LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Bantal guling


__ADS_3

"Mami tadi pagi terima kiriman bunga dari daddy gak?” netra Andre menatap lekat ke arah istrinya.


“Terima.” Lina mengabaikan pandangan Andre yang berada di sampingnya. Sejujurnya bulu kuduknya mulai merinding, ditambah hembusan napas Andre terasa hangat di pipinya.


Wahai jantung, tolong kerjasamanya jangan kamu berlari-lari kencang, takut tiba-tiba terjatuh.......batin Lina.


“Mami gak suka bunganya?” dengan sengaja Andre mendekatkan wajahnya  ke Lina.


“Suka sama bunganya, tapi tidak suka sama yang kirimnya!”


“Oh jadi mami lebih suka sama orang lain yang kirim bunga kayak waktu itu?” tanya Andre geram.


“Iya!” jawab entengnya. Mata Lina masih fokus ke arah televisi. Bicara tanpa menatap.


“Kalau di ajak bicara, bisa tidak lihat lawan bicaranya!” diraihnya dagu Lina agar melihat ke arahnya.


DEG.......DEG......serr  


Susah payah Lina menelan salivanya sambil menatap wajah tampan Bosnya.


Mereka saling menatap dalam waktu beberapa menit.


“Tidak bisakah Pak Andre minta maaf, telah membuat kaki saya terluka. Andai Pak Andre tidak membanting figura tadi, kaki saya tidak akan terluka.” Lina membuka pembicaraan agar tidak terlalu lama menatap Bosnya.


“Mami yang memulainya duluan, yang ingin keluar dari kamar ini gara-gara foto.”


“Mami......semarah apapun kamu, tetap panggil Daddy......hentikan memanggil Pak!” terlihat agak putus asa.


Lina menundukkan kepalanya.......lagi-lagi masalah panggilan di masalahkan terus.


"Susah amat tinggal minta maaf......!" dengus Lina.


Andre masih memegang dagu Lina, rasanya pengen melahap bibir sexy istrinya. "Ya udah Daddy minta maaf sama mami!"


"Mmmmm....!" ditepisnya tangan Andre yang memegang dagunya.


“Mansion dan kamar ini, Sita belum pernah menginjakkan kakinya. Dan Daddy belum pernah memberitahukannya.”


“Mansion ini baru beberapa bulan rapi, dan memang rencananya untuk ditempati dengan istri dan anak-anak Daddy. Tapi entah kenapa Daddy belum membawanya sampai sekarang.”


Lina mendengarkan Andre berbicara dengan baik-baik. Dia memainkan cincin di jari manisnya.


Jari tangan kanan Lina di tangkup dengan jari tangan kanan Andre, terlihat mereka menggunakan cincin dengan model yang sama, tapi cincin yang di pakai Andre tanpa berlian.


Katanya udah talak istrinya tapi masih pakai cincin kawinnya.......


Diperhatikan kembali cincin yang dia pakai dan yang Andre pakai.


Sebentar ini hanya perasaan atau kenyataan......kalau dilihat kok kayak cincin pasangan....ini pasti ada sesuatu...batin Lina.

__ADS_1


Jantungnya tambah berdebar kencang....


“Mami adalah wanita pertama yang Daddy bawa ke sini dan tinggal di kamar utama ini!”


“Saya udah ngantuk, pengen tidur!” pamit Lina dengan rasa curiga di hatinya. Pikirnya sudah tidak perlu mendengar penjelasan Andre.


Andre belum selesai bicara, sudah ditinggal Lina. Dia langsung mematikan televisi, dan menyusul Lina ke ranjang.


Lina menaruh bantal guling ditengah-tengah ranjang.


“Daddy jangan coba-coba melewati batas ini. Jika Daddy melanggar berarti Daddy mengizinkan saya tidur dikamar yang lain!” ancam Lina.


“Baiklah, tapi kalau mami yang melanggar. Daddy berhak saat tidur memeluk mami sepanjang waktu. Dan mami tetap tidur sama daddy!” balik ancam Andre.


“Dasar gila....!” ujar Lina pelan, segera dia berbaring dan menyelimuti badannya.


Nih si Lina benar-benar sama sekali tidak tertarik menggoda saya ya! Kalau Sita sebelum tidur selalu menggodanya.......sungguh berbeda. Di mana mana cewek lain udah klepek-klepek sama saya, mencari perhatian.


Mereka berdua mulai terlelap tidur tanpa gangguan, karena kebetulan Noah tidur di kamarnya sendiri dengan baby sitter sampai luka di kepala Lina sembuh, keputusan Andre.


