LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Figura Foto


__ADS_3

Andre segera ke ruang kerjanya, yang telah di tunggu oleh Faisal dan Mitha.


“Faisal, Mitha......saya hanya ingin memberitahukan kalian berdua bisa tinggal di sini, kamar kalian sudah di siapkan. Apalagi kalian berdua  di Jakarta tinggal ngekost di sana. Tinggal di sini bisa mempermudah kerja kalian!”


Hiks......hiks.... gue rasanya pengen nangis bisa ikutan tinggal di tempat mewah ini melebihi tempat kost-kost an gue yang sumpek........batin Mitha.


“Bagaimana ........kalian berminat?” tanya Andre sekali lagi.


“Saya berminat Pak Andre, kalau begitu saya izin balik ke kost an buat ambil barang.......boleh Pak?” ucap Mitha.


“Silahkan...” Andre mengizinkannya.


“Saya mau deh Pak Bos tinggal di sini, kalau di lihat tempatnya berasa kayak lagi liburan.”


“Bagus kalau begitu, kamu sudah tahukan kamarnya. Dan sekalian bilang ke pelayan untuk memusnahkan semua foto yang tadi kita rapikan!”


Tadi pagi Andre dan Faisal sudah datang duluan ke mansion ini, ketika masuk ke ruang utama sudah terpajang foto pernikahan dia bersama Sita. Dia minta para pelayan menurunkannya, lalu foto di ruang keluarga dan ruang kerjanya berlaku seperti itu. Tak ada rasa penyesalan menurunkan foto saat mereka bersama. Tapi tanpa disadarinya di kamar utama masih terpajang foto mereka.


“Oke Bos!”


Faisal dan Mitha kembali mengurus urusannya masing-masing.


Lina terlihat gelisah tidak bisa memejamkan matanya untuk meredakan sakit kepalanya, akhirnya diputuskannya dia untuk melihat sekeliling kamar, tempat dia berada.


“Widih mewah banget!” tutur Lina sendiri. Berkeliling ke ruang televisi, walk in closet, kamar mandinya. Dan yang terakhir balkon kamar, di bukanya pintu kaca yang menuju balkon.


“Masya Allah.......indah sekali,” matanya sungguh takjud melihat hamparan hijau, serta terlihatnya pegunungan dari kejauhan.


“Udaranya segar banget,” ucapnya sendiri. Cukup lama Lina memandang keindahan dari balkon, saking sejuknya udara dia memutuskan masuk kembali.


DEG


Saat masuk kembali, tanpa sengaja Dia melihat foto yang terpajang di atas ranjang. Dari tadi dia tidak menyadarinya terpajang foto mesra Andre dan Sita dengan pakaian nikahnya.


Entah kenapa hatinya terasa sedikit perih “Ini kamar mereka, seharusnya saya tidak di sini!” ucap dia sendiri.


Andre sudah berdiri dekat ranjang, tanpa Lina sadari dan mendengar ucapan Lina. Dipandangnya arah mata yang dituju Lina


Astaga......foto ini terlewatkan......batin Andre.


Sadar Andre sudah berada dikamarnya, Lina melangkahkan kakinya dan melewati keberadaan Andre.


“Mami mau kemana?” dicengkeramnya lengan Lina.


“Mau keluar, sepertinya Pak Andre salah memberitahu kamar untuk saya, seharusnya saya tidak di sini!”

__ADS_1


“Apa karena mami lihat foto ini, jadi ingin keluar?” tunjuk Andre ke figura foto dia bersama Sita.


“Iya, keberadaan foto ini menandakan siapa pemilik kamar ini sebenarnya!” ucap Lina sinis.


Andre melepaskan cengkramannya dan langsung menurunkan foto dia bersama Sita.


“Jadi gara-gara ini mami mau keluar dari kamar ini?” disodorkannya figuranya ke Lina.


“Iya !” tegas Lina. Dia kembali melangkahkan kakinya menuju pintu kamar.


PRANG !!!


Lina reflek menutup kupingnya dari suara bantingan yang terdengar kencang. Dia membalikkan badannya ke arah suara tersebut.


Kaca figura sudah pecah berhamburan di hadapan Andre. Wajah putihnya terlihat sedikit memerah karena menahan emosinya.


“Kenapa Pak Andre pecahkan figuranya?” tanya Lina sambil memungut pecahan kacanya.


Tangan Andre menghentikan tangan Lina yang masih memungut pecahan kacanya “Hentikan memungutnya, biar pelayan yang membersihkannya!”


