
Andre bersama Papa Nugraha segera ke kamar rawat yang pernah di tempati Lina sebelumnya. Mama Anggi sepertinya sudah siuman, ditemani Mama Rani, Karin dan Danu adik Lina.
“Pah, perkembangan Lina bagaimana?” tanya Mama Rani.
“Menurut Dokter.....Lina kondisinya masih kritis, kita sama-sama berdoa semoga Lina bisa melewati masa kritisnya," jawab Papa Nugraha.
Mama Anggi semakin terisak tangisnya di ranjangnya sambil dipeluk Danu.
“De.......kakakmu de.....!” isak Mama Anggi dengan wajah yang terlihat rapuh.
“Iya mah......sabar....!” dielusnya punggung mamanya, secara Danu juga menahan kesedihannya mendapatkan kabar kakaknya seperti sekarang.
“Bu.......!” Andre yang terlihat tengang mendekati Mama Anggi yang duduk di tepi ranjang. Ditekuknya kedua kaki Andre di hadapan Mama Anggi.
Pemandangan ini dilihat oleh semua yang berada di kamar tersebut. Andre berlutut di depan Mama Anggi.
“Bu......saya minta maaf.......saya mencintai anak ibu....Lina. Dan ingin menikahi Lina malam ini juga !” ujar Andre mengutarakan isi hatinya dengan lancar.
JEDER !!!
Mama Anggi seperti ke sambar petir, mendengar permintaan Andre. Papa Nugraha dan Mama Rani segera mendampingi Andre.
Suasana kamar rawat terasa hening, sesaat......hanya terdengar suara deruan AC di ruang tersebut.
“Saya sebagai Papa Andre, bermaksud melamar anak ibu Lina Anggraini. Dan jika berkenan malam ini juga kita nikahkan !” Papa Nugraha memberanikan diri demi anaknya.
Andre masih berlutut dan menundukkan kepalanya, berdoa berharap permintaannya dikabulkan oleh mama Lina.
“Nak Andre, bangunlah jangan seperti ini!” pinta Mama Anggi merasa tidak enak melihat seorang BOS anaknya berlutut di hadapannya.
Andre tidak mengubris permintaan mama Anggi.
“Nak Andre, setahu ibu......nak Andre sudah memiliki istri dan anak. Dan keadaan Lina sekarang masih koma, sepertinya tidak memungkinkan ibu menerima lamaran kamu tanpa sepengetahuan Lina. Nak Andre tahukan........ Ibu selalu bilang ke Lina jangan menjadi pihak ketiga dalam rumah tangga kamu. Ibu memang berharap Lina segera menikah, tapi bukan menjadi istri ke dua siapa pun!”
Seketika kembali hening suasana di kamar, mendengar jawaban Mama Anggi.
Tampak kedua tangan Andre saling bertautan, setelah mendengar penolakan. Kepala Andre sedikit mendongak ke Mama Anggi.
“Bu........harapan hidup Lina menurut dokter 30% untuk sadar dari komanya, memang saya salah melamar Lina dengan status pernikahan sekarang. Tapi saya mencintainya, izinkan merawatnya dengan status sebagai suaminya Bu.......entah kapan kita tidak tahu Lina akan bangun....!” ucap lirih dengan mata yang memerah menahan tangis.
“Bu........sa----saya mohon....!” ujar melas Andre.
“Ya Allah Lina.........!” seseguk Mama Anggi, Mama Rani langsung memeluknya.
“Maafkan anak saya Jeng, mohon kabulkan permintaannya. Siapa tahu membawa keajaiban buat Lina !” bujuk Mama Rani saat memeluk Mama Anggi.
__ADS_1
Papa Nugraha tampak sedang sibuk menelepon seseorang di sudut kamar.
Karin hanya melihat dan mendengarkan mereka, sesekali menyeka air matanya.
Andre tidak berkata lagi, seakan-akan memberi waktu sesaat agar suasana Mama Anggi sedikit tenang. Namun ia tidak bangkit dari lututnya.
Mama Rani melepaskan pelukannya dengan Mama Anggi, sesekali menyeka air matanya. Mama Anggi menatap Andre yang masih berlutut di hadapannya, dimantapkannya hati dia sebagai seorang ibu.......mencari keseriusan dari laki-laki yang baru saja melamar anaknya.
Diam dalam waktu 15 menit, mama Anggi meredakan isak tangisnya, mengatur napasnya untuk kembali normal.
“Nak Andre......sebenarnya ibu berat dengan keputusan ini. Ibu berat karena kami bukan dari keluarga terpandang yang tidak pantas bersanding dengan keluarga Pak Nugraha. Tapi Lina anak ibu yang paling berharga............Ibu menerima lamaran nak Andre."
