LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Curhatan Lina


__ADS_3

Lina menatap Andre dengan sendu tanpa berkata, mengingat kejadian tadi.


“Mah ...,” panggil Lina. Mama Anggi menghampirinya.


“Ya sayang ... .ini Mama, kamu mau apa?”


“Mah ... hiks ... hiksss ... sakit mah,” tangis Lina pecah tak terbendung.


“Apa yang sakit nak ...?” Mama Anggi mencoba menenangkan Lina.


“Mami ... Mami ... apa yang dirasa!” panik Andre.


Lina semakin menangis kencang, berteriak penuh histeris, ”pergi kamu!!” salah satu telunjuknya menunjuk ke arah Andre.


“PE---PERGI KAMU JAUH-JAUH ... hiks ... hiks!” tunjuknya lagi ke Andre. Tanpa mendengar teriakan Lina, Andre memeluk istrinya “sayang ... sayang ... tenang sayang ...bkepala mami masih sakit!” bujuk Andre.


“Pergi kamu jauh-jauh, saya gak suka ... hiks ... hikss!” dipukul-pukulnya punggung Andre dengan sekuat tenaga oleh Lina.


“Jangan dekat denganku ... Sita akan membunuhku ... hiks ... hiks!” tangisannya masih belum reda. Andre semakin dalam memeluk Lina.


“Saya akan melindungimu ... sayang!” Andre berusaha menenanginya. Dalam tangisannya Lina merasa kepalanya terasa nyeri dan perutnya mual ingin muntah tiba-tiba.


“Huek ... huek ...huek,” muntahan Lina meluncurlah ke baju Andre, bagian depan belakang, selimut terkena muntahannya.


Andre bersikap tenang dan tidak jijian, menerima muntahan istrinya. Justru disekanya bibir Lina bekas muntahan dengan tissu yang diberikan oleh Mama Anggi.


Dia membuka bajunya di depan Lina hingga terlihat dada roti sobeknya, lalu membuka selimut yang sudah kena muntahan. “Mitha panggil Dokter, dan sekalian minta petugas membersihkan ini semua.


Lina masih tersedu-sedu setelah muntah, hanya bisa melihat yang Andre lakukan.


Dengan sigap Andre mengambil daster Lina dan baju dia dari lemari, lalu mengangkat Lina dari ranjang ke kamar mandi.


“Mami ... diam dan jangan banyak bicara!” pinta Andre lembut.


Dibasuhnya mulai dari wajah, leher Lina dan Andre menurunkan resleting dress yang Lina kenakan.


“Hiks ... hiks!” tangisan mulai keluar kembali dari bibir Lina.


“Daddy hanya menggantikan baju mami saja, ini sudah kena muntahan,” ucap Andre lembut.


Tangan Lina memegang lengan Andre, yang mulai menurunkan dressnya.


Lina menatap Andre, tanda tidak setujui apa yang akan dilakukan Andre. Sungguh Andre tidak peduli, diturunkannya dress Lina, terlihat sudah tubuh putih Lina hanya memakai bra dan cd berwarna hitam semakin mempesona.


 Andre berusaha bersikap wajar, saat melap dada di atasiatas gunung kembarnya yang terlihat menggoda.


Jantung Lina berdebar kencang, tubuhnya telah dilihat oleh pria untuk pertama kaIinya. Buru buru Andre segera memakaikan daster ke Lina, dan segera mengangkat Lina ke ranjangnya.

__ADS_1


Dokter dan perawat sudah menunggu Lina saat di kamar mandi, jadi Andre bisa mengatur napasnya kembali yang berdetak kencang setelah melihat anugerah terindah.


“Pak Andre, hasil dari CT scan Bu Lina, kepalanya mengalami benturan hebat jadi untuk beberapa waktu akan mengalami sakit kepala dan mual. Untuk saat ini pasien jangan sampai stres dan tertekan untuk mempercepat proses penyembuhan,” ujar Dokter Ridwan.


“Berikan obat yang terbaik Dokter!”


“Pasti Pak Andre.”


...----------------...


Andre kembali duduk di samping ranjang Lina, Lina membuang mukanya saat Andre menatapnya.


“Mami, akan cepat sembuh. Jangan usir daddy. Daddy akan melindungi mami selamanya,” dikecupnya tangan Lina.


Lina masih membisu ...


“Lina, jangan banyak pikiran dan khawatir ... Sita sudah dilaporkan ke pihak berwajib," ucap Papa Nugraha mendekati ranjang Lina.


“Benarkah....  Pah?”


“Iya...”


“Pah, kalau di laporkan ke polisi, saya takut Sita akan balas dendam ... hiks ... hiks..!” kembali terisak.


