LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Adek...oh....Adek


__ADS_3

Dengan senyum manisnya Lina membawa secangkir kopi untuk Andre di taruhnya di nakas dekat ranjang. Andre memalingkan wajahnya, yang tampak kesal dengan istrinya.


“Dad, saya buatkan kopi!” ujar Lina, dia duduk di tepi ranjang....dekat Andre yang sedang setengah berbaring.


“Dad....!” panggil Lina merasa di acuhkan Andre. Lina memberanikan lebih dekat lagi ke Andre.


“Maafkan saya tadi ya!” bisik Lina ke telinga Andre. Tangan Lina mulai merangkul ke bagian pinggang depan Andre.


“Daddy maukan maafin mami kan?” Lina kembali berbisik ditelinga Andre, entah kena angin apa Lina mengecup telinga Andre.......mengusap pipinya......dan mengecup lembut.


Andre terkesima dengan ulah istrinya tiba-tiba.


“Mami.....tahu adek daddy tidak bisa berdiri lagi?” akhirnya Andre buka suara.


“Aaah yang benar?” tidak terpikirkannya akibat tendangan siku lututnya, bisa membuat bagian intim Andre tidak bisa berdiri lagi.


Andre menganggukkan kepalanya, biar Lina merasa bersalah. “Tapi bisa diobatkan kan?” rasa cemas mulai melanda.


“Entahlah......!”


Tampak ragu-ragu karena merasa bersalah, Lina menyentuh juniornya Andre. Pelan-pelan......dirabanya. Matanya menatap wajah Andre.


“AWWW......!” pekik Andre merasa adeknya dire mas re maas kuat.


“Makanya jangan nakal, nanti saya sunat adek daddy. Baru tahu rasa!” dengan senyum jahatnya.


Lalu Lina meninggalkan mereka bertiga.


Fasial dan Kevin tertawa pelan, melihat Lina memencet adek Andre yang masih bengkak.


“Wah.....Andre.....gue baru tahu si Lina bisa jahil juga ya........tapi kok jadi kepengen gue di godaiin kayak tadi. Duh hidup gue pasti berwarna banget!” ujar Kevin.


“Enak aja, Lina istri gue......awas jangan coba-coba. Tapi Vin, tadi pas Lina pegang, gue ngerasa langsung tegang!”


“Syukurlah, berarti istri loe bisa bangunin adek loe,” jawab Kevin.


Andre tersenyum lega, hal buruk yang dibayangkan tidak terjadi. Di ambilnya cangkir kopi yang dibawa istrinya, disesapnya sambil tersenyum nakal mengingat tingkah istrinya.


Beberapa jam berlalu, Andre masih berada di kamar tamu lantai satu, terpaksa bekerja dari sana. Kevin sudah kembali bertugas di rumah sakit.


Bukannya tidak mau pindah ruangan, tapi benda pusakanya berasa ngilu kalau dibawa jalan.


TOK.......TOK......TOK


“Masuk!” sahut Andre dari dalam.


Lina masuk bersama pelayan yang membawa nampan.

__ADS_1


“Taruh di meja saja mbak Ria, terima kasih ya,” ujar Lina ramah.


“Sama-sama Nyonya.”


Lina menghampiri Andre yang terlihat sibuk dengan laptopnya di atas ranjang.


“Daddy, makan siang dulu ya!” ujar Lina. Andre tidak menjawabnya, malah pura-pura fokus dengan laptopnya.


Walau belum ada rasa cinta dengan Andre, dia masih menghargai Andre yang telah berbuat baik dengannya. Bukan karena dia sebagai istri bohongannya, jadi mengurus segala keperluaan si Bos.


Lina mengambil piring tadi yang di bawa pelayan.


“Dad, makan dulu ya.......biar tidak cepat sakit!” rayu Lina. Tapi tetap dia didiamkan.


Tidak dapat jawaban juga, di letakkannya piring di ranjang. Di pegangnya dagu Andre “Kalau Daddy mau makan nanti mami kasih hadiah...!” Lina tersenyum manis. Dia tahu Andre sedang marah dengannya, dan secara naluri dia menyadari Andre sudah banyak berbuat baik selama dia sakit.


 “Aaaa...........!” Lina menyodorkan sendok makan ke mulut Andre. Dibukanya mulut Andre, dan menerima suapan dari istrinya. Sepuluh menit berlalu, nasi yang dipiring habis juga. Lina beranjak berdiri dari ranjang.


“Mana hadiah buat Daddy?” Andre memegang salah satu tangan Lina.