Waktu terus berjalan menuju pagi, entah bagaimana ceritanya bantal guling sebagai pembatas mereka berdua sudah tidak ada di antara mereka, yang ada sekarang mereka saling memeluk.


KukuruykK..........kukuruyuk........kukuruyuk.


“Mih.......alarmnya matiin dong!” suara serak Andre terdengar.


Duh ini guling kok bergerak-gerak ya....batin Lina.


“Dad, gulingnya jangan di goyang-goyangin dong!” pinta Lina, matanya masih terpejam, dia tidak sadar guling yang bergerak itu, badan Andre yang dia peluk.


Andre membuka matanya dan tersenyum manis, melihat kelakuan istrinya memeluk badannya.


“Mami lihat dulu gulingnya kayak apa?” suara serak Andre terdengar sexy di telinga Lina.


Lina meraba-raba memegang gulingnya dengan mata terpejam. Paha kakinya pun mengesekkan ke bantal guling, padahal yang digesek itu..... paha Andre sampai juniornya pun kena gesekan. Andre sepertinya menikmati juniornya kena gesekan paha Lina.


Kok kayak ada yang beda ya......batin Lina.


Lina masih enggan membuka matanya, malah justru pahanya terus mengesek.


“EEEGHHH........!” erangan Andre keluar, tangannya mengelus-elus punggung Lina. Juniornya seperti sedang dimanjakan, Andre menggigit bibir bawahnya ke enakkan.


“AAAH.......Mami!” Andre melenguh. Lina membuka matanya, dan melihat ternyata bukan guling yang dipeluknya tapi Andre.


Dia mendongakkan wajahnya ke Andre “terima kasih sayang.....!” dikecupnya bibir Lina sekilas, dan langsung beranjak ke kamar mandi.......menuntaskan kerjaan istrinya.


Lina bengong setelah Andre mengecup bibirnya......astaga Bos berani mencium bibir gue, duh kenapa juga gue peluk dia.....!! Di lihatnya bantal guling sudah terjatuh di samping ranjang dia tidur.


20 menit Andre selesai dari kamar mandi, tampak sedikit happy. Selesai berpakaian dan sholat shubuh, dia kembali duduk di ranjang menunggu Lina yang masih di kamar mandi.

__ADS_1


“Mami jangan lama-lama di kamar mandi!” teriak Andre.


“Yaaaa....!” jawab Lina.


Lina keluar masih pakai daster yang sama, karena lupa membawa baju ganti.


“Minum dulu,” segelas air hangat diberikannya.


“Makasih Dad.”


Seperti kebiasaan Andre, tanpa permisi memeluk Lina “Jadi semalam siapa yang melanggar ? Bukan Daddykan......tapi Mami!” ucap Andre penuh kemenangan.


“Ya.....!” jawab Lina pelan merasa salah dengan ancamannya sendiri.


“Jadi kapan pun dan di mana pun, Daddy boleh peluk mami sesuka hati. Dan mami tidurnya sama daddy!”


“Terserah!” ujar Lina malas menanggapinya.


Andre melepaskan pelukannya, dan menuntun Lina duduk di atas kedua pahanya.


Aah mulai lagi ini jantung kayak sedang berlari.....


“Pagi ini Dokter Ridwan akan kontrol mami, terus nanti Daddy ada rapat di sini.”


“Terus....!”


“Kalau di ajak bicara, lihat wajah Daddy dong Mih!” Lina mengangkat wajahnya dan menatap Andre.


“Mulai sekarang Daddy minta Mami pura-pura jadi istri Daddy di depan umum!” ide ini terlintas seketika.


“What........gak salah!” Lina melotot, mendengar permintaan Andre.


“Iya..... gak salah, mami karyawan Daddy, jadi berhak ditugaskan apa pun!”


“Enak.....aja!” kesal Lina berusaha beranjak dari pangkuan Andre tapi tertahan dengan rangkulan Andre.


“Hanya untuk beberapa bulan saja Mih, Daddy akan menambahkan gaji Mami. Mami mau ditambahkan berapa?”


"Emangnya saya cewek apaan!!!"


“Cari saja wanita lain di luar sana, yang mau jadi istri pura-pura Daddy. Atau malah mungkin mau menjadi istri kontrak Daddy kayak di cerita novel tuh!” tolak Lina.


“Daddy hanya mau mami Lina, yang bisa meluluhkan Noah. Belum tentu wanita lain bisa menaklukkan Noah!”


.


.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2