LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Kalau waktu bisa di putar


__ADS_3

Setelah beberapa jam tidur, Lina mengerjapkan matanya. Di lihat ada seorang perawat dan dokter di sisi ranjangnya.


“Bu Lina.....” sapa Dokter Rizka, ketika Lina telah membuka matanya.


“Ada yang di inginkan, mungkin haus atau lapar?” tawar Dokter Rizka, mulai mengajak untuk konselingnya.


“Haus.... “ jawab pelannya.


Perawat bergegas mengambilkan gelas yang berisikan air, dan membantu Lina untuk minum.


“Mau makankah?” tawar Dokter Rizka.


Lina menunjukkan roti yang dia lihat di meja.


“Roti...”ucap Dokter Rizka.


“Mmmmmmm....,” gumamnya sambil menganggukkan kepalanya.


“Makanlah...” Dokter Rizka memberikan roti yang di minta.


Dokter Rizka selalu mengamati bahasa tubuh dan mimik wajah Lina, serta membuka komunikasi yang ringan kepada pasiennya.


Mitha dan Susi kebetulan sedang makan siang di luar, jadi sangat memudahkan Dokter Rizka mendekati Lina.


Lina mengunyah rotinya sedikit lama seperti makan makanan yang bertekstur keras, padahal roti yang di makannya sangat lembut dan tidak membutuhkan waktu lama untuk mengunyah.


Sambil makan roti, ingatan Lina masih tergiang....ketika guntingnya menancap di bahu Andre.


“Apa dia terluka.......!” tanyanya pelan.


“Siapa yang terluka?” pura-pura Dokter Rizka tidak tahu.


“Pak Andre....!”


“Ohh.....Pak Andre sedang di operasi, entah sudah selesai atau belumnya,” jawab Dokter Rizka.


Dihentikannya makan rotinya...”apakah saya akan di penjara?” tanya Lina pelan, matanya kembali berkaca-kaca, mengingat dia telah melukai orang lain.


“Bu Lina, tenang ya.....tidak akan di penjara, itu terjadi karena hal yang tidak di sengaja," diraihnya salah satu tangan Lina, di genggamnya agar emosinya tidak meledak ledak.


“Tapi sa---saya sudah melukainya Dok!” tutur Lina agak menahan rasa tangisnya.


“Menangislah......jangan di tahan. Nanti dada bu Lina akan terasa sesak!” tutur lembut Dokter Rizka. Akan lebih baik menumpahkan beban yang ada dihati pasien, dengan cara menangis. Ketimbang harus menahan perasaan.


Menangis bukan karena cengeng, tapi justru salah satu cara mengungkapkan isi hati, baik dalam keadaan senang atau sedih.


Mendengar ucapan Dokter Rizka, tangisan yang di tahan akhirnya keluar juga. Dokter Rizka membiarkan Lina menangis sejadi-jadinya dalam beberapa waktu, dia hanya mengelus tangan Lina yang tidak ada infusnya.

__ADS_1


Lama-lama tangisan Lina terlihat reda, perawat membantu mengusap air mata dipipinya. Terlihat sembab kedua kelopak matanya.


Menangis sebenarnya tidak menyelesaikan masalah, tapi menangis bisa membuat hati sedikit lega.


“Sudah legakah?” tanya Dokter Rizka.


Hanya anggukan kepala sebagai jawaban dari Lina.


“Mau berbagi masalah dengan saya, mungkin yang menganjal yang di hati?” tawarnya.


Lina diam seperti sedang berpikir, dipandangnya pergelangan tangan dia yang diperban.


Sungguh bodohnya diri dia melukai dirinya sendiri, kena setan apa sampai khilaf !!


“Bu Lina, benci dengan seseorangkah?” pancing Dokter Rizka agar Lina mau bercerita.


“ Ya saya membencinya, saya tidak suka dengan kelakuannya,” terpancing juga Lina untuk bicara.


“Kelakuan seperti apa?”


“Dia menikahiku, saat dia masih punya istri. Sama saja dia membuatku seperti pel*akor. Dia menikahi saya saat masih koma, dan mamaku mendukungnya. Kenapa mereka tega menutupi semuanya dari saya selama ini, sungguh rasa di hati ini mendidih!”


Kalau boleh hati berkata jujur, dia pun sudah seperti pel*akor jika tetap melanjuti hubungannya dengan Wahyu, yang terang-terangan sudah beberapa kali melamarnya. Namun ternyata predikat tersebut benar-benar ada dirinya, tanpa sebuah lamaran......Bosnya justru menikahinya.


“Jadi Bu Lina sampai menyayat pisau ke pergelangan tangan karena shock, mengetahui telah menikah dengan suami yang masih punya istri. Begitukah?” Dokter Rizka dengan nada lembut, mempertegas hal yang mendorong si pasien mengambil langkah yang merugikan diri sendiri.


