
Diciumnya leher Andre dengan lama oleh Lina, Andre menikmatinya ingin keluar suara desa hannya tapi ditahan ... juniornya juga sudah meronta-ronta di bawah.
“AARGH......MAMI!” teriak Andre kesakitan, ternyata Lina menggigit lehernya dengan kuat. Senyum puas Lina melihat hasil gigitannya di leher putih Andre hingga terlihat ada darah di bagian gigitannya.
Bangkitlah dia dari badan Andre, dan mengendong Noah yang terbangun karena teriakan Andre, dan segera keluar menuju kamar Noah.
“Dasar cewek aneh...,” gumam Andre segera ke kamar mandi melihat lehernya.
“Astaga ganas banget gigitannya," dilihat gigitannya ada darahnya.
.
.
Setelah mengurus Noah, Lina kembali ke kamarnya untuk berganti baju kerja. Ketika Lina kembali ke kamar, Andre masih berada dikamarnya sedang berpakaian. Lina dan Andre masih nampak sama-sama kesal di pagi hari.
“Mmmm......”gumam Andre.
“Mmmm......juga!” balas Lina menuju walk in closet untuk mengambil baju kerjanya. Andre memepetkan dirinya ke Lina.
“Kenapa nempel-nempel mmm ... masih kurang, mau ditambah?" ucap ketus Lina.
“Kalau masih kurang kenapa ? Kamu mau nambahinnya?” ujar Andre menantangnya.
“Minta sana sama istrinya, makanya kalau making love sama istri tuh yang tuntas. Biar puas, jadi tidak lirik ke tetangga sebelah!” ketus Lina.
“Jadi kamu kepengen saya making love sama istri, begitu?” tanya Andre, geram.
“Kok tanya saya, Pak Andre yang punya istri.... itu hak Pak Andre. Permisi Pak mau lewat!” ucap Lina sambil keluar dari impitan Andre.
“Katakan pada saya, kamu senang kalau saya bercinta dengan istri saya sendiri?” tanya Andre menatap tajam ke Lina.
“Ya ikut senang dong, berarti Pak Andre mendapatkan kesenangan dengan istri sendiri." Lina tersenyum tipis.
“Dan tidak perlu melakukan hal ini!" Ditunjukkannya lehernya dengan wajah tiba-tiba berubah dingin.
“Minggir .......!” di dorongnya dada Andre agar dia bisa lewat. Dan segera masuk ke kamar mandi untuk berganti baju.
.
.
Ceklek!
Lina keluar dari kamar mandi, sudah berganti pakaian. Dilihatnya Andre belum keluar dari kamarnya, terlihat santai duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Lina mengacuhkannya, dia lanjut ke meja rias untuk bermake up. Dirasa telah selesai bermake up, dia menyiapkan tas kerjanya serta sepatunya.
Melihat Lina sudah rapi, Andre bangkit dari duduknya dan mendekati Lina. Diberikannya dasi dia ke Lina.
__ADS_1
“Pakaikan......!” perintah Andre.
“Pakai aja sendiri! Atau minta saja istrinya pakaikan!” kata ketus Lina. Langkah kakinya bergegas untuk keluar kamar.
“Kamu benar-benar bikin saya emosi dari semalam ya Lin!” Andre menarik pinggang Lina hingga menempel ke dirinya.
“Perasaan saya tidak membuat Pak Andre emosi!” ujar Lina santai.
“Lepaskan pelukan Anda Pak Andre, apakah tidak akan marah dan cemburu jika istri Pak Andre ... melihat suaminya memeluk wanita lain!” geram Lina.
“Tidak perlu kamu memikirkan istri saya !” jawab Andre.
TOK.........TOK........TOK
“Permisi bu, Noah sudah rapi bu?” sahut Tini dari luar pintu.
“Bawa masuk aja mbak Tini!” pinta Lina.
Tini segera masuk dan sedikit terkejut melihat Tuannya memeluk Lina.
“Bisa gak lepas tangannya Pak Andre!” pinta Lina, Andre tetap memeluknya walau baby sitter masuk ke kamar.
“Bawa sini Noah nya mbak!” perintah Lina dalam rangkulan Andre. Tini membawanya ke Lina, dengan wajah sedikit malu melihat mereka berdua.
Dan sekarang Noah berada di tengah pelukan Lina dan Andre.
“Mau sampai kapan tidak melepaskan tangannya Pak Andre! Mau sampai anakmu gepeng!”