“Mami ...tenang.” Ditariknya pelan-pelan tubuh Lina ke pelukan Andre.


“Saya takut Dad ... hiks ... hiks!” ujarnya dalam pelukan Andre.


“Sabar ya Ndre/" Papa Nugraha menepuk bahu Andre, dengan senyum gelinya. Melihat Andre menenangi istrinya.


Tanpa disadari Lina, dia sudah terbiasa dipeluk Andre, dan terkadang nyaman dipeluk lama olehnya, rasanya seperti pelukan papanya sendiri yang telah lama tidak dirasakannya.


Buat Andre memeluk Lina, candu buatnya. Sehari tidak memeluknya seperti ada yang hilang di dirinya. Selama dia dengan Sita tidak pernah seperti ini.


Isak tangis Lina terdengar mulai reda, di tengoknya wajah Lina ternyata terlelap tidur dalam pelukannya, di rebahnya Lina di ranjangnya.


Kamar rawat Lina tampak hening, Mama Anggi dan Mama Rani pergi ke cafetaria, sedangkan Mitha kembali ke hotel milik Andre untuk beristirahat. Tinggal Andre sendiri menemani Lina.


Malam sudah datang, Andre terlihat segar setelah membersihkan dirinya, makan malam pun sudah tersedia di meja makan tapi belum disentuhnya.


“Mami, bangun dulu yuk!” Dielus pelan-pelan pipi Lina sama Andre.


Mata Lina mengerjap-ngerjap merasakan pipinya tersentuh.


“Makan dulu ya, biar bisa minum obat lagi,” ajak Andre, coba membantu Lina bersandar di kepala ranjangnya.


Dengan telaten Andre menyuapi Lina sampai tandas, tanpa ada penolakan dari Lina. Lalu memberikan obat yang harus diminum.

__ADS_1


Setelah selesai menyuapi Lina, Andre menyantap makanannya di samping Lina.


Kenapa Bos perhatian banget sama gue, dan kenapa mama tidak ada komentar sama sekali saat bos terlalu dekat sama gue !!


Dan Dia sudah melihat tubuhku ... oh maafkan yang menjadi suamiku ... hiks ... hiks.


Lina masih betah memandang Andre yang menyantap makannya.


“Daddy memang ganteng, ngelihatnya jangan begitu!” tegur Andre yang tahu Lina sedang menatapnya.


“Iih daddy ge-er, siapa yang ngelihatin daddy!” elak Lina pelan sambil buang muka.


“Mami begitu aja udah marah!” Diletakkannya piring bekas makannya, dan meminum air di gelasnya.


Sepertinya sekarang waktunya gue bicara!


“Dad ...,” panggil Lina.


“Ya," Andre kembali duduk di tepi ranjang.


“Saya ingin membicarakan sesuatu!” ditundukkannya kepalanya memikirkan kata apa yang harus di ucapkan.


“Mau bicarakan apa?”


“Sebelumnya saya minta maaf jika menyinggung hati Daddy!” Lina mencoba mengatur napasnya.


“Daddy kan sudah menikah dan mempunyai istri, tidak sepantasnya perhatian dengan wanita lain. Maaf bukannya saya ge-er tapi daddy begitu perhatian dengan saya mungkin karena daddy adalah atasan saya! Dan saya juga salah tidak menjaga jarak dengan Pak Andre!”


“Wajar jika istri yang mencintai suaminya terbakar cemburu, walau kita berdua tidak ada hubungan apa-apa! Saya sadar sekarang menerima karmanya, luka sudah saya dapatkan!” air mata mulai membasahi pipinya.


“Mami ... !”


“Jangan dipotong dulu pembicaraan saya! Saya sekarang hanya ingin kembali seperti biasa. Lina staf finance, cukup bekerja tanpa dekat dengan Pak Andre. Dan Pak Andre juga kembali harmonis dengan Sita seperti gosip awal yang pernah saya dengar.”


Andre masih sabar mendengar curhatan Lina, menatap tanpa putus.


“Bisakan kita kembali seperti awal kita kenal, tidak seperti sekarang Pak Andre  yang suka memeluk, sembarangan mencium pipi, menggenggam tangan saya dan tidur seranjang! Saya tidak mau karma terjadi saat saya sudah menikah, punya suami yang tiba-tiba perhatian dengan wanita lain. Pasti sakit rasanya, itu yang di rasakan istri Pak Andre!”


Lina mengusap air matanya yang telah membasahi pipinya, matanya menatap nanar ke mata Andre.


“Sudah curhatnya?” tanya Andre dingin.


“Belum ...!”


“Pak Andre, saya minta cabut laporan tentang kejadian yang menimpa saya, kasihan Sita sedang hamil.”


.

__ADS_1


.


bersambung


__ADS_2