“Bu Lina tidak menyukai Dia?” sengaja Dokter Rizka membahasakan Andre’Dia, demi menghargai perasaan pasiennya. Kecuali si pasien menyebut nama.


“Entahlah......!”


“Dinikahi saat bu Lina koma, mungkin ini salah satu bagian takdir buat bu Lina. Sudah garis jalan yang harus di lewati, kalau saya pikir Bu Lina bisa bangun dari koma dan sembuh bisa jadi akibat Dia menikahi ibu saat itu. Kalau tidak ada pernikahan bisa jadi ibu Lina tidak ada di sini!”


Ucapan Dokter Rizka sedikit membuat Lina menerawang saat koma,  ia merasa bertemu dengan almarhum papanya dan bilang kalau suaminya menjemputnya, tapi wajahnya tidak terlihat. Andre kah itu!


“Untung Bu Lina selamat, dan masih bernapas sampai hari ini. Bu Lina tahukah kalau Dia sudah 2 kali mendonorkan darahnya buat Bu Lina. Darah Dia ada ditubuh bu Lina!” Dokter Rizka mengelus lengan Lina, untuk menandai maksud dari kata-katanya.


Seketika perasaan Lina gamang “Pak Andre...kah...?”


“Ya....!”


Selama ini dia memang tidak tahu kalau saat punggungnya terluka, membutuhkan transfusi darah, di tambah lagi kejadian kemaren.


“Baiklah, sekarang Bu Lina makan dulu karena masih ada obat yang harus di minum. Saya tinggal dulu, nanti saya kembali lagi!”


“Mmmm....,”


Perawat mengambil alih untuk merawat Lina, kali ini perawat membantu menyuapinya makan.

__ADS_1


Mitha dan Susi sudah datang kembali ke kamar rawat inap Lina. Mereka berdua sengaja tidak bersuara, melihat Lina sedang makan.


Selepas perawat selesai menyuapi makan dan memberikan obat, baru Mitha dan Susi menghampiri Lina.


Mitha dan Susi menatap sendu sohibnya. Tak kuasa Lina merentangkan kedua tangannya. Mereka bertiga berpelukan.


“Jangan berbuat hal yang konyol lagi.........hiks......hiks!” tutur Mitha dalam pelukan.


“Kita takut benar-benar kehilangan loe......lebih baik loe marah-marah.......hiks....hiks..!” sahut Susi.


Lina menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum tipis.


“Sekarang mami istirahat dulu, kami berdua akan temani mami di sini!” ucap Mitha yang melihat mata sohibnya sudah mulai sayu, efek dari obat penenang membuat dia ingin tidur.


Lina kembali membaringkan tubuhnya. Tanpa menunggu waktu lama, dia kembali terlelap.


Mama Anggi dan Mama Rani mengunjungi kamar Lina, setelah tadi Dokter Rizka bertemu mereka berdua menjelaskan keadaan mental Lina.


“Habis minum obat, Lina langsung tidur.....Bu,” ujar Mitha.


“Maafkan mama nak, ini salah mama nak,” tutur Mama Anggi sambil mengelus pucuk kepala anaknya.


Mama Anggi turut menemani Lina, sedangkan Mama Rani kembali ke kamar Andre.


🌹🌹


1 Jam berlalu........


Lina mengerjap kedua matanya, di lihatnya mama Anggi duduk di samping ranjangnya.


“Lina.......,” sapa Mama Anggi melihat anaknya sudah bangun.


“Butuh sesuatu......?” tanyanya.


“Nggak......"


Mama Anggi menatap sendu anaknya “maafkan mama Lin...!” sadar jika ini semua kesalahan dirinya.


Kalau waktu bisa diputar, ingin kembali saat anaknya berbaring koma “maafkan mama membiarkan Andre menikahimu saat kamu terbaring koma!’


Lina menatap wajah ibunya sudah terlihat tua begitu butuh penyesalan “kenapa mama merahasiakannya?” tanyanya dengan suara pelan.


“Mama sering nasihat ke kamu, jangan sampai jadi pela*kor. Tapi nyata mama mengizinkan Andre menikahi kamu saat dia berstatus suami orang. Kamu pasti akan benci dengan mama, kalau sampai kamu tahu, makanya mama minta semuanya merahasiakan!”


“Lina tidak membenci mama, tapi Lina tidak suka dengan keputusan mama. Kenapa mama sampai menyetujui dia menikahi Lina kalau mama tidak ingin anaknya di sebut pela*kor ? Hingga merahasiakannya dari Lina. Pantas saja mama tidak menentang dia tidur sekamar di mansion, pantas saja ada cincin di jari manis Lina!” tuturnya sedikit kesal.


"HAAH....!" hela napas dalam dalam, hatinya kembali bergejolak.

__ADS_1


“Andaikan Lina tahu dari awal mah!” rasa sesalnya masih bergelut di hatinya.


__ADS_2