“Tunggu sebentar, mau taruh piring dulu di meja.” Dilepasnya tangan Lina.


Hati Lina mulai berdebar-debar, mencoba menarik napasnya pelan-pelan. Dan kembali ke tempat Andre berada.


Laptop yang berada di pangkuan Andre, dia pindahkan. Tubuhnya sengaja mendekat ke Andre. Dan Andre menebak jika Lina ingin menggodanya lagi, tapi dia tetap diam.


“Ya....!” jawab Andre.


Daun telinga Andre, mulai dikecupnya pelan-pelan dan sesekali menggigitnya. Kedua tangan Andre mulai memegang pinggang Lina, agar istrinya tidak tiba-tiba kabur seperti tadi.


Bibir Lina lalu turun pelan-pelan ke leher Andre, mengecupnya berkali-kali dan menyesapnya hingga meninggalkan tanda. Sedangkan salah satu tangannya mulai meraba junior Andre.


Merasa juniornya diraba Lina, tangan Andre buru-buru membuka resleting celananya, dan menuntut tangan istrinya untuk memegangnya lebih dalam.


“Iiiisss.......?”desisannya keluar dari bibir Andre.


“Sakitkah ?” tanya Lina, masih mengelus.


“Sedikit.......terusin mih!” ada rasa sakit dan ada rasa nikmat juniornya di pegang.


Andre menangkup leher Lina agar lebih dekat, semakin enak genggaman di juniornya. Semakin Andre melampiaskannya di bagian leher istrinya. Salivanya sudah beredar di semua bagian leher Lina.


Lina tidak memedulikan rasa sakit juniornya Andre, semakin cepat dia memegang dengan gerakan turun naiknya. Karena dia pun merasakan sensasi setiap Andre membuat ulah di telinga dan lehernya.


Suara rintihan Andre terdengar di telinganya “Terus mih.......aaah yang cepat!” pinta Andre.


“Aaaakkkhhh.........!” de sah Andre telah melepaskan hasratnya, tertumpah cairan putih di telapak tangan Lina.

__ADS_1


“Makasih mami, dia masih berfungsi baik!”ujar Andre dengan nafas tersengal-sengalnya.


Andre mengecup pipi Lina, yang terlihat merah merona. Dan Andre pun tersenyum melihat semua leher istrinya penuh tanda merah darinya.


Lina bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tangannya.


“Istriku memang pintar, perut suami kenyang. Adeknya juga puas, tapi Daddy pengen makan mami...!” bisik Andre sambil memeluk Lina dari belakang.


“Dasar laki-laki dikasih jantung, minta hati!” dengus Lina. Dia melepaskan pelukan Andre dan keluar dari kamar tamu dengan kesal.


Dasar Bos gila udah rela-rela gue buang harga diri buat pegang tuh burungnya, malah minta yang lain......emang situ suami saya. Duh Ya Allah nambah lagi nih dosa !!.


.


.


Ruang Utama Mansion Andre


“Apakabar Jeng Lia....!” sapa Mama Rani menyambut temannya. Mereka cipika cipiki.


“Kabarnya baik Jeng Rani. Sorry loh Jeng....ini Jeng Ratna minta ikut juga nih pengen sekalian silaturahmi katanya,” ujar bisik Jeng Lia sambil melirik Jeng Ratna beserta putrinya.


“Oooh apakabarnya Jeng Ratna, ini Dina temen kuliahnya Andre ya, yang dulu sering main ke mansion...?” tanya Mama Rani.


“Iya Tante, apakabar aku Dina teman kuliahnya Andre,” jawab Dina penuh sopan santun.


Mau apalagi ini mereka ikut ke sini......batin Mama Rani.


“Wah ini mansion Andre yang Jeng Rani. Mewah sekali kayak hotel,” ujar takjub Jeng Ratna.


“Biasa aja kok Jeng Ratna,” ujar merendah Mama Rani.


“Tante ini saya buatkan kue kesukaan Andre,” ucap Dina sembari memberikan kotak kue.


“Duh padahal gak usah repot-repot bikin,” kotak kuenya mama Rani letakkan di meja.


Mata Dina terlihat menelisik semua sudut ruangan, seperti mencari seseorang. Tak sengaja Mama Rani melihatnya.


.


.


bersambung


Mohon dukungannya buat karya Author ya, jangan lupa like, vote, komen, dikasih hadiah juga boleh. Dan jangan lupa mampir ke novel author yang lainnya. Terima kasih Kakak Readers semuanya.


__ADS_1


__ADS_2