LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Tendangan maut


__ADS_3

“Sudah boleh keramas ya Dok?” tanya Lina.


“Boleh Bu, tapi kalau bisa pas pijit kepalanya pelan saja. Nah sekarang saya mau cek luka yang di punggung!”


Lina menatap ke dua pria yang ada dikamar ini, kalau tidak diperiksa, dia tidak akan tahu kondisi lukanya sekarang.


“Sebentar dok!” dilepasnya genggaman Andre, lalu ia mengambil selimut tipis yang berada di kamar tersebut. Lanjut ke kamar mandi.


Ceklek !!!


Lina keluar dari kamar mandi dengan menggunakan selimut, kedua bahu putih mulus terlihat menantang buat ke dua pria tersebut.


“Cepetan Dok, periksanya!” di sodorkannya punggungnya ke hadapan Dokter Ridwan. Lina menahan kain selimutnya di dadanya agar tidak kedodoran. Hati dia tetap ketar ketir karena badannya hanya menggunakan selimut tipis, walau Ridwan seorang dokter, tetap aja ia seorang pria. Apalagi Andre yang pernah melihat tubuhnya.


Aah mau di taruh ke mana nih muka.....😔


“Lukanya sudah mengering ya Bu, nanti saya berikan salep untuk penghilang bekas jahitannya!” tangan Dokter Ridwan memegang punggung Lina dan itu tidak luput dari pandangan Andre.


“Sekarang bagian telapak kaki!” tanpa aba-aba Dokter langsung mengangkat kaki Lina dan menaruhnya di paha Dokter Ridwan.


Antara terpaksa dan berat hati Andre melihat Dokter Ridwan menyentuh istrinya.


“Nah luka kakinya cukup pakai plester saja, nanti tinggal di cek sendiri, kalau sekiranya sudah rapat bekas lukanya, tidak usah pakai plester lagi Bu.”


“Terima kasih banyak ya Pak Dokter,” ucap tulus Lina memberikan senyum manisnya.


“Sama-sama Bu, mari Pak Andre.....saya kembali ke rumah sakit dulu!” pamit Dokter Ridwan, Andre mengantarnya sampai depan pintu kamar. Lalu mengunci pintu kamar tamu tersebut.


“Eeggh.......” badan Lina terasa ditarik seseorang, padahal dia mau ke kamar mandi untuk memakai bajunya kembali.


“Buat apa tadi mami, senyum senyum dengan Dokter Ridwan?” tanya Andre merangkul erat pinggang Lina.


“Tidak ada salahnya tersenyum dengan orang lain!” Lina menggenggam erat selimutnya karena terasa kedodoran.


“Lalu kenapa dari pagi, mami menghindar dan mendiamkan daddy?”


“Kapan...! Perasaan biasa aja. Itu hanya perasaan daddy aja kali!”


“Sudah lepaskan pelukannya, saya mau ganti baju!” dia mencoba mengurai pelukan Andre.


“Tidak bisa, sebelum mami dapat hukuman!” bisik Andre. Mulailah dia mencium daun telinga Lina, menyesapi dan melu matnya dengan lembut.


Penyusuran bibir Andre pun turun ke leher jenjang istrinya, diberikannya kecupan hangat nan basah, bahkan sesekali pria tampan ini menggigit kecil di leher putih istrinya.


Lina mulai merasakan sensasi aneh dari ulah Andre, salah satu tangannya mulai memegang leher Andre mencari pegangan agar tidak terjatuh. Sesekali dia mendesis karena rasa sakit gigitan yang diterimanya, membuat dia menahan nafas dan memejamkan matanya.


Merasa lehernya di pegang Lina, Andre menyelusuri ceruk leher Lina, kembali membuat ulah.

__ADS_1


“Aaaaahh.......!”bibir Lina tidak kuat menahan suaranya yang ingin keluar.


“Dad.....hentikan!” tangannya berusaha mendorong bahu Andre dengan nafas memburunya, tapi tenaganya kalah.


Berhubung wajah dia berada di leher Andre, dia mulai mengecup leher Andre dan “Eeerrrrrgh........!” Andre meringis kesakitan, ternyata Lina menggigit kuat lehernya. Buru-buru Lina ke kamar mandi, ketika Andre melepaskan pelukannya.


“Kebiasaaan.........!” Andre mengusap lehernya, dan terlihat ada sedikit noda darah di tangannya.”Punya istri udah kayak vampir, demen amat gigit leher.......huft.”


Jantung Lina berdegup cepat. Dia mencoba menetralkan nafasnya di kamar mandi, dan buru-buru memakai bajunya.


