
“Cemburu sama saya.......huh! Seharusnya saya yang cemburu melihat mbak Dina mendekati suami saya. GAK KE BALIK!” geram sudah menerima perlakuan Dina, seakan akan dirinya bisa ditindas seenaknya.
Hati Andre begitu hangat mendengar pengakuan Lina menyebut dirinya suami.
“Sayang......!” Andre memeluk Lina dari belakang.
“JANGAN PELUK SAYA PAK ANDRE!” suara Lina meninggi. Andre pun melepas pelukannya, namun tetap berdiri tegak di samping Lina.
Lina mengambil berkas yang berada di meja “Mbak Dina bilang proyek pembangunan tersendat, ingat ya mbak Dina.....perusahaan Nugraha sudah mengelontorkan dana beberapa trilyun.......saya sendiri saksi Pak Nugraha meng acc uang tersebut dan saya ikut mengurusnya, sedangkan perusahaan Barlian hanya mengeluarkan beberapa milyar tidak sampai puluhan, dan itu tidak sesuai dengan kesepakatan. Justru saya curiga dengan perusahaan Anda telah mengelapkan uang proyek dari perusahaan Nugraha!”
“Atau jangan-jangan perusahaan Barlian akan jatuh bangkrut! Apakah itu alasan mbak Dina mendekati suami saya untuk menyelamatkan perusahaan anda!”
“Coba di pikir pakai otak anda, kalau memang masih mencintai sama mantan, kenapa baru datang sekarang! kenapa tidak 2 atau 3 tahun yang lalu!”
Dina tersentak, Lina mengetahui tentang uang proyek dan mengenai perusahaan papa nya.
“Kenapa tidak bisa jawab!” cecar Lina. Andre juga sempat curiga saat membaca berkas yang dibawa Dina, dan nyatanya Lina sudah mengetahuinya.
“Kamu kalau ngomong jangan asal tuduh aja, mana buktinya!” Dina mengelak.
“Baiklah nanti Pak Andre yang akan memberikannya, betulkan Pak!” ujar Lina. Tetap keputusan akhir ada di tangan CEO.
“Jika memang ada yang mencurigakan, akan saya tindak langsung!” sahut Andre tegas.
“Lina.......kamu jangan bawa-bawa perusahaan ya. Bilang saja kamu sekarang cari perhatian sama Andre tentang kerjasama ini, biar tidak kepincut dengan aku. Alih-alih ada masalah dengan perusahaan aku!” tantang Dina.
Lina mendekatkan dirinya ke Dina dan memegang bahu Dina dengan tekanan sangat kuat “buat apa saya cari perhatian Pak Andre. Buat apa saya menahan jika Pak Andre tidak suka dengan saya. Silahkan mbak Dina ambil...... saya tidak ingin rebutan dan ribut gara-gara masalah lelaki. Seakan hanya Pak Andre pria di dunia ini. Tapi jika Pak Andre memang mencintai saya, dia tidak akan berpaling dari saya. Camkan itu!” Lina sedikit mendorong bahu Dina dengan tangannya.
“Aaakh......!!” rambut panjang Lina di tarik Dina sekuat mungkin, untung dia tidak terjatuh.
“OH rupanya anda cari gara-gara ya!” murka Lina. Di lepasnya sekuat tenaga tangan Dina yang menarik rambutnya, lalu di plintirnya tangan Dina tersebut.
“AAAAUUUUU.......!” ringis kesakitan Dina.
“SAKIT.......MMM......SAKIT....MAU LAGI!” geram Lina.
“APA PERLU SAYA MENCAKAR WAJAH KAMU....HUH!” tangannya sudah gatal mau garuk wajah Dina.
“Sayang......sudah jangan di ladeni lagi!” pinta Andre meraih lengan Lina, menghindari perkelahian berkepanjangan.
__ADS_1
“JANGAN SENTUH SAYA PAK ANDRE........lebih baik urus wanitamu ini! wanita ini begitu mencintaimu, dan tergila gila padamu. Dan tolong jangan pernah mendekati saya lagi.........jika Pak Andre tidak bisa menyelesaikan masalah dengan Dina!” tatapan tajam kembali terlihat di mata Lina.
“LEPASKAN!” pekik Lina, Andre kembali memeluk tubuh istrinya erat erat, agar istrinya tidak meneruskan perkelahiannya.
“Dina keluar kamu sekarang juga! Jangan gara-gara kamu.....istri saya meninggalkan saya lagi...... KELUAR SEKARANG JUGA!!” pekik Andre, sedangkan Lina sudah meronta-ronta di dekapan Andre.
