LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Terbongkar.......


__ADS_3

Mereka bergegas merapikan berkas, dan segera meluncur ke apartement nugraha.


Sedangkan Andre kembali ke ruangannya dengan wajah muramnya, tampak Faisal sedang mengerjakan pekerjaan Andre yang terbengkalai di sofa .


“HUFT..........!” Andre menghempaskan dirinya ke sofa, lalu membuka dasinya.


“Kenapa Bos?”


“Istri gue pergi lagi!”


“Loh kok bisa?”


“Dina ke ruangan Lina, saat gue ada di sana!”


“Terus....!”


Andre menceritakan kejadian saat di ruang Lina.


“Wah hebat Dina, di kiraain sudah pergi. Ternyata masih ada di kantor, itu tandanya Dina masih cinta sama Bos nih!”


Andre terlihat murung.


“Tolong bantu gue Faisal, tanya ke papa di mana dia tinggal sekarang!”


“Sorry Bos, kali ini gue gak bisa bantu. Lagian besok Bos bisa ketemu dengan Lina di kantor!”


“Gak bisa Faisal, dia istri gue......dia harus pulang dan tinggal di mansion gue!”


“Bos.....kalau Bos gak buat kesalahan, Lina pasti masih ada di sisi Bos. Ini semua kesalahan Bos sendiri yang masih tergoda wanita lain, sekarang Dina.......mungkin esok hari akan ada Dina yang lain!” Faisal menepuk bahu Andre dan kembali ke ruangannya sendiri.


Andre memijat keningnya yang terasa pusing, di tambah lagi kata-kata Faisal masih terngiang-ngiang ditelinganya.


.


.


“Sorry ya Mitha, Susi......gue udah ngerepotin kalian berdua,” ujar Lina ketika melihat kedua sohibnya datang ke apartement.


“Santai aja Mih, lagian gue kan aspri loe. Trus si Susi juga pengen ngikut ke sini.”


“Iya.......ya...,” jawab Lina.


“Masya Allah, Mih, Mitha ini serius kalian berdua tinggal di apartement semewah ini?” Susi takjud melihat isi apartement.


“Cuma numpang tinggal doang Sus, ini punya Big Bos.”


“Ooohh........boleh dong kapan-kapan nginep di sini. Sumpek gue kadang-kadang ama kost an gue,” pinta Susi.


“Boleh kok, gue malah seneng banyak yang temenin gue di sini.”


“Thanks you so much Mami Lina.”


“Sama-sama.”


Berkas-berkas yang dibawa Mitha, langsung di kerjakan Lina, bersamaan dengan sohibnya yang ikut menyelesaikan pekerjaannya masing-masing, di ruang utama.


Pelayan yang berada di apartement sibuk menyiapkan cemilan dan makan malam untuk mereka bertiga.


“Mitha, gue boleh pinjam hp loe gak? Gue pengen lihat video si Bos tadi siang!” pinta Lina.

__ADS_1


“Nih, ada di galeri videonya,” Mitha memberikan hpnya, dan kembali berkutat dengan laptopnya.


Lina langsung berselancar ke galeri yang ada di hp Mitha, setelah ketemu dengan video tersebut, dia mengirimnya ke no hpnya sendiri. Jaga-jaga buat bukti.


Setelah mengirim video, netra Lina tertarik dengan video yang urutannya tidak jauh dari video yang dia cari, karena sekilas sampulnya wajah dia yang memakai masker oksigen. Tanpa permisi sama empunya, dia play video tersebut.


“Saya terima nikah dan kawinnya Lina Anggraini binti Ferry Saputra dengan mas kawin tersebut tunai” ucap lelaki tampan tersebut yang duduk di samping ranjang Lina.


“Bagaimana para saksi....sah!”


“SAH.”


“SAH.”


Lina menutup mulutnya dengan salah satu tangannya, sedangkan salah satu tangannya gemetaran memegang ponsel Mitha dan menatap ke dua temannya silih berganti.


Mitha dan Susi yang mendengar suara video tersebut ikut terkejut.


“Mit--------mitha.......ini maksudnya apa?” tanya Lina dengan suara terbata-bata, dan tubuh yang mulai gemeteran.


Dugaan yang selalu terbesit di hatinya, ternyata terjawab dengan video yang baru dia lihat.


Susi langsung ke dapur untuk mengambil minum buat Lina.


“Mami........!” Mitha belum bisa menjawab dulu, dia segera memegang kedua tangan Lina yang gemeteran.


“Minum dulu Mih!” segelas air hangat di berikan Susi untuk Lina.


