LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Baby Sitter Baru


__ADS_3

 


Andre masuk ke ruang kerja, ada Papa Nugraha di sana juga rupanya.


“Bagaimana Lina, baik-baik saja?” tanya Pak Nugraha.


“Kurang baik Pah ....” Andre mendudukkan dirinya di hadapan Papa Nugraha.


“Kenapa mertuamu mulutnya kasar, atau memang seperti itu!”


“Entahlah Pah, saya juga baru tahu seperti itu."


.


“Mereka tadi ke kantor ada keperluan apa?” tanya Papa Nugraha.


Andre menceritakan semua kejadian tadi pagi kepada Papanya.


“Kamu yakin akan menghentikan uang bulanan buat mertuamu. Tidak takut jika Sita marah atau gambek denganmu?”


“Untuk apa saya takut dengan Sita!”


“Benarkah! Papa yakin setelah Sita menggodamu di ranjang.......kamu akan tergila-gila lagi dengannya!” ejek Papa Nugraha.


Sepintas Andre berpikir, karena dia memang tidak tahan jika di goda istrinya Sita yang tampak molek.


Sepertinya Papa akan  mengenalkan ke sepupu kamu Afian, siapa tahu mereka berjodoh. Kasihan Lina dikatai wanita penggoda oleh mertuamu."


“Saya tidak setuju Pah, jangan pernah mencoba menjodohkan Lina kepada siapa pun!” jawab Andre sedikit marah.


“Kenapa tidak setuju, tidak ada salahnya Andre, Lina belum menikah. Dan ingat kata mertuamu tadi mereka tidak mau rumah tangga kalian hancur gara-gara Lina. Lebih baik Papa menyelamatkan Lina dengan menjodohkannya."


Andre menyugar rambutnya, kalau papanya punya niatan biasanya akan segera terlaksana dan untuk kali ini Andre tidak mau itu terwujud.


“Pah, Andre mohon jangan jodohkan Lina kepada siapa pun. Andre suka dengan Lina,” ujar Andre pelan.


Ide Papa Nugraha berhasil juga, isi hati Andre terhadap Lina terucapkan juga setelah melihat sikap Andre selama beberapa hari ini.


“Jadi karena kamu suka dengan Lina, kamu berniat mau poligami walau belum terucapkan? Papa tidak akan pernah menyetujui kamu menikahi Lina jika punya niat seperti itu!” tegas Papa Nugraha.


“Dan Lina pasti tidak akan menyetujui jadi istri ke dua. Jika dia setuju sudah dari tahun lalu menikah menjadi istri kedua Wahyu. Sebaiknya kamu lupakan Lina, bimbinglah istri kamu menjadi lebih baik."


“Pah.......Andre benar- benar menyukai Lina!” ditepuk-tepuk dadanya sendiri, terasa nyeri di hati.


“Andre, Papa tidak mencampuri urusan rumah tanggamu. Tanyakan pada hati kecilmu apa maumu , jangan serakah mau kedua-duanya. Papa sudah menganggap Lina seperti anak sendiri, hatinya sensitif. Kalau Dia tahu kamu menyukainya, Dia akan menjauh karena kamu sudah punya istri. Papa hanya ingin kamu punya istri yang membuatmu dan anakmu bahagia, nyaman serta sayang hormat kepada Papa Mama dan orangtuanya. Ingat kamu hanya menyukainya bukan mencintainya. Rasa sukamu lama-lama akan berkurang juga. Sebaiknya lupakan saja Lina!"

__ADS_1


Andre mengepalkan kedua tangannya, pikirannya jadi rancu akibat perkataan papanya. Apa benar dia hanya suka saja, yang lama-lama rasa sukanya akan pudar.


“Pah........mohon beri saya waktu untuk memastikan hati sendiri!" pinta Andre.


"Papa tidak janji, setelah mendengar kata-kata mertuamu. Oh iya....... Papa minta minggu depan acara pengangkatan Lina segera dilaksanakan. Dan kamu perlu ketahui Papa dan Mama ada rencana akan memberikan saham perusahaan ke Lina sebesar 20% , sebagai hadiah menjadi mami angkat Noah tapi papa harap jangan disebarkan dulu."


“Saya ikut keputusan papa dan terima kasih atas hadiahnya buat Lina."


“Dan Lina menjadi salah satu pemilik perusahaan Nugraha, papa berharap kamu berdua bisa mengembangkan perusahaan papa!”


