
Dari pada bingung lihat kelakuan Tuannya, mending Tini kembali bekerja.
“Iya bu, saya lihat dede dulu,” ujar Tini, mulai merubah panggilan Lina sesuai perintah Tuannya.
“Gimana sih Pak Andre, panggilan orang kok diubah-ubah. Saya kan masih muda jadi wajar di panggil mbak, kecuali udah punya anak,” bibirnya sedikit cemberut.
“Bukannya kamu sekarang memang sudah punya anak, kemaren minta Noah jadi anak angkat kamu........nggak ingat!”
“Hihihihi........ingat kok,” sambil garuk garuk kepalanya.
“Saya aja panggil kamu Mami Lina, berarti sekarang kamu panggil saya Daddy!!” perintah Andre dengan raut muka seriusnya
“Haduuuuh.......!” tepok jidat Lina.
“Bu...... Noah sudah bangun,” ujar Tini dengan mengendong Noah.
“Sini sayang sama mami..........udah bangun,” Noah di letakkan ke pangkuannya.
“Diapersnya sudah digantikan mbak?”
“Sudah Bu.”
“Siapin bubur dede ya mbak.”
“Ya Bu,” Tini segera ke dapur mini.
“Noah masih panas nggak badannya mih?” tanya Andre. Lina menempelkan punggung tangannya di kening Noah.
“Kayaknya udah adem badannya Pak,” jawab Lina.
“Panggil Daddy,” bisik Andre.
“Mmmmm.......yaa Daddy Noah,” Lina tersenyum kecut.
“Eeeh anak mami udah lapar ya, tangannya jangan di **** dong sayang.” Diciumnya pipi Noah dengan gemas.
“Daddy ....ambilin bubur dede gih....kelamaan nunggu mbak Tini.”
Senangnya hati Andre dipanggil Daddy sama Lina, langsung nurut ambil bubur di dapur mini tanpa nunggu Tini yang antar.
“Masya allah adem banget lihat Pak Andre sama Bu Lina kompak ngurus Noah, andaikan Bu Sita seperti Bu Lina.....batin Tini di hati yang sudah beberapa kali lihat Lina mengurus Noah."
Pas selesai nyuapin Noah, pas juga kunjungan dokter.
“Bagaimana Bu Lina sudah mulai enakkan badannya?" tanya Dokter Kevin.
“Masih pusing kepalanya....” keluhnya.
“Saya periksa dulu ya......mungkin bisa berbaring dulu di ranjang?” pinta Kevin.
“Mbak Tini, Noahnya di pegang dulu!”pinta Andre, setelah Noah di ambil dari pangkuan Lina. Andre mengendong Lina ke ranjang.
Sepertinya Andre hutang penjelasan nih.......batin Kevin memandang sahabatnya.
“Suhunya 37’C , tensi 120/80 Dokter," lapor perawat.
Kevin seperti biasa mengecek badan Lina.....serta perutnya.
“Suster, nanti ambil darah bu Lina buat cek lab,” ujar Kevin.
__ADS_1
“Baik Dokter.”
“Bu seperti kemaren ya di suntik lagi, bapak bisa dekat ibu biar bisa ikut menenangi...,” ujar perawat.
Andre duduk di pinggir ranjang Lina, sembari memegang tangan Lina.
“Tahan ya Bu,” perawat mulai menyuntikkan obatnya. Andre mengelus lengan tangan Lina agar mengurangi rasa sakit dan perihnya.
“Hikss......” Lina sedikit meringis.
“Nah udah selesai. Sekarang saya ambil darah ya bu. Tangannya dikepal dulu," ujar perawat sambil mencari pembuluh darahnya.
Reflek Lina memegang tangan Andre, buat dipegangnya, karena takut dan sedikit pobia jarum suntikan.
“Bu jangan tegang ya,” ujar perawat. Setelah dapat langsung di tusuk jarum tersebut.
“Aaauuwww.......!” terasa sakit ditusuk jarumnya.
“Sudah selesai kok Bu, nih jarumnya sudah keluar." perawat memperlihatkan darah yang diambil. Seketika Lina pingsan.
“Waduh si Ibu....pingsan,” ujar perawat. Untung Dokter Kevin masih berada di sana, bisa langsung periksa.
“Bu Lina hanya shock aja, mungkin tidak bisa lihat darah !” ujar Kevin sebelum ditanya Andre.
“Anakku kondisinya bagaimana Vin?” tanya Andre, mengingat anaknya juga sedang sakit.
“Demamnya sudah turun, benar dugaan saya Bro. Anakmu kangen dengan seseorang jadi sampai sakit. Nyatanya baru sehari dekat Lina....wajah anakmu mulai cerah,” ujar Kevin.