Duh kenapa gue menikmatinya tadi........tapi rasanya geli-geli enak......haduh otak gue mulai ikutan mesum!!!


Ceklek....!


“Eeehh....!” Lina tampak kaget melihat Andre sudah berdiri tegak di depan pintu kamar mandi. “Mami harus tanggung jawab!” ujar Andre sambil menunjuk luka di lehernya.


“Biasanya juga bisa obatin sendiri!” balas Lina sembari mendorong tubuh Andre yang menghalang jalannya.


“AAAAAWWW.............!” pekik Lina saat Andre mengangkat tubuh Lina dan menghempaskannya di atas ranjang.


Andre mengungkung tubuh istrinya, lalu mengapit ke dua tangan Lina ke atas kepala Lina.


“Lepasin Dad.....!” pekik Lina, mulai khawatir lihat gelagat Andre.


Oooh jangan sampai terjadi sesuatu......batin Lina.


“Ingat Dad, kalau daddy berani melakukan........perjanjian kita selesai!” tatapan matanya menantang Andre.


Tapi sepertinya Andre tidak menghiraukannya, justru semakin ia menggebu-gebu bermain di leher istrinya.


Lina dengan penuh kesadaran “ AAAAGH.......” pekik Andre sambil memegang juniornya, badannya tumbang di samping Lina. Lina langsung bangkit dari ranjangnya, dan meninggalkan Andre yang kesakitan akibat tendangan mautnya.


“MAMI..........eeergh!” pekik Andre merasakan kesakitan sangat amat, terguling-guling di ranjang.


“Faisal temenin Bosnya, sekarang ada di kamar tuh!” ujar Lina yang tidak sengaja ketemu di depan kamar tamu.


“Oooh ok Bu Bos,” Faisal langsung masuk ke kamar tamu. Dilihatnya Andre lagi kesakitan.


“BOS.....Bos kenapa?” agak cemas Faisal melihat wajah Andre yang memerah.


“Adek gue sakit.........cepat panggilkan dokter!” Buru-buru Faisal menghubungi dokter.


“Kok bisa sampai adek loe sakit?”


“Banyak nanya loe.....istri gue tadi nendang pakai siku lututnya,” Andre masih meringis kesakitan.


“HA....HA......HA........semoga adek Bos masih bisa berdiri ya!” ejek Faisal sambil terkekeh.

__ADS_1


“Sialan loe!” dilemparnya bantal ke Faisal.


.


.


45 menit kemudian.......


“Sakit apa nih Bro?” tanya Kevin yang ternyata datang setelah di hubungin Faisal.


“Adeknya yang sakit Vin,” celetuk Faisal.


“Bisa diam gak loe mulutnya!” Andre bete setelah habis-habisan di ledek teman sekaligus asprinya.


“Buka celananya Bro, biar gue lihat dulu?” pinta Kevin. Andre membuka celananya dan Kevin segera memeriksanya.


“Widih... .loe mainnya kasar ya?” tanya Kevin.


“Enak aja, adek gue abis di tendang ama istri gue sendiri!”


“Wah keren istri loe bisa menolak adek dari pria ganteng ini.......hi.hi.hi,” Kevin tertawa kecil.


“Dasar loe, trus ngimana nih adek gue?” sambil memandang adeknya.


“Sedikit bengkak aja, nanti akan kempes sendiri. Kalau nanti adek loe merasa ada yang lain, misalnya susah berdiri. Loe langsung cek ke dokter spesialis kelamin ya. Soalnya kita harus lihat responnya dulu.”


“Ya semoga adek loe gak pa-pa!” ujar Kevin lagi.


“Semoga aja...!” Andre berujar lemas, lalu segera menaikkan celananya.


TOK.......TOK......TOK..


Faisal membukakan pintu, dilihatnya yang datang Lina membawa beberapa gelas dalam nampan.


“Pagi Dokter Kevin, silahkan di minum” sapa Lina menaruh nampan di meja.


“Terima kasih Lina,” sahut Kevin.


Dengan senyum manisnya Lina membawa secangkir kopi untuk Andre di taruhnya di nakas dekat ranjang. Andre memalingkan wajahnya, yang tampak kesal dengan istrinya.


“Dad, saya buatkan kopi!” ujar Lina, dia duduk di tepi ranjang....dekat Andre yang sedang setengah berbaring.


“Dad....!” panggil Lina merasa di acuhkan Andre. Lina memberanikan lebih dekat lagi ke Andre.


.


.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2