
Tok ... Tok ... Tok
Pintu kamar rawat ada yang mengetuk. Terpaksa Andre membukakan pintu.
“Mama,” sapa Andre, melihat mama nya dan mama mertua nya yang datang.
“Mama Rani dan Mama Anggi langsung masuk ke kamar, bergegas ke ranjang Lina. Setelah di hotel dapat kabar dari Mitha, kalau Lina penda-rahan, ke dua mama ini langsung menghentikan kegiatan SPAnya, terburu buru menuju rumah sakit.
“Apa yang terjadi dengan anak mama, Nak Andre?” tanya Mama Anggi dengan tatapan sendunya, setelah melihat anaknya sedang tidur.
“Ada orang yang mencampurkan obat lacknat ke minuman yang Lina minum, hingga perutnya mengalami kontraksi hebat, sampai terjadi penda-rahan.” Dielusnya pipi Lina saat pria itu ingin mulai bercerita.
Andre menjelaskan secara detail dari awal kejadian sampai penjelasan Dokter Tina tentang kondisi rahim Lina sekarang.
Mama Anggi dan Mama Rani sama sama mengelus dada, atas apa yang sudah menimpa Lina saat ini. Sungguh kejamnya orang yang ingin menyakiti anaknya.
“Mah, Andre titip istri dulu saya ingin menyelesaikan urusan ini sekarang juga,” pinta Andre ke mama Anggi.
“Iya nak, mama dan mama kamu akan di sini menjaga Lina. Semoga pelakunya cepat terungkap.”
🌹🌹
Andre sudah kembali ke hotelnya, Faisal sudah menunggunya di lobby.
“Di mana mereka berdua?” tanya Andre.
“Mereka berada di kamar yang berbeda, agar mudah interogasinya. Tapi alangkah baiknya, sebelumnya Pak Bos ganti baju dulu,” usul Faisal, melihat baju Pak Bosnya sudah kotor.
Andre menundukkan kepalanya, baru sadar bajunya belum di ganti.”Saya ke kamar dulu, kamu ikut saya ke kamar, biar bisa langsung ke kamar mereka berdua.”
“Baik Pak Bos.”
Selesai mengganti pakaiannya, Andre meminta kepada Faisal untuk bertemu dengan Gia terlebih dahulu. Serta meminta Fani ikut hadir di sana.
Dengan langkah gagahnya penuh wibawa, Andre, Faisal dan Fani masuk ke salah satu kamar hotel. Sedangkan ajudan sudah berjaga sedari tadi di depan pintu kamar.
“Gia,” sapa Andre dengan suara terkesan dingin.
Faisal mulai merekam percakapan dengan handphonenya.
“Iya Pak Andre,” jawab Gia.
“Kamu tahu kenapa ditahan di kamar ini?”
“Saya, tidak tahu Pak.” Tapi Gia merasakan perasaan yang kurang nyaman.
“Kamu yang tadi siang mengantar pesanan saya ke ruangan kan?”
“Iya Pak Andre.”
“Kamu tahu, jika makanan yang kamu bawa mengandung obat lacknat?”
Gia terdiam, mulai panas dingin, “saya tidak tahu Pak, saya hanya membawanya sesuai pesanan yang di terima. Sedangkan yang membuat pesanan itu bagian dapur, Pak.”
__ADS_1
“Apakah ini kamu yang buat?” tanya Faisal, sambil menyodorkan tabletnya. Terlihat rekaman Gia sedang memasukkan sesuatu ke gelas jus alpukat lalu mengaduknya. Sepertinya Gia tidak memperhatikan keamanan diri dia sendiri saat ingin bertindak. Tindakan dia terekam oleh CCTV saat dia berhenti di lorong sebelum menuju ruang CEO.
Wajah Gia mulai ketakutan,“Siapa yang menyuruhmu, dan kamu dibayar berapa?” tanya Andre yang sudah mulai kesal.
“Maafkan saya, Pak Andre. Saya khilaf, saya butuh uang buat bayar hutang.” Gia langsung berlutut dia hadapan pemilik hotel.
“Wanita ini yang menyuruh kamu bukan?” Fani menunjukkan foto saat di restoran, Siska dan Gia.”
“Iya Bu,” jawab Gia.
“Sebutkan nama wanita itu?” bentak Andre.
“Namanya Siska, Pak.”
“Berapa Siska bayar kamu untuk memasukkan obat lacknat itu!” agak tinggi suaranya.
“Lima juta Pak, tapi baru di bayar tiga juta. Jika berhasil membuat yang minum kesakitan, baru akan dilunasi.”
OOOH betapa murkanya Andre, ingin rasanya menendang wanita yang di hadapannya. Andaikan Gia laki-laki, sudah habis dihajarnya. Babak belur sudah pasti akan terjadi.
