LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Melukai.......


__ADS_3

Lina menatap ke dua sohibnya yang duduk di tepi ranjang.


“Maafkan kita berdua ya!” ucap Mitha sambil melirik Susi.


Kepala Lina hanya mengangguk pelan. Nyatanya ini juga bukan kesalahan temannya. Mereka hanya menjaga agar tidak sampai kehilangan pekerjaannya.


Tapi rasa di dada Lina terasa sesak setelah tahu dirinya sudah di nikahi oleh Bosnya sendiri.


Bayangan saat dia terluka gara-gara Sita terbayang di matanya. Aaah ternyata diriku benar-benar penggoda suami orang tanpa sepengetahuan diri sendiri.


Buliran bening turun pelan-pelan dari ujung matanya. “Gue ternyata penggoda suami orang ya.....Mitha...Susi!” ucap Lina pelan sambil mengusap pipinya.


“Mih.......jangan begitu bilangnya!” jawab Mitha.


“Hikss.......hiks.....sama aja Mitha. Ternyata tuduhan Sita dan oramg tuanya ada benarnya!” ucap Lina terisak sambil tersenyum kecut.


“Ya Allah..........mimpi apa gue semalam!” Lina mulai menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan kuat.


“Mih......please hentikan.....stop nanti mami sakit dadanya!” Mitha dan Susi mencoba melepaskan pukulan tangan Lina.


“DASAR BOS GILA!” teriak Lina.


Dari ranjangnya Lina bangun dan menjauh dari temannya “Mami mau kemana?” tanya Susi melihat Lina gelagatnya sedikit aneh.


“Mitha........gimana nih!” tanya Susi, mereka berdua tampak kebingungan. Tak berapa lama mereka segera mengejar Lina yang keluar dari kamar.


Faisal yang berada di ruang utama apartemen sedang menerima telepon Bosnya terlihat heran, melihat Lina berlarian dan tidak berapa lama di susul  Mitha dan Susi.


“PAK FAISAL, TOLONG........ MAMI!!” teriak histeris Mitha dari dapur.


“Faisal......katakan kamu ada dimana?” tanya Andre mendengar suara kata mami.


“Sebentar Pak Bos!” jawab Faisal, langsung menuju dapur tanpa memutuskan sambungan teleponenya.


“Hiks........Hiks......” tangisan Mitha dan Susi menggelegar di area dapur. Tampak Mitha memangku kepala Lina, terlihat pergelangan tangan Lina mengeluarkan darah. Sedangkan sebilah pisau dapur sudah tergeletak di lantai.


Senyum tipis terlihat di wajah Lina, lalu dia mulai memejamkan kedua matanya.


“Bos----Lina terluka. Sekarang ada di apartement tuan besar!” suara Faisal tercekat dan langsung menutup teleponnya.


Faisal segera mengangkat Lina tanpa banyak berkata lagi, di tambah darah keluar begitu banyak. Mitha dan Susi yang masih menangis mengikuti langkah Faisal. Mereka segera melarikan Lina ke rumah sakit permata.


Dertt........Derrtt.......Derrtt


Handpone Mitha berdering


Pak Bos  calling


Mitha  “Halo Pak........hiks.....hikss”


Andre  “Di mana kalian?”


Mitha   “ Kami......lagi menuju rumah sakit permata!”

__ADS_1


Andre memutuskan teleponnya, dengan kecepatan tinggi dia melajukan mobilnya ke rumah sakit. Setelah tak sengaja mendengar kabar istrinya dari Faisal, pikirannya tambah kacau.


Mobil Andre dan Faisal ternyata sampai di lobby rumah sakit berbarengan.


Melihat mobil Faisal pas di depan mobilnya Andre bergegas membuka pintu mobil bagian penumpang, terlihat Susi memangku kepala Lina dengan noda darah dimana-mana.


“Sayang.......sayang!” ucap Andre gemetaran mengangkat istrinya yang terlihat pucat.


Brankar sudah siap di depan mobil Faisal. Para perawat dengan sigapnya membawa Lina ke ruang IGD.


Mitha dan Susi berpelukan menangisi , andaikan mereka lebih cepat mengejar Lina. Ini tidak akan terjadi.


Tubuh Andre seketika roboh di pintu IGD, untung ada Faisal di sampingnya.


“Andre, sekarang kamu harus donorkan darah buat istri loe. Dia butuh transfusi darah lagi!” ucap Kevin yang baru saja keluar dari ruang IGD. Untung Kevin ingat kalau Andre dan Lina mempunyai golongan darah yang sama.


Andre menganggukkan kepalanya.


“Akhirnya terjadi hal yang buruk!” tegur Kevin kepada Mitha, Susi dan Faisal.


Sempat Kevin berpesan jangan tinggalkan Lina sedikit pun. Ternyata terjadi yang lebih parah, kesehatan mental seseorang kadang tidak terbaca, secara fisik mungkin terlihat kuat, tapi kenyataannya rapuh. Ada celah sedikit, maka hal buruk bisa saja terjadi.