“Tapi urusan kita belum selesai........!” jawab Dina yang masih meringis kesakitan.
“Kali ini saya menghargai kamu, karena pertemanan papa saya dengan papa kamu. Kalau tidak sudah kubuat kamu seperti debu!”
“Ingat proyek ini akan saya selidiki. Dan jangan sesekali mendekati saya serta istri saya. Kalau perlu proyek ini akan saya batalkan!” gertak Andre.
“FAISAL........!!" teriak Andre agar terdengar sampai keluar.
Sedari tadi Faisal sudah stand by di luar ruangan CEO, buat jaga jaga jika terjadi sesuatu. Apalagi dia mendengar suara keributan dari dalam ruangan.
“Iya Pak Bos!” Faisal segera masuk saat namanya di panggil.
“Bawa Dina keluar dari sini, kalau tidak bisa secara baik-baik. Seret saja!” titah Andre, sudah geram lihat tingkah Dina.
“Baik Pak Bos, mari silahkan Dina.....sudah dengarkan perintah Pak Andre!” tutur sopan Faisal.
“Aku pastikan, kita akan bertemu lagi!” ketus Dina menatap mantan kekasihnya dan menatap sadis ke arah Lina. Sungguh dia tidak rela meninggalkan ruangan Andre, tapi Faisal sudah terlebih dahulu mencekal lengannya.
“Saya mencium, memeluk mami bukanlah sebuah kepura-puraan. Semuanya dari hati saya!” kembali Andre mendekap tubuh Lina, sambil mengelus rambut Lina yang tadi di tarik Dina.
Lina mendongakkan wajahnya menatap pria yang membuat Dina atau wanita mana pun cepat jatuh cinta “Pak Andre......ingatkan apa yang saya minta, saya butuh waktu untuk diri saya sendiri. Jangan membuat saya membencimu. Jadi tolong lepaskan pelukan ini, dan berhentilah menciumku seenaknya!” lelah hatinya juga menghadapi suaminya. Namun sayang Andre menghiraukan ucapan Lina.
“Saya lelah menghadapi wanita yang berada di belakangmu.....!” dengan lirihnya berkata.
Andre semakin erat memeluk istrinya, di kecupnya pucuk kepala. Lina pasrah dalam dekapan Andre, sepertinya dia memang membutuhkan pelukan dari suaminya. Setelah melewati hari yang berat.
TOK.......TOK......TOK
“Permisi.......Mami........Nyonya Rani tadi telepon.......minta mami cepat pulang......Noah rewel!” sebenarnya Mitha tidak enak mengganggu Andre dan Lina tapi apa daya Nyonya besar sudah berkali-kali menelepon.
CUP
Mendarat lagi bibir Andre ke kening Lina.
__ADS_1
Andre mengurai pelukannya “ayo Mami.......kita pulang. Mami bareng saya!” ajak Andre sambil meraih tangan istrinya.
“Saya pulang bareng Mitha!” jawab Lina kembali menepis tangan Andre, lalu bergegas keluar ruangan.
Mau bagaimana lagi Andre, harus menerima penolakan Lina.
Dia lelah......!
🌹🌹
Mansion Andre
Jam 9.30 malam Lina dan Mitha baru tiba di mansion Andre. Lina buru-buru ke kamar Noah. Mitha menuju kamarnya sendiri.
“Hua........hua.....Mi......Mi.!” tangis Noah di gendongan Mama Rani.
“Maaf ya Mah......saya agak telat pulangnya, banyak kerjaan di kantor!”
“Ya gak pa-pa, sebaiknya kamu bersih bersih dulu baru pegang Noah!” ujar Mama Rani.
“Baik Mah!” Lina bergegas mengambil dasternya yang sudah berada di lemari Noah, lalu ke kamar mandi.
“Mah......Lina sudah sampai belum?” tanya Andre yang selang beberapa menit masuk ke kamar Noah.
“Loh kalian memangnya tidak bareng pulangnya?”
“Lina bareng Mitha, tidak mau bareng Andre.”
“Kamu harus sabar menghadapi Lina, nanti dia juga akan luluh hatinya. Tapi ingat jangan bikin kesalahan lagi kalau memang tidak ingin istri kamu minta bercerai!”
“Iya mah....!”
Ceklek... pintu kamar mandi terbuka
Wangi sabun mandi menguar di kamar Noah, terlihat Lina sudah agak segar setelah mandi.
Inilah salah satu yang membuat Andre tambah jatuh cinta, Lina yang hanya memakai daster yang panjangnya selutut terlihat mengemaskan. Ingin rasanya Andre mengungkung Lina saat itu juga.
.
__ADS_1
.
bersambung