“Kamu tahu apa yang kamu lakukan, adalah salah satu tindak kejahatan. Saya akan memecatmu hari ini juga, dan kamu harus menerima ganjaran yang setimpal!” seru Andre dengan wajah dinginnya.
“Pak, tolong maafkan saya. Jangan laporkan saya kepolisian. Kasihan ibu saya di rumah.”
“Kalau kamu kasihan sama ibu kamu, kenapa kamu melakukannya! Menyesal setelah bertindak. Sungguh bodohnya kamu. Dan orang yang perlu kamu minta maaf adalah istri saya yang sedang kesakitan di rumah sakit!”
“Faisal, suruh ajudan bawa Gia ke kantor polisi!” titah Andre, lalu dia keluar dari kamar tersebut.
Selesai dengan urusan Gia, sekarang mereka bertiga ke kamar Siska, yang jaraknya hanya dua kamar dari tempat keberadaan Gia.
Andre menatap sinis ke Siska, yang sudah berdiri di hadapannya.
PLAK
PLAK
Tangan Andre sudah mendarat di kedua pipi Siska, yang membuat Siska kaget tiba-tiba.
“Senang membuat istri saya kesakitan!” ucapnya pelan, tapi sesungguhnya mengerikan.
“Maksud Pak Andre apa ya? Dan kenapa saya tiba tiba di kurung di kamar begini?” tanya Siska kesal.
“Wow luar biasa akting kamu ... Siska!”
prok ... prok ... Andre bertepuk tangan. Melihat sikap Siska dalam kepura-puraannya.
“Dengan membayar uang sebesar lima juta, kamu menyuruh orang lain untuk mencelakakan istri saya ... LINA!!!”
“Pak Andre, jangan asal menuduh saya. Mana buktinya!” sanggah Siska.
“Bawa orangnya ke sini, Faisal!” titah Andre. Faisal langsung menyuruh ajudan membawa Gia ke kamar Siska.
Wajah Siska tampak meremehkan Andre atas tuduhan yang di sangka ke dirinya.
__ADS_1
Gia sudah berada di hadapan Siska, membuat dirinya kegelagapan.
“Gia, benar wanita ini yang menyuruhmu memberi obat lacknat itu!” bentak Andre.
“Jangan asal tuduh kamu, kenal sama kamu aja enggak!” sanggah Siska.
“Ini bukti tadi siang kalian bertemu!” ujar Fani sambil menunjukkan foto.”
“Apa kamu menyanggahnya, SISKA!” geram Andre.
“Saya tidak mau tahu motif apa, hingga kamu mencelakakan Lina ... istri saya. Yang jelas tindakan kamu betul betul tidak terpuji. Tidak ada ampun untuk perbuatan tersebut!!” Andre mulai naik pitam.
“Betul Pak Andre, wanita ini yang menyuruh saya. Saya ada bukti transferan uang sebesar tiga jutanya,” ujar Gia.
“Bagus, kamu simpan bukti itu. Untuk meringankan hukumanmu nanti.”
“Satu lagi Pak Bos, untuk memastikan satu hal lagi,” ujar Faisal, sambil mengajak kurir masuk ke dalam kamar.
“Inikah wanita yang bapak maksud, menitipkan paket untuk Ibu Lina Anggraeni, dengan bayaran lima ratus ribu?” tanya Faisal.
Dengan saksama kurir tersebut menatap wajah Siska dan melihat bajunya sama seperti tadi pagi.
“Benar Pak, wanita ini yang menitipkan paketnya,” ucap jujur sang kurir.
“Dasar wanita breng-sek, hari ini kamu saya pecat dengan tidak terhormat!!!"
PLAK ... PLAK
Kembali melayang lagi tangan Andre di kedua pipi Siska. Dan salah satu kaki Andre sepertinya ingin menendang tubuh Siska. Namun sudah di cegah oleh Faisal, biar tidak ada kejadian yang lebih fatal lagi.
“BAWA WANITA BRENG-SEK INI KE KANTOR POLISI, SEKARANG JUGA!” pekik Andre.
Para ajudan Andre ternyata sudah memanggil pihak kepolisian, tanpa menunggu waktu lama. Siska dan Gia sudah di giring ke kantor polisi. Sedangkan Pak Kurir membuat laporan masalah paket yang dia kirim di kantor polisi.
Masalah yang terjadi hari ini, diselesaikan di hari ini juga. Semoga kelak tidak ada kejadian baru, walau tetap harus waspada. Semakin pohon menjulang tinggi, semakin kencang terpaan angin yang berembus.
Fani dan Faisal turut tenang, walau sempat deg degan dengan hal yang menimpa mami Lina, semoga musibah yang datang membuat pribadi Lina semakin kuat, dan menambah keharmonisan rumah tangga Pak Bos dan Bu Bos.
.
.
THE END ATAU LANJUT YA ??? 🙄🙄
__ADS_1