Hening beberapa saat.....
“Ck ... Daddy sudah ya lepasin pelukannya, baby noah waktunya sarapan. Kita juga harus sarapan dan berangkat ke kantor!” dengan lembut Lina berucap mengalah untuk pagi ini.
“Nah begitu dong mami.” Andre mengecup pucuk kepala Lina dan meregangkan pelukannya.
Mereka pun turun ke bawah menuju meja makan.
Di meja makan sudah ada Papa Nugraha, Mama Rani dan Sita.
“Pagi Mah, Pah,” sapa Andre.
“Pagi nak," sahut Papa Nugraha.
Lina duduk di samping Mama Rani, sedangkan Noah di dudukan di bangku tinggi di sebelahnya. Andre melirik istrinya Sita dan Lina, dia memilih duduk di sebelah Lina.
“Sayang sejak kapan di meja makan duduk di sebelah baby sitter?” sinis Sita.
“Sejak kamu pergi!” jawab santai Andre.
Lina mulai menyuapi bubur ke Noah, dan mengambil nasi lauk untuknya. Sita sama sekali tidak mengambilkan nasi lauk untuk suaminya, hanya mengambil untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
“Mami, ambilkan buat daddy juga,” pinta Andre sedikit lembut menunjukkan piring kosongnya.
“Bukannya ada istri Pak Andre, seharusnya istri yang menyiapkan makan suami ... bukan baby sitter!” ucap ketus Lina tapi tangannya tetap mengambil makanan buat Andre.
“Makasih mami.”
Walaupun sambil mengomel, kamu tetap ambilkan saya makan.....batin Andre tersenyum.
“Hei ... ini maksudnya apa! Kenapa sayang panggil mami ke baby sitter!” Sita menghentikan makannya.
Sedangkan yang lainnya tetap menikmati sarapan paginya. Tidak menanggapi pertanyaan Sita.
“Mah.....kok udang crispynya rasanya beda ya?” tanya Papa Nugraha.
“Kenapa Pah, kurang enakkah?” tanya mama Rani.
“Besok bikinin lagi ya buat Papa, ini enak banget apalagi saos nanasnya," jawab Papa Nugraha semangat makannya.
“Oooh Papa minta buatin Lina aja, soalnya yang masak Lina semua ini.” s)Senyum mama Rani.
“Masakan Lina memang enak, besok bikinin udang crispy buat papa ya Lin.”
“Siap Pah."
“Ooh sekarang baby sister bisa ambil hati tuannya ya. Wah hebat cari perhatiannya!” ejek Sita.
“Hentikan ejekan kamu Sita! Seharusnya kamu introspeksi diri sendiri. Selama ini adakah kamu sesekali masak untuk suami! Selama ini adakah kamu menyuapi Noah makan! Selama ini adakah kamu mau begadang mengurus Noah ! Saya sudah cukup mengalah Sita!” ucap Andre, emosinya meledak-ledak di meja makan.
Refleks tangan Lina mengelus punggung Andre....”Daddy ... sabar...” Lina mencoba menurunkan emosi Andre di meja makan.
“Wow kamu luar biasa, sampai suami saya membela kamu!” Sita bertepuk tangan berdiri mendekati tempat Lina duduk.
Tanpa menjaga imagenya yang selama ini terlihat baik hati dan lembut. Dan tidak memperdulikan mertua yang berada di ruang makan.
“Aaawwww.....!“ pekik Lina. Rambut Lina yang tergerai di tarik oleh Sita, hingga Lina terbangun dari duduknya.
“Apa-apaan kamu Sita!” hardik Mama Rani mencoba melepaskan tangan Sita dari rambut Lina.
Sebelah tangan Sita mulai diangkat untuk menampar pipi Lina, tapi sudah ditangkis oleh Lina.
“Kenapa..... kamu mau menampar saya! Jangan sekali-sekali menyentuh saya!” geram Lina.
“Dasar wanita pelaakor, betul kata ibuku. Kalau kamu mau menggoda suamiku!!” teriak Sita.
“Kalau suami kamu memang benar-benar cinta sama kamu, dia tidak akan tergoda dengan wanita manapun termasuk saya. Ingat saya tidak pernah menggoda suamimu, lihat ini siapa yang sebenarnya menggoda!” ditunjuknya kissmark di lehernya.
“Kurang ajar dasar wanita murahan!” Sita naik pitam dan mengencangkan tarikan rambut Lina.
.
__ADS_1
.
bersambung