
“Pak Andre, saya minta cabut laporan tentang kejadian yang menimpa saya, kasihan Sita sedang hamil!”
“Dan satu lagi, setelah saya sembuh. Saya akan kembali ke rumah sendiri dan akan resign dari pekerjaan saya!” ide ini tiba-tiba kepikiran, demi kepentingan semuanya.
“TIDAK......MAMI TIDAK BISA SEENAKNYA!!” suara Andre meninggi 3 oktaf.
“Kenapa....kenapa tidak bisa, ini buat kebaikan kita semua!”
“Saya sudah menalak Sita, dan Sita dilaporkan bukan hanya kasus kamu saja, tapi ada kasus yang lain.”
“APA......Pak Andre sudah menalaknya !! Kapan!” terkejut Lina mendengarnya.
“Tadi saat mami pingsan!”
“Astaga, kenapa mengambil keputusan secepat itu Pak!” sesal Lina.
“Tidak seharusnya Pak Andre menjatuhkan talak ke Sita, ini salah saya....!” ditepuk-tepuknya dadanya sekuat tenaganya.
“Hentikan Mami.....!” Andre memegang kedua tangan Lina supaya tidak kembali memukul dadanya sendiri.
“Ini salah saya Pak, kasihan Sita lagi hamil!” isak Lina.
“Semuanya bukan salah mami, ini sudah keputusan saya sendiri!” tegas Andre.
“Justru saya berterima kasih sama Mami, telah membuka mata lebar-lebar. Melihat kenyataan yang selama ini saya hiraukan.”
“Please.......jangan berpikiran untuk menjauhi saya!” pinta Andre.
“Tahukah mami, betapa hancur hati saya ketika mami koma, dan dokter menyatakan peluang untuk hidup hanya 30%, sakit Mih rasanya!” mata Andre mulai berkaca-kaca mengingat kejadian tersebut.
“Saya sangat menyesal telah meninggalkan mami karena emosi. Dan saat kembali.......mami sudah berlumuran darah dan sudah tidak sadar!” Andre menyeka air matanya.
“Dan saya telat menyadarinya, kalau saya sudah jatuh cinta padamu Lina. Saya mencintaimu Lina!!”
Masih dalam kondisi sesenggukan Lina mendengar cerita Andre. Di tatapnya mata Andre dalam-dalam, mencari kebohongan dari matanya tapi sepertinya apa yang diucapkan tulus dari hatinya.
AAH Lina tak sanggup lagi berkata-kata, di tambah Andre menyatakan cintanya.
“Mami........lihat Daddy!” pinta Andre dan meraih dagu Lina.
“Saya mencintaimu sayang......!” dikecupnya kedua pipi Lina.
“GILA........!” tangan Lina memukul dada Andre saat badannya kembali di peluk Andre.
“Ya saya gila, karena mu Lina!”
Dasar bos gila, oooh perutku mual pengen muntah.
“Mau muntah.......!” teriak Lina langsung menutup mulutnya dengan tangannya.
Andre melepas pelukannya dan segera mengangkat Lina ke kamar mandi secepat kilat.
“Huek........huek........huek!” isi makan
malamnya keluar semua di closet, Andre segera membersihkannya dan melap wajah istrinya.
“PAK.....kepala saya sakit banget!” rasanya mulai tidak nyaman dan pandangannya mulai kabur.
__ADS_1
Untung Andre sudah memeluknya terlebih dahulu.
Dibaringkan Lina ke ranjang dan segera memencet tombol darurat.
“Pak Andre, usahakan istrinya jangan banyak pikiran dulu. Ini saya suntikan obat nyeri, dan penenang. Sepertinya sedang habis menangis, ada masalahkah?” ucap Dokter Ridwan.
“Maaf dok, memang tadi istri saya habis ngeluarin uneg-unegnya,” ada rasa sedikit bersalah.
“Baik saya, tinggal kembali Pak. Jika terjadi apa-apa cepat panggil saya ya Pak!”
“Siap Dok.”
Dipandangnya wajah Lina yang terpejam, Andre naik keranjang dan merebahkan dirinya di samping Lina.
“Cepat sembuh sayangku!” dirangkulnya pinggang Lina, dan ikut menyusul ke alam mimpi.
.
.
Keesokan harinya.
Pagi ini Andre terlihat sudah rapi, tapi Lina sudah terlihat manyun karena dibuat kesal oleh Andre. Dari semenjak melek mata, wajahnya di cium terus sama Andre, di tatap terus wajahnya.