“Insya Allah Pah."


 


**


 


Malam ini semua keluarga Nugraha berkumpul di ruang makan. Lina sedikit berbeda agak sedikit pendiam tidak banyak terlalu bicara. Andre sesekali melirik dia ketika menyiapkan makan untuknya, tidak ada pertanyaan “ingin makan pakai apa?” seperti tadi siang.


“Mami, daddy mau ikannya,” pinta Andre sambil menunjuk piring yang berisi ikan gurame.


Tanpa bicara Lina memberikan piring tersebut ke Andre.


GUBRAK !!!!


Wanita cantik melangkahkan kaki dengan high heelsnya penuh percaya diri.


“Sayang.......!!" Panggil wanita tersebut dengan tertolak pinggang.


Mereka yang berada di ruang makan sesaat menghentikan makannya, pandangannya menuju suara tersebut.


“Mmmm....,” gumam Mama Rani.


Lina kembali melanjutkan makannya setelah tahu siapa yang datang.


“Sayang......Mas benar-benar tidak menyambut kedatanganku,” ucap Sita agak kesal. Akhirnya dia duduk di bangku meja makan yang kosong.


“Sita.......tidak bisakah kamu mengucapkan salam saat masuk rumah!” tegur Mama Rani.


“Sudah Mah tadi di luar, dan sepertinya tidak ada yang menjawab."


Sita memandang Lina yang ada di meja makan.


“Sedang ada tamu ya Mah?” tanya Sita pura-pura bertanya.

__ADS_1


“Oh ... Lina, bukan tamu tapi tinggal di sini bersama kami,” ujar Papa Nugraha.


“Papa tambah baby sitter yang baru?” tanya Sita sambil turut makan malam bersama.


“Cih........!” desis Mama Rani.


“Sayang, kenapa tidak kasih tahu aku dulu kalau kamu mau tambah baby sitter buat anak kita. Aku kan mommynya harus tahu juga. Bukannya cukup Tini saja yang jadi baby sister anak kita,” ujar Sita.


“Sita , Kita sedang berada di meja makan, selesaikan makanannya baru kita bicara!” tegur Andre.


Sita sedikit tersentak saat Andre menegurnya dengan nada sedikit tinggi. Selama ini Andre tidak pernah berbicara dengan nada tinggi dengannya.


Lina segera menghabiskan makan malamnya, dan Mama Rani mengajak Lina serta Noah bersantai di ruang keluarga.


Andre dan Papa Nugraha menyusul mereka ke ruang keluarga. Tinggal Sita yang sedang menyelesaikan makan malamnya.


.


.


Ruang keluarga penuh dengan suara celotehan Noah yang ditanggapi oleh oma opanya.


Sita mendudukkan dirinya di sofa di samping Andre duduk. Bergabungnya Sita dengan mereka, sesaat suasana hening.


“Ternyata kamu ingat pulang juga ya!” tegur Andre membuka pembicaraan mereka.


“Sayang, jahat ... semua kartuku tidak bisa di pakai. Aku minta bapak kasih tahu kamu untuk jemput di Bali, katanya tidak bisa!” jawab Sita sedikit cemberut.


“Tapi kamu bisa pulang juga nyatanya,” ujar Andre.


“Sayang nanti gantikan uang temanku ya 45 juta, aku pinjam uangnya ... makanya bisa balik ke mansion,” rayu Sita sambil merangkul lengan Andre.


Mama Rani dan Papa Nugraha hanya mendengarkan pembicaraan mereka tanpa ingin ikut campur. Ingin lihat sikap Andre ke istrinya.


“Kamu memang benar-benar keterlaluan, anak sakit sampai di rawat di rumah sakit tega tidak mengurusnya dan tidak khawatir!” tegur Andre.


“Loh kok Sayang tidak kasih kabar ke aku, kalau anak kita sakit,” jawab Sita dengan santainya, tidak terkejut saat dibilang anaknya di rawat.


“Oh harus saya kasih kabar ke kamu! sedangkan kamu pergi ke bali dengan temanmu tanpa mengabari terlebih dahulu!" tegur Andre kesekian kali dengan nada tinggi.


Andre melepaskan rangkulan Sita di lengannya saat Lina sesaat melihat ke arahnya seperti kepergok istri, sedang berduaan dengan wanita lain.


Sita agak canggung dengan teguran Andre apalagi kondisi di sana ada mertuanya.


.

__ADS_1


.


bersambung


__ADS_2