"Tapi dengan syarat, pernikahan ini tidak dipublish ke orang banyak. Dan andai Lina sadar dari komanya jangan kamu beritahu tentang pernikahan kalian. Jangan sampai Lina tahu kalau nak Andre adalah suaminya. Karena dia paling benci menjadi istri ke-2. Andai terbongkar dan jika Lina minta bercerai.....kamu harus menurutinya. Jika nak Andre merasa keberatan dengan persyaratan ini maka tidak ada pernikahan !”
Andre mendengarkan dengan seksama permintaan Mama Anggi, dan coba memahaminya.
“Saya setuju Bu !” ucap Andre mantap, lalu bangkit dari berlututnya dan mencium tangan mama Anggi.”
"Panggil.....mama seperti Lina !” diusapnya kepala Andre.
“Iya Mah, makasih!”
“Terima kasih banyak Jeng Anggi, menerima lamaran Andre,” ujar Mama Rani penuh haru dibalut kesedihan.
“Sebaiknya kita mulai siap-siap, satu jam lagi kita segera ke ruang ICU!” ujar Papa Nugraha.
“Terima kasih Pah!” Andre memeluk Papa Nugraha, bernapas lega setelah mendapatkan restu dari orangtuanya dan mama Anggi selalu ibu dari Lina.
“Papa sudah menyiapkan semuanya, sebaiknya kamu persiapkan diri."
“Baik Pah."
**
SAH
SAH
Doa pernikahan dipanjatkan oleh penghulu serta diaminkan oleh yang hadir.
Terlihat Andre tersenyum lega telah menikah dengan Lina, di jari manis Lina sudah terpasang cincin pernikahan yang sama dikenakan di jari manisnya.
Lalu dimanakan cincin pernikahan Andre dengan Sita yang pernah ia kenakan ! Sudah ia lepaskan dari beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Para sahabat sekaligus teman kerja Lina sedikit terkejut dengan acara pernikahan Lina yang dadakan malam ini. Turut bahagia tapi dalam kesedihan, menjadi saksi pernikahan temannya tapi harus menyimpan rahasia ini dari semua orang termasuk Lina. Miris.....
Malam ini Andre di izinkan untuk menemani Lina di ruang ICU seperti harapan dia, menjadi suami siaga.
Sedangkan kedua orang tuanya, mama Anggi, Danu dan Karin beristirahat di kamar yang telah disediakan.
“Sayang........istriku !” bisik Andre ke telinga Lina.
“Kita udah menikah sayang, saya suamimu sekarang !” dikecupnya tangan Lina yang tidak ada infusnya.
“Jangan lama-lama tidurnya sayang......saya kangen saat kita bertengkar. Kangen.....kamu suka bikin saya emosi!” Andre mengajak istrinya berbicara.
Dipandangnya Lina yang masih terpejam sambil mengingat pertama kali ia melihat Lina.
“Istri cantikku.......tahukah kamu saat pertama kali melihatmu. Ketika diruang auditorium, tatapanmu sangat dingin. Hanya kamu yang tidak terlena denganku. Kamu tahu.....jantung saya berdebar saat kita pertama kali bersalaman. Saya tidak tahu jika sudah jatuh cinta saat itu !”disekanya air matanya.
“Cepat bangun sayang...........!” isak tangisnya akhirnya pecah di ruang ICU. Menangisi keadaan yang menimpa Lina yang sekarang resmi menjadi istrinya walau masih status menikah siri.
Untuk pertama kalinya Andre menangisi wanita, diliputi rasa takut kehilangan. Lelahnya menangis membuat ia terlelap tidur di bangkunya.
.
.
“Pak........Pak Andre!” samar-samar suara memanggil. Andre mengerjapkan matanya.
“Maaf Pak, kami mau membersihkan pasien!” ujar salah satu perawat.
Dilihatnya jam di tangan ternyata sudah jam 7 pagi. Berarti ia tertidur saat menjaga Lina.
“Biar saya saja yang membersihkan istri saya !” pinta Andre sambil mengambil baskom dan handuk kecil yang telah di bawa perawat.
“Baik Pak!”
Untuk pertama kali Andre melihat dan memegang tubuh Lina lebih dari biasanya, pelan-pelan menyeka tubuh Lina tanpa melepaskan pakaian pasien yang dikenakan. Hanya membuka tali kaitannya.
Ini juga bukan pertama kali Andre melihat tubuh wanita, karena sudah menikah dengan Sita. Tapi mata Andre tampak takjub melihat tubuh Lina, menyekanya sama saja memegangnya.
GLEK !!!!
Andre menelan salivanya kasar, menahan juniornya yang mulai bangkit dari celananya. Baru menyeka bagian dada Lina, ia mulai terangsang secepat itu.
Sabar.....sabar......jon....kamu harus tidur dulu.
.
__ADS_1
.
bersambung