“Hentikan mencium pipi saya.....!” Lina bersedekap.
“Kalau mau suapin makan, suapin aja.........enggak usah pakai cium-cium segala!”
“Mami gemesin kalau udah marah!” dicubitnya pipi Lina dengan lembut.
“Saya bukan tempat pelampiasanmu, Pak Andre bisa mencari wanita lain yang lebih pantas!” ujar Lina pelan.
“Mah.......titip Lina, saya ada keperluan sebentar. Kalau ada apa-apa segera hubungi saya!” pinta Andre ke Mama Anggi.
Tanpa pamit ke Lina, Andre pergi dengan Faisal. Lina mengacuhkan kepergian Andre.
Syukurlah dia pergi.......
Mama Anggi menghampiri Lina “masih sakit Lin.......kepalanya?”
“Masih Mah.”
“Mah, Lina mau menanyakan sesuatu?” dipegangnya cincin berlian yang ada dijari manisnya.
“Apa benar ini cincin punya mama?”
“Lina tahu mah, kita bukan dari keluarga kaya yang mampu membeli cincin ini!”
Mama seperti berpikir, mencari jawaban yang tepat.
“Jeng Rani yang memberikan hadiah cincin itu sebelum kamu koma Lin!” jawab Mama Anggi dengan lancar berbicara yang tidak sesuai kenyataannya.
Lina menatap mamanya, berharap jika jawaban tadi itu bohong.
“Itu benar Lin, yang mama kamu katakan!” sambung Mama Rani yang baru tiba dan sedikit mendengarnya saat masuk.
“Cincin itu sebagai hadiah persahabatan dari mama buat mama kamu, tapi Jeng Anggi memakaikan ke jari kamu saat kamu koma,” untuk lebih meyakinkan Lina.
__ADS_1
Merasa sedikit nyeri kepalanya saat berpikir, akhirnya dia terpaksa mempercayai jawaban Mama Anggi dan Mama Rani.
“Sudah kamu jangan banyak pikiran, nanti semakin sakit kepalanya,” ujar Mama Anggi.
“Selamat Pagi Bu Anggi, Bu Rani, Mami Lina,” sapa Mitha baru tiba.
“Pagi juga Mitha,” ujar mereka semua.
“Tumben Mitha, datangnya agak siangan?” tanya Lina.
“Nih....sama Pak Andre disuruh ngurus punya mami!” tunjuk Mitha ke paper bag yang dibawanya.
Di bukanya paper bag tersebut, bikin matanya melongo 😮.
“Mitha.....loe enggak salah pilih handphone ini! Yang ada gajian bulan ini gue langsung habis!” ujar Lina lemas.
“Yang beli dan milih bukan gue, tapi Si BOS, nih nomornya pakai nomor handphone mami yang lama.”
“Emang tuh orang, seenaknya aja. Di sangka gue banyak duit kayak dia apa!” Lina kesal gak ketulung lagi.
“Namanya juga Bos, sesuka hatinya aja.”
Lina mengaktifkan handphonenya, belum ada 10 menit. Begitu banyak WA yang masuk, tapi malas buat dibacanya.
Dilihatnya Mama Rani dan Mama Anggi tidaki ada di kamarnya.
“Mitha......gue mau curhat tapi jangan bilang siapa-siapa ya!”
“Siap Mih------seperti biasa keep secret!”
“Semalam si Bos menyatakan cinta!”
“APAAAA.......!” pekik Mitha.
“Hush......jangan pakai teriak!”
“Sorry.........terus selanjutnya?”
Mih......sebelum si Bos menyatakan cinta, dia udah duluan menikahi mami......sorry gue tidak bisa kasih tahu walaupun loe sahabat gue......batin Mitha.
“Ya hanya menyatakan cinta aja, katanya dia jatuh cinta saat pertama kali kita ketemu !”
“Sekarang kalau loe ngimana, cinta juga gak sama Pak Bos?”
“Gila aja gue cinta sama si Bos, gue dari awal sudah tahu dia sudah beristri. Dan memang tidak tertarik, kan loe tahu hati gue ada siapa!”
“Loe masih suka sama Pak Wahyu?”
“Entahlah Mitha, sekarang gue malah jarang kepikiran dia. Apa karena kejadian yang beruntun menimpa gue ya!”
“Mending loe enggak usah mikirin Pak Wahyu, lagian kalian juga tidak ada ikatan. Mending sama duda keren tuh!”
“Duda.......siapa?”
“Astaga mami, duda baru itu....si Bos!”
.
__ADS_1
.
bersambung