhkan infusan. Tinggal penyembuhan luka di bahunya.
“Dok, istri saya keadaannya bagaimana?” tanya Andre saat Ridwan masih di kamarnya.
“Sudah lebih baik dari pada kemaren. Bu Lina sedikit depresi, karena mengalami keadaan luar biasa buat dia. Dokter Rizka kemaren sudah mulai konseling . Dan Bu Lina sudah bisa di ajak bicara, tapi kita harus berhati-hati mendekatinya. Karena emosinya masih naik turun.”
“Kapan saya bisa menjenguk istri saya?”
“Saya akan tanyakan dengan Dokter Rizka dulu Pak!”
“Tolong, segera Dok.......saya ingin sekali bertemu dengannya!”
“Baiklah saya, ketemu Dokter Rizka dulu!” pamit Ridwan.
Sementara di kamar sebelah.....
Selepas Lina sarapan pagi, Dokter Rizka mengajak Lina berbincang-bincang.
“Bu Lina, andaikan Dia ingin bertemu, maukah menemuinya?”
“Dia siapa Dok?”
“Maksud saya Pak Andre...,”
Tatapan mata Lina di palingkannya ke arah jendela yang menyinari sinar matahari pagi ini.
Haruskah saya menemuinya, dia....suamiku.
__ADS_1
Perang batin mulai bergejolak di relung hatinya, antara menemuinya atau tidak menemuinya. Hati kecilnya juga berkata kalau pria itu telah menolonginya, mendonorkan darahnya yang harus di ingatnya.
Tapi hati kecil yang lain tidak menerimanya, dia suami yang tidak pernah diharapkannya. Untuk apa menemuinya, sebaiknya di jauhkan.
“Bu Lina......!” panggil Dokter Rizka menyadarkan Lina dari lamunannya.
“Eeeeeh...maaf Dokter,” sedikit tersentak karena panggilannya.
“Saya tidak memaksa Bu Lina jika tidak mau menemui Pak Andre. Walau Pak Andre ingin sekali menemui Bu Lina!”
Sekarang mungkin saya bisa menghindar, tapi di lain hari mungkin akan bertemu kembali. Apakah harus menemuinya hari ini!
“Baiklah saya mau bertemu dengan Pak Andre..!”
Sebelum Dokter Rizka menemui Dokter Ridwan, ternyata Dokter Ridwan sudah menghampiri Dokter Rizka.
Dokter Rizka segera memberitahu keputusan Lina yang mau bertemu dengan Andre. Tanpa panjang lebar Dokter Ridwan kembali ke kamar Andre.
“Mami..........!” sapa Andre dengan wajah bahagianya, mendapat kabar kalau istrinya setuju bertemu dengannya, tanpa menunggu waktu lama Andre ke kamar istrinya.
Andre masih berdiri di depan ranjang Lina, ketika menyapa.....dia belum menjawabnya. Dia hanya menatapnya, entah apa yang di pikirkannya.
Dokter Rizka masih berada di kamar Lina, untuk menjaga sesuatu hal tapi menjauh dari keberadaan suami istri tersebut.
“Mami......,” kembali lagi menyapa istrinya, dan Andre mulai mendekati Lina.......duduk di tepi ranjangnya.
Ada yang beda dengan menyebut panggilan Andre, seketika berat mulutnya memanggil Andre dengan sebutan Daddy.
“Dan terima kasih sudah mendonorkan darah buat saya!” kembali berucap tanpa menatap.
Ingin rasanya Andre menggenggam erat tangan istrinya, tapi entah kenapa ada rasa istrinya tidak mau di sentuh.
“Sudah sewajarnya suami menolong istrinya!” balas Andre.
Suami.......
Andre kembali melihat pergelangan tangan Lina yang di perban. Bekas yang akan selalu ada, akibat dari rahasia pernikahannya terbongkar.
Sungguh perih hati Andre, sebegitu tidak sukakah Lina di nikahinya. Sampai ingin menghilangkan nyawanya sendiri.
