
Lina ikut menyantap nasi goreng, sambil menyuapin bubur ke Noah.
Andre cepatlah terbuka matamu, ada wanita yang tulus mengurusimu dan anakmu tapi kau tidak menyadari hatimu sudah jatuh dengannya. Sedangkan istrimu yang sebenarnya tidak begini ... batin mama Rani.
Masakan Lina di meja tandas tidak ada sisanya, hati Lina senang melihatnya.
“Mbak Tini ajak dede main dulu ya, dede sudah rapi dan sudah makan," ujar Lina.
“Baik Bu.” Tini membawa Noah ke taman belakang.
Lina segera ke dapur, membuatkan kopi untuk Andre dan papa Nugraha.
“Papa, Daddy ini kopinya,” ujar Lina menaruh kopi buatannya di meja.
“Terima kasih mami,” jawab Andre dengan senyum merekah.
“Sama-sama.“
Lina meninggalkan Andre dan Papa Nugraha yang sedang serius berbicara.
“Aduh anak mami ketawanya kencang amat sampai kedengeran ke dapur,” ujar Lina menghampiri Mama Rani yang sedang bermain dengan Noah.
“Cucu oma udah pintar loh mami,” jawab Mama Rani.
“Noah sudah pintar tengkurep sama kayak mau merangkak loh Mah.”
“Duh cepat gede nih cucu Oma.”
“Lin ... kamu lagi dekat dengan cowok gak atau udah punya pacar?"
“Pernah dekat, tapi sekarang lagi renggang Mah!”
“Oooh....” membulat bibir si Mama Rani.
“Mami,” panggil Andre dari kejauhan.
“Ya Dad, sudah mau berangkat kah?” sahut Lina.
Andre menganggukkan kepalanya.
“Dede, yuk sama mami dulu. Daddy mau berangkat kerja. Di tinggal dulu ya Oma." Lina menghampiri Andre dan menemani Andre menuju ke mobil.
“Dede salim daddy dulu ya ... nih kayak mami!” Lina mencium tangan Andre. Tangan Noah di tuntun Lina untuk salim ke Andre.
“Daddy hati – hati di jalan yak,“ dengan meniru suara anak kecil.
“Nanti daddy usahaiin pulang cepat," ujar Andre.
CUP
Andre mencium pucuk kepala Lina.
CUP
Andre mencium tangan Lina.
__ADS_1
Mobil yang di tumpangi Andre melaju keluar dari gerbang mansion.
“Wah pagi hari pemandangannya indah banget bos, baru kali ini lihat Bos berangkat kerja di antar istri dan anak ke mobil. Gak seperti biasanya,” sindir halus Faisal yang sedang mengemudi.
“Apalagi kalau sarapan dimasakin dan ditemani istri tambah enak lagi loh Bos selain, selain olahraga ranjang,” kembali Faisal menyindir.
“Dasar mulut loe cerewet banget!” sahut Andre.
“Tapi omongan yang loe bilang barusan, pagi ini gue rasaiin,” ujar Andre semangat.
“Terus gimana rasanya Bos ... senangkan.”
“Iya gue happy hari ini,” senyum Andre, malu-malu mengungkapkannya.
“Tapi sayang Bos, yang ngelakuin semuanya bukan Sita istri Bos!”
Senyum Andre meredup tiba-tiba.
“Dia Lina dan bukan istri Bos!”
DEG
Hati Andre sedikit tersentil dengan ucapan Faisal.
Faisal tidak melanjutkan pembicaraannya, kembali fokus mengendarai mobil menuju kantor.
...----------------...
Perusahaan Nugraha Grup
Biasanya kalau dari rumah suasananya menyenangkan, berangkat kerja hati senang juga 😊.
Dia melangkah masuk ke lift khusus CEO menuju lantai 10.
“Pagi Pak Andre,” sapa Rini saat Andre melewati meja sekretaris.
“Maaf Pak.” Rini berusaha memberhentikan langkah kaki Bos nya.
“Maaf Pak, di dalam sudah ada yang menunggu. Katanya mertua Pak Andre,” ujar Rini agak ketakutan.
“Kenapa main di izinkan masuk begitu saja, bisa kan di suruh tunggu di ruang tamu atau kalau perlu di lobby. Biasa nya kamu bisa menghubungi Faisal!” gertak Andre.
“Mereka main langsung masuk saja Pak, saya sudah melarangnya. Malah memarahi balik Pak!” jawab Rini.
“Ck..........!" berdecak kesal Andre.
