LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Bertemu kembali


__ADS_3

Langkah kaki Faisal sudah hampir dekar pintu ruang kerja.


“Faisal jangan pergi dulu, bisa kita bicara sebentar?” pinta Andre sudah tak kuasa, harus melakukan apa.


Faisal kembali duduk dengan enggan.


“Saya ingin beberapa pengawal mengintai gerak-gerik Sita mulai sekarang!”


“Saya juga tidak bermaksud melindungi Sita dari perbuatannya, hanya bermaksud melindungi anak yang ada di kandungannya.” Andre terlihat pasrah dengan kata-katanya.


“Sorry Bos, saya sebagai teman bukannya tadi ingin memarahi kamu. Ini juga akibat kesalahan kamu sebagai suami harusnya tidak terlalu dekat dengan Lina, jadi istri Bos nggak akan cemburu. Mungkin dia melakukan ini karena cemburu, tapi fatalnya hampir menghilangkan nyawa seseorang!”


“Kalau Sita benar-benar tahu Bos sudah menikahi Lina, mungkin nyawa Lina benar-benar hilang. Untung pernikahan Bos dengan Lina bisa dibatalkan!”


“Apa.....jangan salah ngomong. Saya belum menceraikan Lina. Dia masih istri saya!” Andre terlihat kalut. Sudah kedua kali mendengarkan kata cerai dengan Lina.


“Jadi pria jangan plin-plan, pilih salah satu. Dan perjuangkan yang kamu pilih!” ujar sinis Faisal.


Mereka berdua diam sejenak.


“Mana yang saya minta tadi siang, di mana Lina dirawat?”


“Belum tahu Lina ada di mana!” bohong Faisal.


“Tidak usah berbohong, saya tahu kamu bohong. Di suruh Papa kan?” tuduh Andre.


“Ya ini semua untuk melindungi Lina!”


“Faisal.....tolong saya ingin bertemu Lina istri saya, saya juga pengen ketemu Noah!” Andre frustasi, sesekali menjambak rambutnya.


Bagaimana caranya agar Faisal memberitahu keberadaan Lina.....batin Andre.


Faisal belum juga menjawab, dilema buat dia....di satu sisi Pak Nugraha Bos Besarnya, sedangkan Andre Bosnya juga sekaligus sahabatnya.


“Berapa hasil jual perhiasan Sita tadi?”


Faisal hampir melupakan untuk memberitahukannya gara-gara rekaman “uangnya 1,2 M dari hasil jual perhiasan.”


“Ambil 500 juta komisi buat kamu, sisanya kasih ke Sita. Tapi dengan syarat sekarang juga antar saya ke tempat istri saya berada!” ujar Andre dengan mudahnya.


Kedua mata Faisal membelalak mendengar uang 500 juta buat dirinya “500 juta ! Nggak salah Bos sebanyak itu?” angka fantatis selama dia hidup, dan bisa menambah pundi-pundi tabungannya serta memberikan kepada orang tuanya.


Oh komisi yang paling besar seumur hidupku, lagi pula tidak ada salahnya memberitahukan keberadaan Lina dan Noah......batin Faisal.


“Bagaimana......kamu setuju dengan syarat saya!”


“Baiklah, tapi Bos juga harus melindungi saya dari amukkan Tuan Besar!”


“DEAL, sekarang juga kamu antar saya!” hati Andre mengebu-gebu ingin cepat-cepat bertemu Lina.


Baru mau melangkah keluar pintu, tiba-tiba Sita telah membuka pintu ruang kerja.


“Sayang......mau ke mana?” Sita menghalang Andre untuk keluar ruang kerja.


“Bukan urusanmu!”


“Ini urusanku, karena kamu suami aku!”

__ADS_1


“Ciih.......” gumam Andre.


Mata Faisal sudah jengah melihat Sita, tanpa rasa malu menggunakan lingerie hitam yang begitu menerawang, hingga aset Sita terlihat semua.


Duh mataku ternodai lagi.. batin Faisal.


“Faisal, mana uang hasil jual perhiasan aku?” Sita mengulurkan tangannya.


Faisal langsung membuka handphonenya.


“Silakan di cek rekening Nyonya!” jawab Faisal santai.


Sita buru-buru membuka aplikasi banknya.


“Kok cuma 700 juta, setahu aku nominalnya lebih dari 1 milyar. Betulkan sayang...?”


“Jangan-jangan kamu tilep uangnya ya Faisal!” tuduh Sita.


“Faisal tidak menilep, tapi saya yang memberikannya!”


“Tapi itu terlalu banyak sayang, Faisal .....kamu harus kembalikan......itu uang aku!” ujar Sita.


