LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Jadi istri ke-2


__ADS_3

Papa Nugraha terlihat sedikit menyesal telah mengajak rekan bisnisnya ikut makan malam bersama mereka. Andaikan Papa Nugraha tahu Bagas mempunyai anak yang bernama Dina, mungkin Papa Nugraha akan janji temu di kantor saja.


Mama Rani sekilas terlihat kesal dengan suaminya, yang telah mengajak rekan bisnisnya turut makan malam bersama.


Sejak dulu Papa Nugraha membebaskan anak-anaknya bergaul dengan siapa pun, berhubung selalu sibuk ke satu kota dan ke kota lain untuk mengontrol kantor cabangnya, hingga tidak memperhatikan siapa teman dekat Andre dan siapa yang di pacarinya. Yang dia tahu hanya saat Andre minta papa dan mamanya melamar Sita.


“Andre......nih makan aaaa!” disodorkannya sendok makan ke arah bibir Andre.


“Saya bisa mengambilnya sendiri, silahkan kamu menikmati makan malamnya!” jawab Andre datar.


Lina benar-benar menghiraukan kelakuan Dina, kalau mau ribut itu gampang, tapi dia masih menghargai orang tua Andre. Dengan susah payah Andre mengambil piring dan mengisinya dengan keadaan tangan terluka. Dia mengabaikan Dina yang mau menyuapinya makan.


“Kemarikan piringnya!” pinta Lina melihat suaminya kesusahan untuk makan. Dia mulai menyuapi suaminya makan, dengan senang hati Andre menerimanya. Sedangkan Dina terlihat kesal karena di tolak Andre.


Selama makan malam sedikit tenang, mereka menikmatinya dan tidak ada ngangguan.


“Andre, perusahaan Pak Bagas sudah lama kerjasama dengan perusahaan kita. Nanti Dina yang akan mewakilkan papanya,” ucap Papa Nugraha dengan santainya, membuka pembicaraan setelah terlihat makanan yang di piring sudah mau habis.


Papa Nugraha sebaik mungkin menjadi tuan rumah dalam menjamu  tamunya, dengan sementara menghiraukan Dina yang telah membuat kekacauan rumah tangga anaknya.


“Saya baru tahu kalau menantu kamu hanya karyawan biasa di perusahaan. Ini Lina yang di bagian finance kan?” Entah bertanya atau mencemoohkan kata yang keluar dari mulut Bagas.


Sepintas Dina sudah menceritakan keadaan Andre yang sudah menikah, selama ini Bagas tahu anaknya semasa kuliah punya hubungan spesial dengan anak temannya ini. Dan sungguh di sesalkan saat mendengar cerita jika Andre pernah melamarnya namun di tinggal begitu saja oleh Dina.


“Seharusnya Dina layak jadi menantu keluarga Nugraha, sama-sama dari keluarga terpandang!” ucap Bagas.


“Bagaimana Nugraha, kita jodohkan anak kita. Biar perusahaan kita makin kuat dan besar. Dina juga bersedia dijadikan istri kedua, kalau Andre tidak mau menceraikan Lina!” Bagas menatap sinis ke Lina.


“Di samping saya sudah ada istri saya satu-satunya Lina, dan tidak ada niat sekali pun untuk menduakannya!” seru Andre menatap Pak Bagas dengan rasa tidak sukanya.


Seketika suasana ruang makan hening, hanya terdengar suara dentingan sendok yang bersentuhan dengan piring.


Lina menyudahi menyuapi Andre makan, Dina tersenyum smirk mendengar ucapan papanya.


“Bagas, kamu benar-benar sudah keterlaluan. Mencampuri urusan rumah tangga anak saya. Saya saja sebagai orang tuanya tidak mempermasalahkan menantu saya dari keluarga yang biasa-biasa saja!” Papa Nugraha tidak habis pikir teman sekaligus rekan bisnisnya punya pikiran sepicik itu.

__ADS_1


Lina menundukkan kepalanya, sedih mendapat penghinaan dari Pak Bagas.


“Urusan kerjasama perusahaan kita, nanti akan saya pelajari kembali, entah tetap kerjasama atau tidaknya!” tegas Papa Nugraha.


“Justru itu aku menyarankan lebih baik memikirkan kemajuan perusahaan kita, bukan membela menantu yang tidak sederajat dengan kita!” hinaan Pak Bagas yang di di tujukan secara tidak langsung ke Lina.


“Pak Bagas jika maksud kedatangan Anda ke sini ingin menghina istri saya, lebih baik Anda angkat kaki dari mansion saya.....sekarang!” Andre sudah tidak ada rasa hormat lagi kepada Bagas.


