LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Selamat Tidur........


__ADS_3

Demam Lina pagi ini sepertinya sudah mulai turun, Dokter dan perawat sedang on duty ke kamar rawatnya, menggantikan perban serta memberikan obat yang di suntik.


Mama Anggi begitu perhatian dan telaten mengurus Lina, Andre merasakan Mama Anggi berusaha menjaga jarak antara Lina dan Andre.


“Lin........!” ucap Mama Anggi sambil menyuapi Lina sarapan pagi.


“Kalau kamu sudah diizinkan pulang dari rumah sakit. Mama minta kamu pulang ke rumah. Tidak usah kembali ke mansion lagi. Kembali ke tempat seharusnya kamu pulang!”


Andre merasa perutnya seolah-olah ditendang, lalu ia mengerutkan keningnya. Bukan ini yang kuinginkan ? Kenapa Lina harus pulang ! Tidak ....Lina harus pulang ke mansion bersamaku..........pikir Andre dalam hatinya.


Andre menyipitkan matanya dan menatap Lina dengan seksama mencari petunjuk.


Lina menghindari tatapan mata Andre “Iya Mah, Lina akan pulang ke rumah. Mungkin itu lebih baik!"


Andre tidak menginginkan Lina pindah dari mansion. Andre ingin Lina ada di tempat ia bisa melihatnya.


“Bu, bisakah Lina pulang ke mansion. Biar bisa saya merawatnya!” pinta Andre mendekati keberadaan mama Anggi dan Lina.


“Sebaiknya Lina pulang ke rumah saja nak Andre, biar ibu yang mengurusnya dan tenang melihatnya jika ada di sisi ibu. Lagi pula keberadaan Lina di mansion juga tidak tepat. Apalagi dengan kejadian ini, hubungan nak Andre dengan Istri jadi kurang harmonis!”


“Betul Pak Andre, sebaiknya saya tidak kembali ke mansion. Nanti untuk urusan Noah, biar sesekali saya mampir ke mansion. Tapi tidak untuk tinggal di sana!” sambung Lina.


Andre meraup wajahnya, tak terbaca arti tatapan matanya ke Lina. Andre menyadari bukan hak ìa menahan Lina untuk tinggal dengannya di mansion.


Tetapi ia sadar bahwa  perasaannya lebih menyenangkan saat tinggal bersama Lina.


“Hemmm !” gumam Andre tidak bisa menjawab lagi.


Mama Rani di temanin Papa Nugraha berkunjung ke kamar rawat Lina. Mama Rani melihat wajah muram Andre.


“Bagaimana keadaanmu Lin?" tanya Papa Nugraha.


“Masih suka terasa nyeri lukanya Pah. Tapi menurut Dokter kalau besok sudah agak membaik, bisa rawat jalan saja."


“Baguslah, bisa segera pulang...hanya rawat jalan !”ucap Papa Nugraha.


Rasa berkecamuk di hati Andre dengar kata-kata pulang “Lina akan pulang ke rumahnya Pah, tidak balik ke mansion kita!”


“Untuk saat ini mungkin lebih baik Lina istirahat di rumahnya,” ujar Mama Rani.


“Kalau Lina tidak pulang ke mansion, bagaimana dengan Noah Mah. Noah tidak bisa jauh dari Lina!” suara serak Andre terdengar agak meninggi, mencari alasan agar Lina tetap pulang ke mansionnya.


“Pak Andre sudah sebaiknya saya tidak tinggal di mansion lagi, istri Pak Andre sepertinya tidak nyaman saya tinggal di sana. Dengan kejadian ini buat pelajaran saya, Sita istri Pak Andre bisa seperti itu karena cemburu!” tegas Lina sambil mengenggam jemari tangan mama Anggi.

__ADS_1


Sita.......Sita.......Sita......Lina telah terluka tapi masih memikirkan orang lain. Andre sungguh tidak paham jalan pikirin Lina.


“Tapi Noah membutuhkan kamu !” pekik Andre sambil menarik rambutnya yang mulai kesal.


"Noah nanti kita akan pikirkan bersama!” ucap Mama Rani.


“Tidak semudah itu Mah........eergh!” pikiran Andre tiba-tiba blank.


BRAK !!


Dibanting pintu ketika Andre keluar.


Bukan Noah sebenarnya yang tidak ingin di tinggalkan oleh Lina, tapi Andre yang tidak ingin di tinggalkan oleh Lina, ia mulai terbiasa dengan kehadiran Lina.


