
Tinggallah Lina sendiri, dengan kesibukan kerjaannya. Untuk kali ini dia benar-benar tidak bisa ikut menyambut kedatangan kepala cabang seperti biasanya. Dirinya harus merampung pekerjaan yang tertunda.
TOK..........TOK.........TOK
“Assalamualaikum....... Cah Ayu!” suara bariton pria terdengar dari depan pintu ruangan Lina.
Seorang pria dengan wajah tampan dan tak kalah kharismanya dengan Andre, mengulum senyum menatap wanitanya yang begitu di rindukannya.
“Walaikumsalam.....!” jawab Lina sambil mengangkat wajahnya.
DEG........DEG........DEG
Jantung Lina berdebar-debar melihat sang pria tampan semakin mendekat ke mejanya.
“Selamat pagi.........sayangku Lina!” setangkai bunga mawar putih di sodorkannya.
“Pa---pa—gi juga mas Wahyu!” terbata-bata Lina menjawab.
Antara kagok atau kaget dengan kehadiran Wahyu yang tiba-tiba sudah berada di ruangan, walau dia tahu hati ini pasti akan bertemu dengan Wahyu......tapi tidak secepat ini.
Wahyu meraih salah satu tangan Lina, dan mencium punggung tangannya.
“Sedang sibukkah?” tanya Wahyu sambil mendudukkan dirinya di bangku tepat di hadapan meja kerja Lina.
“Seperti yang Mas Wahyu lihat .......buat persiapan besok!” menunjukkan setumpuk berkas di meja kerjanya.
“Mas Wahyu sampai di Jakarta jam berapa tadi?”
“Sengaja saya naik pesawat penerbangan yang pertama dati Surabaya, biar cepat-cepat ketemu kamu. Saya rindu kamu!” Wahyu menatap wajah Lina penuh cinta.
Lina hanya bisa tersenyum tipis.
“Aaah.........mas Wahyu bisa aja, apakabar keluarganya mas?” Lina mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Baik kabarnya. Lina......nanti saya ingin mengatakan sesuatu sama kamu!”
“Sesuatu apa? Kenapa tidak sekarang aja. Lagi pula sama sajakan!” selidik Lina.
“Nanti saja......masih jam kerja.....bisa mengganggu kerja kamu!” Wahyu mengulum senyum.
“Baiklah terserah mas Wahyu aja!” dipaksa juga tidak mungkin. Lagi pula saat ini dirinya sedang fokus dengan kerjaannya.
🌹🌹
__ADS_1
“Besok sudah mulai rakercab kan?” tanya Papa Nugraha yang duluan tiba di kantor.
“Iya Pah besok rakercab tahunan!” jawab Andre yang turut duduk di sofa.
“Kemarin jadi ketemu Dina anaknya Pak Bagas!”
“Jadi semalam ketemunya Pah.......ini berkas yang di bawa Dina. Katanya proyek pembangunan kerja sama kita di Bandung tersendat Pah!” Andre menyodorkan berkas yang semalam di tinggal Dina.
Papa Nugraha terlihat mengerutkan dahinya dan menaikkan alisnya “Kamu sudah minta Lina cek laporan ini!” di lemparnya berkas tersebut ke atas meja.
“Semalam Lina sudah singgung kalau perusahaan kita sudah mengeluarkan beberapa trilyun, sedangkan perusahaan Barlian hanya beberapa milyar.”
“Perjanjian kerja sama kita 50-50, ini pasti ada kecurangan!” Papa Nugraha mulai mencurigakan perusahaan temannya.
“Nanti sebaiknya kita diskusikan dengan istri kamu, tentang kerja sama ini......ingat istri kamu salah satu pemilik perusahaan kita!”
“Baik Pah, kita bahas setelah rakercab selesai. Kasihan istri Andre kalau di kejar kerjaan terus, nanti kapan waktu buat Andre!” Andre merajuk ke papanya.
*rakercab : rapat kerja cabang.
“Ha......ha.......ha....anak papa bisa merajuk juga. Tapi sayangnya......kamu belum dapat hati istri kamu!” ejek Papa Nugraha, mengingat pertengkaran beberapa hari yang lalu.
“Tapi menurut Papa sebaiknya kita memutuskan untuk tidak kerjasama dengan perusahaan Barlian. Ini semua untuk kebaikan rumah tangga kamu dan Lina. Tapi tetap selidiki masalah uang proyek tersebut!”
“Andre juga bermaksud seperti itu, nanti saya suruh Faisal mengurus pemutusan kerjasamanya!”