“Baiklah kalau begitu kami permisi, terima kasih atas jamuan makan malamnya. Tapi ingat besok Dina akan ke perusahaan Anda!” pamit Pak Bagas merasa suasana makan malam jadi tidak nyaman, dan mengajak Dina untuk pulang.


Selepas kepergian Pak Bagas dan Dina, mereka berempat masih berdiam di ruang makan.


“Pah, Mah.......maafkan Lina telah membuat malu oleh rekan bisnis Papa. Inilah yang tidak Lina inginkan, jadi Pak Andre pikirkan lah lagi.......saya tidak pantas mendampingi Pak Andre. Jangan paksa keadaan kita!” netra Lina mulai berkaca-kaca.


“Lina.....papa mohon jangan pikirkan omongan Pak Bagas, kehilangan rekan bisnis satu tidak membuat perusahaan merugi. Andre sebaiknya tenangkan istri kamu di kamar!” pinta Papa Nugraha.


Andre menuntun Lina ke kamar Noah “tidak perlu dituntun, saya tidak lumpuh.....masih bisa berjalan!" Ditepisnya tangan Andre dari lengannya.


Lina berjalan cepat menuju kamar Noah, Andre ikutan jalan cepat mengikuti langkah Lina.


“Saya tidak marah karena saya tahu diri siapa saya! Dan saya tidak butuh janji mulut manis Pak Andre! Sudah malam sebaiknya Pak Andre istirahat, saya juga mau istirahat!” dengan ketusnya berucap.


“Baiklah.....!” dengan rasa enggannya dia terpaksa keluar dari kamar Noah.


🌹🌹


Pagi ini suhu badan Noah sudah mulai turun, hasil lab darahnya juga bagus tidak ada indikasi penyakit tertentu seperti demam berdarah, yang sekarang sedang merebak selama pergantian musim.


“Pagi.....mami!” sapa Andre yang sudah terlihat rapi dengan setelan baju kerjanya, memasuki kamar Noah.


“Pagi.....,” balas Lina tanpa menatap wajah Andre, karena sibuk sedang menyeka badan Noah.


“Masih panas badannya Noah Mih?”


“Sudah mulai turun panasnya, semoga tidak naik lagi!” jawab datarnya.

__ADS_1


“Hari ini saya akan ke kantor, 2 hari lagi akan ada raker dengan semua kepala cabang,” ujar Andre.


“Ya tadi Mitha sudah sampaikan, saya akan ke kantor kalau Noah bisa ditinggal!” kembali jawabnya yang terkesan datar.


Melihat jawab Lina yang terkesan dingin, ada rasa tidak semangat untuk ke kantor.


“Jangan lupa calon istri Pak Andre akan datang ke kantor hari ini!” celetuk Lina sambil mengendong Noah yang terlihat sudah segar habis di seka.


Dua pasangan ini tampak sama sama kaku, dari panggilan dan sebutan nama yang berubah. Di satu sisi Andre mencoba kembali dekat dengan istrinya, sedangkan istrinya terkesan menjaga jarak.


Tanpa banyak berkata Lina keluar dari kamar Noah, Andre mengikutinya dari belakang.


“Selamat Pagi Mah, Pah......,” sapa Lina, dia berada di ruang makan.


“Pagi Lin, gimana Noah..... maaf semalam mama tidak menemani kamu jaga Noah,” tutur Mama Rani.


“Gak pa-pa Mah, Noah panasnya sudah turun.....semoga nanti siang atau sore tidak panas lagi!”


“Benar-benar cucu oma ini, sakit kangen sama maminya ya!” goda Mama Rani sama Noah.


“Ah......bisa aja si mama!”


Noah ditaruhnya di bangku tinggi, dengan telatennya Lina mulai menyuapinya makan.


“Ehmmmmm......!” Andre mencari perhatian merasa di abaikan istrinya. Lina menoleh ke samping, piring Andre masih terlihat kosong.


Kalau bukan karena tangannya tidak sakit, rasanya malas ngurusinnya.......


Dituangnya nasi goreng ke piring Andre, dan tanpa berkomentar dia menyuapi Andre makan.


Bolak balik dia bergantian menyuapi Noah dan Andre. Mood Andre kembali baik, karena istrinya masih mau memperhatikannya.


Kok berasa punya dua bayi ya.........huft


Papa Nugraha dan Mama Rani hanya bisa saling melirik anak mantunya.

__ADS_1


__ADS_2