Semua yang berada di kamar hening sejenak, ketika Andre membanting pintu ketika keluar.


“Maafkan anak saya Jeng Anggi, sepertinya sedikit emosi,” ucap Mama Rani.


“Iya Jeng Rani, nggak pa-pa."


“Mama Rani maaf jika saya ambil keputusan seperti ini, untuk Noah tetap saya akan turut merawatnya tanpa harus tinggal di mansion."


“Mama mengerti, nanti mama akan coba membujuk Andre menerima keputusanmu."


Lina kembali beristirahat karena obat nyerinya membuat ia mengantuk.


Melihat Lina tertidur, Mama Rani dan Papa Nugraha mengajak Mama Anggi  ke cafetaria yang berada di rumah sakit tersebut. Alhasil Lina ditinggal sendiri dan hanya dititipkan ke perawat kamar untuk sesekali mengeceknya. Sebelum meninggalkan Lina sendiri di kamarnya, Mama Anggi terasa berat meninggalkan sendiri.


.


.


Suasana kamar rawat Lina tampak sunyi, ia masih terlelap dalam tidurnya. Suara hentakan high heels pun tidak membuatnya ia terbangun dari mimpinya.


Wanita cantik itu menatap wajah lelap Lina dengan senyum smirknya. Dengan hati-hati ia menyuntikkan sesuatu melalui infusan.


“Selamat tidur panjang Lina!!” senyuman lebar terpancar dari wajahnya penuh dengan kepuasan. Ia segera meninggalkan kamar Lina.


Tak butuh waktu lama, dada Lina terasa sesak seperti tidak bisa bernapas. Tangannya berusaha mengusap-usap dadanya, tapi sesaknya semakin menjadi-jadi. Perutnya juga bergejolak, seperti mendorong sesuatu ingin keluar. Ia akhirnya memuntahkan isi perutnya, tapi ternyata darah segar.


“To----long........!” pekik Lina tapi tidak mampu berteriak kencang, sudut matanya sudah mengeluarkan air matanya.


“Sudah waktunya kah........!”batin Lina........sudah tak sanggup menahan sakitnya. Napas ia sudah tersenggal-senggal......dan lama – lama napasnya tidak terdengar. Senyap tidak ada suara di kamarnya.

__ADS_1


Sejam kemudian


TOK.........TOK........TOK


“Permisi Bu!” sahut salah satu perawat masuk ke kamar Lina.


“ Ya ampun.........Suster Mila cepat panggil dokter !” ujar salah satu perawat melihat keadaan Lina, ditambah di bagian mulut sudah keluar darah.


Diceknya napas, nadinya.........sang perawat tampak cemas.


Lorong menuju kamar rawat Lina tampak gaduh, Dokter dan perawat berlarian setelah mendapat tanda darurat.


Andre yang sekembalinya dari menenangkan diri, melihat dokter berlarian menuju kamar Lina.......jantungnya berdebar kencang. Ia ikut berlarian ke dalam kamar Lina.


“Pak tolong jangan masuk dulu, Pasien dalam keadaan darurat!” ujar perawat yang mencegah Andre untuk masuk ke ruangan.


“Ada apa dengan istri saya !” racau Andre panik, melihat dari jauh dada Lina sudah di pasang kabel untuk pengecekan jantung.


“Tolong suster, saya mau masuk lihat istri saya !” mohon Andre sambil mencoba masuk ke dalam.


Salah satu dokter keluar dari ruangan Lina “ Pak Andre, pasien akan kami pindahkan ke ICU!”


JEDER !!!


Seketika tubuh gagah Andre ambruk di depan pintu kamar Lina.


“Kenapa.........bisaaa !!” lirih Andre.


“Kami akan segera mengeceknya!”


Brankar telah datang ke kamar Lina, dipindahkannya tubuhnya untuk dibawa ke ruang ICU. Wajah Lina sudah seperti mayat hidup, pucat dan dingin terlihat di baju bagian leher ada noda darah yang masih segar.


Pria tampan ini sudah mulai terisak namun di tahannya, tapi tetes air mata sudah menerobosnya.


Mereka berpisah di depan ruang ICU, para perawat sudah memasang berbagai alat di tubuh Lina.


Beberapa dokter mulai memeriksa keadaan Lina.


Mama Rani, Papa Nugraha dan Mama Anggi dari kejauhan tampak berlari setelah mereka dapat kabar kalau Lina dalam keadaan kritis.


.


.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2