“Sepertinya anakmu butuh sosok seperti Lina. Atau memang butuh Lina,”ujar Kevin sambil menepuk bahu sahabatnya, dan sedikit menggoda Andre.
Andre terdiam mendengar penjelasan Kevin.
“Bro, istrimu nggak datang ke sini.”
“Kenapa?”
“Saya juga bingung........tiba-tiba terasa nyaman lihat ini dan tidak ingin kehilangan moment seperti ini. Dan serasa seperti suami sepenuhnya,” Andre menyugarkan rambutnya.
“Pikirkanlah baik-baik demi anakmu,” saran Kevin.
“Ok Bro, saya lanjut lagi ya. Kapan-kapan kita ngopi bareng. Untuk sekarang mereka berdua masih di rawat dulu sampai pulih ya Bro,” ujar Kevin.
“Ok, thanks Bro,“ jawab Andre.
.
.
“Tini bisa keluar sebentar, kami ingin istirahat dulu. Nanti saya hubungin buat kembali ke ruangan. Dan ini uang buat pegangan kalau mau jajan," pinta Andre.
“Baik Pak,“ Tini menerima pemberian uang dari Andre.
Lina tampak belum siuman, atau mungkin sudah tertidur efek dari obat tadi. Andre naik ke ranjang, membaringkan badannya di samping Lina. Di pandangnya sesaat wajahnya, di elusnya kembali pipinya.
“Lina...,” bisik Andre dengan lembutnya.
Masih belum terbangun juga. Dirangkulnya pinggang Lina dengan hati-hati, kembali dikecupnya telinga Lina...... diciumnya .........digigitnya dengan lembut.......kemudian turun ke tengkuk Lina....dihirup wanginya lalu diciumnya. Andre menahan hasratnya yang telah terbangunkan.
“Lin.......kenapa saya jadi begini sama kamu,” bisik Andre sambil mengelus pipi Lina. Tak lama tangan besar itu melingkar erat di perut Lina. Memandang teduh Lina dan Noah yang sedang tertidur.
__ADS_1
Di lubuk hati Andre, seperti terisi sesuatu yang sangat diharapkan selama ini. Merasakan kehangatan saat bersama Lina. Tapi sering di tepisnya, karena logikanya sudah ada Sita yang telah mengisi hatinya. Namun kenyataannya 2 hari ini dia melupakan Sita istrinya.
.
.
“Mmmmmm.......,” badan Lina di bagian perutnya terasa berat. Dia menunduk, menatap tangan di perutnya. Dan melihat si empunya tangan.
“Daddy...,” sahut Lina pelan melihat Andre tidur. Digoyangnya lengan Andre agar terbangun.
“Mmmm......,” gumamnya dalam mata terpejam.
“Daddy.......bangun dong.....saya haus pengen minum."
Andre melepaskan rangkulannya dan bangkit dari tidur yang terasa pulas walau sebentar.
“Sebentar saya ambilkan dulu, kamu tunggu di sini.”
“Ya..”
Andre mengambil botol air yang ada di meja makan, dan memberikan ke Lina.
“Terima kasih,” ujar Lina.
.
.
Tok.......Tok.......Tok..
Ceklek .........suara pintu terbuka.
“Assalammualaikum,“ sapa Mama Rani yang sudah tiba, bersama Papa Nugraha dan Mama Anggi.
“Waalaikumsalam,“ jawab Andre dan Lina.
Mereka bertiga menghampiri ranjang Lina.
“Bagaimana kabarmu nak?” tanya Mama Anggi.
“Sudah lebih baik mah,” jawab Lina.
“Cucu oma sudah mendingan Ndre?” tanya Mama Rani sambil mendekati Noah yang baru bangun.
“Alhamdulillah sudah mulai sehat semenjak sama maminya,” ujar Andre dengan menatap Lina yang ada disampingnya.
“Syukurlah cucu opa cepat sehat,” Pak Nugraha tersenyum.
“Mama kok datangnya bisa bareng sama Bu Rani dan Pak Nugraha?" tanya Lina.
“Tadi Bapak sama Ibu jemput mama kamu di rumah,” jawab Pak Nugraha.
“Makasih banyak Pak Nugraha, jadi merepotkan."
“Nggak pa-pa, Bapak senang kok......sekalian tadi mama Andre dan mamamu masak bareng disana sebelum ke sini."
“Nih loh Ndre, mama sama jeng Anggi masak enak buat makan siang kita.” Mama Rani terlihat senang sekali.
.
__ADS_1
.
bersambung