Andre terlihat lemas setelah mendonorkan darahnya di ruang pemulihan, Faisal sudah datang membawa beberapa makanan buat penambah darah.


Pikiran Andre masih bertanya-tanya kenapa Lina coba melukai dirinya.


“Kenapa bisa terjadi!” tanya Andre.


“Lina sudah tahu tentang pernikahannya dengan Pak Bos,” jawab Faisal.


“Jadi Loe udah tahu juga Vin!”


“Faisal yang hubungi gue saat istri loe pingsan di apartement!”


BUGH


Andre menonjok wajah Faisal “ASPRI BODOH, ISTRI GUE PINGSAN........GUE GAK DI KASIH TAU!!”


“Bro, ini bukan salah Faisal.......tenang bro!” Kevin menenangi Andre agar tidak menghantam Faisal.


Faisal hanya diam menerima tonjokkan bosnya.


“Kalau loe mau tau, sepertinya kedua teman Lina lebih tahu!” ucap Kevin.


Andre kembali merebahkan dirinya ke ranjangnya karena pusing, setelah tadi dia bangun mendadak saat memberikan bogemnya ke Faisal.


“Sebaiknya loe istirahat dulu, jangan terbawa emosi. Dinginkan pikiran loe. Masih untung Faisal berada di tempat kejadian. Jadi Lina masih tertolong!” bela Kevin.


“Sorry Bos, kalau gue ada salahnya!” pinta Faisal. Jadi bawahan itu harus ingat point.....Bos itu tidak pernah salah!


“Ck........!” gumam Andre yang masih dongkol.


“Mau bagaimana pun loe salah!” jawab Andre ketus.

__ADS_1


Kevin hanya bisa menaikkan kedua bahunya melihat sikap Andre.


“Sebaiknya gue balik ke ruangan, mau cek keadaan istri loe dulu.”


“Vin, tolong beri perawatan yang terbaik buat istri gue ya biar cepat sembuh!”


“Pastinya, tapi tetap kesembuhan itu dari Allah......manusia hanya bisa berusaha!”


“Ya........!” jawab Andre.


Kevin keluar dari ruang pemulihan  Faisal ikutan juga meninggalkan ruangan, menghindari amarah Andre.


Waktu sudah mulai larut malam, Mitha dan Susi masih setia menunggu di depan ruang HCU. Padahal mereka berdua sudah di minta untuk beristirahat di apartement. Tapi rasanya enggan meninggalkannya, sebelum ada kabar perkembangan terbaru.


“Pak Andre, mami sudah tahu tentang pernikahannya melalui video yang ada di ponsel saya,” tutur Mitha ketika Andre bergabung duduk dengan mereka berdua.


Andre menyimak cerita dari Mitha tanpa dia minta penjelasan.


“Setelah mami lihat videonya, tiba-tiba pingsan. Saya hanya memberitahukan ke Pak Faisal,” Mitha menundukkan kepalanya, menghindari tatapan dingin Andre.


“Setelah sadar dari pingsan, mami histeris. Kami berdua sudah coba menenanginya. Tapi kami tidak bisa mencegahnya, mami berlari ke dapur, tidak lama kami kejar........mami sudah tergeletak di lantai,” sambung Susi dengan nada terisak.


Andre hanya bisa meraup wajahnya, bingung mau bertanya apa. Karena sudah terjadi!


Dari kejauhan Papa Nugraha didampingi Joni si pengawal terlihat mendekati mereka ber-empat.


Mitha dan Susi bangkit dari duduknya “Selamat malam Pak Nugraha,” sapa Mitha.


“Kalian duduk saja!” pinta Papa Nugraha. Mitha dan Susi kembali duduk.


“Pindahkan Lina malam ini juga ke rumah sakit papa, team dokter di sana sudah siap!” titah Papa Nugraha.


Andre yang mendapat perintah dari papanya, segera ke ruang dokter untuk mendiskusikan keadaan Lina, bisa di pindahkan ke rumah sakit yang lain atau tidaknya.


“Bapak terima kasih kepada kalian berdua, saat kejadian kalian masih ada di sana.”


“Tapi tetap saja, saya menyesal tidak bisa mencegahnya,” ucap Mitha.


“Kamu jangan merasa menyesal, ini sudah takdir yang harus dilewati.”


Mitha menganggukkan kepalanya.


“Lina bisa di pindahkan malam ini juga Pah,” ucap Andre setelah dari ruang dokter.


“Saya akan ikut mendampingi Lina, Om,” sambung Kevin yang datang berbarengan dengan Andre.


.


.


*bersambung


Terima Kasih Kakak Readers sudah berkenan membaca, jangan lupa like, vote, komen dan hadiahnya 😘😘😘. Biar semangat buat lanjut nulisnya.

__ADS_1


BTW Covernya diganti sama pihak Noveltoon*


__ADS_2