LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Hari kedua Raker


__ADS_3

"Duh si papa ikutan ngeledek anaknya, kasihan nanti mereka malu loh,” balas Mama Rani.


Pipi Lina sudah memerah saja. “Sayang, mau sarapan dengan apa, biar Daddy ambilkan?” tawar Andre.


“Dad, mami mau bubur ayam, omelet, sosis goreng, salad sayur, cream soup, roti bakar.......eeemm apalagi ya. Omeletnya dua ya Dad,” kedua bola mata Andre membulat menerima pesanan makanan istrinya.


“Mami yakin bakal habis semua makanannya?”


“Yakin Dad, mami lapar banget dari semalam........apalagi tadi pagi di gempur daddy,” bisik Lina.


Andre tersenyum messum mendengarnya. Tanpa menunggu waktu lama Andre segera mengambil makanan yang sudah tersaji ala buffet.


“Lin, nanti selesai usai raker. Kamu ke butik sama mama dan mama kamu, kita harus segera fitting baju pengantin buat resepsi kalian.”


“Iya mah, nanti saya ngikut arahan mama saja.”


Beberapa pelayan menyajikan makanan yang di pesan Lina, karena tidak memungkinkan Andre membawa semua piring tersebut.


“Makasih ya Daddy sudah di ambilkan sarapan buat Mami,” Lina masih memangku Noah. Mulut Noah masih sibuk makan biskuit baby, dan tidak mau pindah ke kursi tingginya.


“Sama sama sayang....,” dengan telatennya Andre memanjakan istrinya, di sela sela dia menyantap sarapannya, dia juga menyuapi Lina di kala Noah banyak bergerak di pangkuan Lina.


Perhatian kecil yang sering diberikan Andre, membuat hati Lina semakin luluh terhadap suami tampannya. Terkadang membuat dia tersenyum manis menerima perhatian tersebut.


“Mih.... daddy lupa belum bilang ke mami?”


“Ada apa Dad.”


“Ini tentang adik mami.”


“Ada apa dengan Danu?”


“Danu sudah mulai bekerja dari minggu lalu, sebagai staff Public Relation di hotel ini.”


Hati Lina begitu terkejut mendengar kabar baik ini “benarkah Dad?” coba meyakinkan kembali.


“Betul, lagi pula sesuai dengan jurusan kuliah yang Danu ambil  Dan sesuai dengan klasifikasi kebutuhan hotel kita. Lagi pula tidak ada salahnya keluarga kita bekerja di perusahaan kita.”


Buliran air mata meluncur tanpa permisi di pipinya, tidak menyangka suaminya memikirkan  nasib adiknya. Bukan hanya sekedar menikahi dirinya saja.


“Daddy........” dipeluknya Andre “makasih banyak suamiku, untuk kabar baik ini.”

__ADS_1


Diusapnya air mata yang membasahi pipi Lina dengan jemarinya “adikmu berarti adikku juga, dan sudah jadi tanggung jawab daddy.”


Mama Rani yang melihat mereka berdua jadi ikutan terharu.


“Mih.......tuh Danu datang,” ujar Andre menunjuk ke arah Danu yang baru tiba di restoran dengan mama Anggi.


“Assalamualaikum Kak Lina, Kak Andre, Mama Rani, Papa Nugraha,” sapa Danu.


“Walaikumsalam....masya allah adik kakak ganteng banget,” Lina memeluk adik semata wayangnya.


Danu yang sekarang memakai seragam jas dari Hotel terlihat semakin tampan.


“Iya dong Kak Lina, Danu kan emang udah ganteng dari lahir.”


“Jeng Anggi, silahkan duduk, ikutan sarapan bareng bareng,” ajak mama Rani.


“Iya Jeng Rani, makasih banyak. Ini saya juga gak tahu tiba-tiba di jemput  dari apartement ke sini. Ternyata pada kumpul.”


“Andre.......sengaja suruh supir jemput mama ke sini. Hitung hitung liburan dan menginap di sini, nanti mama Anggi bisa menikmati fasilitas di sini bareng sama mama ya.”


“Iya Jeng Anggi, nanti bareng saya. Kita spa bareng, manjain diri dulu.”