Gelas tersebut ikutan bergetar, saat Lina mulai meminumnya.


“Mit.......Sus.......video itu maksudnya apa?” Lina kembali bertanya.


Napas Lina mulai terasa sesak mendengar jawaban Mitha, wajahnya sudah mulai memerah. Mata coklatnya mulai berair, mendadak kepalanya terasa berputar.


“Mami......!” panggil Susi melihat Lina memejamkan matanya.


“Mitha........mami pingsan, ngimana nih badannya juga jadi  dingin begini!” Susi sudah memegang kedua tangan dan kaki Lina.


Mereka berdua langsung merebahkan Lina di sofa, untungnya mereka dalam posisi duduk di sofa, jadi tidak terlalu repot untuk mengangkat.


Mitha segera menghubungi seseorang dengan hpnya.


“Pak Faisal, tolong datang ke apartement sekarang juga. Kalau bisa hubungi dokter juga!” ucap Mitha dengan napas yang agak berat.


“Ada apa Mitha?”


“Mami pingsan di apartement, dan tolong jangan sampai Pak Andre tahu.”


“OKE.”


Faisal yang menerima telepone Mitha langsung menghubungi Kevin dan meminta segera datang ke apartement Nugraha.


Selanjutnya Faisal meluncur ke apartement Nugraha tanpa berpamitan dengan Andre yang masih berada di ruangannya.


30 menit berlalu....


Faisal dan Kevin secara bersamaan sampai di apartement dan tak sengaja pula bertemu di lobby. Jadi mereka bersama-sama menuju tempat Lina.


“Pak Faisal, Dokter....?” sapa Mitha menerima kedatangan mereka berdua.

__ADS_1


Kevin langsung menuju sofa tempat Lina berbaring dan masih terpejam, dengan tas kerjanya segera mengeluarkan alat tensi dan memakai stetoskopnya.


“Bagaimana Dokter?” tanya Susi yang berada di dekat Lina.


“Nadinya sedikit lemah, dan tensinya rendah!” jawab Kevin.


“Apakah ada pemicu Lina bisa pingsan?” tanya Kevin.


“Ada Dokter, sepertinya Lina pingsan karena melihat video saat dia dinikahkan!” jawab Mitha melas.


“Jadi selama ini Lina belum tahu sudah nikah dengan Andre?” Kevin terkejut.


“Ada perjanjian dengan mamanya Lina, tidak boleh di kasih tahu perihal pernikahannya ke Lina!” sambung Faisal.


“Dan sekarang Lina sudah tahu!” tutur Kevin.


“Ini asam lambungnya sepertinya kambuh, nanti saya resepkan obat. Dan kalau bisa untuk sementara kalian menemaninya, jangan sampai di tinggal. Takutnya tiba-tiba depresi. Saya akan menunggu Lina sampai sadar di sini!”


“Baik Dokter,” ucap Mitha.


Susi segera mengambil resep obat dari tangan Kevin.


“Susi, biar saya saja yang ke apotik. Kamu tetap di sini temenin Lina,” titah Faisal.


“Baik Pak,” resep obatnya diberikan ke Faisal.


“Kamar Lina di mana? Sebaiknya dia beristirahat di kamarnya?” tanya Kevin, sambil siap-siap mengangkat Lina yang belum sadar dari pingsannya.


“Mari saya antar Dokter!” ucap Susi.


Dibaringkan dengan hati-hati Lina di ranjangnya oleh Kevin, dan Mitha menyelimutinya agar tubuh Lina hangat.


Tanpa menunggu waktu yang lama, sekitar 10 menit Lina mulai mengerjapkan matanya. Kevin kembali mengecek kondisinya.


“Sekarang apa  yang di rasa Lin?” tanya Kevin.


“Kepala agak pusing.”


“Tidak ada yang di rasa lagi?”


“Sedikit sakit aja perutnya dan agak sesak.”


“Asam lambung kamu kambuh, nanti sebelum makan minum obatnya dulu. Dan jangan terlalu stress. Kalau ada masalah, bisa berbagi dengan teman atau keluarga, jangan di pendam sendiri!” nasihat Kevin.


Lina hanya bisa menganggukkan kepalanya, tanpa menjawab.


Merasa kondisi Lina sudah sadar dari pingsannya, Kevin kembali bertugas ke rumah sakit.


“Mih........!” panggil Mitha pelan.


Lina menatap ke dua sohibnya yang duduk di tepi ranjang.


“Maafkan kita berdua ya!” ucap Mitha sambil melirik Susi.


.


.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2