“Papa setuju, sekalian umumkan jabatan Lina yang terbaru. Sudah lama tertunda. Dan satu lagi kamu tugaskan beberapa pengawal buat Lina, buat jaga-jaga!”
“Baik Pak........siap di laksanakan!”
Sebuah pernikahan kalau di restui oleh kedua orang tua, jalan terasa ringan walau banyak rintangan. Andre merasakannya setelah memperistri Lina, beda saat dia memperistri Sita. Mama dan Papa nya jarang berbicara lama dengannya, hanya sekedar say hello.
“Permisi Pak Bos......... jadi brifing dengan para kepala cabang sebelum mereka di antar ke hotel?” ujar Faisal yang baru saja masuk ruangan Andre.
“Jadi.....saya siap-siap dulu!” jawab Andre.
“Ya sudah Andre, kamu lanjutkan pekerjaannya. Papa di sini dulu sambil mengecek berkas yang lain!”
“Oh iya Ndre, siapin hati ya........istri kamu banyak fans nya kalau lagi rakercab begini, istrimu banyak yang ngincer. Apalagi sekarang banyak yang tidak tahu status Lina yang sudah menikah!” ledek Papa Nugraha.
“Baik Pah, kalau begitu Andre tinggal dulu!” pamit Andre meninggalkan Papa Nugraha, ucapan papa nya jadi pikiran buat dia.
🌹🌹
__ADS_1
“Mami.........” panggil Mitha dari pintu ruangan Lina yang masih terbuka.
“Masuk aja Mitha!” balas Lina.
“Eh......maaf mengganggu ada Pak Wahyu, sudah dari tadi sampai Pak?” basa basi Mitha, padahal dari luar juga kelihatan siapa yang berada di ruangan Lina karena gorden di ruangan terbuka.
“Iya Mitha.....” jawab Wahyu
Gak ke bayang kalau suami si mami, lihat istrinya berduaan.......!
“Ada apa Mitha?” tanya Lina.
“OOH ............hampir lupa tuh......sebentar lagi brifing dengan kepala cabang. Pak Wahyu juga harus ikut bergabung di ruang pertemuan.”
“Terima kasih infonya Mitha..........yuk Lin........kita bareng ke ruang pertemuan!” ucap Wahyu.
“Sebentar saya save data dulu di laptop.”
Wahyu dan Mitha sabar menunggu Lina merapikan pekerjaannya.
“Sayang..........kamu kok makin cantik!” baru kali ini Wahyu melihat Lina menggunakan dress kerja, tubuh mungilnya terlihat sexy. Dan Wahyu baru engeh saat Lina beranjak dari duduknya di balik meja kerja.
DEG
Tanpa permisi Wahyu meraih pinggang Lina dan memeluknya dengan erat. Sekejap Mitha melongo lihat adegan di depan matanya.
Hati Mitha mulai deg deg degan alamak kenapa bisa begini.........please mami lepasin pelukannya.
Tidak bisa di pungkiri sesaat hati Lina terhanyut dalam pelukan Wahyu. Namun dia tidak membalas pelukan Wahyu.
Memeluk seseorang dengan suhu tubuh yang hangat dapat menyampaikan perasaan lebih baik daripada beratus kata aku merindukanmu, aku sungguh amat merindukanmu, maafkan aku.
“Ehmmm......mas Wahyu gak enak di lihat Mitha sama yang lainnya!” tegur Lina. “Maaf.....aku terlalu merindukanmu!” Wahyu mengurai pelukannya.
“Ingat Mas Wahyu, kita tidak ada hubungan apa-apa. Semuanya hanya masa lalu!” ucap Lina pelan, cukup Wahyu yang mendengarnya.
Sebentar lagi bukan hanya masa lalu, tapi akan menjadi masa depan kita berdua....batin Wahyu.
“Ayuk Mitha!” ajak Lina menuju ruang pertemuan. Lina berusaha menenangkan hatinya sendiri ketika menerima tatapan hangat dari Wahyu.
Mitha dan Wahyu jalan beriringan dengan Lina menuju lantai 5 ke ruang pertemuan.
🌹🌹
__ADS_1
Andre memicingkan kedua matanya melihat pemandangan yang tidak terlalu jauh dari hadapannya. Sosok wanita mungil dengan rambut panjang curly berwarna coklat di gerainya, di tambah dengan dress kerjanya terlihat lekat di pinggang, bikin mengundang perhatian mata kaum adam.
Faisal yang berjalan di samping Andre, sesekali melirik Bosnya. Faisal tahu wanita yang jaraknya tidak jauh dari mereka adalah istri bosnya.