“Maafkan saya....... maafkan saya yang telah menikahimu saat mami terbaring koma!” tuturnya pelan, Andre masih setia menatap wajah istrinya yang berpaling dari tatapannya.
“Saya akan menuruti keinginan mami, apa pun.......!” dengan berat hati berucap.
Saya tidak mau pisah denganmu sayang, tolong jangan minta bercerai.......batin Andre berharap.
Permintaan apa pun dari Andre, berarti bisa minta di talak saat ini juga.
Haruskan saya minta bercerai sekarang juga.....!
__ADS_1
Seumur hidup dia hanya ingin sekali menikah, dan berpisah karena ajal menjemput bukan karena perceraian.
“Dokter Rizka, bisa saya istirahat.......kepala saya pusing sekali!” panggil Lina.
“Sayang.....kamu tidak pa-pa!” cemas Andre bangkit dari duduknya, ingin rasanya memeluk Lina saat ini juga. ”Dokter tolong kasih obat buat istri saya!” titah Andre.
“Pak Andre, mohon maaf.......mungkin bisa tinggalkan Bu Lina dulu. Biar bisa kembali istirahat!” pinta Dokter Rizka, paham ketika di panggil Lina sebenarnya untuk mengakhiri waktu mereka bertemu.
CUP
Dikecup lama kening istrinya seakan mengungkapnya rasa rindunya “maafkan saya!” selepasnya Andre keluar dari kamar Lina.
Buliran mata kembali keluar dari ujung mata Lina, bingung dengan perasaannya. Tapi yang jelas dia sudah meminta maaf dan mengucapkan terima kasih. Itu sudah cukup menurutnya.
4 hari berlalu.......
Setelah Andre terakhir bertemu dengan Lina di rumah sakit, mereka belum bertemu lagi.
Andre menahan dirinya untuk tidak menemui istrinya, sedangkan Lina tidak ada keinginan untuk bertemu.
Setelah Lina dinyatakan bisa rawat jalan, kembali tinggal di apartemen Nugraha ditemani 2 sahabatnya beserta mama Anggi.
Sedangkan Andre kembali tinggal di mansionnya sendiri di temani ke dua orang tuanya dan anaknya.
Papa Nugraha dan Mama Rani sudah pasrah dengan keadaan pernikahan anaknya. Tidak bisa memaksa keinginan mereka. Untuk mencoba mempertemukannya kembali, mereka sedikit sungkan.
Andre kembali bekerja setelah luka di bahunya sudah mulai membaik, menyibukkan dirinya.....sesekali berkantor di perusahaan Nugraha, sesekali berkantor di hotelnya.
Andre juga sudah mulai menjalankan proses perceraiannya dengan Sita, dengan hadir bersama pengacaranya saat sidang pertama. Sedangkan Sita yang masih berada di hotel prodeo hanya di wakilkan pengacaranya.
Mitha dan Susi dengan seizin Andre meninggalkan pekerjaannya di kantor untuk menemani masa pemulihan Lina. Dan mereka dengan patuhnya melapor keadaan Lina pada Andre selaku bos mereka.
Lina kadang suka menyendiri dikamarnya, meratapi nasibnya........bingung akan status yang tersemat di dirinya. Selama ini telinganya selalu mendengar kata “mami istri daddy.” Nyatanya ucapan Andre bukan bualan semata, memang kenyataan tapi dia sendiri tidak tahu. Dipandangnya cincin yang dia simpan.
“Sungguh bodohnya gue, bisa-bisanya coba bun*uh diri!” gumamnya sambil melihat perban di pergelangan tangannya, rasa penyesalan itu datang kembali.
“Mami........,” panggil Mitha.
“Ya....”
“Tadi Nyonya Rina kasih kabar, Noah demam.......badannya panas,” hati-hati Mitha memberi kabar, karena Noah anak dari Andre. Tidak suka dengan Andre, tapi takut Noah terkena imbasnya juga.
“Ya Allah.......anakku!” seketika raut wajah Lina berubah, sepertinya dia telah melupakan kehadiran Noah anak angkatnya.
.
.
bersambung
__ADS_1