Ucapan Andre diabaikan “jika tidak segera dipungut nanti akan ada yang terluka kena pecahan kaca ini!” Lina masih sibuk memungutnya. Tanpa dia sadari kakinya tidak menggunakan alas kaki, lantai sudah berlumuran darah sepertinya tusukan beling tidak dirasakannya.


“Mami stop jangan bergerak...!”pekik Andre melihat darah segar.


“Tolong.......siapapun panggil dokter segera!” teriak Andre sambil mengendong Lina yang sudah pingsan karena fobia akan darah.


Untung ada beberapa pelayan berada dekat kamar mereka, jadi segera menelepon dokter.


Lina di pindahkan ke kamar sebelah, darah segar masih keluar dari telapak kakinya. Andre tidak bisa melakukan apa-apa, takut pecahan kacanya semakin masuk ke dalam. Dia segera menghubungi dokter Ridwan.


“Tuan, dokternya sudah datang!” ucap pelayan mengantarkan dokter.


“Langsung diperiksa aja Dok!” titah Andre.


“Dan kamu segera bersihkan kamar saya secepatnya!” titah Andre ke pelayannya


“Baik Tuan.”


Dokter tersebut segera membersihkan luka di kaki Lina dan menghentikan pendarahannya. Lalu membungkus salah satu telapak kaki Lina dengan perban.


“Luka sobekannya lumayan besar, tapi tidak perlu di jahit. Nanti akan tertutup sendiri lukanya. Ini ada obat antibiotik dan obat demam, jika nanti ibu demam,” ujar dokter.


“Terima kasih dok!”


.

__ADS_1


.


1 Jam kamar Andre sudah bersih, Lina di angkat kembali ke kamar mereka. Dia tidak mau Lina berada di kamar yang lain walaupun tadi dia berada di kamar anaknya Noah.


Andre sengaja membawa Noah ke kamarnya di letakkannya Noah di samping Lina yang masih memejamkan matanya. “De......bangunin mami sana.....!” ucap Andre. Berhubung Noah sudah mulai belajar merangkak, dia merangkak pelan-pelan tapi pasti ke badan Lina. Di naiikinnya badan Lina sambil memainkan ludahnya.


“Mi.......mi......mi.....!” celoteh Noah, di gigitnya hidung Lina oleh Noah. Andre terlihat menahan ketawa melihat tingkah anaknya.


“Duh......!” Lina merasa kesakitan antara gigitan Noah atau ngerasaiin luka di kakinya atau di kepalanya.


“Aduh.......dede .......hidung mami kok basah semua,” ujar Lina sudah melek dari tidurnya atau pingsannya!


“Mi...mi...mi......da.. da....da!” celetuk Noah di semburnya lagi ludahnya ke pipi Lina.


Lina melihat ada Andre di sampingnya “Dad.......angkat dong dedenya, saya gak kuat angkatnya!”


Di angkatnya Noah dari atas tubuh Lina, dan didudukkan di ranjang.”Anak mami sudah pintar ya, muka mami habis sama semburan dede,” dicoelnya pipi Noah yang mulai tembem.


“Kalau nggak disembur Noah, mami pasti belum bangun!” celetuk Andre.


Lina melihat salah satu telapak kakinya di perban....Aaah ada luka baru......yang dikepala masih belum sembuh sekarang nambah di kaki.......batinnya berkata.


“Luka robeknya lumayan besar kata dokter, tapi bakal tertutup sendiri  lukanya,” ujar Andre.


“Mmmm.....,” gumam Lina.


“Mami jangan sekali-kali pindah kamar, ini kamar kita berdua!” tegas Andre.


“Ciiiihh.......kamar Pak Andre kali sama Sita!” jawab ketus Lina.


“Mami mau kemana?” Lina beranjak dari ranjang.


“Ke mana  aja sesuka hati saya dan itu bukan urusan Pak Andre!” agak pincang Lina berjalan.


“Sekarang kamu sudah jadi urusan saya, mau ke mana bilang aja........biar daddy antar!” Noah bergegas digendongnya dan menggenggam salah satu tangan Lina.


Lina menatap pria tampan dan baby tampan dihadapannya. Oh tuhan kenapa hidupku jadi harus tiap hari berhadapan dengannya!


.


.


bersambung


Terima kasih untuk para readers yang setia telah mensupport karya receh ini walau ceritanya tidak sehebat author senior 😊. Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Vote, Komen dan Hadiahnya 🌹🌹🌹.

__ADS_1


__ADS_2