“Boleh kalau begitu,” Mama Anggi semakin akrab dengan besannya. Doa yang selama ini ia panjatkan dalam sujudnya, mulai terkabulkan. Hati anaknya mulai menerima suaminya, memiliki mertua yang sayang dan baik, tinggal momong cucu dari rahim Lina yang belum terkabul.


Mengantarnya kehidupan di masa tuanya penuh kenyamanan dari anak menantu serta besannya.


Ditambah sekarang mama Anggi tidak mengkhawatirkan masa depan anak lakinya, sudah mulai bekerja dan belajar mandiri. Sungguh suasana sarapan pagi ini membuat Mama Anggi menangis bahagia, bercengkrama ringan dengan besan beserta anak menantunya, tidak ada satu pun perbedaan antara mereka. Mereka layaknya keluarga besar.


🌹🌹


Jadwal hari kedua rapat kerja, Andre dan Lina berpisah ruangan menyesuaikan agenda rapat. Andre akan memimpin rapat kepala cabang, sedangkan Lina akan memimpin rapat manajer keuangan kantor cabang.


Gerak gerik Andre terlihat tak tenang ketika mereka berdua akan berpisah ruangan, padahal bersebelahan.


“Mami, bisa gak rapatnya di gabung saja sama daddy?”


Lina mengulum senyum melihat suaminya gelisah. “Dad, agenda rapatnya berbeda, jadi harus menyesuaikan porsinya masing masing. Lagi pula nanti jam makan siang nanti kita ketemu lagi.”


“Baiklah tapi nanti siang, daddy minta jatah ya!” Dengan senyum messumnya.


“AH........mulai lagi Daddy, sudah  cepat masuk ke ruangan.....sudah di tunggu!” Seru Lina sambil mendorong tubuh suaminya.

__ADS_1


Cup.....secepat kilat Andre mengecup bibir Lina, lalu masuk ke ruang rapat. Begitu pun Lina masuk di ruang sebelahnya.


Sekarang mereka berdua kembali menjalankan tugasnya masing masing.


🌹🌹


Ruang khusus panitia raker


“Permisi selamat siang,” sapa kurir paket.


“Selamat siang juga Pak, ada yang bisa saya bantu?” tanya Fani yang kebetulan standby di ruang panitia.


“Saya mau mengantar paket untuk atas nama Lina  Anggraini, apakah ada yang bernama tersebut?” tanya pak kurir.


“Oh iya ada pak, tapi kebetulan Bu Lina nya sedang meeting. Paketnya bisa di titip ke saya, nanti akan saya sampaikan.”


“Baik Bu, ini tolong di tanda tangan sebagai tanda terima.” Pak Kurir memberikan kotak besar yang terbungkus dengan kertas kado serta pita cantik


Fani yang menerima paket tersebut, di letakkannya di atas mejanya.


Sesi pertama agenda rapat sudah selesai di jam 12 siang, Lina dan Mitha masuk ke ruang panitia karena ada beberapa hal yang harus Lina koordinasikan.


“Eh ini kayaknya kotak ini tadi pagi gak ada, dari siapa ya Fani?” Mitha melihat kotak besar yang sudah ada di meja.


“Oh ini tadi ada kurir yang antar paket ini katanya buat mami,” jawab Fani.


Lina tergugah melihat kardus besar yang terbungkus dengan cantiknya.


“Ya udah mending kita buka aja!” ujar Lina sambil mencari cutter untuk membuka kardus, di meja panita tersebut.


“Wah pasti isinya besar dan banyak nih,” Mitha nampak penasaran dan semangat.


SRETT............Lina membuka kardus tersebut dengan cutter.


Dada Lina tiba-tiba mulai terasa sesak, dengkul kaki mulai terasa lemas. Kedua matanya mulai di pejamkan.


“Mitha.......to----tolong.......!” ucap lirih Lina wajahnya mulai memucat.


“ASTAGA YA ALLAH!” Mitha terkejut melihat isi kardus tersebut.


Mitha langsung memeluk Lina “ SUSI.....FANI......TOLONG MAMI!” teriak Mitha dari dalam ruangan panitia.

__ADS_1


Faisal yang baru tiba di ruangan panitia untuk menjemput bu Bosnya, langsung  berlarian saat mendengar teriakan Mitha.


“PAK BOS SEKARANG JUGA KERUANGAN PANITIA...... BU BOS.......GAWAT DARURAT!” ucap  Faisal agak meninggi via handphonenya.


__ADS_2