“Cih......kamu gak salah ngomong. Semua perhiasan kamu dibeli pakai uang saya. Dan sepertinya kamu nyaman ya berkeliaran di luar kamar memakai lingerie saja!” sarkas Andre.


“A------Aaku karena terburu-buru mencari kamu sayang...!”


“Faisal, ayo kita berangkat!”


Andre dan Faisal bergegas meninggalkan ruang kerja.


“SAYANG...!!! teriak Sita, tapi Andre tetap jalan tanpa berpaling.


.


.


Faisal mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan Andre lebih banyak terdiam dan memandang arah ke jalanan.


Perjalanan dari Mansion Nugraha ke tempatnya yang dituju menghabiskan waktu 1,5 jam, lumayan jauh.


Mereka telah sampai di salah satu rumah sakit besar di pinggiran kota Bogor. Andre dapat menghirup udara yang lumayan sejuk, ketimbang udara kota Jakarta.


Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 wib, Andre berharap Lina belum tidur. Andre mengikuti langkah Faisal tanpa bertanya.


Jantung Andre berdebar-debar setelah sampai di depan kamar, Faisal mempersilahkan Andre untuk terdahulu masuk.


Kamar kelihatan sunyi, Andre sudah mulai resah takut tertipu lagi. Buru buru dia masuk mencari keberadaan Lina.


“Sayang...........!” sapa Andre lembut, melihat Lina sedang tidur dengan memeluk Noah.


Tak kuasa lagi Andre mencium semua wajah Lina, ungkap kebahagiaannya yang ternyata berpisah sesaat membuat hatinya sesak.


“Mmmmmm.....,” Lina agak terganggu tidurnya dengan kelakuan Andre.


Mata Lina mulai mengerjap melihat siapa yang mengganggunya.


“Daddy......!”

__ADS_1


“Sayang.......!”Andre mulai terisak-isak, menatap lekat istrinya.


Lina mencoba bangun, dan menyenderkan dirinya ke kepala ranjang.


“Daddy kenapa...?” tanya Lina melihat Andre mengeluarkan air mata.


Andre memeluk Lina dengan erat “Sayang.....kenapa tinggalkan saya? Kenapa kamu nggak bisa dihubungi?”


Punggung Andre di elus dengan lembut oleh Lina.


Baru kali ini lihat Andre menangis karena wanita. Selama dengan Sita, dia tidak pernah menangisinya. Apakah Andre benar-benar tulus sayang dengan Lina........batin Faisal.


“Tadi siang, saya ke rumah sakit tapi mami gak ada. Saya panik.....mih!” ungkap Andre dengan mata yang terlihat basah karena air mata.


“Cup.....cup......udah jangan nangis lagi. Sekarangkan udah ketemu!” ujar lembut Lina seakan-akan sedang menenangkan Noah. Setelahnya mengurai pelukan Andre, dan menghapus air mata di pipi Andre dengan jarinya.


Mata Andre setia menatap wajah Lina, dikecupnya jari jari Lina yang mengusap pipinya.


“Tangan daddy kenapa?” Lina melihat tangan kiri Andre di perban.


“Tapi pagi Pak Bos habis hantam meja kaca dikantor,” lapor Faisal.


“Ya ampun, daddy kan jadi luka begini, sudah diobati? Lain kali jangan begitu ya!” ujar Lina.


“Ya..,” di anggukkannya kepalanya.


Sita saja tidak ada menanyakan luka ditangannya saat ketemu, malah menanyakan uang!.....batin Andre.


“Kenapa handphone mami tidak aktif?” tanya balik Andre.


Lina menunjukkan jarinya ke arah nakas “rusak, handphonenya tadi terjatuh!”


“Ya ampun mami, kan bisa minta tolong Mitha hubungi saya. Biar dibelikan handphone baru.”


“Gak kepikiran, nanti aja belinya pas udah gajian.”


“Faisal besok antar handphone baru buat Lina. Sekarang kamu bisa pulang, istirahat. Atau menginap aja di hotel saya!”


“Oke Bos!”


“Eeet.....tunggu Pak Faisal jangan pulang dulu, pesan makan dulu, sepertinya Daddy sama Pak Faisal belum makan malam ya!”


Ya mereka berdua sampai lupa makan malam.


Faisal cuma bisa nyengir kuda.


“Kok mami tahu daddy belum makan?”


“Tuh.....dengerin aja perut daddy, cacingnya pada bernyanyi!”


“Ha....ha......ha......hah,” terbahak-bahak Andre tertawa lepas dikataiin cacing perutnya bernyanyi.


Baru saja Andre menghadapi kenyataan kelakuan Sita, tapi saat bertemu Lina.........seakan-akan beban beratnya berkurang.


Habis nangis ketawa, makan gula jawa 😋


.

__ADS_1


.


bersambung


__ADS_2