Mood Andre mulai berubah, segera masuk ke ruangannya di temanin Faisal.
“Apakabar menantuku!” sambut Bapaknya Sita ketika melihat Andre masuk.
Tidak ada sapaan kembali darinya, Andre langsung duduk di sofa berhadapan kedua orang tua Sita.
“Ada kepentingan apa Bapak dan Ibu ke kantor saya?” tanya Andre dengan tegasnya.
__ADS_1
“Anu nak ... saya mau ambil uang yang tempo hari saya minta lewat asisten pribadi nak Andre, tapi belum di antar juga ke rumah nak.” ujar Pak Agus (bapaknya Sita)
“Bapak butuh berapa?” tanya Andre.
“100 juta aja nak,” jawab Pak Agus.
“Uang bulanan 100 juta yang saya kirim tiap bulan buat bapak dan ibu, apakah masih kurang?” tanya Andre.
“Cu ... cukup nak, malah lebih nak,” jawab Pak Agus.
Ibu Anita (ibunya Sita) hanya terdiam saja tidak berani ikut bicara.
“Sekarang Bapak minta lagi buat apa! Baru beberapa hari yang lalu bapak minta ganti mobil lewat Sita seharga 500jt. Betulkan Faisal!” tanya Andre.
“Betul Pak Bos, beberapa hari yang lalu sudah saya bayarkan mobil yang di minta seharga 500 juta,” sahut Faisal.
Dasar mertua nggak ada akhlak ... batin Faisal ikut kesal.
“Dan itu pun saya sudah membelikan mobil sebelumnya bulan lalu buat Bapak dan Ibu!” tegas Andre.
Bapak Sita tampak sedikit bingung.
“Sekarang Bapak minta uang lagi 100 juta buat apa!” gertak Andre tanpa memperdulikan kalau di hadapannya adalah mertuanya.
“Aaaanu nak Andre ... Bapak sudah janji mau membiayai pesta pernikahan saudara di kampung Nak. Kalau tidak jadi, Bapak malu ... mau di kemanain wajah Bapak!” ucap Pak Agus.
“Ciiih ... seharusnya Bapak kalau mau bantu saudara, lihat kemampuan sendiri dulu. Sanggupnya seberapa banyak!”
“Kalau begitu percuma Bapak punya menantu kaya tapi tidak bisa membantu mertua!” sinis Pak Agus.
“Faisal, kamu ambil mobil yang bulan lalu di beli. Lalu kamu jual dan kasih uang hasil jual mobilnya ke mereka!” perintah Andre.
“Ehhh enak saja main jual mobil saya, apakata tetangga yang melihat mobil saya berkurang di garasi,” ujar Bapak Sita.
Astaga bener- bener mertua Bos maruk harta ... batin Faisal.
“Saya telah memberikan solusi ke Bapak untuk mendapatkan uang 100 juta, jika Bapak tidak mau menjualnya ya silahkan!”
“Jadi nak Andre tidak bisa memberikan uangnya?”
“Tidak, dan Faisal mulai bulan besok hentikan uang bulanan ke mereka!” kata Andre dengan tegasnya.
Bapak dan Ibu Sita terkejut mendengar uang bulanan mereka di hentikan.
“Kenapa begitu nak, kami kan mertua kamu sama seperti orang tua kamu yang wajib dibiayai hidupnya?” ujar Ibu Anita.
“Bapak juga dapat kabar nak Andre telah memblokir ATM serta kartu kredit Sita!”
“Itu hak saya dan kapan pun bisa saya blokir jika pemakaian uang saya tidak sewajarnya!” Andre kembali menekannya.
“Ibu minta nak Andre jangan seperti itu, dia istri kamu nak. Dan ibu minta nak Andre jemput Sita di Bali karena tidak bisa pulang ... kartu yang di pegang tidak bisa dipakai!” pinta Ibu Sita secara halus.
“Bapak, Ibu tahukan Sita pergi ke Bali tidak memberi kabar ke saya selaku suaminya! Sekarang Ibu minta saya menjemputnya! Dan Bapak Ibu tahukah jika selama tiga hari anaknya sakit di rawat di rumah sakit, pedulikah Sita menanyakan kabar anaknya!!"
“Cukup Ibu dan Bapak ketahui selama anak saya sakit, orang lain yang bukan ibu kandungnya lebih tulus merawat anak saya!!” ucap Andre dengan sedikit nada keras.
__ADS_1
Bapak dan Ibu Sita tersentak kaget, mereka juga tidak menanyakan kabar cucunya atau sekedar menengok cucu satu satunya.
bersambung